Suara derit halus dari engsel pintu kulkas memecah kesunyian pukul tiga pagi. Udara dingin menyapu wajah Sari yang belum sepenuhnya terbebas dari sisa kantuk. Di luar, langit masih segelap jelaga, namun dapur kecil berukuran tiga kali empat meter itu sudah terang benderang.
Sari meletakkan sepotong ayam utuh yang sudah dipotong delapan ke atas meja keramik putih. Tangannya yang cekatan mulai mengupas bawang merah, bawang putih, dan kunyit. Besok—atau lebih tepatnya siang ini—mertuanya akan datang berkunjung. Dan Arman, suaminya, sudah mewanti-wanti sejak tiga hari yang lalu bahwa ibunya hanya mau makan ayam bumbu kuning buatan rumah, bukan beli di luar.
Pisau beradu dengan talenan kayu, menciptakan ritme konstan yang monoton. Sari menikmati ritme itu. Baginya, dapur adalah satu-satunya ruang di mana ia memegang kendali penuh. Di sini, tidak ada yang mendebatnya, tidak ada yang membandingkannya, dan tidak ada yang menuntutnya menjadi lebih dari sekadar dirinya sendiri.
Sebuah suara langkah kaki kecil terdengar dari arah lorong. Raka, putra mereka yang baru berusia lima tahun, berdiri di ambang pintu dapur sambil mengucek mata. Piyama bergambar roketnya tampak kebesaran.
"Ibu... Raka haus," gumam anak itu dengan suara serak.
Sari segera meletakkan pisaunya, mencuci tangan di wastafel, lalu menghampiri Raka. Ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan sang anak. "Kenapa bangun, Sayang? Ini masih malam. Ayah saja belum pulang."
Sari menuangkan air hangat dari termos ke dalam gelas plastik bermotif kartun, lalu menyerahkannya pada Raka.
"Ayah kerjanya lama banget, Bu. Raka mau main bola sama Ayah," ucap Raka sambil meneguk airnya perlahan.
Sebuah sentilan kecil terasa di dada Sari. Ia mengusap rambut Raka dengan lembut, memberikan senyum yang ia harap terlihat meyakinkan. "Ayah kan cari uang buat Raka sekolah. Buat beli mainan juga. Nanti kalau proyek Ayah sudah selesai, pasti Ayah temani Raka main bola sepuasnya. Sekarang, Raka tidur lagi ya? Ibu temani sampai kamar."
Setelah memastikan Raka kembali terlelap, Sari kembali ke dapur. Air di panci mulai mendidih, mengeluarkan uap panas yang menabrak wajahnya. Ia melirik jam dinding. Pukul 04:15. Pesan terakhir yang ia kirimkan pada Arman jam sembilan malam tadi hanya dibaca, tanpa balasan.
Mas, pulangnya mau disisakan lauk atau sudah makan di luar? Hanya dua centang biru. Tidak ada kata, tidak ada kepastian.
Sorot lampu mobil menyapu kaca jendela depan rumah, memantul hingga ke dinding dapur. Mesin dimatikan, menyisakan keheningan yang tiba-tiba terasa tebal.
Arman duduk diam di balik kemudi selama beberapa menit. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Di layar ponselnya yang menyala terang di atas dasbor, terpampang sebuah draf presentasi. Namun, bukan angka-angka itu yang membuat pikirannya penuh. Melainkan sisa aroma di dalam kabin mobil ini. Aroma vanila dan sedikit sentuhan white musk. Aroma milik Maya.
Arman menarik napas panjang, berusaha menetralkan raut wajahnya melalui kaca spion. Ia melihat pantulan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, dengan kemeja yang sudah kusut di bagian lengan dan dasi yang entah sejak kapan sudah ia lepas dan lempar ke jok belakang. Ia merasa lelah, sangat lelah, tapi di saat yang sama ada kepuasan aneh yang menari-nari di dadanya. Malam ini, presentasinya di depan klien berjalan lancar, dan validasi yang ia terima dari Maya sepanjang perjalanan pulang membuat egonya terisi penuh.
“Kamu brilian, Mas. Strategi pemotongan budget di kuartal ketiga itu jenius. Aku nggak nyangka kamu bisa baca celah sejauh itu,” puji Maya dua jam yang lalu di kedai kopi tempat mereka mampir setelah rapat selesai.
Kata-kata itu terus bergaung di kepalanya. Kapan terakhir kali ia mendengar pujian seperti itu di rumah?
Arman membuka pintu mobil, melangkah keluar sambil membawa tas kerjanya. Angin subuh membuatnya merapatkan jas. Ketika ia membuka pintu depan rumah, aroma kuat dari tumisan bumbu kuning langsung menyergap hidungnya.
Arman mengernyit. Bau kunyit, bawang, dan entah apa lagi itu terasa sangat kontras dengan wangi kopi premium dan parfum mahal yang ia hirup sepanjang malam.
Sari keluar dari dapur, mengenakan daster katun berwarna biru pudar yang lengan kanannya sedikit basah. Rambutnya diikat asal dengan jepit badai.
"Mas... baru sampai?" sapa Sari. Suaranya datar, walau matanya meneliti penampilan suaminya dari atas ke bawah.
Arman tidak membalas tatapan itu. Ia menunduk, melepaskan sepatu pantofelnya dan meletakkannya di rak tanpa merapikannya. "Hmm. Klien dari luar kota minta ubah draf kontrak jam dua pagi. Mau nggak mau tim harus lembur."
Sari melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengambil jas dan tas kerja yang dipegang Arman. "Sini, Mas. Biar aku gantung jasnya. Tasnya mau ditaruh di ruang kerja?"
"Taruh meja makan saja, nanti pagi aku harus cek berkas lagi," jawab Arman sambil berjalan melewati Sari menuju dapur untuk mengambil minum.
Saat tangan Sari menerima jas abu-abu gelap itu, sebuah aroma asing seketika merangsek masuk ke indera penciumannya. Langkah Sari terhenti. Ia mengangkat jas itu sedikit lebih dekat ke wajahnya.
Bukan aroma asap rokok. Bukan aroma pendingin ruangan kantor yang apek.
Ini wangi bunga manis. Sangat manis dan maskulin di saat bersamaan. Vanila. White musk. Ini jelas bukan parfum Arman yang biasanya beraroma citrus dan vetiver.
Sari berbalik, menatap punggung suaminya yang sedang menuang air dingin dari kulkas.
"Mas," panggil Sari pelan.
Arman menoleh dengan gelas di tangan. "Apa lagi? Aku capek, Sar. Mau cepat mandi."
"Tumben... ruang rapatnya pakai pengharum ruangan aroma vanila?" tanya Sari. Nada suaranya tidak meninggi, sama sekali tidak ada tuduhan, hanya sebuah pertanyaan yang dilontarkan dengan tenang.
Gerakan tangan Arman yang hendak membawa gelas ke mulutnya terhenti sepersekian detik. Ia meletakkan gelas itu kembali ke atas meja dengan sedikit bantingan, menciptakan bunyi 'tak' yang lumayan keras.
"Maksud kamu apa nanya begitu?" Suara Arman langsung berubah defensif. Matanya menatap Sari dengan tajam.
"Nggak apa-apa," Sari membalas tatapan itu dengan tenang, meski jarinya mencengkeram kain jas itu semakin erat. "Wanginya nempel di jas Mas. Kuat banget. Aku cuma heran, biasanya kalau rapat di kantor baunya cuma kopi atau asap rokok Pak Direktur."
Arman mendengus kasar. Ia berkacak pinggang, menatap istrinya dengan raut wajah tidak percaya. "Di kafe, Sar. Kami pindah ke kafe dua puluh empat jam karena AC kantor pusat dimatikan jam sepuluh malam. Namanya juga tempat umum, ada wangi parfum pengunjung lain, ada wangi kopi, wangi pengharum ruangan. Kamu ini kenapa sih? Jangan mulai cari-cari masalah subuh-subuh begini. Aku banting tulang cari uang, pulang-pulang malah diinterogasi soal wangi jas?"
Sari menelan ludah. Gumpalan dingin mulai terasa di perutnya, tapi ia menolak membiarkan suaranya bergetar. "Aku cuma bertanya, Mas. Enggak menuduh apa-apa. Kenapa Mas harus marah?"
"Karena pertanyaanmu itu tendensius!" balas Arman cepat. Nada suaranya mulai meninggi, menggema di dapur yang sempit. "Kamu itu terlalu sensitif. Selalu curigaan. Kurang kerjaan kamu di rumah sampai harus ngurusin bau jas segala? Coba kamu ada di posisiku, mikirin target tender ratusan juta, kamu nggak akan sempat mikirin hal-remah begini."
Sari terdiam. Kata-kata Arman meluncur seperti batu kerikil tajam yang dilempar tepat ke wajahnya. Kurang kerjaan. Hal remah.
Sari menatap daster birunya, lalu menatap tumpukan bawang yang baru setengah ia kupas demi memenuhi permintaan ibu mertuanya. Ia menaruh jas itu di sandaran kursi makan.
"Maaf kalau pertanyaanku mengganggu," ucap Sari datar. Ia membalikkan badan, kembali menghadapi talenan. "Duduklah. Aku buatkan kopi hitamnya. Masih ada waktu satu jam sebelum subuh kalau Mas mau istirahat."
Arman mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa sedikit bersalah melihat punggung istrinya yang menegang, tapi egonya jauh lebih besar menuntut pembenaran. Ia menarik kursi meja makan dan duduk dengan kasar. Ponselnya ia letakkan begitu saja di atas meja, berdekatan dengan tempat Sari meracik kopi.
"Ibu besok jadi ke sini kan?" Arman mengalihkan pembicaraan, suaranya masih terdengar kaku. "Pastikan kamar tamu sudah rapi. Ibu nggak suka kalau seprai bau apek. Dan pastikan makanan siap sebelum jam dua belas."
Tangan Sari yang sedang menuang air panas ke dalam cangkir berhenti bergerak.
"Sudah aku ganti dengan seprai baru dari kemarin sore, Mas," jawab Sari tanpa menoleh. "Kamarnya juga sudah kusapu dan pel dengan karbol wangi sereh kesukaan Ibu. Ini aku lagi siapkan ayam bumbu kuningnya. Dari jam tiga tadi aku sudah bangun."
"Baguslah," respons Arman singkat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Biar Ibu lihat kamu ada kerjanya di rumah. Biar Ibu nggak selalu mikir kamu cuma ongkang-ongkang kaki nikmati gajiku."
Sari meletakkan teko air panas ke atas kompor. Cukup keras hingga menimbulkan bunyi denting logam. Ia berbalik, menatap suaminya tepat di mata.
"Kerjaanku di rumah nggak pernah berhenti dari jam empat pagi sampai jam sepuluh malam, Mas," ucap Sari. Suaranya rendah, tidak berteriak, tapi sangat jelas. "Kalau Ibu merasa aku cuma ongkang-ongkang kaki, seharusnya suamiku yang meluruskan hal itu ke ibunya. Bukan malah ikut membenarkan."
Arman memutar bola matanya, membuang napas panjang seolah ia adalah manusia paling menderita di ruangan itu. "Iya, iya. Aku tahu. Kamu pahlawan keluarga. Sudah, jangan diperpanjang. Kepalaku mau pecah dengerin omelanmu. Aku mau mandi. Gerah."
Tanpa menunggu balasan Sari, Arman berdiri. Ia melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di sebelah ponsel di atas meja makan. Langkah beratnya terdengar menjauh, meninggalkan dapur, menuju kamar mandi di lorong belakang. Sedetik kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi yang ditutup sedikit dibanting, disusul suara gemercik air shower.
Sari masih berdiri mematung di depan kompor. Tangannya gemetar pelan. Ia menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik di paru-paru, lalu mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa panas yang mulai merambat ke pelupuk matanya.
Tidak. Jangan menangis sekarang, batinnya memerintah. Bawangnya belum selesai diiris.
Ia kembali ke meja keramik putih. Membawa secangkir kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul. Ia meletakkan cangkir itu di meja makan, tepat di sebelah ponsel Arman yang tergeletak dalam posisi layar menghadap ke atas.
Sari memandangi benda persegi panjang itu. Benda yang belakangan ini terasa lebih banyak mendapat perhatian suaminya daripada dirinya atau Raka. Saat mereka makan malam, mata Arman selalu tertuju ke sana. Saat akhir pekan ketika seharusnya mereka menonton TV bersama, jari Arman selalu sibuk mengetik di layarnya.
Sari mengambil lap bersih, berniat membersihkan percikan air di dekat ponsel tersebut.
Tepat saat tangannya bergerak, layar ponsel yang tadinya gelap gulita itu tiba-tiba menyala terang. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul ke permukaan layar yang terkunci.
Sari tidak berniat mengintip. Namun, ukuran huruf di layar itu cukup besar, dan posisinya tepat berada di bawah pandangan matanya. Gerakan tangan Sari yang sedang mengelap meja membeku.
Nama pengirimnya tertera jelas: Maya (Marketing)
Pesan itu terpampang di layar: Mas, kopi di kafe tadi emang hambar, tapi obrolan kita soal masa depan bikin aku melek. Makasih ya udah dengerin keluh kesahku semalaman. You are the best listener. Tidur yang nyenyak ya.
Dunia di sekeliling Sari terasa berhenti berputar selama beberapa detik. Suara gemercik air shower dari kamar mandi mendadak terdengar sangat jauh dan teredam. Udara subuh yang dingin tiba-tiba terasa mencekik tenggorokannya.
Obrolan kita soal masa depan.
Makasih udah dengerin keluh kesahku semalaman.
Sari membaca ulang kalimat itu di dalam kepalanya, berkali-kali, seolah mencoba mencari makna lain dari deretan kata tersebut. Namun tidak ada makna lain.
Suaminya yang kelelahan, suaminya yang membentaknya karena ditanya soal wangi parfum, suaminya yang menganggap pekerjaannya di rumah tidak ada harganya... ternyata menghabiskan malam untuk mendengarkan keluh kesah perempuan lain. Membicarakan masa depan dengan perempuan lain. Memberikan telinga dan empatinya—hal yang sangat langka didapatkan Sari belakangan ini—kepada perempuan lain yang bau parfumnya kini menempel kuat di jas abu-abu di kursi itu.
Layar ponsel Arman kembali meredup, lalu mati, menyisakan pantulan wajah Sari yang tampak pucat dalam kegelapan kaca layarnya.
Sari tidak marah. Ia tidak menjerit. Ia juga tidak berniat berlari ke kamar mandi untuk menggedor pintu dan meminta penjelasan suaminya.
Perlahan, ia menarik tangannya dari meja. Ia merapikan lap di tangannya, melipatnya menjadi kotak yang sempurna, dan meletakkannya kembali ke tempatnya. Ia berjalan kembali ke meja dapur, mengambil pisaunya, dan kembali mengiris kunyit dengan gerakan yang jauh lebih lambat, namun jauh lebih presisi dari sebelumnya.
Di luar, suara azan subuh mulai berkumandang dari masjid kompleks, membelah kesunyian pagi. Sari memejamkan mata sejenak, membiarkan luka pertama itu meresap jauh ke dalam rongga dadanya, mengendap di sana, mengeras menjadi sesuatu yang kelak tidak akan bisa dihancurkan oleh permintaan maaf apa pun.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar