"Git, kamu dengerin aku nggak sih?"

Aku tersentak. Suara Resti yang cempreng mengembalikan fokusku ke sepiring gado-gado di depanku yang sejak tadi hanya kuaduk-aduk tanpa minat. Kami sedang berada di kantin belakang kantor saat jam istirahat.

Resti adalah sahabatku sejak zaman kuliah. Dia tipe wanita yang blak-blakan, tidak suka basa-basi, dan punya insting yang lebih tajam daripada silet. Dia satu-satunya orang yang tahu betapa beratnya perjuanganku menjadi tulang punggung keluarga sejak Iqbal menganggur.

"Eh, iya, Res. Maaf, lagi kepikiran kerjaan," aku berdalih, mencoba menyuapkan sesendok kerupuk ke mulutku.

Resti meletakkan sendoknya, menatapku tajam dengan mata yang disipitkan. "Jangan bohong sama aku, Gita. Kamu itu kalau lagi ada masalah kerjaan, biasanya ngomel panjang lebar. Tapi sekarang kamu diam, pucat, dan mata kamu bengkak. Ada apa? Iqbal lagi?"

Aku menghela napas panjang. Aku tahu tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Resti. Dengan suara yang hampir berbisik, aku menceritakan semuanya. Tentang transferan tengah malam, tentang alasan 'anak leukemia' yang diberikan Iqbal, hingga postingan Instagram Salsa yang menghancurkan segalanya.

Satu-satunya yang belum kuceritakan adalah soal kehamilanku. Aku belum siap.

"APA?! TIGA JUTA SETENGAH?!" Resti hampir berteriak. Beberapa orang di meja sebelah menoleh ke arah kami. Aku segera memberikan isyarat agar dia mengecilkan suaranya.

"Git, kamu gila ya? Kamu kerja sampai tipes buat kasih uang itu ke selingkuhannya?" Resti gemas sendiri, tangannya mengepal di atas meja.

"Aku belum yakin itu selingkuhan, Res. Maksudku... mungkin Iqbal cuma benar-benar mau bantu teman lama? Tapi pesan 'Sayang' itu..." aku mencoba membela, meski hatiku sendiri menolak.

"Gita, bangun! Wake up!" Resti menarik tanganku. "Nggak ada laki-laki yang kasih uang jutaan rupiah buat 'perawatan' teman lama di saat rumah tangganya sendiri lagi krisis, kecuali dia ada apa-apa sama perempuan itu! Apalagi panggilannya 'Papa Beruang'. Itu panggilan kamu ke dia, kan? Kok bisa perempuan itu tahu?"

Aku menunduk. Itulah yang paling menyakitkan. Panggilan yang kupikir hanya milikku, ternyata sudah dibagikan kepada orang lain.

"Dan Salsa..." Resti bergumam, seolah sedang mengingat sesuatu. "Namanya Salsabila Putri, kan? Yang dulu sempat magang di kantor Iqbal? Kamu sadar nggak sih, Git, siapa Salsa itu sebenarnya?"

Aku menatap Resti dengan bingung. "Maksudmu? Iqbal bilang dia anak magang lima tahun lalu yang suaminya meninggal."

Resti berdecak kesal. Dia merogoh tasnya, mencari-cari ponselnya dengan terburu-buru. "Duh, kamu itu terlalu fokus kerja sampai nggak merhatiin sekitar. Dulu, waktu acara buka puasa bersama kantor Iqbal tiga tahun lalu—kamu kan nggak datang karena lagi dinas ke luar kota—aku datang nemenin sepupuku yang juga kerja di sana."

Jantungku mulai berdegup kencang. "Terus?"

"Aku lihat Iqbal asyik banget ngobrol sama cewek itu. Aku pikir itu cuma teman kantor. Tapi yang bikin aku ingat adalah... waktu itu ada yang bilang kalau Salsa itu sebenarnya masih saudara jauh dari keluarga besar kamu, Git! Dia itu sepupu jauh dari jalur ayah kamu yang tinggal di Bandung. Ingat nggak? Yang dulu pernah mau numpang tinggal di Jakarta buat cari kerja tapi nggak kamu kasih izin karena kamu ngerasa dia orangnya agak 'bebas'?"

Deg.

Ingatanku seperti ditarik paksa ke masa lalu. Salsabila. Sepupu jauhku yang pernah mengirim pesan lewat Facebook bertahun-tahun lalu, meminta izin untuk menginap di rumah kami selama satu bulan. Waktu itu aku menolak secara halus karena aku baru saja menikah dan ingin menjaga privasi rumah tangga. Lagipula, ibuku pernah berpesan agar hati-hati dengan keluarga cabang itu karena reputasi mereka yang suka mencari keuntungan dari orang lain.

"Jadi... suamiku berselingkuh dengan orang yang pernah aku tolong?" suaraku tercekat.

"Bukan cuma berselingkuh, Git. Dia pakai uang kamu buat membiayai orang yang bahkan kamu sendiri pun nggak mau kasih tumpangan di rumahmu. Ini penghinaan level tinggi!" Resti terlihat sangat emosional.

Aku merasa kepalaku berputar. Iqbal tahu Salsa adalah saudaraku. Dia tahu aku tidak menyukai wanita itu. Tapi dia justru menjadikannya sebagai tempat pelarian, bahkan memberikan uang hasil keringatku untuknya.

"Res... aku hamil," ucapku lirih, tak sanggup lagi menahan rahasia itu sendirian.

Resti terdiam seketika. Ekspresi kemarahannya berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa, lalu dengan cepat berubah menjadi rasa iba yang mendalam. Dia pindah duduk ke sebelahku, lalu memelukku erat.

"Ya Tuhan, Git... kenapa waktunya harus begini?" bisiknya sedih.

Aku menangis di bahu Resti. Semua beban yang kupikul sendirian sejak semalam tumpah sudah.

"Aku harus gimana, Res? Aku mau cerai, tapi anak ini... aku nggak mau dia lahir tanpa ayah. Tapi kalau aku bertahan, aku merasa seperti keset yang diinjak-injak setiap hari," isakku.

Resti melepaskan pelukannya, memegang pipiku dengan kedua tangannya. Matanya kini tidak lagi penuh amarah, tapi penuh tekad.

"Git, dengarkan aku. Jangan cerai dulu. Dan jangan kasih tahu Iqbal soal kehamilan ini. Jangan sekarang."

Aku mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena kalau kamu kasih tahu sekarang, dia bakal pakai alasan bayi ini buat minta maaf dan bikin kamu luluh lagi. Dia bakal janji berubah, tapi di belakang tetap kirim uang ke Salsa. Laki-laki manipulatif kayak Iqbal nggak akan pernah berhenti sampai dia benar-benar jatuh miskin atau kehilangan akses."

Resti mengambil napas dalam-dalam. "Sekarang, kamu harus main cantik. Kamu bilang kamu menghidupi dia, kan? Oke. Sekarang, kita mulai tarik semua fasilitas itu pelan-pelan. Kita kumpulkan bukti yang lebih kuat. Bukan cuma sekadar postingan IG atau mutasi bank. Kita harus tangkap basah mereka."

"Aku nggak kuat kalau harus lihat mereka langsung, Res," ucapku jujur.

"Kamu harus kuat, Git. Demi harga dirimu, dan demi bayi di perutmu. Kamu nggak mau kan anak ini besar dari uang sisa-sisa yang tidak diberikan Iqbal ke wanita lain? Kamu harus ambil kembali hakmu."

Resti benar. Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Iqbal sudah menganggapku bodoh selama berbulan-bulan. Dia pikir aku adalah mesin uang yang bisa dia tipu dengan cerita-cerita sedih yang dibuat-buat.

"Terus aku harus mulai dari mana?" tanyaku, mulai merasa sedikit keberanian tumbuh di hatiku.

"Mulai dari rekening. Besok, pindahkan semua sisa uangmu ke rekening rahasia yang Iqbal nggak tahu. Bilang kalau kantor lagi telat bayar gaji atau ada pemotongan. Lihat gimana reaksinya kalau dia nggak punya uang buat kasih ke Salsa."

Aku mengangguk setuju. Ini langkah awal yang masuk akal.

Sore itu, saat aku pulang ke rumah, aku melihat Iqbal sedang asyik menelepon di balkon belakang. Dia tidak menyadari kehadiranku. Aku berjalan mengendap-endap, bersembunyi di balik gorden pintu kaca.

"Iya, Sayang... sabar ya. Senin cair kok. Nanti kita jadi ya lihat rumah di BSD itu? Kamu bilang kamu suka kan lingkungannya buat anak-anak nanti?"

Suara Iqbal terdengar sangat lembut. Jauh lebih lembut daripada caranya bicara padaku selama setahun terakhir.

Rumah di BSD? Anak-anak nanti?

Darahku mendesir hebat. Dia berencana membeli rumah dengan uang siapa? Dan apa maksudnya 'anak-anak'?

"Iya, Salsa... aku juga kangen. Jangan lupa minum vitaminnya ya, kamu kan nggak boleh capek-capek dulu sekarang."

Iqbal mengakhiri telepon dengan kecupan di udara ke arah ponselnya.

Aku membeku di balik gorden. Kata-kata 'jangan capek-capek' dan 'minum vitamin' itu terdengar sangat akrab. Itu adalah perhatian yang biasanya diberikan kepada seorang wanita yang...

Tanganku gemetar saat aku menyentuh perutku sendiri. Sebuah kenyataan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar perselingkuhan mulai membayang di depan mataku.

Apakah Salsa juga sedang mengandung anaknya?

Aku merasa duniaku tidak hanya runtuh, tapi meledak menjadi debu.

 Aku berdiri di balik gorden dengan lutut yang lemas. Pertanyaan itu terus menghantam kepalaku: Jika aku hamil, dan Iqbal menyuruh Salsa minum vitamin serta menjaga kesehatan... apakah suamiku sedang menantikan dua bayi dari dua wanita yang berbeda secara bersamaan?