Matahari perlahan tenggelam, menggantikan kanvas langit dengan warna jingga keunguan yang menenangkan. Lampu-lampu temaram di sudut-sudut rumah mulai dinyalakan. Aroma masakan rumahanβsayur lodeh, ayam goreng lengkuas, dan sambal terasiβmenguar dari arah dapur, memenuhi seluruh penjuru ruangan dengan kehangatan yang mengundang selera. Kirana baru saja selesai memandikan Rara dan memakaikan piyama bermotif stroberi pada gadis kecil itu, ketika suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal terdengar memasuki pelataran garasi.
"Ayah pulang!" seru Raka yang sedang menonton televisi, langsung melompat dari karpet dan berlari menuju pintu depan.
Kirana tersenyum, bergegas menyusul putra sulungnya setelah memastikan Rara aman duduk di kursi makannya. Saat pintu kayu jati berukir itu terbuka, sosok Ridwan berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak sangat kelelahan. Jas kerjanya sudah disampirkan di lengan kiri, dasi yang tadi pagi Kirana pilihkan dengan hati-hati kini sudah melonggar tak beraturan, dan dua kancing kemeja teratasnya dibiarkan terbuka. Garis-garis keletihan tercetak jelas di bawah matanya.
"Assalamualaikum," sapa Ridwan dengan suara baritonnya yang serak dan berat.
"Waalaikumsalam," jawab Kirana dengan senyum semringah. Ia mengambil alih jas dan tas kerja Ridwan, lalu meraih tangan suaminya untuk dicium. "Capek banget ya, Mas? Tadi jalanan macet?"
Ridwan menghela napas panjang, melepaskan sepatunya tanpa banyak bicara. "Lumayan. Ada perbaikan jalan di dekat perempatan depan. Oh ya, ini titipan kamu." Ridwan menyodorkan dua kantong belanjaan plastik berlogo swalayan ke arah Kirana. Di dalamnya terdapat susu formula Rara dan selai cokelat pesanan Raka.
Mata Kirana berbinar. "Wah, makasih banyak ya, Suamiku sayang. Kamu memang yang terbaik. Padahal pasti capek banget, tapi masih ingat mampir beli titipanku."
Ridwan hanya membalas dengan anggukan pelan, lalu berjongkok menyambut pelukan Raka yang menabrak kakinya. Ia mengacak-acak rambut putranya itu sambil tersenyum tipisβsebuah senyum yang hanya muncul jika berhadapan dengan anak-anaknya. "Sudah mandi kamu, jagoan?"
"Sudah dong, Yah! Tadi Raka mandi sendiri nggak dimandiin Bunda!" pamer Raka dengan bangga.
"Pintar. Nanti habis makan malam, kita main Lego sebentar ya. Sekarang Ayah mau mandi dulu, badan Ayah lengket semua," ujar Ridwan, melepaskan pelukan Raka dengan lembut dan melangkah gontai menuju kamar utama.
Kirana menatap punggung tegap suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar. Ada sedikit rasa nyeri yang menyusup di sudut hatinya melihat betapa lelahnya pria itu. Ridwan nyaris tidak memandangnya lebih dari dua detik, tidak ada sapaan hangat atau pertanyaan sederhana seperti "Bagaimana harimu di rumah?". Tapi lagi-lagi, rasionalisasi Kirana bekerja dengan cepat. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa seorang pria yang rela berdesakan di kemacetan setelah seharian memeras otak di kantor, lalu masih menyempatkan diri membelikan susu anak, adalah bentuk cinta tertinggi yang tidak memerlukan kata-kata.
Setengah jam kemudian, keluarga kecil itu berkumpul di meja makan. Ridwan sudah terlihat lebih segar setelah mandi, mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek santai. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, hanya diselingi celoteh Rara yang kesulitan menyendok nasinya sendiri dan celoteh Raka tentang teman les berenangnya tadi siang.
Kirana selalu memastikan piring Ridwan terisi dengan lauk favoritnya. Ia mengambilkan sepotong paha ayam besar, menyendokkan sayur lodeh, dan menuangkan air putih ke gelas suaminya. Ia merawat Ridwan layaknya seorang raja, melayaninya dengan sepenuh hati tanpa pernah merasa direndahkan.
Setelah makan malam selesai dan anak-anak kembali sibuk dengan mainan mereka di ruang tengah, Kirana menyuguhkan secangkir teh kamomil hangat ke hadapan Ridwan yang sedang duduk bersandar di sofa ruang keluarga, matanya kembali tertuju pada layar ponsel pintar.
Kirana duduk di sebelah suaminya, merapatkan tubuhnya hingga lengan mereka bersentuhan. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Ridwan, menghirup aroma sabun mandi maskulin yang menguar dari kulit suaminya.
"Mas," panggil Kirana lembut.
"Hmm?" sahut Ridwan, pandangannya tidak beranjak dari layar. Jempolnya terus menggulir pesan-pesan grup kantor.
"Kamu ingat nggak, minggu depan itu hari apa?" tanya Kirana dengan nada menggoda, mencoba memancing ingatan suaminya.
Jempol Ridwan berhenti menggulir sesaat. Pria itu tampak berpikir keras, dahinya sedikit berkerut. Ia menatap ke arah televisi yang menyala tanpa suara, lalu melirik kalender kecil di meja. "Minggu depan? Tanggal 18? Ada apa memangnya? Pembayaran asuransi pendidikan anak-anak masih akhir bulan, kan?"
Kirana menarik napas perlahan, mencoba menahan rasa kecewanya agar tidak terlihat. Sudah enam tahun, dan tidak pernah sekalipun Ridwan mengingat tanggal itu tanpa harus diingatkan terlebih dahulu. Selalu urusan uang, tagihan, atau asuransi yang pertama kali melintas di kepala pria itu.
"Bukan urusan tagihan, Mas," jawab Kirana pelan, memaksakan sebuah tawa kecil. "Tanggal 18 itu ulang tahun pernikahan kita yang keenam. Masa kamu lupa lagi sih?"
Ridwan terdiam. Ekspresi wajahnya terlihat sedikit bersalah, namun dengan cepat digantikan oleh raut datar nan rasional. Ia meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah istrinya. "Ah, astaga. Maaf, Na. Mas benar-benar tidak ingat. Kepalaku penuh dengan target kuartal perusahaan yang harus dikejar. Maafkan aku, ya."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok kamu sibuk," ucap Kirana, membohongi perasaannya sendiri demi menjaga kedamaian. "Aku juga nggak minta dirayakan besar-besaran atau makan di luar. Kasihan kamu kalau harus keluar lagi malam-malam, pasti capek."
Ridwan mengusap tengkuknya dengan canggung. "Lalu kamu mau hadiah apa? Besok Mas transfer saja uangnya ke rekeningmu ya? Kamu bisa beli tas atau perhiasan yang kamu suka. Atau kamu mau ke salon seharian sama teman-temanmu? Silakan pakai saja kartu kredit Mas."
Ucapan Ridwan bagai embusan angin dingin yang membekukan harapan Kirana. Uang, uang, dan uang. Selalu itu yang ditawarkan Ridwan sebagai bentuk kompensasi. Seolah-olah kasih sayang dan waktu bisa dikonversi menjadi angka-angka di saldo rekening. Padahal, bagi Kirana, tas branded atau perhiasan mahal tidak ada artinya dibandingkan dengan tatapan penuh damba dari suaminya.
"Aku nggak butuh tas baru, Mas," tolak Kirana sehalus mungkin. Ia memberanikan diri meraih tangan Ridwan dan menggenggamnya erat. "Aku cuma mau kita merayakannya di rumah. Bertiga, eh berempat sama anak-anak. Aku yang masak steak kesukaanmu, terus nanti malamnya kita quality time berdua setelah anak-anak tidur. Gimana?"
Melihat mata istrinya yang memelas dan penuh harap, Ridwan akhirnya mengangguk pelan. "Ya sudah, kalau itu maumu. Nanti Mas usahakan pulang lebih cepat dan tidak bawa kerjaan ke rumah. Maaf ya, Mas bukan suami romantis yang bisa bikin kejutan-kejutan manis seperti di film-film."
"Nggak perlu romantis, Mas. Kehadiranmu secara utuh buat aku dan anak-anak saja sudah lebih dari cukup," jawab Kirana tulus.
Malam semakin larut. Jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Raka dan Rara sudah terlelap di kamar mereka. Ridwan bersiap untuk tidur, merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan helaan napas panjang yang menandakan seluruh bebannya hari itu telah terlepas.
Kirana yang baru saja selesai mengoleskan krim malam di wajahnya, berjalan mendekati sisi ranjang suaminya.
"Mas, kamu sudah mau tidur?" tanya Kirana setengah berbisik.
"Iya, mataku rasanya sudah berat banget, Na. Besok pagi ada meeting sama klien penting," gumam Ridwan dengan mata setengah terpejam.
"Mas, sebelum kamu tidur... aku boleh pinjam laptop pribadimu yang warna abu-abu itu nggak? Yang ada di tas kerjamu," pinta Kirana ragu-ragu.
Kelopak mata Ridwan sedikit terbuka. Ia menatap istrinya dengan dahi berkerut halus. "Laptop abu-abu? Untuk apa? Bukannya kamu punya iPad dan laptop kecilmu sendiri di meja rias?"
"Iya, tapi layarnya kecil, Mas. Lagipula storage-nya sudah penuh sama drakor dan foto-foto anak-anak. Aku mau pinjam laptop kamu karena layarnya lebih besar dan aplikasinya lebih lengkap," jelas Kirana dengan nada membujuk.
"Memangnya kamu mau mengerjakan apa malam-malam begini?"
"Ada deh, rahasia," ucap Kirana sambil tersenyum misterius. "Aku mau bikin sesuatu untuk kejutan hari anniversary kita nanti. Jadi kamu nggak boleh tahu. Boleh pinjam, kan? Cuma beberapa hari kok, lagian kamu kan pakai laptop dari kantor kalau kerja."
Mendengar kata 'kejutan anniversary', kewaspadaan yang mungkin sempat terbersit di benak Ridwan seketika menguap. Ia terlalu lelah untuk berdebat atau mencari tahu lebih lanjut. Toh, selama enam tahun menikah, Kirana tidak pernah melewati batas privasinya. Istrinya itu tidak pernah memeriksa ponselnya atau mencampuri urusan kerjanya. Kepercayaan di antara mereka, menurut versi Ridwan, sangatlah kuat.
"Ya sudah. Ambil saja di dalam tas kerjaku di ruang studi," jawab Ridwan akhirnya sambil menarik selimut sebatas dada. "Passwordnya tanggal lahir Raka. Delapan digit. Tapi ingat ya, jangan sampai ada folder kerjaanku yang terhapus."
"Siap, Bos! Makasih banyak ya, Mas sayang," seru Kirana kegirangan. Ia membungkuk dan mencium pipi suaminya dengan penuh semangat. "Selamat tidur, mimpi indah."
Ridwan hanya bergumam pelan, dan dalam hitungan menit, dengkuran halus mulai terdengar dari pria itu.
Dengan hati berdebar ringan penuh antusiasme, Kirana berjinjit keluar kamar agar tidak membangunkan suaminya. Ia berjalan menyusuri lorong menuju ruang studi kecil yang terletak di dekat ruang keluarga. Di atas meja kerja yang terbuat dari kayu mahoni, terdapat tas kerja kulit milik Ridwan. Kirana membuka resletingnya dengan perlahan, mengeluarkan sebuah laptop abu-abu metalik yang terasa dingin di sentuhan jari-jarinya.
Ia membawa laptop itu ke ruang keluarga, duduk bersila di atas karpet tebal, dan meletakkannya di atas meja kaca. Cahaya lampu ruangan sengaja ia redupkan, hanya menyisakan lampu berdiri di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kekuningan hangat. Suasana rumah sangat sunyi, hanya terdengar detak jarum jam dinding dan sayup-sayup suara jangkrik dari taman belakang.
Kirana menekan tombol power. Logo sistem operasi menyala di layar, memberikan pendar kebiruan yang menerangi wajah cantiknya. Layar meminta kata sandi. Dengan senyum yang tak kunjung luntur, jari-jari lentik Kirana mengetikkan angka kelahiran Raka. Tanggal, bulan, dan tahun. Mengetahui bahwa suaminya menggunakan tanggal lahir anak mereka sebagai kata sandi membuat hati Kirana menghangat. Hal kecil seperti itu mengukuhkan keyakinannya bahwa Ridwan sangat mencintai keluarga ini, meski dengan cara yang kaku.
Enter.
Layar utama terbuka. Kirana disambut oleh tampilan desktop yang sangat rapi, khas seorang Ridwan yang sangat teratur. Tidak banyak ikon di layar utama, hanya beberapa folder pekerjaan dengan nama-nama perusahaan klien, aplikasi hitung-hitungan, dan sebuah folder besar bernama 'Dokumen Pribadi'.
"Nah, mari kita mulai perburuan harta karunnya," gumam Kirana sendirian dengan nada ceria.
Rencananya malam ini adalah mencari folder berisi dokumentasi lama. Foto-foto saat mereka liburan ke Bali dua tahun lalu, video Raka saat pertama kali bisa berjalan, dan mungkin foto resepsi pernikahan mereka yang sempat dipindahkan Ridwan dari kamera mirrorless. Kirana berencana menyusun semua itu menjadi sebuah video dokumenter berdurasi lima menit dengan latar musik romantis, lalu memutarnya di televisi saat mereka makan malam nanti. Ia ingin melihat mata Ridwan berkaca-kaca terharu melihat rekam jejak kebersamaan mereka.
Kirana menggerakkan kursor, mengklik dua kali pada folder 'Dokumen Pribadi'. Matanya mulai memindai deretan folder kuning di dalamnya. Ada folder berlabel 'Keuangan Keluarga', 'Asuransi & Kesehatan', 'Sertifikat Rumah', hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari: folder bertuliskan 'Dokumentasi Keluarga'.
Dengan gembira, Kirana membuka folder tersebut. Ratusan foto dan video langsung memenuhi layar. Senyumnya semakin lebar saat melihat foto dirinya yang sedang menggendong Raka saat masih bayi, pipinya masih terlihat lebih tembam dibanding sekarang. Ada juga foto candid Ridwan yang sedang tertidur di sofa dengan Rara di atas dadanya. Ia tersenyum menatap layar, bernostalgia dengan kenangan-kenangan manis yang mereka lalui bersama.
Malam itu bergulir dengan tenang. Kirana tenggelam dalam lautan memori digital, memilah dan memilih foto-foto terbaik untuk proyek kejutannya. Ia tidak tahu, sungguh tidak tahu, bahwa di dalam lautan data yang tampak tenang ini, ada sebuah kotak pandora yang seharusnya tidak pernah ia sentuh. Sebuah kotak yang terletak tersembunyi di salah satu laci maya yang akan segera mengubah arah hidupnya untuk selamanya. Dan detik demi detik, jari-jari Kirana bergerak semakin dekat, semakin dekat menuju tepi jurang kehancuran itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar