Arya Wibisana baru saja menyelesaikan revisi denah lantai dua untuk proyek apartemen di Bintaro ketika ponselnya bergetar untuk yang ketiga kali dalam dua menit. Ia mengabaikan dua getaran pertama โ kebiasaan yang ia pelajari sejak menjadi arsitek senior; siapa pun yang benar-benar butuh akan menelepon, bukan mengirim chat beruntun. Tapi getaran ketiga punya pola yang ia kenali dari jauh: tiga kali pendek, satu kali panjang. Itu mama.
Ia mengangkat ponselnya. Tiga pesan beruntun dari Bunda Lestari.
Arya, sayang. Sabtu malam jangan kemana-mana ya.
Mama udah bilang sama Papa. Kita ada acara di rumah.
Mama mau kenalin kamu sama calon yang Mama pilih sendiri. ๐
Arya menatap layar selama lima detik penuh.
Lalu menutup matanya. Lalu membukanya. Lalu membaca ulang pesan ketiga, dengan harapan kata-kata itu akan tersusun ulang dan menjadi sesuatu yang lebih masuk akal โ seperti, misalnya, "undangan makan kepiting" atau "calon vendor yang Mama pilih."
Tapi tulisannya tetap sama. Calon. Yang Mama pilih sendiri. Lengkap dengan emoji senyum yang terlihat lebih mengancam daripada hangat.
"Lo kenapa muka lo kayak orang baru lihat hantu?"
Reza, sahabatnya sejak kuliah dan sekarang juga rekan kantornya, menyembulkan kepala dari balik partisi. Reza adalah jenis orang yang punya radar khusus untuk menemukan momen-momen di mana Arya sedang tidak baik-baik saja. Dan setelah delapan tahun, radarnya sudah hampir tidak pernah keliru.
"Mama mau jodoh-jodohin gue."
Reza terdiam dua detik. Lalu tertawa. Lalu tertawa lagi. Lalu tertawa lebih keras.
"Diem lo," kata Arya datar.
"Sori, sori." Reza mengangkat tangan, masih tertawa. "Tapi maksud lo, mama lo, yang biasanya cuma ngomongin sayur asem sama vitamin lo, tiba-tiba aktif jadi mak comblang? Reformasi banget sih."
Arya melempar ponselnya ke meja. Reza mengambilnya dengan gerakan refleks, membaca pesan-pesan itu, lalu kembali tertawa.
"Bro, dia bahkan pakai emoji senyum. Itu emoji ancaman. Lo tau kan?"
"Gue tau."
"Lo bakal datang?"
Arya menyandar di kursinya, menatap langit-langit kantor yang penuh dengan tatakan kabel proyektor. Ia sudah berusia tiga puluh tahun. Sudah lebih dari delapan tahun ia memilih untuk tidak menjalin hubungan apa pun yang lebih serius dari makan malam sesekali yang berakhir dengan pesan singkat seminggu setelahnya. Bukan karena ia takut. Bukan karena ia trauma. Hanya saja โ begitulah hidup berjalan untuknya. Dan sejauh ini, hidup tidak mengeluh.
Tapi ada satu hal yang Arya tahu pasti tentang Bunda Lestari: kalau perempuan itu sudah memutuskan sesuatu, melawan adalah bunuh diri yang lambat dan menyakitkan. Lebih baik menghadapi sekali dan selesai.
"Gue datang," katanya akhirnya. "Sekali aja. Gue ketemu, gue bilang nggak cocok dengan sopan, gue pulang. Selesai."
"Lo yakin?"
"Yakin."
"Lo tau apa kata orang tentang rencana sederhana?"
"Apa?"
Reza tersenyum lebar. "Mereka selalu hancur dengan cara yang tidak sederhana sama sekali."
Arya melempar pulpen ke arahnya. Reza menghindar, masih tertawa.
---
Sabtu malam datang dengan cara yang Arya benci โ terlalu cepat dan terlalu lambat sekaligus. Cepat karena ia tidak siap. Lambat karena seluruh hari Sabtu ia habiskan di apartemennya, mondar- mandir, mencoba memilih kemeja. Ia berakhir dengan kemeja biru muda yang Reza pernah bilang "membuat lo kelihatan kayak orang yang lulusan jurusan psikologi" โ dan ia tidak yakin apakah itu pujian atau bukan.
Pukul enam sore, ia berdiri di depan rumah keluarga di Cibubur. Rumah ini selalu sama โ pagar putih, taman kecil dengan kembang sepatu yang setia, tirai jendela yang Bunda Lestari ganti setiap tiga bulan, dan lampu teras yang menyala terlalu terang. Ia mengetuk dua kali. Pintu langsung terbuka โ karena tentu saja mamanya menunggu.
"Anak Mama!" Bunda Lestari memeluknya seakan-akan ia baru saja pulang dari peperangan, padahal Arya datang setiap dua minggu. "Kamu kurus, Mama bilang juga apa. Masuk, masuk. Calonnya udah sampai kok."
"Mereka udah datang?"
"Iya. Baru aja. Cantik banget, sayang. Mama yakin kamu suka."
Arya menelan ludah. Ia berjalan masuk mengikuti mamanya ke ruang tamu. Di tengah perjalanan singkat itu โ sekitar enam langkah dari pintu utama ke ambang ruang tamu โ ia sempat berpikir: ini akan baik-baik saja. Sekali ketemu. Sopan. Pulang. Selesai.
Lalu ia memasuki ruang tamu.
Lampu ruang tamu menyala terang seperti biasa. Di sofa, ada sepasang orang dewasa yang sedang tertawa dengan Papa Wira. Bunda Lestari menarik tangannya, menggiringnya ke depan dengan antusiasme yang biasanya hanya muncul saat mamanya melihat diskon di supermarket.
"Bunda Hanum, ini Arya. Anak Mama yang selalu Mama cerita-cerita."
Bunda Hanum menoleh. Senyum hangat. Wajah yang familiar dari foto-foto SMA mama Arya. Tapi Arya hampir tidak melihat wajah itu. Karena di sebelahnya โ duduk di sofa kecil, dengan pandangan yang tertuju ke arah yang berbeda โ adalah perempuan yang Arya kira tidak akan pernah ia lihat lagi seumur hidupnya.
Kayla.
Kayla Maheswari.
Yang berdiri di teras kos-kosan delapan tahun lalu, di tengah hujan, dengan air mata yang mungkin tertelan air langit, dan yang Arya tinggalkan tanpa pernah menanyakan.
Kayla.
Yang sekarang sedang duduk di ruang tamu mamanya.
Yang sekarang menoleh.
Yang sekarang menatapnya dengan ekspresi yang Arya yakin โ yakin sekali โ adalah cermin sempurna dari ekspresinya sendiri saat ini.
Lampu ruang tamu menyala terang, tapi Arya tiba-tiba merasa seluruh udara di ruangan itu telah disedot keluar.
Bunda Lestari, sambil tersenyum lebar tanpa menyadari apa-apa, berkata: "Nah, ini calonnya, sayang. Namanya Kayla."
Tujuh detik.
Itu jeda yang Arya hitung antara mendengar nama itu dan saat otaknya berhasil menyusun kalimat sederhana untuk merespons. Tujuh detik. Cukup lama untuk merasa malu, cukup pendek untuk tidak ada yang menyadari.
Kecuali, mungkin, satu orang.
Papa Wira, yang sejak tadi diam, menyeruput teh dari gelasnya, dan menatap Arya untuk waktu yang sangat singkat โ
Lalu kembali ke gelasnya, seakan tidak terjadi apa-apa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar