Tiga jam sebelum Kayla Maheswari sampai di rumah keluarga Wibisana di Cibubur, ia baru saja menyelesaikan shift malam yang sangat panjang di rumah sakit. Tujuh pasien anak. Tiga di antaranya butuh perhatian ekstra. Satu bayi prematur yang membuatnya hampir lupa cara bernapas selama empat puluh menit. Saat ia akhirnya pulang dengan rambut yang tersisa kepang acak-acakan dan mata yang membengkak karena kurang tidur, ia hanya punya satu rencana: tidur. Selama. Mungkin enam jam. Tujuh, kalau beruntung.
Tapi tentu saja, Bunda Hanum punya rencana lain.
"Kayla, kamu bangun!" Suara mamanya dari balik pintu kamar, diiringi ketukan yang tidak berhasil membuat Kayla bangun di ketukan pertama, kedua, atau ketiga. "Empat jam lagi kita harus berangkat!"
"Berangkat ke mana, Ma..." suara Kayla parau.
"Acara Mama sama Bunda Lestari, kan udah Mama bilang dari seminggu lalu."
Kayla membuka satu mata, mempertimbangkan apakah pura-pura tidak ingat akan menyelamatkannya, lalu memutuskan tidak. Ia sudah menghadapi bayi prematur. Ia pasti bisa menghadapi mamanya.
"Ma, aku capek banget. Aku nggak bisa kali ini ya?"
"Kayla Maheswari Putri." Suara Bunda Hanum berubah menjadi suara yang Kayla kenali dengan baik — suara nama lengkap, yang artinya: "ini bukan negosiasi". "Mama udah janji sama Bunda Lestari. Anaknya itu udah berapa tahun Mama dengar ceritanya. Mama mau kamu ketemu sekali aja. Sopan. Sebentar. Pulang. Itu udah."
Kayla mengerang. Tapi ia bangun. Karena ia tahu, saat mamanya sudah menyebut nama lengkap, perlawanan adalah pekerjaan menggali sumur dengan sendok teh.
Ia mandi. Pelan. Memilih baju. Pelan. Berdandan, sambil mencoba mengingat berapa banyak konsentrasi yang dibutuhkan untuk tidak mengoles eyeliner ke pipi sendiri. Sambil bersiap, ia berlatih kalimat di depan cermin.
"Tante, terima kasih banyak. Tapi sebenarnya saya belum siap untuk hubungan serius."
Tidak. Terlalu kaku.
"Tante, anak Tante kelihatan baik banget. Tapi maaf ya, saya sedang fokus karir."
Hmm. Klise.
"Tante, saya appreciate banget. Tapi mungkin kita nggak cocok."
Lebih baik. Kayla mengangguk pada bayangannya sendiri di cermin. Sopan. Sederhana. Selesai.
Ia tidak punya rencana cadangan. Karena Kayla yakin — yakin sekali — bahwa tidak ada hal di dunia ini yang bisa membuat ia tertarik pada calon yang dipilih oleh dua perempuan paruh baya yang nonton drama Korea terlalu banyak. Ia sudah lama berhenti percaya pada cerita yang dimulai dengan "Mama kenalin kamu sama seseorang."
Kayla sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak butuh laki-laki. Ia punya karir yang ia cintai, mama yang heboh, papa yang tenang, dan rumah dengan teh tanpa gula yang selalu siap. Itu cukup.
Setidaknya begitu yang ia katakan pada dirinya, setiap pagi, setiap sore, dan kadang-kadang di tengah malam saat ia tidak sengaja membuka aplikasi tertentu dan men-scroll lebih lama dari yang seharusnya.
---
Sabtu sore, mereka berangkat. Papa Galang menyetir dengan tenang, sesekali bersiul mengikuti lagu di radio yang Bunda Hanum gemar. Bunda Hanum di sebelahnya, di kursi penumpang, sambil mengobrol tentang resep brownies yang menurutnya baru ia temukan. Kayla di belakang, dengan kepala bersandar di jendela, menatap kemacetan Jakarta yang konsisten.
"Kayla, kamu jangan kelihatan kayak orang yang dipaksa, ya."
"Aku memang dipaksa, Ma."
"Kamu tau Mama hanya mau yang terbaik untuk kamu, kan?"
"Iya, Ma."
"Anaknya itu ganteng, lho."
"Iya, Ma."
"Arsitek, sukses, mapan."
Kayla menutup matanya, mengabaikan sebagian besar informasi yang mamanya berikan. Ia hanya mendengar potongan-potongan: "ganteng, arsitek, anak baik, sopan, mama yakin pasti cocok." Ia sudah mendengar formulasi yang sama tiga kali dalam tiga tahun terakhir. Hasilnya selalu sama: makan malam yang awkward, pulang dengan mama yang kecewa selama dua hari, kemudian semua kembali normal.
Mereka sampai. Rumah dua lantai dengan pagar putih dan taman kecil. Pintu utama dengan ketukan tradisional. Lampu teras yang menyala terlalu terang.
Bunda Hanum mengetuk. Pintu langsung terbuka. Seorang perempuan seumuran mamanya — Bunda Lestari, Kayla menebak — memeluk Bunda Hanum dengan kehebohan yang menyaingi level orchestra di sebuah opera.
"Ihhh, akhirnya datang juga! Kayla, ya? Cantik banget. Masuk masuk masuk."
Kayla tersenyum sopan. Ia melangkah masuk. Ia melihat ruang tamu yang rapi, dengan sofa berbalut kain bercorak bunga kecil dan lampu kristal yang sederhana. Di salah satu sofa, ada laki-laki yang Kayla asumsikan adalah papa-nya calon.
"Pak Wira, ini Kayla, anak gue."
Papa Wira mengangguk sopan. Bunda Hanum dan Bunda Lestari duduk di sofa besar, langsung tenggelam dalam percakapan tentang "udah berapa tahun ya kita nggak ketemu". Kayla berdiri canggung sebentar, lalu duduk di sofa kecil. Papa Galang duduk di sebelah Papa Wira, dan dalam waktu kurang dari satu menit, kedua bapak itu sudah membahas soal mobil.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang anehnya tenang. Kayla sibuk menatap lukisan abstrak di dinding, mencoba menghitung berapa banyak warna yang ada di sana, lalu menyerah karena ia tidak bisa fokus.
Lalu pintu utama terbuka.
Kayla mendengar suara Bunda Lestari yang antusias: "Anak Mama! Kamu kurus. Mama bilang juga apa. Masuk, masuk. Calonnya udah sampai kok."
Ada langkah masuk ruangan. Kayla, untuk alasan yang ia tidak sepenuhnya pahami, tidak menoleh dulu. Ia memberi dirinya satu detik tambahan untuk bersiap, untuk memasang senyum sopan, untuk mengingat kalimat-kalimat yang sudah ia latih di depan cermin.
Lalu Bunda Lestari berkata, "Nah, ini calonnya, sayang. Namanya Kayla."
Kayla menoleh.
Dan udara di ruangan itu, untuk Kayla, berhenti bergerak.
Karena laki-laki yang berdiri di depannya — laki-laki yang sedang dikenalkan kepadanya oleh ibunya sendiri sebagai "calon" — adalah laki-laki yang delapan tahun lalu meninggalkannya di teras kos saat hujan dengan satu kalimat dan tidak pernah memberi kesempatan untuk membela diri.
Arya Wibisana.
Kayla, yang biasanya bisa berbicara dengan bayi yang baru lahir dan orangtua yang panik di waktu yang bersamaan, mendadak kehilangan seluruh kosakatanya.
Ia menatap Arya. Arya menatapnya.
Tidak ada satu pun dari ibu-ibu yang menyadari bahwa di tengah ruangan itu, sup ayam yang sudah lama mereka siapkan sedang mendingin — dan dengan kecepatan yang sama, masa lalu yang sudah lama mereka kira sudah dingin, mendadak hangat lagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar