Sepanjang perjalanan pulang dari rumah mertua ke petakan kami di pinggiran Jakarta, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Arya.
Hanya deru mesin taksi online dan suara klakson di jalanan yang masih ramai oleh orang-orang yang baru selesai bersilaturahmi. Bintang tertidur di pangkuanku di kursi belakang, lelah setelah seharian dipaksa tersenyum di tengah keluarga yang tak pernah benar-benar menganggapnya cucu.
Aku menatap punggung suamiku dari belakang—punggung yang dulu kupikir cukup lebar untuk kusandari seumur hidup. Sekarang punggung itu terasa seperti tembok. Tembok yang menutup, bukan melindungi.
Beberapa kali aku melihat matanya di kaca spion. Beberapa kali pula ia buru-buru mengalihkan pandang. Seolah menatapku terlalu lama akan memaksanya mengucapkan sesuatu yang ia tak siap ucapkan.
Sampai di rumah, aku turun lebih dulu, menggendong Bintang yang masih lelap. Kubaringkan ia di kasur kecilnya di kamar yang berdempetan dengan kamar kami. Kuhapus keringat di dahinya, kucium pipinya yang gembil. Ia menggeliat sebentar, lalu kembali tenang dalam tidurnya.
Aku berdiri menatapnya cukup lama. Anak ini tidak meminta dilahirkan ke dalam keluarga yang seperti ini. Anak ini tidak meminta punya nenek yang melempar rendang ke wajah ibunya, dan ayah yang memilih diam.
Tadi siang, dalam perjalanan pulang, Bintang sempat bangun sebentar dan bertanya dengan suara mengantuk, "Bunda, kenapa Nenek marah-marah?" Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya mengusap rambutnya dan bilang, "Nenek lagi capek, sayang. Bukan salah Bunda, bukan salah kamu." Tapi anak sekecil itu sudah bisa merasakan ada yang tidak beres. Ada beban yang seharusnya tidak ditanggung oleh pundak sekecil itu. Dan aku bersumpah dalam hati: apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh dengan mengira bahwa diam saat orang yang kita cintai disakiti adalah hal yang normal.
Aku menutup pintu kamarnya pelan-pelan, lalu menghadap suamiku di ruang tengah yang sempit. Arya sudah duduk di sofa tua kami, melonggarkan kerah baju koko-nya, memijit pangkal hidungnya seolah dialah yang paling lelah hari ini.
"Kita harus bicara, Mas."
Ia tidak menoleh. "Capek, Ras. Besok aja, ya."
"Aku dilempar rendang di depan semua orang." Suaraku rendah, tapi setiap kata terasa seperti pecahan kaca di tenggorokan. "Di depan tamu. Di depan tetangga. Di depan anak kita. Dan kamu cuma diam."
"Mama lagi capek, banyak tamu, banyak yang harus diurus—"
"Bukan soal Mama capek atau enggak, Mas." Aku melangkah mendekat, berdiri di hadapannya. "Ini soal kamu. Suamiku. Yang berdiri tiga meter dari aku, lihat istrinya disiram rendang panas, dan memilih untuk menatap lantai."
Akhirnya ia mengangkat wajahnya. Dan di sana, di mata lelaki yang kunikahi enam tahun lalu, aku tidak menemukan kemarahan atas perlakuan ibunya kepada istrinya. Yang ada hanya kelelahan. Dan sesuatu yang lebih buruk dari kelelahan—rasa ingin lari dari percakapan ini secepat mungkin.
"Kamu nggak ngerti posisiku, Ras," katanya pelan. "Mama itu ibuku. Vania itu kakakku. Aku nggak mungkin ngelawan mereka di depan tamu. Malu, Ras. Aib keluarga jadi tontonan."
"Jadi yang kamu pikirin malu keluarga." Aku tertawa kecil, tawa yang pahit. "Bukan istrimu yang dipermalukan."
"Bukan gitu maksudku."
"Lalu apa maksudmu, Mas?" Aku menahan agar suaraku tidak pecah. "Enam tahun, Mas. Enam tahun aku ditindas keluargamu, dan setiap kali aku berharap kamu membela aku, kamu selalu bilang hal yang sama. 'Sabar dulu, Ras.' 'Maklumin Mama, Ras.' 'Jangan bikin ribut, Ras.'"
Ia terdiam.
Sabar.
Kata itu sudah menemaniku selama enam tahun. Sabar ketika Bu Sumarni mengembalikan setiap kado yang kuberi dengan dalih "selera kampungan". Sabar ketika Vania menjadikanku bahan tertawaan di setiap kumpul keluarga, mengomentari bajuku, masakanku, cara bicaraku. Sabar ketika aku melahirkan Bintang sendirian di rumah sakit karena Arya "ada urusan kantor mendadak", dan tak ada satu pun anggota keluarganya yang datang menjenguk di hari pertama. Sabar ketika tabunganku terus terkuras untuk "membantu keluarga" yang tak pernah sekali pun menganggapku bagian dari mereka.
Aku sudah begitu lama menjadi perempuan yang sabar hingga aku hampir lupa rasanya marah.
"Sampai kapan, Mas?" tanyaku, suaraku kini nyaris berbisik. "Sampai kapan aku harus sabar? Sampai aku habis? Sampai nggak ada lagi yang tersisa dari aku buat dihina?"
Arya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan, satu gestur yang sudah terlalu sering kulihat—gestur lelaki yang ingin masalah ini lenyap dengan sendirinya tanpa ia harus mengambil sikap.
"Aku capek, Ras," katanya akhirnya, dan dalam tiga kata itu aku mendengar segalanya. Bukan "aku akan bicara dengan Mama." Bukan "maafkan aku tadi diam." Hanya "aku capek." Seolah akulah sumber kelelahannya.
"Kamu capek." Aku mengulang kata itu pelan, mencicipinya seperti sesuatu yang pahit. "Kamu tahu, Mas, hari pertama Bintang lahir, aku sendirian di kamar rumah sakit. Nggak ada kamu. Nggak ada Mama. Nggak ada Vania. Aku gendong bayi kita yang baru lahir sambil nangis, karena kamu bilang 'ada urusan kantor yang nggak bisa ditinggal'. Aku nggak pernah ngeluh soal itu, Mas. Aku telan. Aku sabar. Karena aku pikir, suatu saat kamu akan ganti semua itu dengan membela aku, sekali saja, di saat aku butuh."
Arya tidak menjawab. Rahangnya mengeras, tapi matanya tetap tak berani menatapku.
"Tapi tadi siang," lanjutku, suaraku gemetar menahan sesuatu yang lebih besar dari amarah, "saat rendang itu kena muka aku, saat aku berdiri di sana dengan kuah ngalir di pipi, aku cuma butuh satu hal dari kamu. Satu. Aku butuh kamu melangkah maju dan bilang, 'Mama, jangan begitu sama istri saya.' Itu aja. Sembilan kata. Tapi kamu nggak bisa kasih aku bahkan sembilan kata."
Hening. Hanya suara cicak di dinding dan detak jam dinding murahan kami.
"Kamu nggak ngerti gimana rasanya jadi aku, Ras," akhirnya ia bicara, suaranya nyaris putus asa. "Terjepit di antara ibu dan istri."
"Justru itu, Mas. Kamu yang nggak ngerti." Aku menatapnya lurus. "Membela istri yang dizalimi bukan berarti melawan ibu. Itu berarti jadi laki-laki."
Ia berdiri, melangkah ke kamar, dan menutup pintu di belakangnya. Pelan, tapi cukup untuk membuatku mengerti bahwa percakapan ini selesai—bukan karena terselesaikan, tapi karena ia memutuskan untuk menyerah lebih dulu.
Aku berdiri sendirian di ruang tengah, di bawah lampu neon yang sebagian sudah redup berkedip. Tanganku masih sedikit gemetar. Tapi kepalaku, anehnya, mulai terasa jernih. Seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruangan penuh asap dan akhirnya bisa bernapas.
Aku duduk di sofa, menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan ponselku. Membuka galeri kue-kue yang besok pagi harus kuantar ke pelanggan. Inilah duniaku—dapur kecil, oven second yang kubeli dari hasil menabung setahun, pesanan yang datang satu-dua. Hidup sederhana yang kupilih sendiri dengan penuh kesadaran.
Yang tidak diketahui siapa pun di keluarga Arya—bahkan Arya sendiri—adalah bahwa aku tidak harus hidup seperti ini.
Dulu, aku punya pilihan lain. Pilihan yang jauh, jauh lebih nyaman daripada petakan sempit dan oven bekas. Tapi kutinggalkan semuanya demi lelaki yang malam ini menutup pintu di depan wajahku.
Aku menggeleng pelan. Bukan saatnya mengingat masa lalu.
Aku hendak beranjak ke kamar Bintang untuk menemaninya tidur, ketika ponsel Arya—yang tertinggal di meja makan, terlupa karena ia masuk kamar dengan tergesa—bergetar. Sekali. Dua kali.
Aku tidak berniat melihatnya. Sungguh. Selama enam tahun, membaca ponsel suami adalah garis yang tak pernah kulewati. Tapi layarnya menyala terang di ruangan yang temaram, dan nama yang muncul di sana membuat langkahku berhenti.
Bukan nama klien. Bukan nama teman kantor. Bukan nama saudara.
Sebuah nama perempuan yang tak pernah kudengar sebelumnya.
**Sabrina.**
Dan di bawah nama itu, sepotong notifikasi pesan yang sempat terbaca sebelum layar kembali gelap:
*"Mas, soal pertemuan keluarga minggu depan jangan lupa ya. Papa udah—"*
Pesan itu terpotong oleh layar yang meredup. Tapi cukup. Cukup untuk membuat lambungku terasa jatuh ke dasar yang tak berujung.
Pertemuan keluarga. Minggu depan. Papa.
Papa siapa?
Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Di baliknya, suamiku mungkin sudah tertidur—atau pura-pura tidur, melarikan diri ke dalam selimut seperti ia melarikan diri dari setiap masalah. Dan di luar sana, di rumah mertua, ada kalimat yang masih bergema di telingaku, terus berputar tak mau pergi.
*Perempuan itu sudah harus pergi dari rumah ini sebelum lebaran depan.*
Aku meletakkan ponsel Arya kembali ke meja, persis seperti semula, menghadap ke bawah seperti tadi. Tanganku, kusadari, sudah tidak gemetar lagi.
Aku berjalan ke jendela, menyibak gorden tipis, dan menatap langit malam Jakarta yang oranye oleh lampu kota. Di luar sana, jutaan orang sedang tidur di samping orang yang mereka percaya. Dan aku berdiri di sini, baru saja menyadari bahwa orang yang paling kupercaya selama enam tahun ternyata sedang menghitung hari untuk menyingkirkanku. Anehnya, malam ini aku tidak merasa hancur. Aku merasa... bangun. Seperti seseorang yang terlalu lama tidur dan akhirnya membuka mata di ruangan yang ternyata sudah lama terbakar.
Tapi untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku tidak akan tidur sambil menelan tangis.
Malam ini, aku akan mulai membuka mata.
Dan untuk pertama kalinya, alih-alih bertanya *"apa yang harus kulakukan agar mereka menerimaku?"*, aku bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang sama sekali berbeda: *"kenapa aku masih ingin diterima oleh orang-orang yang tega menyiramku rendang?"* Pertanyaan itu menggantung di kegelapan kamar, dan jawabannya—aku tahu—akan mengubah hidupku.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar