Pagi itu datang terlalu cepat.
Sepanjang sisa malam, aku hanya duduk mematung di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah tembok. Aku tidak menangis. Air mataku seolah mengering, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Kepalaku pening memikirkan seribu satu kemungkinan.
Apakah ini salah paham? Apakah Iqbal dipaksa? Apakah ada alasan logis di balik semua ini?
Otakku yang lelah berusaha mencari rasionalisasi. Aku benci diriku sendiri karena di detik-detik kehancuranku, aku masih mencoba mencari alasan untuk membela suamiku.
Pukul enam pagi, Iqbal menggeliat. Ia meregangkan ototnya, lalu perlahan membuka mata. Senyum langsung mengembang di wajahnya saat melihatku duduk di sebelahnya.
"Pagi, Sayang. Kok udah bangun? Tumben nggak masak sarapan dulu?" sapanya dengan suara serak yang berat, tangan kanannya terulur mencoba mengusap lenganku.
Aku menepis tangannya, pelan namun cukup tegas.
Senyum Iqbal memudar. "Kamu kenapa, Git? Pucat banget. Masuk angin karena begadang semalam?"
Aku menoleh, menatap tepat ke manik matanya. Pria di hadapanku ini terlihat begitu tulus, begitu khawatir. Jika aku tidak melihat layar ponselnya semalam, aku pasti sudah menjatuhkan diri ke pelukannya dan mengeluh betapa lelahnya aku. Tapi sekarang, melihat wajah cemasnya hanya membuatku merasa mual.
"Mana bukti transfer cicilan mobil bulan ini, Mas?" suaraku keluar begitu saja. Dingin. Datar.
Iqbal tertegun. Ia mengedipkan mata beberapa kali, tampak bingung dengan pertanyaan mendadak dari istrinya di pagi buta. "Cicilan mobil? Kan Mas udah bilang, m-banking Mas lagi error sejak kemarin. Nanti siang Mas ke ATM deh buat bayar. Kok tiba-tiba nanyain itu?"
"Masa sih error?" tanyaku lagi, mataku tak lepas dari wajahnya. "Tapi semalam aku lihat, lancar-lancar aja tuh dipakai transfer."
Seketika, ada jeda di ruangan itu. Udara terasa membeku. Aku bisa melihat jakun Iqbal naik-turun. Otot di rahangnya menegang sepersekian detik, sebuah reaksi micro-expression yang mungkin tidak akan kusadari jika aku tidak sedang menatapnya lekat-lekat.
"Transfer? Transfer apa?" Iqbal mencoba tertawa kecil. Tawa yang sumbang. "Kamu mimpi kali, Yang."
"Aku kebangun jam dua pagi, Mas. Ada notifikasi masuk di layar HP kamu." Aku menunjuk ponselnya yang masih tergeletak di atas nakas. "Transfer berhasil. Tiga setengah juta. Ke rekening atas nama Salsabila Putri."
Hening kembali mengambil alih. Iqbal menatapku, lalu menatap ponselnya, lalu menatapku lagi. Wajahnya yang tadi tegang, perlahan-lahan berubah rileks. Ia menghela napas panjang, sangat panjang, sebelum akhirnya mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Bukannya panik atau memucat, Iqbal justru menatapku dengan sorot mata sedih dan... kecewa?
"Git..." panggilnya lembut. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat denganku. "Kenapa kamu nggak bangunin Mas semalam kalau kamu lihat itu? Kenapa kamu malah mikir sendirian sampai pagi dan mukamu jadi se-stres ini?"
Aku mengernyitkan dahi. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas. Siapa Salsabila? Dan kenapa uang cicilan mobil kita—uang hasil kerja kerasku—ada di dia? Dan apa maksud pesan 'buat perawatan bulanan ya sayang'?!" Nada suaraku mulai meninggi, pertahananku mulai runtuh.
"Sstt... tenang, Yang. Tenang dulu. Mas bisa jelasin semuanya." Iqbal memegang kedua bahuku. Aku mencoba memberontak, tapi genggamannya kuat. Matanya menatapku dengan sorot memohon yang begitu meyakinkan.
"Salsa itu... Salsabila yang dulu sempat magang sebentar di kantor Mas lima tahun lalu. Kamu ingat kan? Yang waktu itu suaminya kecelakaan patah tulang punggung?"
Otakku memutar memori. Ya, aku samar-samar ingat. Ada anak magang bernama Salsa yang sempat dibantu penggalangan dana oleh kantor Iqbal bertahun-tahun yang lalu karena tragedi suaminya.
"Lalu? Apa hubungannya dengan transferan semalam?" tuntutku, napasku masih memburu.
Iqbal menunduk, seolah menanggung beban dunia di pundaknya. "Dua hari yang lalu, Mas nggak sengaja ketemu dia di rumah sakit waktu Mas nganterin dokumen temen. Suaminya... suaminya baru meninggal minggu lalu, Git."
Mataku sedikit melebar. Keterkejutan sesaat berhasil menyela amarahku.
"Dia sekarang single parent, Git. Punya anak dua, yang satu balita dan yang satu lagi baru didiagnosis leukemia. Masih butuh kemoterapi rutin tiap bulan." Suara Iqbal bergetar. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Waktu Mas ketemu dia, dia lagi nangis di lorong rumah sakit karena nggak punya uang buat tebus obat dan biaya perawatan bulanan anaknya."
"Lalu kamu kasih uang cicilan mobil kita ke dia?!" napasku tertahan.
"Mas cuma pinjamkan, Git!" sela Iqbal cepat. "Sumpah demi Allah, Mas cuma minjemin sementara. Besok Senin, proyek desain logo dari temen Mas cair lima juta. Mas niatnya mau pakai uang itu buat gantiin uang mobil. Mas nggak bilang ke kamu karena Mas tahu kamu lagi pusing banget sama keuangan kita. Mas nggak mau nambah beban pikiran kamu."
"Tapi kenapa pesannya pakai kata 'sayang', Mas?! Kenapa pesannya 'I miss you'?!" teriakku, air mata akhirnya tumpah menembus pertahananku.
Iqbal membelalakkan matanya, seolah baru menyadari sesuatu yang sangat bodoh. "Ya Allah, Git! Kamu percaya Mas nulis begitu? Itu format template pesan dari m-banking yang sebelumnya Mas pakai buat transfer ke kamu waktu ulang tahun kamu tahun lalu! Mas buru-buru transfer di parkiran rumah sakit, ngetik nomor rekeningnya aja sampai gemetar saking kasihan lihat anaknya, Mas nggak sadar kalau kolom pesannya belum dihapus dari history sebelumnya!"
Aku terdiam.
Penjelasannya... terlalu masuk akal. Semua kepingan ceritanya menyatu dengan sempurna. Alasan kemanusiaan, anak yang sakit kanker, proyek yang akan segera cair, hingga template m-banking yang tidak terhapus. Sangat rapi. Sangat logis.
"Git..." Iqbal menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini, aku terlalu lemah untuk menolak. Aku menangis di dadanya, menumpahkan segala ketegangan yang menumpuk semalaman. "Mas minta maaf ya. Mas salah karena bohongin kamu, nyembunyiin ini dari kamu. Tapi demi Allah, Mas nggak ada niat selingkuh atau main gila. Kamu istri Mas satu-satunya yang banting tulang buat keluarga ini. Mana mungkin Mas tega mengkhianati perempuan sehebat kamu?"
Tangan Iqbal mengelus punggungku dengan lembut. Kata-katanya mengalir seperti air dingin yang memadamkan api amarahku. Pelan-pelan, rasa bersalah mulai merayapi hatiku.
Ya ampun, apa yang sudah kupikirkan? Aku mencurigai suamiku selingkuh, padahal dia sedang menyelamatkan nyawa anak kecil penderita leukemia. Betapa buruknya aku. Pantas saja dia memanggilku 'Sayang' dan menyuruhku jangan kelelahan bekerja semalam, dia pasti merasa bersalah karena telah meminjam uangku tanpa izin.
"Kamu janji ganti uangnya Senin besok, Mas?" tanyaku lirih di sela isak tangis.
"Mas janji. Besok siang uangnya langsung Mas transfer balik ke kamu biar kamu sendiri yang bayar cicilan mobilnya. Maafin Mas ya, Sayang?" Iqbal mengecup dahiku lama.
Pagi itu berakhir dengan perdamaian. Aku menghapus air mataku, merutuki sifat suudzonku, dan kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Aku bahkan memasakkan nasi goreng kesukaannya dengan telur mata sapi setengah matang sebelum berangkat ke kantor. Semuanya terasa kembali normal. Beban berat yang menghimpit dadaku sejak pukul dua pagi akhirnya terangkat.
Namun, kelegaan itu ternyata tidak berumur panjang.
Siang harinya di kantor, saat jam istirahat makan siang, iseng-iseng aku membuka aplikasi Instagram. Entah dorongan dari mana, jariku mengetikkan nama 'Salsabila Putri' di kolom pencarian. Ada banyak akun dengan nama itu, tapi aku memfilter pencarianku berdasarkan teman-teman kantor lama Iqbal yang masih ku-follow.
Satu akun muncul. Profilnya tidak dikunci. Salsabila Putri (@salsaputri_).
Aku mengklik akun tersebut dengan niat bodoh: aku ingin melihat foto anak kecilnya dan mungkin mengirimkan sedikit doa atau simpati.
Tapi tidak ada foto anak penderita leukemia botak di sana. Tidak ada foto lorong rumah sakit.
Postingan terbarunya diunggah tadi pagi, hanya beberapa jam setelah perdebatan emosionalku dengan Iqbal. Di foto itu, Salsa yang berwajah cantik terawat sedang duduk di sebuah kafe mahal. Di atas meja di hadapannya, tergeletak sebuah tas branded keluaran terbaru dan sebuah struk perawatan kulit dari klinik kecantikan ternama.
Namun, bukan tas atau klinik kecantikan itu yang membuat nafasku berhenti berembus. Melainkan caption yang tertulis di bawah foto tersebut.
"Morning pampering done! Makasih jatah perawatannya bulan ini ya, Papa Beruang. Love you always. 😘💸"
Tanganku gemetar hebat hingga ponselku hampir terjatuh.
Papa Beruang.
Itu adalah nama panggilan kesayangan yang selalu kupakai untuk Iqbal sejak kami masih berpacaran, karena tubuhnya yang dulu sedikit gempal dan hangat saat dipeluk. Panggilan eksklusif yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat kami.
Mataku tertuju pada sudut kanan bawah foto itu, ke arah pantulan kaca di belakang meja kafe tempat Salsa duduk. Di sana, memantul bayangan samar seorang pria yang sedang mengambil foto Salsa. Pria yang mengenakan kaus oblong abu-abu yang sedikit belel. Kaus yang sama persis dengan yang dipakai suamiku saat ia menyuruhku tidur semalam.
Duniaku berhenti berputar. Kebohongan yang terlalu rapi itu baru saja merobek jantungku tanpa sisa.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar