Sinar matahari sore menembus celah gorden ruang keluarga, menciptakan garis-garis panjang berdebu di atas karpet. Hari Minggu ini seharusnya menjadi waktu bersantai bagi keluarga kecil Arman. Namun, kehadiran Bu Rahma yang datang sejak siang dengan alasan ingin mengantarkan rengginang mentah, mengubah dinamika rumah menjadi arena penilaian yang meletihkan bagi Sari.

Televisi layar datar lima puluh inci di depan sofa menyiarkan berita ekonomi tentang fluktuasi harga bahan pokok dan pelemahan nilai tukar mata uang.

Arman duduk bersandar di sofa panjang, kakinya bertumpu santai di atas meja kaca kecil. Di tangannya terdapat secangkir kopi susu yang setengah kosong. Bu Rahma duduk di sofa tunggal di sebelah kanannya, sibuk mengunyah pisang goreng yang baru saja diangkat Sari dari penggorengan.

Sari sendiri duduk di ujung sofa panjang, menjaga jarak aman. Tangannya sibuk melipat pakaian kering yang ia tumpuk di keranjang plastik di dekat kakinya. Gerakannya konstan: kibas, lipat bagian kiri, lipat bagian kanan, lipat menjadi dua. Rapikan.

"Dolar naik lagi ini," komentar Arman sambil menunjuk layar televisi dengan dagunya. "Kalau bahan baku impor untuk proyek vendor bulan depan ikut naik, margin keuntungan perusahaan bisa tergerus sampai lima belas persen. Kepala pusing mikirin strategi efisiensi silang."

Bu Rahma mengangguk setuju, meski matanya menatap kosong ke arah grafik batang di layar televisi. "Iya, ekonomi lagi susah. Makanya, Man, kamu harus pintar-pintar cari peluang. Jangan puas cuma diam di posisi sekarang. Perusahaanmu itu saingannya banyak. Harus pandai bergaul sama orang-orang atas."

"Tentu saja, Bu," Arman tersenyum bangga. "Kemarin saja waktu presentasi di depan direksi, Arman bawa ide ekspansi ke proyek digitalisasi logistik. Awalnya banyak yang ragu karena butuh modal besar di awal. Tapi Arman paparkan proyeksi untung ruginya untuk lima tahun ke depan. Langsung diam semua orang di ruangan itu."

Sari melipat sebuah handuk biru. "Kalau bahan baku impornya diprediksi terus naik, apa tidak lebih aman mulai mencari pemasok lokal alternatif untuk proyek jangka menengah, Mas? Mungkin selisih kualitasnya sedikit, tapi margin keuntungannya bisa lebih stabil karena tidak bergantung pada fluktuasi nilai tukar harian."

Sari melontarkan pendapat itu tanpa mengalihkan pandangannya dari lipatan handuk. Itu adalah konsep dasar mitigasi risiko yang sering ia diskusikan dengan ayahnya saat membahas neraca keuangan koperasi keluarga mereka. Sebuah pemikiran logis yang sangat relevan dengan keluhan suaminya.

Keheningan tiba-tiba menyergap ruang keluarga itu. Hanya terdengar suara penyiar berita dari televisi.

Arman menoleh pelan ke arah istrinya. Alisnya bertaut, bukan karena takjub dengan pemikiran istrinya, melainkan karena merasa teritorinya baru saja diinjak.

Sebuah tawa kecil yang meremehkan keluar dari mulut Arman. Ia menggelengkan kepalanya. "Sar, Sar. Kamu pikir ngurus proyek miliaran itu gampang kayak milih sayur kangkung di pasar? Tinggal ganti lapak kalau harga di lapak sebelah lebih mahal?"

Sari menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Arman lurus. "Aku tidak bilang begitu, Mas. Aku bicara soal substitusi supply chain dasar. Kalau ketergantungan impor tinggi, risiko kurs juga—"

"Sudah, sudah," potong Arman cepat, mengangkat tangannya mengisyaratkan Sari untuk diam. Nada suaranya sarat akan kondensasi. "Kamu itu ngerti apa soal supply chain? Istilahnya saja mungkin kamu baru dengar dari berita barusan. Mencari supplier lokal yang bisa memenuhi standar korporat itu butuh due diligence berbulan-bulan. Nggak bisa asal tunjuk. Dunia bisnis itu rumit, Sar. Bukan ranahmu."

Sari menggigit bagian dalam pipinya keras-keras, menahan rentetan fakta tentang puluhan kontrak kerja sama vendor UMKM yang rutin ia teliti dan setujui untuk Koperasi "Bina Warga" milik ayahnya setiap akhir bulan. Ia menelan semua kata-kata itu. Demi ego suaminya. Demi sandiwara yang ia pilih sendiri sejak awal pernikahan.

Bu Rahma menengahi, memecah ketegangan itu dengan cara yang tidak kalah menyakitkan.

"Istrimu ini niatnya baik lho, Man. Mau ikut mikirin urusan suaminya," ucap Bu Rahma. Wanita paruh baya itu tersenyum ke arah Sari, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Tapi ya benar kata Arman. Urusan kantor biar jadi urusan laki-laki. Perempuan di rumah fokusnya beda. Ngurus anak, masak, memastikan baju suami rapi. Jangan memaksakan diri membahas hal yang otak kita nggak nyandak. Nanti malah bikin pusing suami."

Sari mengambil napas dalam-dalam. "Iya, Bu."

"Ngomong-ngomong soal pintar cari peluang," Arman dengan cepat mengubah topik, seolah ketidaktahuan istrinya sudah bukan hal yang menarik untuk dibahas lagi. "Di kantorku sekarang anak-anak mudanya luar biasa tangkas, Bu. Terutama di divisi marketing."

Mendengar kata 'marketing', dada Sari seketika terasa berat. Ia kembali melanjutkan melipat pakaian untuk menyembunyikan getaran di tangannya.

"Ada satu rekan kerja Arman, namanya Maya," Arman menyebut nama itu dengan kelancaran yang membuat perut Sari mual. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa bersalah. Ia mengucapkannya seperti menceritakan hal biasa. "Perempuan, umurnya belum ada tiga puluh tahun. Tapi etos kerjanya, Bu... luar biasa. Gesit, melek investasi, dan wawasannya luas banget."

Bu Rahma meletakkan sisa pisang gorengnya ke piring, tampak tertarik. "Oh ya? Perempuan karier zaman sekarang memang beda ya, Man."

"Beda banget, Bu," Arman bersandar lebih nyaman, menatap langit-langit seolah sedang membayangkan sesuatu yang indah. "Dia itu kalau diajak diskusi soal makroekonomi atau strategi pasar nyambung terus. Nggak pernah kosong obrolannya. Penampilannya juga selalu representatif. Selalu wangi, bajunya rapi, chic, elegan. Makanya dia sering Arman ajak dampingi ketemu klien penting. Klien itu kan selain melihat proposal bisnis, juga melihat siapa representasi perusahaan yang datang. Kalau yang datang penampilannya pintar dan berkelas, klien juga jadi lebih yakin."

Setiap kata yang keluar dari mulut Arman seperti jarum kecil yang ditusukkan perlahan di bawah kuku Sari. Arman tidak sedang memuji Maya di depan ibunya. Arman sedang menggunakan Maya sebagai cermin untuk memantulkan semua hal yang menurutnya tidak dimiliki oleh Sari.

Bu Rahma menoleh ke arah Sari, matanya menyapu daster katun polos yang dikenakan menantunya, lalu turun ke arah rambut Sari yang diikat seadanya tanpa polesan kosmetik di wajah.

"Makanya, Sar," tegur Bu Rahma dengan nada menasihati yang dibuat selembut mungkin. "Istri itu juga harus pintar merawat diri. Harus update berita. Biar nyambung kalau diajak ngobrol suami, dan suami nggak bosan pulang ke rumah. Jangan tahunya cuma harga bawang naik turun. Sesekali minta uang belanja lebih ke Arman buat beli baju yang agak pantas, buat dandan. Arman ini kan jabatannya makin tinggi, istrinya jangan mau kalah sama rekan kerja suaminya dong."

"Betul kata Ibu," Arman menimpali cepat, mengamini kalimat ibunya tanpa keraguan. "Aku kan sering bilang, Sar. Kamu itu harus berkembang. Jangan cuma berkutat di kasur dan sumur saja. Baca buku kek, belajar bahasa asing kek. Biar kalau aku bawa ke acara gathering kantor, aku ada bahan kebanggaan buat dikenalkan ke teman-teman."

Sari meletakkan tumpukan baju yang sudah dilipatnya ke dalam keranjang. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Arman.

"Kalau Mas memang ingin aku berkembang seperti perempuan karier yang Mas banggakan itu," suara Sari sangat stabil, namun memancarkan aura dingin yang membuat Arman sempat mengernyitkan dahi. "Boleh aku minta izin untuk ikut mengurus bisnis keluarga ayahku di kampung? Kudengar beliau sedang butuh tambahan orang untuk mengelola pembukuan koperasinya. Hitung-hitung, belajar due diligence dari bawah."

Arman tertawa meremehkan. "Koperasi simpan pinjam di kampung, Sar? Kamu mau belajar apa dari sana? Cara nagih utang mingguan ke ibu-ibu arisan? Jangan mengada-ada. Kamu urus saja rumah ini dengan benar. Itu sudah cukup meringankan bebanku."

"Lagian, ayahmu kan sudah punya pegawai di sana, Sar," tambah Bu Rahma cepat. "Kamu di sini kewajibannya ngurus Arman sama Raka. Jangan mikir aneh-aneh mau kerja."

Sari terdiam. Semua kejelasan sudah terpampang di depan matanya. Arman tidak ingin ia berkembang. Arman hanya ingin menjadikannya pion rumah tangga yang patuh, sementara suaminya itu menikmati validasi dari perempuan lain yang lebih berkilau di luar sana. Standar ganda yang memuakkan. Jika ia mencoba masuk ke dunia Arman, ia ditertawakan. Jika ia tetap di posisinya, ia direndahkan.

Tepat pada saat itu, bel pintu rumah berbunyi dua kali.

Sari berdiri, bersiap membuka pintu. Namun Arman lebih dulu meloncat dari sofa dengan kecepatan yang tidak biasa.

"Biar aku saja yang buka. Itu pasti paket dokumen dari kantor yang aku tunggu dari tadi," kata Arman cepat.

Sari kembali duduk. Ia memperhatikan Arman berjalan setengah berlari ke arah pintu depan. Terdengar suara pintu dibuka, percakapan samar dengan kurir, lalu suara kertas ditandatangani.

Beberapa saat kemudian, Arman kembali masuk ke ruang keluarga membawa sebuah paper bag kecil berbahan kertas premium berwarna hitam elegan, dengan pita emas kecil di talinya. Itu sama sekali tidak terlihat seperti paket dokumen.

"Dokumen apa yang bungkusnya pakai pita begitu, Man?" tanya Bu Rahma penasaran.

Arman tampak sedikit salah tingkah. Ia tidak segera duduk, melainkan tetap berdiri sambil memegang paper bag tersebut.

"Eh... ini dari vendor, Bu. Sampel produk yang mau mereka tawarkan untuk acara kantor. Isinya cuma suvenir biasa," Arman berbohong dengan lancar.

Sari memperhatikan paper bag itu dengan saksama. Mata jeli wanita itu menangkap sebuah logo kecil berwarna emas yang tercetak di bagian bawah tas kertas tersebut: logo sebuah toko pastri impor terkenal di pusat perbelanjaan elit di Jakarta. Toko yang sama yang baru saja membuka cabang di kota mereka sebulan yang lalu. Jaraknya lumayan jauh dari rumah mereka.

Itu bukan sampel dokumen vendor.

Tiba-tiba, sebuah kartu ucapan kecil berwarna krem jatuh meluncur dari dalam paper bag itu ke atas lantai karpet saat Arman tidak sengaja memiringkan posisinya.

Arman buru-buru membungkuk untuk mengambilnya. Namun pergerakannya kalah cepat dari Sari yang kebetulan posisinya paling dekat dengan tempat jatuhnya kartu tersebut.

Sari mengambil kartu kecil itu dari atas karpet. Tangannya membalik bagian depan kartu yang memiliki tekstur mahal. Sebuah tulisan tangan dengan tinta pena berwarna biru tua terpampang jelas di sana.

“Semangat revisi kontraknya di hari Minggu, Pak Bos. Jangan lupa asupan gula biar nggak gampang marah-marah. Your favorite matcha croissant. — M”

Waktu seolah berhenti berdetak di ruang keluarga itu. Sari membaca kalimat pendek itu dalam hati berulang kali.

Your favorite matcha croissant. Sari tidak tahu bahwa suaminya menyukai matcha croissant. Selama tujuh tahun pernikahan mereka, Arman selalu beralasan bahwa ia benci makanan manis dan segala sesuatu yang berbau teh hijau. Arman selalu meminta dibuatkan singkong goreng atau pisang goreng biasa.

Ternyata, Arman tidak membenci makanan manis. Ia hanya membenci jika makanan itu disajikan di rumah oleh istrinya. Ia memiliki selera yang berbeda ketika berada di luar rumah, sebuah versi dirinya yang lain yang dirawat dan diberi makan oleh perempuan lain.

"Kemarikan, Sar," suara Arman terdengar rendah dan tertahan. Tangannya terulur ke arah Sari dengan gestur memaksa. Wajah suaminya itu pias, menahan kepanikan di bawah tatapan ibunya yang masih tidak mengerti situasi.

Sari menatap mata Arman dengan tenang. Ia tidak membuang muka, tidak menangis, tidak menjerit. Ia menyerahkan kartu kecil itu ke tangan suaminya dengan perlahan.

"M," sebut Sari pelan, memastikan hanya Arman yang memahami makna dari satu huruf itu di ruangan tersebut. "Pasti vendor dari perusahaan marketing yang sangat profesional. Sampai tahu detail kalori dan selera gula kliennya di hari Minggu."

Arman merebut kartu itu dengan kasar, langsung memasukkannya ke dalam saku celananya bersamaan dengan wajahnya yang mengeras menahan amarah—dan mungkin, rasa malu.

"Iya," jawab Arman kaku. "Profesionalitas tingkat tinggi."

Sari memalingkan wajahnya kembali ke tumpukan baju. Ia merapikan keranjangnya, mengangkatnya dengan kedua tangan.

"Aku mau menaruh baju ini ke kamar," ucap Sari tanpa nada. Ia berjalan meninggalkan ruang keluarga, meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung memegang bingkisan kue impor tersebut.

Di setiap langkah kakinya menjauhi ruang keluarga, tekad Sari semakin bulat. Tidak ada lagi ruang untuk pemakluman. Arman tidak sekadar berselingkuh secara emosional; pria itu sedang mematikan identitas dan martabat Sari perlahan-lahan dari dalam rumahnya sendiri. Dan Sari tidak akan membiarkan proses pembusukan ini terjadi lebih lama lagi. Ia akan bangkit, tanpa teriakan, tanpa lemparan barang, namun dengan cara yang akan membuat kesombongan Arman hancur berkeping-keping.