Jarum jam dinding berbentuk burung hantu di ruang makan menunjuk tepat pada angka tujuh malam. Di atas meja kayu jati yang dibeli Sari dengan uang tabungannya sendiri empat tahun lalu, tiga piring sudah tertata. Asap tipis mengepul dari mangkuk kaca berisi sup iga sapi kesukaan Arman. Taburan daun bawang dan seledri yang dipotong presisi melengkapi kuah bening yang kaldu sapinya direbus Sari selama lebih dari empat jam dengan api kecil.

Raka duduk di kursinya yang sengaja ditinggikan dengan bantalan tambahan. Bocah lima tahun itu memegang krayon merah di tangan kanan, mencoret-coret buku gambar yang terbuka di sebelahnya, sementara tangan kirinya memegang sendok, menunggu ayahnya keluar dari kamar mandi.

"Ibu, mobil balap itu bannya ada berapa sih?" tanya Raka tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.

Sari menuangkan air putih ke dalam gelas Arman. "Ada empat, Sayang. Sama seperti mobil Ayah."

"Kalau mobil yang bisa terbang kayak di TV?"

"Itu di film kartun, Raka. Di dunia nyata mobil belum bisa terbang. Bannya tetap empat," jawab Sari sabar, suaranya diatur serendah dan setenang mungkin.

Langkah kaki terdengar dari arah lorong. Arman muncul dengan kaos polo hitam dan celana bahan yang santai. Aroma sabun mandi yang segar menguar darinya, menutupi jejak wangi vanila yang sempat meracuni pikiran Sari kemarin subuh.

Arman menarik kursi di ujung meja, posisi yang selalu ia klaim sebagai 'kursi kepala keluarga'. Ia duduk, mengusap wajahnya sebentar, lalu langsung memasukkan tangan ke dalam saku celana. Sedetik kemudian, ponsel hitamnya sudah berpindah ke atas meja, tepat di sebelah piring nasinya. Posisinya telungkup, namun Sari tahu benda itu sedang dalam mode senyap dan siap bergetar kapan saja.

"Mas, makan selagi hangat," ucap Sari. Ia mengambil piring Arman, menyendokkan nasi putih secukupnya, lalu menuangkan dua potong iga sapi berdaging tebal dan kuah yang melimpah.

"Hmm," Arman hanya merespons dengan gumaman tertutup. Matanya sama sekali tidak melirik sup iga yang sudah dipersiapkan istrinya setengah hari penuh. Pandangannya terpaku pada layar ponsel yang baru saja ia balik. Jempol kanannya mulai menggulir layar dengan cepat.

Sari meletakkan piring itu tepat di depan dada Arman. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak ada kontak mata.

"Ayah!" seru Raka tiba-tiba, mengangkat buku gambarnya tinggi-tinggi. "Lihat, Yah! Raka gambar mobil balap super. Bannya Raka kasih api biar larinya cepat banget ngelewatin mobil Ayah!"

Arman menyendok kuah sup dengan tangan kirinya tanpa melepaskan ponsel di tangan kanan. Ia memasukkan kuah itu ke mulutnya sambil matanya tetap membaca sesuatu di layar.

"Bagus," jawab Arman singkat, datar, tanpa intonasi. Ia bahkan tidak menoleh sepersekian milimeter pun ke arah buku gambar yang disodorkan anaknya.

Raka menurunkan buku gambarnya perlahan. Senyum lebar di wajah anak itu sedikit pudar. "Ayah nggak lihat gambarnya Raka. Kata Ayah mau belikan Raka mobil remot kalau Raka pintar gambar."

"Iya, nanti dibelikan. Makan dulu nasimu, Raka. Ayah lagi sibuk," potong Arman cepat. Kali ini jarinya mulai mengetik balasan di layar ponselnya. Sudut bibirnya sedikit berkedut, menahan sebuah senyuman kecil yang berusaha ia sembunyikan.

Suasana di meja makan seketika berubah kaku. Suara yang mendominasi hanyalah dentingan sendok aluminium yang beradu dengan dasar piring kaca, serta ketukan ritmis jari Arman di atas layar.

Sari mengunyah makanannya perlahan. Rasa gurih kaldu sapi yang ia racik mati-matian sama sekali tidak terasa di lidahnya. Semua terasa hambar, sekering debu. Matanya menatap suaminya lekat-lekat dari seberang meja.

Arman hadir secara fisik di ruangan ini. Tubuhnya duduk di kursi kayu jati itu, tangannya menyuap makanan yang dimasak dari dapur rumah ini, tetapi pikirannya, emosinya, dan seluruh antusiasmenya berada di dimensi lain. Berada di dalam layar pipih lima inci tersebut.

"Mas," panggil Sari dengan nada terkendali. "Bisa tolong diletakkan dulu ponselnya? Kita sedang makan bersama. Raka dari tadi sore nungguin Mas pulang buat cerita soal teman barunya di TK."

Jari Arman berhenti mengetik. Ia mendongak, menatap Sari dengan tatapan yang memancarkan rasa terganggu yang amat sangat. Seolah Sari baru saja menginterupsi sebuah pertemuan kenegaraan yang krusial.

"Sar, aku ini lagi koordinasi sama tim," Arman membela diri, nada suaranya menekan. "Ada vendor yang minta revisi penawaran harga malam ini juga. Kalau nggak aku setujui sekarang, besok pagi mereka bisa cabut ke kompetitor. Kamu mau ngurusin kerugiannya?"

"Aku paham Mas sibuk," balas Sari tak kalah tenang, namun ada ketegasan di setiap suku katanya. "Tapi ini cuma butuh waktu lima belas menit. Lima belas menit untuk makan tanpa melihat layar. Lima belas menit untuk menghargai makanan yang sudah ada di meja, dan menghargai anakmu yang ingin dilihat oleh ayahnya."

Arman meletakkan sendoknya dengan sedikit bantingan. "Kenapa kamu selalu mendramatisir keadaan, sih? Raka kan bisa cerita habis makan. Kenapa harus sekarang? Lagian, aku juga makan sambil dengar, kok. Aku punya dua telinga."

Raka yang melihat perdebatan itu mulai menunduk. Ia menarik buku gambarnya mendekat ke dada. "Ayah jangan marah sama Ibu... Raka nggak jadi cerita mobil balap."

Mendengar suara cicit ketakutan dari putranya, rahang Sari menegang. Tangannya yang berada di bawah taplak meja mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Arman tajam, sebuah peringatan diam tanpa kata.

Arman menghela napas kasar, menyadari suasana menjadi tidak nyaman. Ia menatap Raka sekilas, lalu beralih menatap ponselnya lagi. Dengan gerakan enggan, ia menekan tombol daya di sisi ponsel, mematikan layarnya, lalu meletakkannya kembali dalam posisi telungkup dengan suara ketukan keras.

"Puas?" tantang Arman, menatap Sari lurus. "Sudah aku matikan. Apa lagi sekarang aturan makan di rumah ini yang belum aku patuhi?"

"Terima kasih," jawab Sari singkat, mengabaikan sarkasme suaminya. Ia beralih menatap Raka, mengubah ekspresinya menjadi jauh lebih lembut. "Ayo, Sayang, dimakan lagi dagingnya. Nanti Ibu yang dengar cerita Raka soal mobil balapnya, ya."

Makan malam dilanjutkan dalam kesunyian yang mencekik. Oksigen di ruang makan itu seolah ditarik keluar. Arman mengunyah makanannya dengan gerakan mekanis yang cepat, seolah makanan di depannya adalah tugas yang harus segera diselesaikan agar ia bisa kembali ke aktivitas utamanya.

Di dalam kepalanya, Arman sebenarnya sedang mengutuk situasi ini. Ia merasa terkekang.

Beberapa menit yang lalu, ia sedang bertukar pesan dengan Maya. Perempuan itu sedang berada di sebuah pameran seni di pusat kota sendirian, dan mengirimkan foto sebuah lukisan abstrak dengan palet warna suram.

'Lukisan ini ngingetin aku sama diskusi kita soal stagnasi pasar kuartal ini, Mas. Penuh warna abu-abu, tapi ada garis merah kecil di ujung. Kayak celah peluang yang cuma bisa dilihat sama orang jeli. Setuju nggak?' Pesan Maya itu adalah sebuah pancingan intelektual yang sangat disukai Arman. Ia merasa diakui kedalamannya. Ia baru saja selesai mengetik balasan panjang tentang filosofi peluang bisnis dan analisis makroekonomi, ketika Sari tiba-tiba merusak momen itu dengan ceramah tentang menghargai sup iga dan gambar anak kecil.

Arman menatap istrinya sekilas dari balik bulu matanya. Daster bermotif batik pudar, rambut yang digelung sederhana dengan jepit plastik, dan wajah tanpa sapuan riasan sedikit pun. Sangat kontras dengan bayangannya tentang Maya yang selalu wangi, berpenampilan rapi dengan setelan blazer chic, dan memiliki wawasan luas.

Kenapa Sari tidak bisa seperti Maya? batin Arman mengeluh. Kenapa isi kepala Sari cuma seputar meja makan, wangi sabun lantai, dan keluhan anak kecil? Tidakkah dia sadar dunia luar berlari sangat cepat?

Arman merasa wajar jika ia mencari stimulasi mental dari orang lain. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak berselingkuh. Ia tidak pernah menyentuh Maya secara fisik. Ia tidak pernah mengajak Maya masuk ke kamar hotel. Ia hanyalah seorang profesional yang menemukan rekan diskusi sepadan. Jika obrolan itu merambah sedikit ke ranah personal, itu hanyalah bumbu dalam membangun relasi bisnis. Sari saja yang terlalu kolot dan tidak paham batasan pergaulan kaum urban.

Tiba-tiba, ponsel yang telungkup di sebelah piring Arman bergetar panjang. Terdengar nada dering khusus yang disetel Arman memecah keheningan ruang makan.

Sari menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap ponsel itu, lalu menatap suaminya.

Arman dengan cepat meraih ponselnya. Ia membalikkan layar dan melihat nama pemanggil yang tertera. Seketika, postur tubuhnya berubah. Punggungnya yang tadi membungkuk malas kini tegak lurus. Ada kilat kepanikan kecil di matanya yang segera ia tutupi dengan raut wajah serius.

"Halo?" Arman mengangkat telepon itu dengan cepat. "Iya, selamat malam. Oh... soal draf kontrak yang tadi? Baik, sebentar, saya butuh cek catatan saya di ruang kerja."

Arman langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan piring sup iganya yang baru habis sepertiga.

"Mas, makanannya belum habis," tegur Sari pelan.

"Ini klien penting dari luar kota," jawab Arman terburu-buru, tangannya menutupi bagian bawah ponsel. "Urusan ratusan juta, Sar. Kamu habiskan saja makanmu sama Raka. Aku urus ini di depan."

Tanpa menunggu persetujuan atau balasan dari istrinya, Arman berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu di bagian depan rumah.

Sari tidak menahannya. Ia tetap duduk di kursinya. Namun, saat tubuh Arman berputar ke arah lorong, Sari melihat pantulan layar ponsel suaminya yang masih menyala di kaca bufet yang berdiri tak jauh dari meja makan.

Pantulan itu tidak terlalu tajam, namun warna latar belakang layar panggilan masuk dan deretan huruf tebal di atas durasi telepon itu cukup jelas terbaca oleh mata Sari yang sejak kemarin sudah terlatih mencari detail.

Bukan nomor tak dikenal. Bukan nama direktur. Bukan nama vendor.

Nama yang terpantul di kaca bufet itu adalah Maya.

Urusan ratusan juta dari luar kota, kata Arman. Klien penting, katanya. Kebohongan itu meluncur begitu lancar, tanpa jeda, tanpa rasa bersalah sedikit pun, disaksikan langsung oleh istri dan anak kandungnya sendiri.

"Ibu..." Raka menarik ujung daster Sari, membuyarkan fokus wanita itu. "Ayah nggak mau makan masakan Ibu ya?"

Sari menunduk, menatap wajah polos putranya. Ada perih yang menyengat tenggorokannya, menyumbat saluran napasnya selama beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam lewat hidung, memaksa otot-otot wajahnya untuk membentuk sebuah senyuman kecil.

"Ayah lagi kerja keras buat Raka, Sayang," suara Sari terdengar sangat stabil, bertolak belakang dengan gemuruh hebat yang sedang meruntuhkan dinding-dinding kepercayaannya di dalam dada. "Makanannya Ayah biar Ibu yang simpan. Sekarang, Raka habiskan sayurnya, habis itu Ibu temani mewarnai mobil balap supernya."

Di meja makan yang sunyi itu, dikelilingi oleh sisa makanan yang dingin, Sari menelan kebohongannya sendiri. Ia diam, membiarkan Arman merasa menang malam ini. Karena Sari tahu, kemenangan yang dibangun di atas kebohongan tidak akan membutuhkan waktu lama untuk hancur dengan sendirinya.