Detak jarum jam dinding di ruang keluarga terdengar semakin nyaring, seolah menjadi satu-satunya harmoni yang menemani keheningan malam. Angka digital di sudut kanan atas layar laptop menunjukkan pukul 23.45 WIB. Hawa dingin dari pendingin ruangan mulai merayap naik melalui pori-pori kulit, namun Kirana sama sekali tidak berniat beranjak untuk mengambil selimut. Fokusnya sepenuhnya tersedot pada layar terang di hadapannya.
Sudah hampir dua jam Kirana bersila di atas karpet beludru, asyik memilah ratusanβbahkan ribuanβfoto dan video pendek dari folder 'Dokumentasi Keluarga'. Ia telah berhasil menyusun sebuah kerangka video kompilasi yang manis di aplikasi penyunting video bawaan laptop. Ada klip saat Ridwan mengucap ijab kabul dengan raut wajah tegang enam tahun lalu, video Raka yang tertawa lepas saat pertama kali dibawa ke pantai, hingga foto Rara yang belepotan kue ulang tahun di usianya yang pertama. Semuanya sempurna. Sebuah mahakarya visual tentang keluarga yang utuh dan bahagia.
Namun, Kirana merasa ada yang kurang. Ia mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat.
"Foto waktu kita bulan madu ke Lombok kok nggak ada ya di folder ini?" gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. Ia ingat betul, ada sebuah foto siluet mereka berdua di tepi Pantai Gili Trawangan saat senja yang sangat indah. Foto itu adalah favorit Kirana, dan ia sangat ingin memasukkannya sebagai penutup video anniversary mereka.
Kirana mulai menggeledah folder lain. Ia mengetikkan kata kunci 'Lombok', 'Bulan Madu', dan 'Honeymoon' di kolom pencarian sistem laptop. Hasil pencarian menampilkan beberapa dokumen PDF terkait tiket pesawat dan pemesanan hotel dari enam tahun lalu, tetapi tidak ada folder foto yang ia cari.
"Apa jangan-jangan foto itu masih ada di attachment email lama ya? Dulu kan fotografernya kirim lewat email ke Mas Ridwan," pikir Kirana.
Tanpa ragu dan tanpa niat buruk sedikit pun, Kirana menggerakkan kursor ke bagian bawah layar dan mengklik ikon aplikasi Mail berlambang prangko biru. Aplikasi itu terbuka dengan cepat, langsung menampilkan kotak masuk akun email pribadi Ridwan. Kirana tidak berniat membaca email pekerjaan suaminya. Niatnya murni hanya mencari arsip foto lama di kolom pencarian aplikasi tersebut.
Di kolom pencarian email, Kirana mengetikkan kata 'Lombok Foto'. Sambil menunggu hasil pencarian memuat, mata Kirana tanpa sengaja melirik ke bilah navigasi di sebelah kiri layar. Ada deretan folder standar: Inbox, Sent, Junk, Trash, dan Drafts (Konsep).
Perhatian Kirana terpaku pada folder Drafts. Di sana, terdapat sebuah angka kecil berwarna abu-abu dalam tanda kurung: (1). Hanya ada satu email konsep yang belum terkirim.
Normalnya, orang tidak akan peduli dengan email draf milik orang lain. Itu bisa saja draf pekerjaan yang belum selesai diketik, atau balasan email yang tertunda. Namun, entah mengapa, malam itu hati Kirana merasa tergelitik oleh sebuah dorongan aneh yang tak bisa ia jelaskan. Seolah ada sebuah benang tak kasat mata yang menarik tangannya untuk menggerakkan kursor ke arah sana.
Mungkin karena subjek email yang terpotong dan terlihat sebagian di panel pratinjau itu sama sekali tidak terdengar seperti urusan bisnis.
Tulisannya hanya satu kata: Salma.
"Salma?" dahi Kirana berkerut dalam. Ia mengeja nama itu dalam hati. Siapa Salma? Apakah itu nama klien baru? Atau nama vendor perusahaan? Namun, jika itu urusan kantor, mengapa ada di email pribadi dan hanya menjadi draf tunggal?
Rasa penasaran yang polos perlahan berubah menjadi firasat kecil yang menggelitik perutnya. Jari telunjuk Kirana, yang entah mengapa tiba-tiba terasa dingin, menekan tombol kiri mouse pada folder draf tersebut.
Layar di sebelah kanan seketika berubah, menampilkan isi penuh dari satu-satunya email yang belum terkirim itu. Tanggal pembuatan draf pertama kali tercatat enam tahun laluβtepat dua bulan sebelum hari pernikahan Kirana dan Ridwan. Namun, yang membuat jantung Kirana berdegup aneh adalah keterangan 'Terakhir Diubah'. Tanggal terakhir draf itu disunting adalah... minggu lalu.
Ini bukan sekadar draf email biasa. Ini adalah sebuah catatan panjang. Sebuah jurnal digital yang terus diperbarui oleh penulisnya selama bertahun-tahun, disembunyikan di tempat yang tak akan pernah dipikirkan oleh siapa pun: kotak konsep email tak terkirim.
Kirana menelan ludah. Hembusan napasnya mulai terasa berat. Perlahan, matanya mulai membaca bait demi bait kalimat yang tertulis di layar putih itu. Dan detik itu juga, waktu di ruang keluarga tersebut terasa berhenti berdetak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar