Sinopsis
Setiap pagi, Adit selalu datang ke kantor pukul 08:45. Terlambat lima belas menit dari jam kerja yang seharusnya. Bukan karena macet. Bukan karena malas. Tapi karena, entah sejak kapan, dia butuh waktu lebih lama untuk meyakinkan dirinya sendiri… bahwa hidup yang sedang dia jalani ini masih layak diteruskan. Di usia 27 tahun, Adit tidak punya masalah besar. Pekerjaan stabil. Lingkungan kerja biasa saja. Hidup yang… baik-baik saja. Namun justru itu yang membuatnya merasa kosong. Hari-harinya berjalan sama—bangun, bekerja, pulang, tidur—seolah hidupnya berhenti di satu titik yang tidak pernah benar-benar dia pilih. Sampai suatu hari, Adit mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah berarti: ibu cleaning service yang selalu datang paling pagi tapi tak pernah mengeluh, rekan kerja yang selalu tertawa namun menyimpan sesuatu di balik matanya, dan sebuah pesan lama dari seseorang yang pernah begitu berarti… yang tak pernah berani dia balas. Perlahan, rutinitas yang terasa biasa itu mulai retak. Percakapan-percakapan sederhana berubah menjadi cermin, dan orang-orang di sekitarnya diam-diam menunjukkan bahwa setiap orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Di tengah hari-hari yang tampak sama, Adit mulai bertanya— apakah dia benar-benar hidup, atau hanya sekadar menjalani hari demi hari tanpa arah? “Jam 08:45 dan Kehidupan yang Tertunda” adalah cerita tentang mereka yang terlihat baik-baik saja, tentang mimpi yang diam-diam ditunda, dan tentang keberanian untuk memulai kembali… bahkan dari hal sekecil datang tepat waktu.
Total Baca
10
Suka
0
Subscribe
0
Bab
24
0.0
dari 5