Malam telah larut ketika Raka akhirnya tertidur pulas di kamarnya. Bu Rahma sudah pulang sejak sore tadi. Suasana rumah kembali sepi, hanya menyisakan deru pelan dari pendingin ruangan di kamar utama.
Sari duduk di tepi ranjang, melipat tumpukan pakaian bersih yang baru ia angkat dari jemuran sore tadi. Setiap lipatan kemeja kerja Arman ia setrika dengan garis tegak lurus sempurna di bagian lengan, persis seperti yang suaminya inginkan.
Pintu kamar mandi terbuka. Arman keluar dengan handuk melilit pinggangnya, menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia berjalan menuju lemari, mengambil kaos dan celana tidur tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya.
Sari meletakkan kemeja terakhir yang baru selesai ia lipat ke dalam keranjang. Ia menatap punggung Arman yang sedang sibuk memakai baju.
"Mas," panggil Sari pelan, memecah keheningan.
Arman berbalik, memasang wajah lelah yang sudah sangat dihafal oleh Sari. "Apa lagi, Sar? Aku ngantuk banget. Besok pagi harus ke kantor cabang."
"M itu siapa?" tanya Sari. Suaranya tenang, tanpa nada menuduh, mengalir layaknya aliran air yang datar namun dalam.
Gerakan tangan Arman yang sedang mengancingkan celana tidurnya terhenti sejenak. Sangat singkat, hampir tidak terlihat, namun mata Sari menangkapnya dengan jelas.
"M apa? Huruf M maksudmu?" Arman berjalan menuju meja rias, mengambil sisir dan merapikan rambutnya. Ia sengaja berbicara kepada pantulan Sari dari cermin, menghindari kontak mata langsung.
"Yang kirim pesan ke HP Mas tadi siang pas Mas ke ruang tamu. Yang bilang 'Miss your insight'. Itu Maya, kan?" Sari tidak bergerak dari tepi ranjang. Tangannya terlipat dengan tenang di atas pangkuannya.
Arman meletakkan sisir dengan kasar ke atas meja kaca rias, menimbulkan bunyi benturan yang tajam. Ia berputar seratus delapan puluh derajat, menatap istrinya dengan dahi berkerut dalam.
"Kamu ngecek HP-ku?" Nada suara Arman naik satu oktaf. Amarah langsung menguasai wajahnya. "Kamu diam-diam baca pesan orang lain? Sejak kapan kamu jadi perempuan yang suka melanggar privasi suami, Sar?"
"Aku nggak ngecek, Mas," jawab Sari teguh. Ia menolak terintimidasi. "HP Mas ketinggalan di meja makan. Layarnya menyala dan hurufnya cukup besar untuk terbaca dari tempatku berdiri mengemasi piring. Aku nggak buka kuncinya, aku cuma membaca apa yang tertera di layar."
"Terus kenapa?!" Arman maju satu langkah, mengayunkan tangannya dengan frustrasi. "Kalau kamu sudah tahu itu Maya, terus masalahnya apa? Dia cuma anak marketing. Dia mengabari soal artikel investasi. Di mana letak salahnya? Apa yang salah dari kalimat 'miss your insight'? Dia itu junior, Sar. Dia butuh banyak belajar, dan dia menganggap pendapatku berharga untuk pekerjaannya."
"Dan soal kalimat 'jangan lupa makan siang'? Apa itu juga masuk kurikulum bimbingan junior di kantormu, Mas?" balas Sari. Kali ini, ada sedikit getaran sinis di ujung kalimatnya.
Arman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, sebuah gestur pura-pura lelah menghadapi sesuatu yang tidak masuk akal. Ia menarik napas panjang, lalu menatap Sari dengan tatapan meremehkan.
"Sar, dengar ya," Arman menurunkan nada suaranya, mengubah strateginya dari menyerang menjadi menggurui. "Kamu itu terlalu sensitif. Kamu terlalu banyak nonton sinetron di rumah sampai pikiranmu selalu curigaan. Maya itu perempuan karier yang sibuk. Dia tipe orang yang ramah ke semua orang. Gaya bahasanya memang begitu, kasual. Kalau aku punya niat kotor sama dia, mana mungkin aku biarkan HP-ku tergeletak sembarangan di meja makan tanpa dikunci layarnya? Logika saja dipakai, Sar."
Sari menatap suaminya lekat-lekat. Kata-kata Arman disusun dengan sangat rapi, masuk akal secara logika dasar, tetapi menyisakan lubang besar di sisi emosional. Itulah yang membuat Sari sempat meragukan kewarasannya sendiri selama beberapa detik.
"Gaya bahasa yang kasual," ulang Sari perlahan, mengecap kata-kata itu di lidahnya. "Termasuk curhat soal masa depan sampai jam dua pagi di kafe? Termasuk membawakan wangi parfumnya ke rumah ini dan menempel di jasmu?"
Wajah Arman sedikit memucat saat Sari menyebutkan soal parfum, namun ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.
"Astaga, Sar! Kamu ini kenapa sih? Cemburu buta? Insecure?" Arman menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Kita ini lagi bahas bisnis, bangun relasi! Maya kenal banyak investor potensial. Kalau aku bisa jaga hubungan baik sama dia, proyek kita bisa jalan lancar. Uangnya buat siapa? Buat keluarga ini, kan? Buat masa depan Raka! Tapi kamu malah mempermasalahkan hal-hal remeh yang nggak ada esensinya sama sekali."
Arman berjalan mendekati sisi ranjang, menunjuk ke arah tumpukan baju yang baru saja dilipat Sari. "Kamu cuma di rumah. Kamu nggak tahu gimana kerasnya dunia di luar sana. Kamu nggak tahu gimana susahnya mencari peluang. Tolong, jangan hancurkan pekerjaanku dengan pikiran sempitmu itu. Aku lelah dituntut macam-macam di kantor, masa pulang ke rumah aku harus diinterogasi kayak tersangka korupsi?"
Ruangan itu tiba-tiba terasa pengap. Oksigen seolah disedot habis oleh setiap kalimat yang keluar dari mulut Arman.
Pikiran sempit. Insecure. Cemburu buta.
Label-label itu ditempelkan begitu saja di dahi Sari. Ia merasa sudut-sudut dirinya didorong paksa ke dalam sebuah kotak sempit bernama 'istri rumah tangga yang tidak tahu apa-apa'. Arman berhasil memutarbalikkan fakta dengan sangat lihai. Dari seorang suami yang menukar waktu tidurnya untuk bertukar pesan manis dengan perempuan lain, menjadi seorang martir yang sedang berjuang demi masa depan keluarga dan justru dihalangi oleh istrinya sendiri.
Sari menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang sedikit kasar karena terlalu sering mencuci dan menyikat lantai. Tiba-tiba saja, ia merasa sangat kecil. Apakah Arman benar? Apakah ia yang terlalu berlebihan? Apakah dunia profesional memang mengharuskan batas yang setipis itu antara pekerjaan dan privasi emosional?
"Aku cuma minta... Mas menghargai perasaanku," ucap Sari parau. Benteng pertahanannya sedikit goyah oleh gaslighting yang ditembakkan bertubi-tubi. "Aku istrimu, Mas. Aku berhak merasa nggak nyaman kalau suamiku terlalu dekat secara personal dengan perempuan lain."
Arman membuang napas kasar. "Perasaanmu itu tidak berdasar, Sar. Kamu menciptakan monster di kepalamu sendiri. Sudah, aku nggak mau bahas ini lagi. Aku mau tidur. Besok pagi aku harus presentasi."
Arman melangkah memutar menuju sisi ranjangnya, merebahkan tubuhnya dan langsung menarik selimut hingga sebatas dada. Ia membelakangi Sari, sebuah penolakan fisik yang begitu nyata dan dingin.
Sari masih duduk mematung di posisinya selama belasan menit. Suara napas Arman yang mulai teratur menandakan suaminya itu sudah jatuh tertidur, atau setidaknya berpura-pura tidur.
Sari perlahan bangkit berdiri. Ia berjalan menuju meja rias tempat Arman tadi berdiri. Di atas meja itu, tergeletak ponsel milik suaminya. Layarnya gelap.
Sari mengulurkan tangannya, menyentuh tombol di sisi ponsel. Layar itu menyala, menampilkan foto Raka yang sedang tersenyum memegang mainan mobil-mobilan sebagai wallpaper layar kunci. Foto itu membuat hati Sari terasa diiris halus. Arman menjadikan darah dagingnya sebagai perisai tampilan luar, sementara di baliknya, ia membangun ruang rahasia bersama perempuan lain.
Tangan Sari bergetar saat ia mencoba mengusap layar tersebut ke atas, berniat memasukkan PIN enam angka yang selama lima tahun pernikahan ini tidak pernah dirahasiakan oleh Arman. Tanggal lahir Raka. 081020.
Sari menekan angka nol. Delapan. Satu. Nol. Dua. Nol.
Sebuah getaran pendek muncul, diiringi tulisan berwarna merah yang berkedip di layar: PIN Salah. Silakan coba lagi.
Napas Sari terhenti. Ia mengerjap, mengira ia salah tekan. Ia mengulangi masukannya dengan lebih hati-hati. 0-8-1-0-2-0.
PIN Salah. Silakan coba lagi dalam 30 detik.
Dada Sari terasa seperti ditimpa balok beton. Ponsel itu terlepas dari tangannya, jatuh mendarat di atas karpet berbulu tebal di bawah meja rias tanpa menimbulkan suara.
Arman telah mengubah kata sandinya.
Semua argumen masuk akal yang tadi dilontarkan Arman; tentang Maya yang hanya seorang junior, tentang gaya bahasa kasual, tentang tidak adanya niat buruk... semuanya runtuh berantakan dalam satu detik. Orang yang tidak menyembunyikan apa-apa tidak akan mengganti kunci rumahnya tanpa memberitahu penghuni lainnya.
Di atas ranjang, punggung Arman masih terlihat diam, membelakanginya.
Sari menatap punggung itu. Air mata yang sejak subuh tadi ia tahan dengan sekuat tenaga, akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Satu tetes jatuh melewati pipinya. Tapi ia tidak terisak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa amis darah. Ia menolak mengeluarkan suara tangisan sedikit pun di ruangan ini.
Arman bilang ia adalah istri yang tidak berkembang. Arman bilang ia picik dan sensitif.
Sari menunduk, mengambil ponsel itu dari lantai, meletakkannya kembali ke atas meja rias tepat di posisi asalnya dengan sangat hati-hati.
Baik, Mas, batin Sari dengan mata yang menyala tajam di tengah genangan air matanya. Kalau menurutmu aku hanyalah perempuan sempit yang tidak mengerti dunia luar, maka bersiaplah. Karena dunia luar yang kamu agung-agungkan itu, suatu saat nanti akan membungkuk di hadapanku.
Malam itu, sesuatu di dalam diri Sari mati dan putus secara permanen. Rasa hormatnya pada Arman lenyap. Namun di saat yang bersamaan, sebuah bibit baru mulai tumbuh berakar dalam dadanya. Bibit tentang kesadaran diri, tentang kekuatan yang selama ini ia kubur demi seorang laki-laki yang ternyata tidak pernah benar-benar menghargainya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar