Layar ponsel itu masih menyala, menampilkan senyum kemenangan Salsa di kafe mewah itu. Aku merasa seolah-olah oksigen di kubikel kantorku mendadak habis. Kepalaku berdenyut hebat, seirama dengan detak jantung yang memompa rasa sesak ke seluruh tubuh.

"Mbak Gita? Mbak nggak apa-apa?"

Suara Laras, staf magang di sebelahku, terdengar jauh. Aku mengerjap, mencoba mengembalikan kesadaranku ke dunia nyata. Tanganku yang gemetar segera memasukkan ponsel ke dalam laci meja, seolah benda itu adalah bara api yang baru saja membakar kulitku.

"Nggak apa-apa, Ras. Cuma... kurang tidur aja," jawabku lirih, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar tersengal.

Laras menatapku iba. "Mbak Gita jangan terlalu diforsir. Kemarin aja pulang jam sembilan malam kan? Wajah Mbak pucat banget, lho."

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah topeng yang sudah biasa kupakai. Pucat? Ya, aku pucat bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena baru saja menyadari bahwa hidupku adalah sebuah lelucon besar yang disutradarai oleh suamiku sendiri.

Aku mencoba kembali fokus pada laporan di layar komputer, tapi angka-angka itu kini berubah menjadi bayangan nominal transfer tiga setengah juta rupiah. Aku mulai menghitung dalam hati. Gaji pokokku, uang lembur, komisi penjualan sampingan—semuanya masuk ke rekening bersama yang dikelola Iqbal karena dia bilang dia punya waktu luang untuk mengatur arus kas rumah tangga.

Aku selama ini percaya. Aku merasa bersalah karena dia kehilangan pekerjaan, jadi kubiarkan dia memegang kendali keuangan agar dia merasa tetap memiliki kuasa sebagai suami. Tapi sekarang aku sadar, kepercayaanku adalah bensin bagi api pengkhianatannya.

Sore itu, aku pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala. Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku mampir ke sebuah bank swasta, tempat aku membuka rekening rahasia yang tadinya diniatkan untuk tabungan darurat atau kejutan ulang tahun Iqbal. Di mesin ATM, aku mencetak mutasi rekening bersama kami selama tiga bulan terakhir.

Lembar demi lembar kertas kecil itu keluar dari mesin. Aku membawanya ke sudut parkiran yang sepi, duduk di dalam mobil, dan mulai membaca setiap barisnya dengan teliti.

Mataku memanas.

Bulan lalu: Transfer Rp 2.000.000 dengan keterangan 'Listrik & Air'. Tapi tagihan di rumah selalu aku yang bayar lewat aplikasi belanja online-ku sendiri. Dua bulan lalu: Tarikan tunai Rp 1.500.000 berkali-kali di ATM dekat sebuah apartemen di Jakarta Selatan—daerah yang sama dengan lokasi kafe di postingan Salsa. Ada juga transaksi di toko kosmetik mahal, toko perhiasan, hingga pembayaran GrabFood yang tujuannya bukan ke alamat rumah kami.

Totalnya? Dalam tiga bulan, hampir lima belas juta rupiah uangku—uang yang kukumpulkan dengan menahan lapar dan lelah—menguap begitu saja. Dan aku? Aku bahkan ragu untuk membeli segelas kopi kekinian seharga empat puluh ribu rupiah karena merasa harus berhemat.

"Mas... apa yang kamu lakukan?" bisikku lirih. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh, membasahi kertas mutasi yang kini remuk dalam genggamanku.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan hancur yang mulai mengeras menjadi kemarahan yang dingin. Di ruang tamu, Iqbal sedang duduk santai sambil menonton televisi. Ada sepiring gorengan di mejanya. Dia terlihat begitu tenang, begitu tidak berdosa.

"Lho, udah pulang, Sayang? Kok nggak kabari Mas?" dia bangkit, menghampiriku dengan wajah ceria yang biasanya akan membuatku luluh.

Aku diam, hanya menatapnya dengan pandangan kosong.

"Mas, proyek logo kamu yang cair Senin besok... kliennya siapa?" tanyaku tiba-tiba, memotong basa-basinya.

Iqbal sempat tertegun sesaat, tapi dengan cepat menguasai keadaan. "Oh, itu... temen lama Mas, si Rian. Dia baru buka usaha coffee shop di Depok. Kenapa, Yang? Butuh uangnya sekarang?"

Dia berjalan mendekat, mencoba merangkul pundakku, tapi aku menghindar dengan dalih ingin menaruh tas.

"Rian? Bukannya Rian kerja di luar negeri?" tanyaku lagi, mengetesnya. Seingatku, Rian adalah teman kuliahnya yang sudah menetap di Singapura.

"Eh, itu... maksud Mas, Rian yang satunya lagi. Rian Aditama. Kamu nggak kenal, Git. Temen baru di komunitas desain," jawabnya lancar. Terlalu lancar. Seolah dia sudah menyiapkan skenario ini di kepalanya berkali-kali.

"Oh," aku hanya menyahut pendek. "Mas, tadi aku mampir ke ATM. Aku lihat saldo kita kok menipis banget ya? Padahal aku baru masukin uang lembur minggu lalu."

Wajah Iqbal berubah sedikit defensif. Ia duduk kembali di sofa, melipat tangannya di dada. "Ya kan buat kebutuhan sehari-hari, Git. Harga-harga lagi naik. Belum lagi servis mobil bulan lalu, terus kemarin kan Mas udah bilang buat bantu si Salsa itu. Kamu kok jadi perhitungan gini sih sama suami sendiri?"

Perhitungan. Kata itu seperti tamparan di wajahku.

"Bukan perhitungan, Mas. Aku cuma bingung, kenapa uangnya cepat banget habis. Padahal kita makan sederhana terus di rumah," ucapku, suaraku mulai bergetar. Aku ingin sekali mengeluarkan HP dan menunjukkan foto Salsa, tapi sesuatu di dalam diriku menyuruhku untuk diam. Belum saatnya. Aku harus tahu seberapa jauh dia bisa berbohong.

"Kamu pikir Mas nggak pusing ngatur uang yang pas-pasan itu? Kamu enak tinggal kerja, Mas yang harus mikir gimana caranya uang itu cukup buat sebulan!" Iqbal mulai menggunakan teknik andalannya: playing victim. Dia membuatku merasa seolah-olah aku adalah beban, sementara dialah pahlawan yang menderita dalam diam.

Aku menatapnya, merasa asing dengan pria yang kunikahi tiga tahun lalu ini. Di balik wajah sabarnya, ada sosok manipulatif yang sangat cerdik.

"Yaudah, Mas. Maafin aku kalau salah tanya," ucapku pelan, mengalah untuk sementara.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Perutku terasa mual, mungkin karena stres yang berlebihan. Aku pergi ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening karena memang belum makan apa-apa sejak siang. Tubuhku lemas.

Aku terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, memegang perutku yang terasa aneh. Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di benakku. Sebuah kemungkinan yang membuat jantungku berdegup kencang karena takut.

Sudah berapa lama aku tidak datang bulan?

Dua minggu? Tiga minggu?

Dengan tangan gemetar, aku membuka laci di bawah wastafel, mencari testpack yang sengaja kusimpan sejak beberapa bulan lalu saat kami masih menggebu-gebu merencanakan momongan. Saat itu, Iqbal sangat ingin punya anak. Dia bilang anak akan membawa rezeki.

Sekarang, saat aku berdiri di kamar mandi di tengah malam yang sunyi, memegang benda kecil itu, aku hanya bisa berdoa agar hasilnya negatif. Aku tidak ingin membawa nyawa baru ke dalam pernikahan yang sudah menjadi neraka tersembunyi ini.

Aku menunggu dengan napas tertahan. Satu menit. Dua menit.

Dan di sana, di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram, dua garis merah muncul dengan sangat jelas.

Aku positif hamil.

Aku membekap mulutku, berusaha agar isak tangisku tidak terdengar sampai ke kamar. Aku hamil di saat suamiku sedang membiayai perawatan wanita lain dengan uangku. Aku hamil di saat rumah tanggaku hanya tinggal puing-puing kebohongan.

Dan yang paling menyakitkan adalah... aku tahu, kehamilan ini tidak akan membuat Iqbal berubah. Karena jika dia benar-benar menyayangiku, dia tidak akan membiarkan istrinya yang sedang mengandung ini bekerja sampai mati hanya untuk memanjakan wanita lain.

Aku menatap cermin, melihat pantulan wanita malang yang kini membawa beban ganda di pundaknya.

Dan tepat saat aku meratapi nasibku, ponsel Iqbal yang tertinggal di ruang tamu bergetar pendek. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama yang hanya berisi emoji hati.