Pesta resepsi di ballroom hotel bintang lima itu terasa lebih seperti pertemuan sindikat bawah tanah yang dibungkus dengan gemerlap kemewahan, ketimbang sebuah perayaan pernikahan.
Lampu gantung kristal raksasa memantulkan cahaya keemasan, denting gelas sampanye bersahutan, dan musik jazz mengalun mulus. Namun di balik semua itu, ada ketegangan pekat yang mengapung di udara. Naira berdiri di samping Bram, memegang tangkai gelas kristalnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih pucat.
Ia mengamati orang-orang yang datang. Para pejabat tinggi, pengusaha properti, hingga beberapa wajah yang sering muncul di halaman kriminal namun ajaibnya selalu lolos dari jerat hukum. Mereka datang, menyalami Bram dengan tubuh membungkuk hormat, tertawa canggung, lalu buru-buru menyingkir. Tidak ada satu pun yang berani menatap mata pria itu lebih dari tiga detik.
"Mereka terlihat seperti sedang melayat," komentar Naira pelan, matanya mengikuti punggung seorang anggota dewan yang baru saja pergi dengan keringat dingin di pelipisnya.
Bram menyesap minumannya dengan tenang, matanya menyapu seisi ruangan. "Mereka hanya tahu bagaimana cara bersikap."
"Bersikap ketakutan?"
"Bersikap tahu diri." Bram menoleh ke arahnya. "Itu hal yang sangat langka belakangan ini. Banyak orang lupa di mana posisi mereka berdiri."
Naira tersenyum miring, sebuah ejekan yang tak disembunyikan. "Atau mereka hanya takut berakhir di dasar pelabuhan. Seperti rumor yang beredar."
Bram tidak berkedip. Ekspresinya tak berubah sedikit pun. Pria itu justru melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga bahu mereka bersentuhan erat. "Kau terlalu banyak membaca berita murahan, Istriku."
"Aku membaca laporan kepolisian."
"Laporan yang sudah ditutup."
"Karena kekurangan bukti," desak Naira, menahan suaranya agar tetap rendah namun setajam silet. "Bukan karena tersangka utamanya terbukti tidak bersalah."
"Hukum bekerja berdasarkan bukti, Naira. Bukan asumsi sentimental." Bram mengambil gelas dari tangan Naira yang mulai gemetar, lalu meletakkannya serampangan di atas nampan pelayan yang lewat. Pria itu kemudian meraih pinggang Naira, memaksanya berbalik untuk menghadapi kerumunan tamu. "Tersenyumlah. Pesaingku sedang melihat."
Naira memaksakan senyum palsu ke arah sekelompok pria berkemeja sutra di seberang ruangan. "Mereka tidak menemukan satu pun sidik jari di tempat kejadian," gumam Naira di sela senyum tegannya. "Tidak ada rekaman CCTV, tidak ada jejak DNA, tidak ada saksi mata. Semuanya terhapus bersih."
"Kedengarannya seperti pekerjaan profesional."
"Kedengarannya terlalu rapi," balas Naira sengit. Ia mendongak, menatap profil samping suaminya yang tegas. "Bahkan pembunuh paling berdarah dingin pun pasti membuat kesalahan. Kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali dia yang mengendalikan orang-orang yang menyelidiki kasus itu."
Bram menunduk, menatapnya dengan intensitas yang membuat udara di paru-paru Naira seolah tersedot habis. Tangan pria itu di pinggangnya mencengkeram sedikit lebih kuat, posesif dan mengancam. "Kau menuduh suamimu menyuap aparat kepolisian di malam pernikahan kita?"
"Aku hanya menyatakan fakta bahwa Inspektur Surya, yang memegang kasus itu, tiba-tiba pensiun dini dan pindah ke luar negeri tepat satu minggu setelah kematian Raka."
"Udara di Eropa lebih bagus untuk paru-parunya."
"Atau uang di rekening luar negerinya lebih bagus untuk masa pensiunnya."
Bram tertawa pelan. Suara tawa yang berat, bergetar di dada pria itu, namun sama sekali tidak memancarkan kegembiraan. "Kau sangat gigih. Aku menyukai itu darimu."
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Bram."
"Pertanyaan yang mana?"
"Apakah kau mengendalikan mereka?"
Bram menatap lurus ke matanya. Ruangan yang bising itu seolah senyap seketika, menyisakan mereka berdua dalam gelembung ketegangan. "Aku tidak perlu mengendalikan siapa pun, Naira. Mereka sendiri yang memilih untuk berlutut." Pria itu menyentuh pipi Naira dengan punggung tangannya, sebuah sentuhan seringan bulu namun terasa seperti ancaman mematikan. "Sama sepertimu."
Naira menepis tangan itu perlahan, tetap mempertahankan senyum palsunya demi para tamu. "Aku tidak pernah berlutut padamu."
"Belum."
Naira memalingkan wajah, menatap lantai dansa dengan jantung bergemuruh hebat. Fakta yang dibacanya di dokumen rahasia milik kakaknya kembali berputar. Kasus itu terlalu bersih. Sangat bersih hingga terasa mustahil. Jika pembunuhnya adalah preman bayaran biasa, pasti ada jejak ceroboh yang tertinggal. Tapi ini berbeda. Ini dirancang sempurna untuk tidak bisa dipecahkan.
Ia semakin yakin, pria yang kini berdiri di sampingnya dengan ketenangan mematikan ini adalah arsitek dari kematian kakaknya. Dan Naira bersumpah akan menguliti setiap kebohongan pria ini, tak peduli apa risikonya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar