Arya pulang ke apartemennya pukul sebelas malam. Apartemen itu sederhana — dua kamar tidur, ruang kerja, dan dapur yang jarang ia gunakan kecuali untuk membuat kopi. Ia melepas kemeja birunya, melemparnya ke kursi, lalu duduk di sofa dengan satu gerakan yang lebih mirip jatuh dari pada duduk.
Ponselnya berdering.
Reza.
Tentu saja.
"Bro," suara Reza langsung saat Arya mengangkat. "Gue udah nungguin lo telepon sejak jam delapan. Gimana? Cantik nggak? Lucu nggak? Lo udah putus hubungan dengan lekas dan menjurus ke rumah ya?"
Arya diam selama lima detik penuh.
"Reza."
"Iya."
"Dia Kayla."
"Kayla? Kayla apa?"
"Maheswari."
Hening. Sangat hening.
Arya bisa mendengar Reza mengambil napas. Lalu melepas. Lalu mengambil lagi.
"Kayla Maheswari," ulang Reza, dengan suara yang lebih mirip orang yang baru saja menerima berita kematian saudara jauh dari pada teman yang berbagi gosip.
"Iya."
"Yang dulu pacar lo waktu kuliah?"
"Iya."
"Yang lo putusin di teras kos pas hujan, terus nggak pernah lo hubungi lagi sampai sekarang?"
"Iya."
"Yang —"
"Reza, gue tau."
Hening lagi. Lalu Reza tertawa. Awalnya pelan, lalu lebih keras, lalu sangat keras, sangat keras sehingga Arya harus menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Selesai lo tertawa?"
"Belum, sebentar." Reza terus tertawa. "Gue tau gue punya kewajiban sebagai sahabat untuk jadi serius, tapi ini lucu banget, bro. Ini bukan kebetulan. Ini Tuhan ngetawain lo."
"Reza."
"Iya, oke, gue serius sekarang." Reza menarik napas, lalu tertawa sebentar lagi, lalu serius. "Lo gimana?"
"Baik-baik aja."
"Bro, gue tau lo. Lo nggak mungkin baik-baik aja."
Arya menatap langit-langit apartemennya. Cat putih yang sudah mulai sedikit kekuningan di sudut. Lampu LED yang ia pasang terlalu terang untuk malam. Suara AC yang berdengung pelan di ruang sebelah.
"Kayla nawarin... kesepakatan."
"Apa?"
Arya menjelaskan. Tentang rencana pura-pura cocok selama tiga minggu. Tentang aturan-aturan: tidak boleh sentuh, tidak boleh nanya kabar pribadi, tidak boleh ingat-ingat. Tentang akhir yang sudah ditentukan: pelan-pelan menemukan bahwa mereka tidak cocok.
Reza mendengarkan. Tidak menyela. Sesekali bergumam.
Saat Arya selesai, Reza diam selama beberapa detik.
"Bro," kata Reza akhirnya. "Lo tau ini ide paling buruk yang pernah gue dengar dalam hidup gue?"
"Gue tau."
"Lo tau ini bakal hancur, kan?"
"Gue tau."
"Tapi lo tetep mau jalanin?"
Arya menutup matanya. Ia mencoba memikirkan apa yang akan ia katakan. Bahwa ini cara terbaik. Bahwa tidak ada pilihan lain. Bahwa ia hanya ingin kedua orangtuanya bahagia, dan tiga minggu pura-pura adalah harga yang murah.
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah kalimat lain.
"Reza. Gue cuma butuh tiga minggu. Bukan untuk mama. Bukan untuk Kayla. Untuk gue sendiri."
"Untuk apa?"
"Untuk... mungkin minta maaf. Walaupun nggak diucapkan. Walaupun nggak diakui."
Reza diam lebih lama kali ini.
"Bro, lo tau lo bakal jatuh lagi, kan?"
"Gue nggak akan jatuh."
"Lo bilang gitu sembilan tahun lalu juga."
Arya tidak menjawab. Karena Reza benar. Karena Reza selalu benar dalam hal-hal yang tidak Arya ingin akui.
"Gue tutup teleponnya, Reza."
"Tunggu."
"Apa?"
"Hati-hati."
"Iya."
"Jangan lari. Kalau lo lari lagi, gue sendiri yang patah hati."
Arya menutup telepon.
---
Ia duduk lama di sofa. Lampu apartemen masih menyala terlalu terang. AC masih berdengung. Di luar, suara mobil sesekali melintas. Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur.
Ia menarik napas. Ia mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi catatan. Ia mulai mengetik:
ATURAN MAIN — TIGA MINGGU
1. Tidak boleh sentuh. 2. Tidak boleh tanya kabar pribadi. 3. Tidak boleh mengingat hal-hal lama. 4. Bersikap sopan, ramah, tapi tidak hangat. 5. Hanya bertemu di acara keluarga atau tempat umum. 6. Tidak boleh chat di luar jadwal. 7. Akhirnya: pelan-pelan menyimpulkan bahwa "tidak cocok".
Arya menatap daftar itu. Sederhana. Logis. Aman.
Ia menambahkan satu poin lagi:
8. Jangan bodoh.
Ia menyimpan catatan itu, mematikan ponsel, dan pergi ke kamar tidur.
Ia mencoba tidur. Ia gagal. Sekitar pukul setengah dua dini hari, ponselnya berbunyi pelan — getaran dari pesan masuk.
Ia melihat layar.
Nomor tidak dikenal.
Pesannya:
Arya. Mama saya tadi telepon mama kamu. Mereka sepakat
kita ketemu lagi besok. Jam tujuh malam. Di rumah saya.
Maaf. — K.
Arya membaca pesan itu tiga kali.
Ia menyimpan nomornya — bukan dengan nama "Kayla", tapi dengan inisial "K".
Ia membalas, dengan pikiran yang masih tidak yakin:
Oke. Saya datang.
Kemudian ia menambahkan, hampir tanpa berpikir:
Kayla.
Ia menatap nama itu di layar. Lalu menghapusnya. Lalu mengetik lagi:
Sampai besok.
Ia menekan kirim.
Ia mematikan layar.
Ia berbaring kembali di tempat tidur, menatap langit-langit yang sama, di kamar yang sama, di apartemen yang sama. Tapi malam itu, ia menyadari, semuanya tidak benar-benar sama.
Aturan pertama, yang baru saja ia tulis sendiri, sudah ia langgar.
Karena ia mengingat. Tepat seperti ia bertekad untuk tidak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar