Aku tidak pernah membayangkan bahwa sepiring rendang bisa terasa lebih panas di hati daripada di kulit.
Tapi siang itu, di hari raya kurban yang seharusnya penuh berkah, kuah cokelat pekat itu melayang dari tangan ibu mertuaku dan mendarat di wajahku. Di depan semua tamu. Di depan suamiku sendiri.
Dan suamiku—lelaki yang enam tahun lalu berjanji akan menjadi tembok pelindungku—hanya berdiri di sana. Diam.
Pagi itu aku datang ke rumah mertua pukul setengah tujuh. Bintang masih setengah mengantuk di gendonganku, dan Arya sibuk memarkir motor di halaman yang sudah dipenuhi sandal dan sepatu para kerabat. Aroma daging kurban menguar dari dapur—sapi yang baru dipotong subuh tadi, dibagi-bagi, dan sebagiannya diserahkan padaku untuk dimasak menjadi rendang. "Kamu yang masak rendangnya, ya," kata Bu Sumarni dua hari sebelumnya, dengan nada yang lebih mirip perintah daripada permintaan. "Biar kelihatan menantu ini ada gunanya."
Aku menurut. Seperti biasa.
Padahal di dapur rumahku sendiri, rendang adalah masakan yang paling sering dipesan pelanggan. Resepnya kupelajari bertahun-tahun, kusempurnakan sendiri sampai pelanggan rela memesan dari ujung kota. Tapi di rumah ini, keahlianku selalu diperlakukan seperti aib—sesuatu yang harus dimanfaatkan saat dibutuhkan, lalu direndahkan saat tak lagi berguna. Aku sudah lama berhenti berharap dihargai. Yang kuharap hanya satu: jangan dipermalukan.
Harapan kecil itu pun, hari ini, ternyata terlalu mahal.
Maka sejak subuh, sebelum azan pertama berkumandang, aku sudah berdiri di dapur sempit rumah itu. Mengulek bumbu sampai tanganku pegal. Menjaga api kecil selama berjam-jam agar santan tidak pecah, agar dagingnya empuk sampai ke serat terdalam. Rendang buatanku—resep yang kupelajari bertahun-tahun, yang selalu dipuji pelanggan kueku—matang sempurna siang itu. Warnanya gelap mengkilap. Aromanya membuat beberapa tamu yang lewat dapur sampai menoleh.
"Wah, harum sekali, Mbak Laras," kata Bude Tutik, adik Bu Sumarni, sambil mengintip ke wajan. "Boleh cicip sedikit?"
Aku tersenyum, menyodorkan sesendok kecil. Bude Tutik mengunyah, lalu matanya melebar. "Masya Allah, enak banget ini! Sumarni, menantumu jago masak, lho!"
Dan di situlah, mungkin, kesalahanku dimulai.
Karena Bu Sumarni, yang sejak tadi mengawasi dari pintu dapur, raut wajahnya berubah begitu mendengar pujian itu. Bibirnya menipis. Ia melangkah masuk, mengambil sendok, dan mencicipi rendangku sendiri.
Mengunyah pelan. Mengernyit.
"Asin," katanya datar.
Bude Tutik mengerutkan dahi. "Lho, tadi pas aku—"
"Asin," ulang Bu Sumarni, lebih keras. "Dan terlalu pedas. Ini rendang Padang atau apa? Keluarga kita nggak biasa makan sepedas ini. Dasar nggak tahu selera orang."
Aku menunduk. "Maaf, Bu. Nanti saya kurangi—"
"Mau dikurangi gimana? Sudah jadi, sudah dimasak seharian." Suaranya mulai menarik perhatian. Beberapa tamu di ruang tengah menoleh. Vania, kakak ipar perempuanku, muncul di ambang pintu dapur dengan gelas teh di tangan, tertarik pada keributan yang baru saja lahir.
"Kenapa, Mama?" tanya Vania, tapi nada suaranya sudah tahu jawabannya. Atau menginginkannya.
"Rendang buatan menantumu ini," kata Bu Sumarni sambil mengangkat piring berisi rendang yang baru kutata rapi. "Rasanya kacau. Untung tamu belum makan."
"Aduh, Mama." Vania menghela napas dramatis, seolah aku adalah beban yang sudah ia tanggung seumur hidup. "Aku kan udah bilang dari dulu, mendingan rendangnya catering aja. Tapi Mama maksa nyuruh dia. Ya beginilah hasilnya kalau orang nggak diajarin dari kecil cara masak yang bener."
Telingaku panas. Bukan karena rendang yang katanya asin—karena aku tahu rendang itu tidak asin. Bude Tutik baru saja memujinya, dan beberapa tamu di ruang tengah tadi pun sudah mengambil sesendok dua sendok tanpa keluhan. Tapi karena cara mereka berdua, ibu dan anak, melempar kata-kata bergantian seperti sudah berlatih.
Aku menggigit bibir, menahan diri. Aku tahu permainan ini. Sudah berkali-kali aku jadi pemainnya yang dipaksa kalah. Kalau aku diam, aku dianggap menantu yang tak punya sopan santun. Kalau aku menjawab, aku dianggap membantah. Tidak ada jalan yang aman. Mereka memang tidak menyediakan jalan yang aman untukku. Seolah aku bukan manusia yang berdiri di hadapan mereka, melainkan boneka yang bisa mereka tusuk sesuka hati.
"Bu," kataku, mencoba menjaga suara tetap tenang, "rendangnya sudah saya cicipi tadi. Insyaallah pas. Tapi kalau Ibu mau, saya tambah air, saya—"
"Membantah!" Bu Sumarni memotong, suaranya kini menggelegar. "Sudah salah, masih membantah! Kamu pikir kamu siapa, hah? Datang ke keluarga ini tanpa apa-apa, tanpa keluarga yang jelas, sekarang berani-beraninya melawan mertua?"
Dan sebelum aku sempat berkata apa pun—
Piring itu terangkat. Rendang panas yang baru saja kumasak dengan cinta selama berjam-jam, melayang di udara. Kuah cokelat pekatnya menghantam pipiku, daguku, leherku. Beberapa potong daging menempel di rambut, lalu jatuh ke lantai bersama pecahan piring keramik yang berderak nyaring.
Ruangan mendadak hening.
Pipiku perih. Kuah yang masih hangat menetes dari daguku ke batik terbaik yang sengaja kupakai untuk hari raya ini. Aku bisa mendengar tarikan napas para tamu—tetangga, kerabat jauh, ibu-ibu pengajian Bu Sumarni. Belasan pasang mata menatapku. Sebagian terkejut. Sebagian, aku tahu betul, diam-diam menikmati.
Aku ingin menghapus wajahku. Tapi tanganku gemetar terlalu hebat untuk melakukan apa pun.
"Dasar menantu tidak tahu diri!" Bu Sumarni masih belum selesai. "Mau jadi apa kamu ini, Laras? Sampai kapan kamu jadi beban di keluarga ini?"
"Bu, saya—" suaraku nyaris tak terdengar.
"Sudah, sudah!" Vania menyela, pura-pura menengahi padahal justru menyiram bensin. "Mama, jangan terlalu emosi, nggak baik buat tekanan darah. Biar aja. Memang gini orangnya. Aku heran kenapa Arya dulu milih—" Ia menggantung kalimatnya, lalu melirikku dengan senyum tipis. "Ya sudahlah. Nggak usah dibahas."
Dada ku sesak. Napas terasa berat, seperti ada yang menindih dari dalam. Aku ingin berteriak. Tapi suaraku hilang entah ke mana.
Aku mengalihkan pandang ke satu titik. Satu-satunya titik yang sejak tadi kuharap akan menyelamatkanku.
Arya.
Suamiku berdiri di ambang pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah, masih memegang gelas teh yang setengah penuh. Matanya bertemu mataku. Selama satu detik—hanya satu detik—aku melihat sesuatu di sana. Rasa bersalah, mungkin. Atau malu.
Lalu ia mengalihkan pandangannya.
Ia menunduk menatap lantai, seolah pecahan piring itu jauh lebih penting daripada wajah istrinya yang basah oleh kuah rendang dan air mata yang mati-matian kutahan. Ia tidak melangkah maju. Ia tidak berkata satu kata pun untuk membelaku. Ia hanya berdiri di sana, di antara ibunya dan istrinya, dan memilih untuk menjadi patung.
Saat itulah aku merasakannya. Bukan di pipi. Bukan di baju yang ternoda. Tapi jauh di dalam dada—sesuatu yang retak, lalu patah.
"Bunda?"
Suara kecil itu membuatku berbalik. Bintang, anakku, berdiri di pojok ruangan dengan mata membulat. Lima tahun. Terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi, tapi cukup besar untuk tahu bahwa ibunya sedang disakiti.
Tangannya menggenggam ujung bajunya sendiri, gemetar. Bibirnya mulai bergetar, dan aku tahu sebentar lagi ia akan menangis.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, sesuatu di dalam diriku berubah. Bukan amarah—belum. Tapi semacam kesadaran dingin yang menjalar pelan dari ujung jari sampai ke ulu hati.
Aku mengusap wajahku dengan punggung tangan, lalu berjalan menghampiri anakku. Aku berlutut, memeluknya erat. Aroma rendang menempel di rambutku, di pakaianku, di seluruh tubuhku.
"Bunda nggak apa-apa, sayang," bisikku, walau hatiku berkata sebaliknya. "Bunda nggak apa-apa."
Di belakangku, suara-suara mulai terdengar lagi. Bu Sumarni masih menggerutu, kini lebih pelan, kepada tamu-tamunya—tentang betapa tidak beruntungnya keluarganya mendapat menantu sepertiku. Tentang betapa Arya, anak lelaki semata wayangnya, pantas mendapat yang lebih baik. Vania menimpali setiap kalimat seperti paduan suara yang sudah dilatih bertahun-tahun.
Beberapa tamu berbisik. Bude Tutik tampak ingin mendekat, tapi ragu, takut ikut kena getah. Tak ada yang menolongku.
Dan suamiku tetap diam.
Aku menggendong Bintang, lalu berjalan keluar dari ruang tengah, melewati kerumunan, menuju kamar mandi di belakang rumah. Setiap langkah terasa seperti menyeret tubuh yang bukan milikku lagi. Punggungku terasa panas oleh tatapan-tatapan itu.
Di depan cermin kamar mandi yang buram, aku menatap pantulan diriku. Perempuan tiga puluh tahun dengan kuah rendang mengering di pipi, batik ternoda, dan mata yang—anehnya—tidak lagi menangis.
Aku mendudukkan Bintang di bibir bak, lalu membersihkan wajahku dengan air dingin. Pelan-pelan. Kubasuh pipi yang masih perih, leher, rambut yang lengket. Air yang jatuh ke wastafel berwarna kecokelatan.
"Bunda kena tumpahan, ya?" tanya Bintang polos.
Aku tersenyum padanya lewat cermin. "Iya, sayang. Cuma kena tumpahan. Nggak apa-apa."
Aku mengusap rambutnya, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap lewat cermin—ibu dan anak, di kamar mandi sempit rumah orang yang seharusnya menyebut kami keluarga. Aku ingin menjanjikan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak yakin janji itu benar.
Dan di antara suara air yang mengalir, aku mendengar sesuatu dari balik dinding tipis yang memisahkan kamar mandi dengan dapur. Suara Bu Sumarni, kini jauh lebih pelan, bicara dengan Vania. Mereka pikir tak ada yang mendengar. Mereka pikir aku masih di ruang tengah, terpaku malu.
"...sabar sebentar lagi, Van," kata Bu Sumarni, suaranya berbisik tapi penuh tekanan. "Asal Arya mau menurut sama Mama, semua beres."
"Mama yakin Arya mau?" balas Vania, pelan.
"Harus mau. Demi keluarga. Perempuan itu sudah harus pergi dari rumah ini sebelum lebaran depan."
Aku mematikan keran.
Air berhenti menetes. Yang tersisa hanya detak jantungku sendiri, yang tiba-tiba terasa terlalu keras di telingaku.
Dan untuk pertama kalinya sejak rendang itu melayang ke wajahku, jantungku berdetak bukan karena sakit hati—tapi karena takut.
Mereka tidak sekadar membenciku.
Mereka sedang merencanakan sesuatu. Dan rendang yang melayang ke wajahku hari ini, kusadari belakangan, hanyalah pembukaan dari sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang akan mengubah segalanya.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar