Arya menghitung dengan cara yang aneh. Bukan dengan sengaja — ini hanya sesuatu yang terjadi dalam pikirannya. Saat berada di situasi yang ia tidak bisa mengendalikan, ia menghitung detik. Itu adalah cara otaknya memberi ilusi kontrol di tengah kekacauan.
Detik pertama: ia melihat Kayla. Detik kedua: ia mengenali wajahnya, dan otaknya mencoba mengirim perintah "ini bukan dia, ini hanya orang yang mirip" — tapi perintah itu kalah sebelum sampai. Detik ketiga: ia menyadari bahwa Kayla juga sedang menatapnya, dengan ekspresi yang persis seperti ekspresinya — yaitu, tidak ada ekspresi sama sekali. Wajah hangus. Detik keempat: ia mendengar Bunda Lestari mengulangi kalimat yang sama. "Sayang? Ini Kayla. Calonnya." Detik kelima: ia berusaha mengingat namanya sendiri, dan hampir gagal. Detik keenam: ia memaksa wajahnya untuk bergerak. Sudut bibirnya bekerja sama, untuk pertama kalinya dalam karir wajahnya. Ia tersenyum. Detik ketujuh: ia berkata, "Halo. Senang berkenalan."
Tujuh detik. Cukup pendek untuk tidak ketahuan. Cukup panjang untuk meninggalkan bekas seumur hidup.
Kayla membalas senyumnya dengan cara yang Arya yakin hanya bisa dilakukan oleh seorang dokter — yaitu senyum yang dilatih untuk menenangkan pasien yang sedang panik. Tenang. Profesional. Tidak melibatkan seluruh wajah.
"Senang berkenalan juga," kata Kayla.
Dan dalam dua kata itu, Arya menangkap setiap nada yang Kayla gunakan saat marah. Dingin. Datar. Sopan. Mematikan.
"Yuk, kita ke meja makan!" Bunda Lestari bertepuk tangan. "Mama udah siapin sup ayam favoritnya Arya. Eh, Kayla, kamu makan sup ayam, kan? Bukan vegetarian, kan?"
"Saya makan apa aja, Tante."
"Tuh, kan? Cocok!" Bunda Lestari mengerlingkan mata pada Bunda Hanum, yang mengangguk antusias.
Di belakang punggung kedua ibu yang sedang berjalan menuju ruang makan, Arya dan Kayla melangkah dengan jarak yang tidak ramah dan tidak juga jauh. Saat melewati ambang pintu ruang makan, Kayla berbisik, sangat pelan, sangat tajam:
"Ini bercanda, kan?"
Arya, tanpa menoleh, menjawab dengan volume yang sama:
"Saya berharap iya."
"Kamu tahu ini siapa yang ngatur?"
"Saya nggak tahu apa-apa. Mama saya tiba-tiba kirim chat tiga hari yang lalu."
"Saya juga."
Mereka sampai di meja makan. Ada enam tempat duduk — papa-papa di ujung-ujung, mama-mama di sebelah suami masing-masing, dan dua kursi di tengah, berhadapan, untuk Arya dan Kayla. Tentu saja.
Sup ayam sudah tersaji di tengah meja, masih mengepulkan uap. Bunda Lestari mendoa singkat, lalu memberi sinyal kepada semua untuk mulai makan.
Lima menit pertama berjalan dengan suara sendok beradu pelan dengan mangkuk. Bunda Lestari dan Bunda Hanum saling melempar cerita reuni SMA, suami-suami mengangguk-angguk dengan minat yang dipalsukan. Arya menyendok supnya tanpa benar-benar mencicipi. Kayla makan dengan kecepatan seorang dokter yang biasa makan di sela-sela shift — cepat, efisien, tanpa kenikmatan.
Lalu Bunda Hanum mulai bertanya.
"Arya, sudah berapa lama kamu kerja di firma arsitektur itu?"
"Sudah lima tahun, Tante."
"Wah, hebat. Kayla juga sudah lima tahun jadi dokter spesialis anak. Kebetulan ya."
Arya merasa Kayla menendang kakinya pelan di bawah meja — bukan keras, hanya cukup untuk memberi pesan: jangan terjebak, jangan terlibat percakapan ini. Tapi kakinya yang ditendang dan kakinya yang menendang sebenarnya hanya berjarak beberapa sentimeter, dan satu pukulan kecil itu menyentuh sesuatu yang ia tidak siap rasakan.
Itu sentuhan pertama mereka dalam delapan tahun.
Arya hampir tersedak supnya.
"Kamu nggak apa-apa, sayang?" Bunda Lestari panik.
"Iya, Ma. Cuma kepedasan."
"Sup ayam mama nggak pedas."
"Oh iya, ya."
Kayla menatap mangkuk supnya dengan ketertarikan yang luar biasa pada potongan wortel di dalamnya. Arya bisa melihat sudut bibir Kayla naik sedikit — bukan senyum, hanya penekanan kecil yang Arya hafal dari delapan tahun lalu. Penekanan yang artinya: "saya menahan tertawa karena ini tidak pantas."
Bunda Hanum melanjutkan, tidak menyadari apa-apa: "Jadi gimana, Kayla? Cocok nggak Arya?"
Bunda Lestari, dari ujung yang lain, langsung menambahkan: "Iya, gimana? Kalian cocok, nggak?"
Empat pasang mata orangtua menatap dua orang di tengah meja.
Arya merasa supnya tiba-tiba jadi sangat dingin. Padahal masih mengepul.
Ia melirik Kayla. Kayla melirik balik. Untuk satu detik — satu detik yang nyata, bukan ilusi — ada sesuatu di mata Kayla yang Arya kenali dari kuliah dulu. Bukan cinta. Bukan kerinduan. Tapi itu adalah ekspresi yang dulu sering muncul saat mereka berdua terjebak di situasi yang absurd: tante-tante di pasar yang menanyakan apakah mereka pacaran, dosen yang salah menyebut nama Arya, hujan tiba-tiba di tengah pertemuan kelompok. Ekspresi itu berarti satu hal.
Kita di tim yang sama, sekarang.
Kayla menarik napas pendek, lalu tersenyum kepada kedua ibunya dengan profesionalisme yang sempurna.
"Tante, Bunda. Mungkin kami bisa ngobrol berdua dulu sebentar? Biar lebih bisa kenalan."
"Oh, oh tentu! Boleh banget!" Bunda Lestari tepuk tangan. "Di teras aja yuk. Udaranya enak."
Bunda Hanum mengerlingkan mata dengan signifikansi yang membuat Kayla ingin pulang sekarang juga.
Arya berdiri. Kayla berdiri. Mereka berjalan ke teras dengan langkah yang formal, hati-hati, dan jarak yang aman.
Begitu mereka sampai di teras dan Bunda Lestari menutup pintu kaca dengan senyum pemenang, Kayla menoleh dengan ekspresi yang akhirnya ia izinkan dirinya pakai.
"Arya."
"Kayla."
"Apa-apaan ini?"
Arya menarik napas dalam. Untuk pertama kali dalam delapan tahun, ia berdiri berhadapan dengan perempuan yang dulu pernah ia cintai dan kemudian ia tinggalkan. Dan untuk pertama kali dalam delapan tahun, ia tidak punya kalimat siap.
Ia hanya bisa berkata: "Saya... benar-benar nggak tahu."
Kayla menatapnya lama. Sangat lama. Cukup lama untuk membuat Arya merasa setiap detik dari delapan tahun itu sedang dievaluasi ulang.
Lalu Kayla menghela napas, dan berkata dengan suara yang mengejutkan kelembutannya: "Oke. Kalau gitu, kita harus mikir cepat. Karena kalau ini kelamaan, mama-mama kita bakal masuk ke sini dan nanya kapan kita nikah."
Dan untuk pertama kali dalam delapan tahun, Arya tertawa kecil — tawa yang ia tidak rencanakan, tapi yang muncul karena ia masih mengenali, di balik dingin dan jarak, perempuan yang dulu selalu bisa membuatnya tertawa di saat paling kacau.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar