Teras rumah Bunda Lestari berukuran sederhana — cukup untuk dua kursi rotan dan satu meja kecil dengan asbak yang tidak pernah dipakai. Lampu kuning di atas pintu memberikan pencahayaan yang hangat, dan dari kejauhan, suara serangga malam terdengar lebih jelas dari biasanya. Udara di luar sebenarnya tidak istimewa — sedikit lembap, suhu Jakarta yang khas — tapi bagi Arya, udara itu terasa seperti pengampunan.


Setidaknya di teras, ia tidak harus menatap empat pasang mata orangtua secara bersamaan.


Kayla duduk di salah satu kursi rotan. Ia tidak menatap Arya. Pandangannya tertuju ke taman kecil di depan, tempat Bunda Lestari menanam kembang sepatu yang Arya yakin sudah ada di sana sejak ia masih SMA.


"Saya pikir saya nggak akan pernah ketemu kamu lagi," kata Kayla pelan. Tidak ada nada menuduh. Hanya pernyataan yang disampaikan sebagaimana adanya, seperti laporan medis yang objektif.


"Saya juga," kata Arya. "Sungguh."


"Tapi kita di sini."


"Iya."


"Dan mama-mama kita —"


"— ternyata teman SMA. Iya. Saya baru tahu juga lima menit yang lalu."


Kayla menoleh sedikit, memberi Arya pandangan yang tajam tapi ada hal yang tidak Arya bisa pastikan — apakah itu marah, atau hanya kelelahan dari shift malam yang baru selesai delapan jam yang lalu.


"Kamu nggak pernah cerita tentang mama kamu," kata Kayla.


"Kamu juga nggak pernah cerita tentang mama kamu."


"Karena dulu mama saya nggak pernah saya bawa-bawa ke obrolan kita."


"Iya. Saya juga nggak pernah."


Mereka diam. Suara serangga terus berbunyi. Di dalam, samar- samar, Arya mendengar suara Bunda Lestari tertawa — tawa khas mamanya saat ia merasa puas dengan keadaan dunia.


"Kamu masih kerja di rumah sakit?"


Kayla mengangguk. "Anak. Spesialis anak."


"Hebat."


"Iya."


Sopan. Datar. Aman. Persis seperti percakapan di lift dengan tetangga yang baru pindah.


Arya memutuskan untuk berhenti basa-basi. Ini bukan situasi yang bisa diselesaikan dengan small talk dua menit lalu pulang. Mereka punya masalah yang harus dipecahkan — dua keluarga yang sedang duduk di ruang makan, menunggu kabar bahagia.


"Kayla, kita harus ngomong serius."


Kayla menoleh sepenuhnya kali ini.


"Apa?"


"Mama saya... kalau saya bilang nggak cocok, ia nggak akan percaya. Dia akan ngotot. Dia akan terus jodohin saya setiap bulan. Dan saya nggak yakin mama kamu juga gampang dibilang 'nggak'."


"Dia memang nggak gampang dibilang nggak."


"Jadi?"


Kayla berpikir. Arya bisa melihatnya. Ia sudah hafal cara Kayla berpikir — alis sedikit berkerut, jari telunjuk mengetuk paha pelan, mata yang fokus ke titik tertentu yang tidak ada apa- apanya. Kebiasaan yang Arya kira sudah ia lupakan, ternyata masih tertanam di tempat yang dalam.


"Oke," kata Kayla akhirnya. "Bagaimana kalau begini. Kita main saja."


"Main?"


"Pura-pura cocok. Sebentar. Beberapa minggu. Lalu kita pelan- pelan 'menemukan' bahwa kita nggak cocok. Bukan karena salah satu jelek. Tapi karena ya, kadang dua orang nggak cocok." Kayla menatap Arya. "Mama-mama kita nggak akan tersinggung karena tidak ada yang merasa ditolak. Mereka akan merasa kasihan, lalu pindah ke proyek berikutnya — entah pernikahan sepupu siapa atau resep brownies baru. Selesai."


Arya menatap Kayla dengan seksama. Rencana itu masuk akal. Itu strategis. Itu logis.


Itu juga sangat berbahaya.


"Kayla, kamu sadar bahwa ini bisa sangat... rumit?"


"Saya tahu."


"Bagaimana kalau di tengah jalan ada yang... berubah?"


"Berubah apa?"


Kayla menatap Arya dengan tatapan yang tegas — tatapan dokter yang bertanya kepada pasien apakah ia sudah meminum obatnya sesuai aturan. Bukan ruang untuk bermain-main.


"Kamu pikir saya bakal jatuh cinta lagi sama kamu, Arya? Pertanyaan ini melukai harga diri saya."


Arya tertawa pelan, padahal seharusnya itu bukan hal yang lucu.


"Maaf. Bukan itu maksud saya. Saya cuma..."


"Kamu cuma apa?"


"Saya cuma nggak yakin saya bisa pura-pura."


Kayla menatapnya lama. Lama sekali. Lama cukup untuk membuat Arya merasa mungkin ia salah bicara.


"Pura-pura bagian yang mana, Arya? Pura-pura suka, atau pura- pura nggak ingat?"


Arya tidak menjawab.


Kayla berdiri. Ia merapikan blusnya yang sebenarnya tidak butuh dirapikan. Ia menarik napas dalam.


"Kita lakukan ini sebentar saja. Tiga minggu. Setiap weekend kita ketemu sekali, di acara keluarga atau di tempat umum. Tidak boleh sentuh, tidak boleh nanya kabar pribadi, tidak boleh ingat-ingat hal lama. Setelah tiga minggu, kita 'nggak cocok'. Selesai."


"Kayla —"


"Kamu setuju atau nggak, Arya?"


Ada sesuatu di nada suara Kayla yang membuat Arya menyadari, ini bukan negosiasi. Ini adalah penawaran tunggal. Ya atau tidak.


"Setuju," kata Arya akhirnya.


"Bagus."


Mereka berdiri di teras itu, dua orang dewasa yang baru saja membuat kesepakatan paling konyol dalam hidup mereka. Di dalam rumah, terdengar suara Bunda Lestari yang mengetuk pintu kaca.


"Kalian masih ngobrol? Lama amat. Kakek-nenek bisa lahir di luar nih."


Kayla tertawa kecil. Refleks. Tawa yang tidak ia rencanakan — tapi yang muncul karena pas. Tawa yang Arya hafal dari delapan tahun lalu.


Dan untuk satu detik, Arya merasa udara di teras itu berubah.


Bukan jadi lebih berat. Tapi jadi lebih familiar.


Dan itu, ia sadar, adalah masalah yang lebih rumit dari yang ia siap hadapi.