Sinopsis
Arya Wibisana berumur 30 tahun, seorang arsitek muda yang sudah menyerah pada urusan cinta sejak delapan tahun lalu. Bukan karena trauma — setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Hanya saja, sejak hari ia memutuskan Kayla di teras kos-kosan hujan-hujanan dengan tuduhan yang ia tidak pernah sempat verifikasi, ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar pulih. Kayla Maheswari, 30 tahun, seorang dokter spesialis anak yang sukses, mandiri, dan punya prinsip jelas: tidak akan pernah lagi menangis untuk laki-laki yang sama. Ia sudah berdamai. Sudah move on. Sudah berhenti mengecek media sosial Arya — sejak tiga bulan yang lalu. Atau dua. Oke, mungkin minggu lalu. Ketika orangtua Arya mengundangnya ke acara makan malam keluarga untuk "bertemu dengan calon yang serius dipilihkan", ia datang dengan satu syarat: ia akan menolak dengan sopan dan pulang tepat waktu. Yang tidak ia duga: calon yang dimaksud adalah perempuan yang delapan tahun lalu ia tinggalkan di tengah hujan. Yang tidak Kayla duga: calon yang ibunya bilang "anak temannya mama yang baik banget itu" adalah laki-laki yang membuat ia belajar arti diam. Di meja makan malam itu, di antara sup ayam yang mendingin dan ibu-ibu yang heboh sendiri, dua orang yang seharusnya saling menjauh selamanya justru terjebak dalam permainan takdir paling konyol: dijodohkan oleh keluarga yang sama sekali tidak tahu sejarah mereka. Bagaimana cara menolak perjodohan tanpa membongkar luka lama? Bagaimana cara duduk berhadapan dengan orang yang dulu kau cintai — dan kau tinggalkan — tanpa membuat semua orang sadar bahwa udara di ruangan itu lebih tegang dari telur rebus yang lupa diangkat? Dan yang paling sulit: bagaimana cara berhenti memperhatikan bahwa ia masih meminum tehnya tanpa gula. Masih mengetuk meja dua kali sebelum mengangkat sumpit. Masih punya senyum yang pernah membuatmu lupa cara bernapas.
Total Baca
113
Suka
0
Subscribe
0
Bab
30
0.0
dari 5