Lututku lemas bak tak bertulang. Aku mematung di balik gorden pintu kaca pembatas antara ruang tengah dan balkon belakang. Udara sore yang masuk dari celah jendela terasa begitu dingin, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar di sekujur leher dan wajahku.
Minum vitamin... nggak boleh capek-capek...
Kalimat itu terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak, bergaung, menghantam dinding-dinding akal sehatku. Tanganku secara refleks turun, mengusap perutku yang masih rata. Di dalam sini, ada janin mungil yang baru saja kutemukan keberadaannya. Janin yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan terbesar bagi pernikahan kami.
Namun, jika kecurigaanku benar... jika Salsa juga sedang mengandung anak dari suamiku...
"Gita? Kamu udah pulang, Yang?"
Suara Iqbal yang tiba-tiba menggelegar dari arah balkon membuatku tersentak hebat. Dengan panik, aku melangkah mundur, berjingkat menuju sofa ruang tamu dan pura-pura sedang membereskan bantal-bantal sofa. Jantungku berdetak brutal hingga rasanya mau pecah.
Pintu kaca digeser terbuka. Iqbal melangkah masuk dengan ponsel yang sudah dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya. Wajahnya terlihat santai, sama sekali tidak memancarkan gurat rasa bersalah atau kepanikan layaknya seorang pria yang baru saja menelepon selingkuhannya.
"Eh, Mas," sahutku, berusaha mati-matian menjaga nada suaraku agar terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering kerontang. "Iya, baru aja masuk. Mas lagi teleponan sama siapa di luar?"
Aku sengaja melempar pertanyaan itu. Mengetesnya.
Iqbal tersenyum tipis, senyum yang dulunya selalu berhasil mengusir rasa lelahku setelah seharian bekerja. Kini, senyum itu tampak seperti topeng iblis di mataku. "Biasa, si Rian. Nanyain file logo yang revisian. Kamu kok tumben pulangnya agak cepet? Nggak lembur?"
Dia mendekat, meraih puncak kepalaku dan menciumnya sekilas. Bau khas sabun mandinya menguar, bercampur dengan aroma keringat tipis. Perutku mendadak bergejolak. Rasa mual yang menderaku bukan sekadar karena morning sickness—atau evening sickness dalam hal ini—tapi lebih kepada rasa jijik yang mulai merayap naik ke kerongkonganku.
"Nggak, Mas. Kepalaku agak pusing," jawabku sambil melangkah mundur, membuat jarak di antara kami.
Malam itu, saat makan malam, aku mengingat kembali pesan Resti. Tarik semua fasilitasnya pelan-pelan. Lihat reaksinya.
Aku mengaduk-aduk nasi di piringku. Iqbal duduk di seberang meja, melahap ayam goreng tepung buatanku dengan sangat lahap. Dia tampak begitu menikmati hidup. Tidak bekerja, makan enak, rumah bersih, tagihan dibayar istri, dan masih punya uang untuk membiayai wanita lain. Betapa nyamannya hidup suamiku ini.
"Mas," panggilku pelan, memecah keheningan ruang makan.
Iqbal mendongak, mulutnya masih mengunyah. "Ya, Yang? Kenapa? Nasinya kelembekan ya?"
"Tadi sore aku dipanggil HRD," aku memulai kebohonganku. Tanganku meremas ujung taplak meja di bawah sana untuk menyalurkan rasa gugup. "Bulan ini... dan kayaknya beberapa bulan ke depan, kantorku lagi ada efisiensi budget besar-besaran."
Gerakan rahang Iqbal melambat. Ia menelan makanannya perlahan. "Efisiensi gimana maksudnya?"
"Uang lembur dihapus. Terus, tunjangan kinerja bulanan juga dipotong lima puluh persen. HRD bilang perusahaan lagi rugi," aku menatap tepat ke matanya. "Gajiku bulan depan bakal turun drastis, Mas. Kemungkinan cuma sisa gaji pokok aja, sekitar lima jutaan."
Trang.
Sendok dan garpu di tangan Iqbal terlepas, membentur piring beling dengan suara yang cukup keras. Wajahnya yang tadi rileks perlahan menegang. Ada kilat kepanikan yang melintas di matanya, meski ia berusaha keras menyembunyikannya dengan dehaman pelan.
"Lima juta?" suaranya meninggi setengah oktaf. "Terus gimana buat bayar cicilan mobil? Bayar listrik, air, groceries? Lima juta mana cukup, Git, buat hidup di Jakarta!"
Aku menatapnya dingin. "Ya mau gimana lagi, Mas? Namanya juga kebijakan kantor. Lagian, selama ini aku kan udah kerja sekeras yang aku bisa. Kebetulan aja lagi apes."
Aku sengaja memberi penekanan pada kalimat 'kerja sekeras yang aku bisa'.
"Terus kamu nggak protes ke HRD-nya?! Masa main potong gitu aja? Kamu kan karyawan tetap!" Nada suaranya kini terdengar menuntut. Tidak ada simpati di sana. Tidak ada kalimat "Nggak apa-apa sayang, biar aku yang cari kerjaan ekstra." Yang ada hanyalah kepanikan seorang benalu yang sumber makanannya terancam dipotong.
"Nggak bisa, Mas. Kalau aku protes, malah bisa di-PHK. Mending dapat lima juta daripada nggak dapat sama sekali, kan?" jawabku setenang mungkin. "Makanya, sisa uang kita di rekening bareng itu harus bener-bener kita irit sekarang. Mumpung belum gajian bulan depan, aku mau lihat dong, Mas, sisa mutasi rekening bulan ini ada berapa? Biar aku bisa hitung-hitung pembagiannya."
Aku mengulurkan tangan ke seberang meja, meminta ponselnya.
Seketika, tubuh Iqbal menjadi kaku. Tangannya secara refleks turun menutupi saku celananya, tempat ponselnya berada. Ekspresi wajahnya berubah drastis, dari panik menjadi defensif.
"Buat apa lihat-lihat rekening sekarang?" tanyanya cepat, nadanya sedikit ketus. "Kan udah Mas bilang, uangnya menipis karena kemarin buat servis mobil dan... dan yang Mas bantu Salsa itu. Kamu tenang aja, Mas bisa kok ngaturnya."
"Ya aku cuma mau lihat sisa pastinya berapa, Mas. Biar kita bisa alokasikan untuk makan sehari-hari. Coba buka bentar aplikasi m-banking-nya," aku mendesak, tanganku masih terulur.
Iqbal membuang muka. "Nggak usah, Git. Nanti malah bikin kamu pusing nambah beban pikiran. Kamu kan lagi nggak enak badan. Mending kamu fokus kerja aja, urusan mutasi dan transfer-transfer biar Mas yang handle kayak biasa."
"Tapi itu uangku, Mas."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tajam, langsung, tanpa penyaring.
Iqbal menoleh kembali menatapku, matanya membelalak kaget. Ia seolah tak percaya aku berani melontarkan kalimat seperti itu kepadanya. Selama tiga tahun pernikahan kami, aku selalu menjaga egonya. Aku tak pernah mengungkit siapa yang menghasilkan uang, karena aku percaya pernikahan adalah soal kerja sama tim.
Tapi hari ini, aku muak.
"Uangmu?" Iqbal tersenyum sinis, sebuah senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Oh, jadi sekarang kamu mulai hitung-hitungan? Mulai merasa berkuasa karena kamu yang kerja dan Mas yang nganggur? Gitu, Git?"
Ia kembali memutar balikkan fakta. Dia menggunakan kartu playing victim-nya.
"Bukan gitu maksudku, Mas. Aku cuma minta transparansi. Wajar kan seorang istri pengen lihat arus keuangan keluarganya sendiri?" aku mencoba mempertahankan argumenku, meski dadaku sudah bergemuruh menahan tangis.
"Kalau kamu percaya sama suami kamu, kamu nggak akan nuntut ngecek-ngecek mutasi HP segala!" Iqbal setengah membentak. Ia berdiri dari kursi makan, mengabaikan piringnya yang masih separuh penuh. "Kamu itu dari semalam curigaan terus bawaannya. Lagi PMS ya kamu? Nggak hargain privasi banget jadi istri. Pusing Mas kalau di rumah suasananya diinterogasi begini terus."
Tanpa menoleh lagi, Iqbal melangkah pergi menuju kamar tidur dan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras. Brak!
Aku tertinggal sendirian di meja makan. Tanganku yang tadi terulur, perlahan turun ke pangkuan. Dadaku naik turun, berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
Suamiku... pria yang seharusnya melindungiku, baru saja membentakku karena aku ingin melihat ke mana perginya uang hasil keringatku sendiri. Dia berlindung di balik kata 'privasi' dan 'kepercayaan' untuk menutupi kebusukannya.
Malam itu, Iqbal tidak keluar kamar. Saat aku menyusulnya untuk tidur pada pukul sebelas malam, ia berbaring memunggungiku. Dan yang membuat hatiku semakin hancur, ponselnya tidak lagi tergeletak di atas nakas.
Ia tidur sambil mendekap ponselnya di bawah bantal.
Aku menatap punggungnya dalam kegelapan kamar. Air mataku mengalir tanpa suara, membasahi bantal. Aku mengelus perutku pelan. Sabar ya, Nak. Mama janji nggak akan biarkan kita terus-terusan hidup dari remah-remah kebohongan papamu.
Akses itu telah ditutup rapat oleh Iqbal. Dia tidak akan pernah menyerahkan ponselnya kepadaku. Dia tahu aku sudah mulai curiga, dan dia akan semakin berhati-hati.
Jika aku tidak bisa masuk lewat pintu depan, aku harus mencari pintu belakang. Otakku berputar cepat di tengah isak tangis yang tertahan. Bagaimana caranya aku mendapatkan bukti mutasi rekening itu tanpa harus merebut paksa ponselnya?
Lalu, sebuah memori kecil melintas di kepalaku bagai kilatan cahaya.
Email.
Dulu, saat kami baru menikah dan m-banking belum semudah sekarang, Iqbal sering mengunduh e-statement bulanan dari bank yang dikirimkan via email untuk keperluan invoice freelance-nya. Email utamanya itu... apakah masih login di perangkat lain?
Mataku membulat menembus kegelapan.
iPad lama!
Iqbal punya sebuah iPad generasi lama yang layar pelindungnya sudah retak, tersimpan di laci paling bawah di ruang kerja kecil kami. Dia sudah jarang memakainya sejak punya ponsel baru, tapi dulu dia selalu memakai iPad itu untuk menggambar desain dan membuka email.
Aku menelan ludah. Kutarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungku. Dengan gerakan yang sangat pelan, aku menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Aku tidak boleh tertangkap basah. Kalau sampai Iqbal bangun dan memergokiku... entah alasan apa lagi yang akan ia karang.
Dan saat aku mengendap-endap keluar dari kamar menuju ruang kerja yang gelap, aku tahu bahwa malam ini, tidak akan ada jalan untuk kembali.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar