Ada perubahan-perubahan kecil pada seorang lelaki yang hanya bisa dilihat oleh istrinya. Perubahan yang tak akan disadari orang lain, tapi bagi seorang istri terasa seperti alarm yang berbunyi pelan tanpa henti.
Cara Arya mulai menyemprotkan parfum sebelum berangkat kerja—parfum mahal hadiah ulang tahun dariku tiga tahun lalu, yang dulu hanya ia pakai di acara penting, kini ia kenakan setiap hari ke kantor. Kemeja yang tiba-tiba ia setrika sendiri dengan rapi, padahal dulu menumpuk berhari-hari menunggu kuurus. Sepatu yang ia semir. Rambut yang ia tata.
Dan ponsel. Ponsel yang kini selalu ia bawa ke mana pun—ke kamar mandi, ke teras, bahkan ke tempat tidur dengan layar menghadap ke bawah. Tak pernah lagi tergeletak sembarangan di meja seperti dulu, ketika tak ada yang perlu ia sembunyikan.
Dan pulang malam. Hampir setiap hari sekarang, selalu dengan alasan yang sama: "lembur". Lembur dari kantor yang aku tahu—aku tahu betul, karena dulu Arya sering mengeluh betapa kecil dan sepinya perusahaan tempat ia bekerja—tidak pernah memberinya proyek selembur itu. Perusahaan kecil yang gajinya pas-pasan, yang membuatku harus berjualan kue untuk menambal kebutuhan. Perusahaan seperti itu tidak butuh karyawannya lembur sampai pukul sebelas malam, berhari-hari berturut-turut.
Aku tidak bodoh. Tapi selama beberapa hari, aku memilih untuk bersikap bodoh. Karena mengakui kebenaran berarti mengakui bahwa pernikahan yang demi itu aku mempertaruhkan segalanya—keluargaku, warisanku, masa depanku—sedang sekarat di depan mataku. Dan ada bagian dari diriku, bagian yang masih naif, yang belum siap untuk itu.
Sampai malam itu.
Arya pulang pukul sebelas lewat. Bajunya rapi, parfumnya masih tercium, dan ada noda lipstik tipis—samar sekali—di kerah belakang kemejanya, yang langsung kulihat saat ia melepasnya. Ia tampak lelah tapi puas, ekspresi yang tidak pernah dimiliki orang yang baru pulang dari lembur menyebalkan.
Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi. Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia lupa membawa ponselnya. Benda itu tergeletak di nakas di samping tempat tidur, menyala karena pesan masuk, bergetar pelan.
Aku menatapnya cukup lama. Aku tahu betul bahwa membaca ponsel suami adalah garis yang selama enam tahun tak pernah kulangkahi. Garis kepercayaan. Garis yang kupegang sebagai prinsip.
Tapi malam itu, aku sadar garis-garis lama sudah terlalu banyak yang dilanggar—olehnya, bukan olehku. Ia melanggar garis ketika ia diam saat ibunya melemparku. Ia melanggar garis ketika ia tersenyum di telepon kepada perempuan lain. Ia melanggar garis ketika ia merencanakan kepergianku di belakang punggungku.
Maka aku mengambil ponsel itu. Suara air dari kamar mandi masih mengalir.
Layarnya menyala. Sederet pesan dari nama yang sama. **Sabrina.**
Aku membuka percakapan itu dengan tangan yang mulai dingin.
*"Mas tadi ketemu Papa enak ya ngobrolnya 😊 Papa suka sama Mas."*
*"Katanya Mas orangnya tenang, sopan, bisa diandalkan. Beda sama calon-calon yang Papa kenalin sebelumnya."*
*"Soal yang itu, Mas jangan khawatir ya. Papa udah janji bakal bantu suntik dana ke bisnis kakak Mas. Anggap aja kayak hadiah keluarga 😄"*
*"Tapi semuanya pelan-pelan dulu. Yang penting urusan Mas sama 'yang itu' beres dulu. Beres maksudnya... ya Mas ngerti lah 😅"*
Tanganku semakin dingin.
Aku menggulir ke atas. Lebih banyak pesan. Berminggu-minggu ke belakang. Pesan-pesan yang manis. Akrab. Penuh tawa lewat emoji, penuh rencana tentang masa depan—masa depan yang sama sekali tidak ada aku di dalamnya. Ada foto mereka berdua di sebuah kafe, Arya tersenyum lebar, lebih lebar dari foto pernikahan kami. Ada rencana liburan. Ada pembicaraan tentang "nanti kalau kita sudah resmi".
Dan satu pesan, dari Arya sendiri, dikirim tiga hari lalu—tepat sehari setelah rendang melayang ke wajahku:
*"Sabar ya, sayang. Aku lagi cari waktu yang tepat buat ngomong sama Laras. Aku nggak mau ada keributan. Doain lancar."*
Sayang.
Ngomong apa? Aku tahu jawabannya. Jauh di lubuk hati, aku sudah tahu sejak kalimat di balik dinding kamar mandi itu. Tapi membacanya hitam di atas putih, dari tangan suamiku sendiri, rasanya berbeda. Rasanya seperti pisau yang sudah tahu akan datang, tapi tetap saja terasa tajam ketika menusuk.
Dunia seolah berhenti berputar. Telingaku berdenging. Kata-kata di layar itu masih ada di sana, nyata, tak bisa kuhapus, tapi otakku menolak memprosesnya—seolah dengan menolak, aku bisa membuat semuanya tidak pernah terjadi.
*Yang penting urusan Mas sama 'yang itu' beres dulu.*
Aku adalah "yang itu". Bukan istri. Bukan ibu dari anaknya. Bukan perempuan yang meninggalkan segalanya demi dia. Aku adalah "yang itu"—sebuah urusan yang harus "diberesi" sebelum ia bisa melanjutkan ke hidup barunya yang lebih kaya dan lebih nyaman.
Aku menggulir sedikit lagi, dan menemukan satu percakapan yang membuat napasku tertahan. Sabrina bertanya: *"Mas nggak kasian sama anaknya?"* Dan Arya menjawab: *"Bintang nanti ikut neneknya aja. Atau ikut Laras, terserah. Yang penting kita bisa mulai dari nol, bersih, tanpa beban masa lalu."*
Bintang. Anak kami. Disebut sebagai "beban masa lalu" yang bisa "ikut siapa saja, terserah".
Sesuatu di dalam dadaku, yang tadi retak, kini benar-benar membatu. Tapi anehnya, batu itu tidak terasa seperti kelemahan. Ia terasa seperti pondasi. Seperti sesuatu yang keras dan kokoh yang baru saja terbentuk di tempat yang dulunya lembek dan mudah diinjak.
Suara air di kamar mandi tiba-tiba berhenti.
Dengan tangan gemetar, aku cepat-cepat menutup percakapan itu, mengembalikan ponsel ke posisi semula di nakas, menghadap ke bawah, persis seperti tadi. Aku menarik selimut, berbaring memunggungi pintu kamar mandi, dan memejamkan mata erat-erat.
Pintu kamar mandi terbuka. Arya keluar, menyeka rambutnya dengan handuk, lalu naik ke ranjang. Aku merasakan kasur turun karena beratnya, merasakan kehangatan tubuhnya yang kini terasa seperti tubuh orang asing. Sesaat ia diam. Lalu, pelan, ia berkata, "Ras? Udah tidur?"
Aku tidak menjawab. Aku mengatur napasku agar terdengar teratur, seperti orang tidur.
Ia menghela napas—entah lega, entah lelah—lalu membalikkan badan membelakangiku. Dalam hitungan menit, dengkurnya terdengar pelan dan teratur. Lelaki itu bisa tidur nyenyak. Tidur tanpa beban, di samping istri yang baru saja ia rencanakan untuk dibuang demi perempuan lain dan uang.
Aku, sebaliknya, menatap dinding sepanjang malam.
Tapi anehnya—dan ini yang paling membuatku heran pada diriku sendiri—aku tidak menangis.
Mungkin karena terlalu banyak yang harus kupikirkan. Sabrina. "Papa". Bisnis Reno yang sekarat. Pertemuan keluarga. Lima puluh juta. Rendang yang melayang. Difitnah di grup. Senyum di telepon. Semua benang yang berserakan itu, malam ini, akhirnya terjalin menjadi satu simpul yang jelas dan utuh.
Mereka berencana menjual pernikahanku.
Arya akan menceraikanku, lalu menikahi Sabrina—putri Pak Dharma, seseorang yang cukup kaya untuk menyelamatkan bisnis Reno dari kebangkrutan dan sekaligus mengangkat gengsi keluarga Sumarni ke level yang selama ini mereka impikan. Aku hanya penghalang. Sebuah "urusan" yang harus dibereskan. Dan rendang panas di hari raya itu bukan luapan emosi—itu cara mereka mengirim pesan: *kamu tidak diinginkan di sini, pergilah baik-baik atau kami usir dengan cara yang lebih buruk.*
Pagi-pagi buta, sebelum azan subuh, aku bangun. Aku tidak bisa lagi berbaring. Aku keluar kamar, menyalakan lampu kecil di dapur, dan duduk di kursi. Aku menatap kedua tanganku sendiri di bawah cahaya temaram.
Tangan ini yang dulu meninggalkan kemewahan demi cinta. Tangan ini yang memanggang ribuan kue demi menyambung hidup yang kupilih. Tangan ini yang menggendong Bintang sendirian saat ia demam tinggi tengah malam, karena suaminya "ada urusan". Tangan ini yang selalu, selama enam tahun, terkepal lalu kubuka lagi—memilih untuk mengalah, demi damai yang ternyata semu.
Aku menggenggamnya erat. Buku-buku jariku memutih.
Mungkin sudah waktunya tangan ini berhenti mengalah.
Aku teringat kata-kata Mei kemarin: *kamu lebih dari perempuan yang dilempar rendang.* Dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku mengizinkan diriku mengingat siapa aku sebelum semua ini. Bukan untuk kembali ke sana—jembatan itu sudah lama kubakar. Tapi untuk mengingat bahwa aku pernah jadi perempuan yang tidak menunduk. Perempuan yang dibesarkan untuk membaca laporan keuangan sebelum bisa naik sepeda. Perempuan yang ayahnya, dengan segala kekejamannya, mengajarkan satu hal yang tak pernah kulupakan: *jangan pernah masuk ke pertarungan yang kamu belum tahu siapa lawanmu.*
Selama ini aku bertarung membabi buta, dengan hati, dengan air mata. Kalah terus. Karena aku tidak pernah benar-benar tahu siapa yang kuhadapi dan apa yang mereka inginkan. Sekarang aku mulai tahu. Mereka inginkan uang. Mereka inginkan aku pergi. Dan begitu kamu tahu apa yang diinginkan lawanmu, kamu tahu di mana letak kelemahannya.
Ponselku, yang kuletakkan di meja dapur, bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Mei, dikirim pukul tiga pagi—sahabatku yang ternyata juga tak bisa tidur memikirkan nasibku.
Aku membukanya.
*"Ras, aku udah dapet info soal Sabrina. Dan kamu harus duduk dulu yang bener sebelum baca ini. Karena 'Papa'-nya Sabrina ini... bukan orang sembarangan. Sama sekali bukan. Aku nggak bisa ketik di sini. Kita harus ketemu. Sekarang juga kalau bisa. Ini penting banget, Ras. Lebih besar dari yang kamu kira."*
Aku menatap layar itu lama. Jantungku berdetak pelan tapi keras.
Lalu, dengan tangan yang sudah tidak gemetar lagi, kuketik satu kata.
*"Berangkat."*
Aku menatap kata itu sebelum mengirimnya. Satu kata yang terasa seperti melangkahi sebuah garis. Selama enam tahun, setiap pagi aku bangun untuk menjadi istri, ibu, menantu—peran-peran yang menuntutku terus mengecil. Pagi ini, untuk pertama kalinya, aku bangun untuk menjadi diriku sendiri. Apa pun risikonya.
Aku tekan kirim.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar