Punggungku terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Aku meregangkan leher ke kiri dan ke kanan, membiarkan bunyi krek halus memecah kesunyian ruang tengah kami yang temaram. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Cahaya biru dari layar laptop memantul di wajahku yang pasti sudah terlihat seperti mayat hidup—kusam, dengan kantung mata yang menghitam.

Aku baru saja menyelesaikan laporan keuangan bulanan kantor yang sengaja kubawa pulang agar bisa mendapat tambahan upang lembur.

"Belum tidur, Yang?"

Aku menoleh. Iqbal, suamiku, berdiri di ambang pintu kamar tidur kami. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu yang sudah sedikit belel dan celana pendek selutut. Wajahnya khas orang bangun tidur, rambut berantakan, tapi matanya menatapku dengan kelembutan yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.

Di tangannya ada secangkir teh hangat yang asapnya masih mengepul.

"Sedikit lagi, Mas," jawabku sambil memaksakan sebuah senyum. "Tinggal cross-check data bulan lalu."

Iqbal berjalan menghampiriku, meletakkan cangkir itu di meja kecil di sebelah laptop, lalu memijat pelan pundakku. Pijatannya tidak terlalu kuat, tapi cukup membuatku memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan suamiku.

"Jangan terlalu diforsir, Git. Kamu bukan robot," gumamnya lembut, mengecup puncak kepalaku. "Mas sedih lihat kamu banting tulang begini."

Dulu, kata-kata itu selalu membuat mataku berkaca-kaca karena terharu. Dulu, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki suami yang begitu suportif dan penuh kasih sayang.

Tapi malam ini, entah kenapa, ada sebersit rasa getir yang menyelip di dadaku.

Sudah delapan bulan sejak Iqbal terkena PHK besar-besaran dari perusahaannya. Delapan bulan sejak peran kami bertukar total. Aku yang dulunya hanya staf administrasi biasa, tiba-tiba harus memutar otak mencari penghasilan tambahan. Berjualan online, mengambil kerja lembur, sampai menerima jasa ketik dokumen. Apa saja kulakukan agar asap dapur tetap mengepul, cicilan mobil keluarga tidak ditarik leasing, dan harga diri Iqbal sebagai kepala rumah tangga tetap terjaga di mata keluargaku.

Iqbal sendiri? Bulan-bulan pertama, dia memang terlihat sibuk mengirim lamaran sana-sini. Tapi memasuki bulan keempat, semangatnya seolah menguap. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah—merawat tanaman, mencuci mobil, dan kadang bermain game di ponselnya dengan alasan "menghilangkan stres karena menganggur".

"Aku usahakan bulan depan Mas udah dapet kerjaan ya, Yang," ucapnya lagi, seolah bisa membaca pikiranku. Kalimat yang sama yang kudengar entah untuk keberapa kalinya.

"Nggak apa-apa, Mas. Pelan-pelan aja," balasku, berbohong demi menjaga perasaannya.

"Yaudah, Mas tidur duluan ya. Jangan kemalaman." Dia berjalan kembali ke kamar, meninggalkanku sendiri bersama angka-angka di layar yang mendadak terlihat mengabur karena air mata yang tiba-tiba menggenang.

Aku lelah. Sangat lelah.

Pukul dua lebih lima belas menit, aku akhirnya mematikan laptop. Kugosok mataku yang pedih, membereskan meja, dan berjalan gontai menuju kamar tidur. Iqbal sudah tertidur pulas. Dengkurannya halus dan teratur.

Aku baru saja merebahkan diri dan menarik selimut ketika kudengar suara getaran dari meja nakas di sisi tempat tidur Iqbal.

Bzzzt. Bzzzt.

Ponselnya menyala, menampilkan layar lockscreen.

Biasanya aku tidak pernah peduli. Kami punya prinsip untuk saling menghargai privasi. Aku tidak tahu password ponselnya, dan dia pun tidak tahu milikku. Tapi malam ini, entah karena insting atau sekadar ketidaksengajaan, mataku menangkap sebuah banner notifikasi yang muncul di layar sebelum cahayanya meredup.

Itu bukan pesan WhatsApp. Itu notifikasi dari aplikasi mobile banking—aplikasi yang sama dengan yang kupakai, karena bank kami memang sama.

Posisiku cukup dekat untuk membaca tulisan putih di atas latar hijau gelap itu. Mataku yang tadinya sudah setengah terpejam, mendadak terbuka lebar. Jantungku seperti berhenti berdetak selama beberapa detik.

Transfer Berhasil. Rp 3.500.000 ke Rekening BCA a.n. Salsabila Putri. Pesan: Buat perawatan bulanan ya sayang. I miss you.

Aku membeku. Udara dingin dari AC tiba-tiba terasa menusuk langsung ke sumsum tulangku. Napasku tercekat di tenggorokan.

Tiga juta lima ratus ribu?

Angka itu menari-nari di kepalaku, mengejekku tanpa ampun. Tiga setengah juta adalah uang yang kutransfer ke rekening Iqbal dua hari yang lalu. Uang hasil lemburku selama sebulan penuh yang kuberikan padanya dengan pesan: "Mas, ini buat bayar cicilan mobil bulan ini ya. Tolong bayarkan besok."

Dan Iqbal belum membayarnya. Saat kutanya kemarin, dia bilang sistem m-banking-nya sedang error sehingga tidak bisa memproses pembayaran virtual account.

Tapi malam ini... uang itu berhasil ditransfer ke rekening lain.

Tanganku gemetar hebat saat aku perlahan bangkit dari tempat tidur. Kugapai ponsel Iqbal di atas nakas. Layarnya sudah mati. Aku menekan tombol power, dan layar itu kembali menyala, memintaku memasukkan PIN. Tentu saja aku tidak tahu. Tapi notifikasi sialan itu... notifikasi itu masih ada di sana, bertengger di layar kunci, menjadi saksi bisu dari pengkhianatan yang baru saja menghancurkan kewarasanku.

Buat perawatan bulanan ya sayang.

Kata 'sayang' itu menghantam dadaku seperti godam. Iqbal, pria yang baru saja membuatkanku teh, pria yang mengecup kepalaku dan menyuruhku jangan kelelahan bekerja, pria yang kuperjuangkan harga dirinya di depan keluargaku... memanggil wanita lain dengan sebutan 'sayang' sambil memberikan hasil keringatku padanya.

Aku bekerja sampai sakit punggung, menahan lapar di kantor agar bisa menabung, memakai sepatu yang solnya sudah menipis karena sayang membuang uang untuk membeli yang baru.

Dan suamiku... suamiku menghabiskan uang itu untuk perawatan bulanan seorang wanita bernama Salsabila Putri.

Dadaku sesak. Rasa mual tiba-tiba mengaduk-aduk perutku. Aku ingin menjerit, ingin membangunkan Iqbal dan menampar wajahnya yang tertidur damai itu. Tapi tubuhku lumpuh. Pikiranku mendadak kosong, digantikan oleh sebuah ingatan yang muncul begitu saja dari sudut kepalaku.

Salsabila Putri. Nama itu tidak asing. Sama sekali tidak asing.

Mataku menatap tajam ke arah Iqbal yang masih tertidur lelap. Tanganku yang memegang ponselnya mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih. Udara di dalam kamar ini mendadak terasa mencekik.

Dan saat aku mengingat siapa Salsabila Putri yang sebenarnya... duniaku bukan hanya runtuh, tapi hancur berkeping-keping.