Matahari menjelang siang memantulkan cahaya terik melalui jendela kaca ruang makan. Di atas meja berlapis taplak plastik motif bunga, hidangan telah tertata rapi. Semangkuk besar ayam bumbu kuning dengan kuah kental yang mengepulkan aroma gurih, sepiring tumis kacang panjang, dan sambal terasi segar.

Sari menata sendok sayur perlahan, memastikan posisinya sejajar dengan mangkuk. Tangannya masih menyisakan sedikit aroma kunyit meski sudah dicuci berkali-kali menggunakan sabun cuci piring rasa jeruk nipis.

Di seberang meja, Bu Rahma—ibu mertuanya—sedang mengunyah perlahan sambil memperhatikan sekeliling rumah. Tatapan wanita paruh baya itu setajam pisau bedah, menyusuri setiap sudut dari tirai ruang tamu hingga ke lantai keramik.

"Arman belum bangun, Sar?" tegur Bu Rahma. Nada suaranya diayunkan sedemikian rupa, seolah bertanya namun sebenarnya sedang melayangkan sebuah protes.

Sari menarik kursi dan duduk di samping Raka yang sibuk memisahkan daging ayam dari tulangnya. "Belum, Bu. Tadi malam Mas Arman baru pulang jam tiga subuh. Katanya ada draf kontrak dari klien luar kota yang harus direvisi mendadak."

Bu Rahma meletakkan sendoknya. Ia mengambil gelas air putih, meminumnya sedikit, lalu menatap Sari dengan raut wajah penuh simpati yang terasa keliru. "Ya ampun, anak itu. Dari dulu memang pekerja keras. Tulang punggung keluarga sejati. Kamu harus banyak-banyak bersyukur, Sar. Zaman sekarang, cari suami yang mau banting tulang sampai subuh demi menafkahi istri di rumah itu susah."

Sari mengangguk pelan. "Iya, Bu."

"Makanya," lanjut Bu Rahma, jarinya kini menunjuk ke arah mangkuk ayam. "Masakannya harus yang bergizi. Ini ayamnya beli di pasar mana? Kok potongannya kecil-kecil begini? Arman itu butuh protein banyak. Dia mikir pakai otak, energinya cepat habis. Kalau kamu yang cuma di rumah ngurus anak sih, makan tempe saja sudah cukup, tapi Arman jangan disamakan."

Raka yang duduk di sebelah Sari tiba-tiba berhenti mengunyah. Anak kecil itu menatap neneknya. "Ibu juga capek, Nek. Ibu bangun dari gelap buat masak."

Bu Rahma tertawa kecil, mengusap kepala cucunya. "Iya, Sayang. Namanya juga kewajiban perempuan. Nanti kalau Raka sudah besar, Raka juga harus cari istri yang pintar ngurus rumah seperti ibu kamu. Jangan cari yang sibuk kerja di luar sampai lupa ngurus suami."

Sari menahan napas. Kalimat itu diucapkan dengan senyuman, namun ujungnya menyisakan sayatan tipis. Ia teringat kembali percakapan subuh tadi. Aku lelah punya istri yang tak berkembang. Kalimat yang Arman ucapkan di telepon, yang tak sengaja ia dengar beberapa waktu lalu, kembali berputar layaknya kaset rusak di kepalanya.

Terdengar suara pintu kamar utama dibuka. Langkah kaki yang diseret berat mendekat ke arah ruang makan. Arman muncul dengan kaos oblong abu-abu dan celana pendek selutut. Rambutnya masih sedikit berantakan, basah sisa mandi air hangat.

"Eh, anak Ibu sudah bangun," sapa Bu Rahma. Wajahnya seketika cerah, kontras dengan ekspresi kritisnya beberapa detik yang lalu. "Sini, Man. Makan dulu. Istrimu sudah masak ayam bumbu kuning kesukaanmu. Tadi Ibu minta panaskan lagi biar enak."

Arman menarik kursi di ujung meja. Ia menatap hidangan di depannya dengan tatapan kosong, lalu menguap lebar. "Iya, Bu. Nanti Arman makan. Masih kenyang. Semalam habis ngopi sama klien."

Sari mengambil piring kosong, menyendokkan nasi hangat. "Sedikit saja, Mas. Biar perutnya nggak masuk angin. Kopi kan tajam buat lambung."

"Aku bilang nanti, Sar," potong Arman cepat. Tangannya menolak piring yang disodorkan Sari. "Taruh saja di situ."

Sari meletakkan piring itu tanpa banyak bicara. Ia kembali duduk, memperhatikan suaminya.

Alih-alih menyentuh makanan, Arman justru mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya. Ia meletakkan benda pipih itu di samping piring kosong, membungkuk sedikit, dan mengetuk layarnya.

Suasana ruang makan mendadak hening, hanya diisi oleh suara dentingan sendok Raka dan Bu Rahma. Namun, fokus Sari sepenuhnya tersedot pada wajah suaminya.

Mata Arman yang tadinya sayu karena kurang tidur tiba-tiba berbinar. Sudut bibirnya tertarik ke atas, menciptakan lengkungan senyum yang tertahan. Ibu jarinya bergerak lincah mengetik sesuatu di atas layar kaca tersebut. Sesekali, ia menggigit bibir bawahnya, menahan tawa yang nyaris lepas.

Itu bukan senyum seorang pria yang sedang membalas pesan dari klien soal draf kontrak yang merepotkan.

Sari mengenal senyum itu. Itu adalah senyum yang sama persis ketika Arman pertama kali mendekatinya tujuh tahun yang lalu. Senyum penuh ketertarikan, antusiasme, dan percikan yang hidup. Senyum yang sudah tidak pernah Sari lihat lagi setiap kali suaminya menatap wajahnya di rumah ini.

"Ada kabar bagus dari kantor, Mas?" tanya Sari. Suaranya membelah keheningan.

Jari Arman berhenti mengetik di udara. Ia menekan tombol kunci di sisi ponselnya dengan gerakan cepat yang sedikit terlalu kasar, membuat layarnya langsung gelap. Ia mendongak, menatap Sari dengan dahi berkerut.

"Kabar apa?" jawab Arman balik bertanya, nada suaranya berubah datar.

"Tadi Mas senyum-senyum lihat HP," Sari menatap lurus ke mata Arman. "Kelihatannya ada proyek besar yang tembus, sampai lupa sama ayam bumbu kuning buatan Ibu."

Bu Rahma menimpali dengan tawa bangga. "Alhamdulillah kalau proyeknya tembus. Memang anak Ibu ini otaknya brilian. Gimana, Man? Klien yang semalam deal?"

Arman berdehem. Ia membetulkan posisi duduknya, menghindari tatapan Sari dan beralih menatap ibunya. "Eh... iya, Bu. Ada progres bagus. Vendor dari Surabaya setuju sama penawaran kita. Ini tadi tim marketing ngabarin lelucon soal orang vendor yang agak gagap pas diajak nego. Lucu saja bacanya."

Sari terdiam. Tim marketing. Maya.

"Oh, begitu," respons Sari pelan. Ia menunduk, menatap sisa nasi di piring Raka. "Sampai segitunya ya tim marketing kerja di hari Sabtu. Rajin sekali."

"Namanya juga profesional, Sar," Arman mengambil gelas air putih dan meminumnya cepat. "Target akhir tahun ini gila-gilaan. Kalau kita nggak respons cepat, bisa disalip kompetitor. Kamu yang nggak pernah kerja kantoran mungkin nggak paham ritmenya. Di dunia bisnis, kita nggak bisa membatasi komunikasi cuma dari jam delapan pagi sampai jam lima sore."

Sari menggenggam erat serbet di pangkuannya. Kamu yang nggak pernah kerja kantoran mungkin nggak paham. Sebuah peluru halus kembali ditembakkan, tepat sasaran.

Di balik meja makan itu, isi kepala Arman sebenarnya sedang berpacu.

Ia baru saja membaca balasan dari Maya. Perempuan itu mengirimkan foto secangkir kopi dengan latar belakang laptop yang menyala.

“Weekend tetap nguli demi bantuin Pak Bos Arman revisi kontrak. Kopinya pahit, Mas. Nggak semanis omonganmu semalam. Btw, dasimu yang ketinggalan di mobilku mau dikirim via ojol atau kuantar langsung ke rumah? Hahaha, bercanda. Nanti Senin kuambilkan di laundry.”

Pesan itu begitu sederhana, namun entah mengapa membuat dada Arman berdesir hangat. Maya mengerti cara membuatnya merasa penting. Maya menghargai kerja kerasnya, memvalidasi ide-idenya, dan yang terpenting, Maya tidak pernah menuntutnya membuang sampah, mengganti galon, atau bertanya kenapa ia pulang telat. Bersama Maya, ia murni seorang pemimpin yang dihormati. Seorang pria yang dikagumi.

Namun pertanyaan Sari barusan sedikit mengganggu kesenangannya. Arman benci diinterogasi. Ia merasa dirinya adalah kepala keluarga yang sudah menjalankan kewajibannya dengan sempurna: memberikan uang bulanan tepat waktu, membelikan mobil untuk istri antar-jemput anak, dan membayar cicilan rumah. Kenapa ia tidak berhak mendapatkan sedikit hiburan dari layar ponselnya?

"Ibu pulangnya nanti sore saja, Bu. Sekalian nunggu Arman tidur siang dulu. Nanti Arman yang antar pakai mobil," ucap Arman kepada ibunya, berusaha mengalihkan suasana kaku di meja makan.

"Iya, nggak usah buru-buru. Istrimu ini katanya mau buatin Ibu kolak pisang," sahut Bu Rahma sambil melirik Sari. "Iya kan, Sar?"

"Iya, Bu. Pisangnya sudah saya beli kemarin," jawab Sari pelan.

Arman berdiri dari kursi. "Aku ke kamar depan dulu. Mau telepon vendor sebentar."

Ia melangkah pergi meninggalkan ruang makan. Namun, karena terburu-buru, ia lupa membawa ponselnya. Benda pipih hitam itu masih tergeletak di samping piringnya yang kosong.

Sari memperhatikan punggung suaminya menghilang di balik pintu ruang tamu. Ia bangkit dari kursinya untuk mulai membereskan piring kotor. Saat ia mengulurkan tangan untuk mengambil piring Arman, layar ponsel yang tergeletak di sana menyala terang benderang, diiringi getaran pelan sebanyak dua kali.

Notifikasi pesan masuk.

Mata Sari secara refleks tertuju pada layar tersebut. Pengirimnya tidak menggunakan nama, hanya inisial huruf M.

“Mas, aku nemu artikel bagus soal investasi yang kita bahas semalam. Nanti aku share ya. Btw, jangan lupa makan siang. Orang sibuk nggak boleh sakit. Miss your insight.”

Napas Sari tercekat. Ia membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang tepi piring terasa dingin.

Miss your insight. Kalimat itu dibungkus dengan bahasa profesional, namun intonasi dan kedekatannya melampaui batas kewajaran antara atasan dan rekan kerja. Ada keintiman yang sengaja dibangun. Ada celah yang sengaja dibuka lebar-lebar oleh suaminya.

"Sar? Kok diam saja? Itu piringnya sekalian dibawa ke belakang," tegur Bu Rahma, mengagetkan Sari.

"Eh... iya, Bu," suara Sari sedikit bergetar.

Ia memalingkan wajah dari layar ponsel itu tepat sebelum layarnya kembali meredup. Ia mengumpulkan piring-piring kotor dengan gerakan mekanis, menumpuknya menjadi satu, lalu membawanya ke dapur.

Di depan wastafel, Sari menghidupkan keran air dengan aliran paling besar. Suara air yang menabrak tumpukan piring menutupi suara tarikan napasnya yang berat. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela kecil di atas wastafel. Wajah tanpa riasan, kantung mata yang menghitam karena kurang tidur, dan rambut yang diikat asal-asalan.

Ia tidak marah pada pantulan itu. Ia tahu dirinya berharga. Ayahnya, Pak Haris, pemilik Koperasi Simpan Pinjam "Bina Warga" yang memiliki belasan cabang di provinsi ini, selalu mengajarkannya bahwa nilai seorang perempuan tidak ditentukan dari seberapa tebal bedaknya atau seberapa tinggi jabatannya di kantor. Nilai seorang perempuan ada pada martabat dan kesabarannya. Ia sengaja meninggalkan gaya hidup mewahnya di kota asal demi menjaga ego Arman yang berasal dari keluarga sederhana. Ia ingin Arman merasa bangga sebagai imam keluarga.

Namun, apa balasan dari semua pengorbanan itu? Senyum untuk layar kaca. Dan perhatian yang dibagikan kepada perempuan lain.