Gaun sutra putih ini terasa seperti kain kafan yang menjerat lehernya. Renda Prancis halus yang harganya setara dengan sebuah apartemen mewah di pusat kota itu, kini tak lebih dari jaring laba-laba yang mengikat tubuh Naira erat-erat. Ia menahan napas, memilih membiarkan dadanya sesak daripada harus menghirup aroma lili putih yang mendominasi katedral tua ini. Aroma yang memuakkan. Aroma yang selalu mengingatkannya pada rumah duka, pada hari di mana Raka, kakaknya, terbujur kaku di dalam peti dengan luka mematikan di kepala.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah pria berjas hitam legam yang berdiri kokoh di ujung karpet merah.
Bramantyo.
Bahkan menyebut nama itu dalam hati saja sudah membuat lambung Naira melilit mual. Namun ia terus melangkah. Satu langkah, satu detak jantung. Sepatu hak tingginya mengetuk pelan lantai pualam, menciptakan ritme konstan yang mengantarnya langsung menuju mulut sang monster.
Ketika ia akhirnya tiba di altar, Bram mengulurkan tangan. Kulit pria itu pucat, kontras dengan manset kemejanya. Saat jemari mereka bersentuhan, rasa dingin seketika merambat naik ke lengan Naira. Tidak ada sedikit pun kehangatan di sana. Hanya ada kekuasaan absolut.
Bram menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh telinga Naira. Aroma maskulin dari cologne mahal bercampur dengan sesuatu yang pekat dan mengintimidasi langsung memenuhi indra penciumannya.
"Akhirnya kamu datang juga," bisik pria itu. Suaranya sangat rendah, hanya bisa didengar oleh mereka berdua di tengah riuhnya gumaman tamu undangan.
Naira menelan ludah, memaksa otot-otot wajahnya untuk rileks meski rahangnya mengeras. "Kau pikir aku akan lari?"
"Banyak yang lari saat berhadapan denganku." Mata kelam Bram menatap lurus ke dalam bola matanya. Tidak ada emosi di sana. Kosong, namun seolah menyedot segala cahaya di sekitarnya. "Tapi kau bukan kebanyakan orang, kan?"
"Aku sudah berjanji," balas Naira, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. "Dan aku selalu menepati janjiku."
"Bagus. Karena mulai hari ini, kau tidak punya pilihan selain menepatinya."
Pendeta berdeham keras, menghentikan perang tak kasat mata yang baru saja dimulai itu. Prosesi pemberkatan berlangsung lambat dan menyiksa. Setiap kali pendeta mengucapkan kata 'cinta', 'kesetiaan', dan 'kematian', Naira bisa merasakan bayangan Raka berdiri di sudut katedral, menatapnya dengan darah yang masih merembes.
Aku melakukan ini untukmu, Kak. Aku akan menghancurkannya dari dalam.
"Naira, apakah engkau bersedia menerima pria ini sebagai suamimu, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat?"
Naira menatap mata pendeta itu sejenak, lalu beralih pada Bram. Pria itu menunggu. Rahangnya mengeras, tapi sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyum yang sangat tipis. Senyum seorang predator yang melihat mangsanya mengunci diri sendiri di dalam kandang.
"Saya bersedia," ucap Naira mantap.
"Bramantyo, apakah engkau bersedia..."
"Saya bersedia," potong Bram cepat, bahkan sebelum pendeta menyelesaikan kalimatnya. Ketidaksabaran itu membuat bulu kuduk Naira berdiri.
Cincin berlian yang terasa sedingin es disematkan ke jari manisnya. Terasa berat. Terasa seperti belenggu.
"Sekarang, engkau boleh mencium istrimu."
Bram melangkah maju. Tangannya yang besar dan kokoh meraih pinggang Naira, menarik tubuh wanita itu hingga menempel padanya. Jantung Naira berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya dengan panik. Ia memejamkan mata saat wajah Bram mendekat.
Bibir pria itu menyentuh bibirnya. Tidak kasar, tidak juga menuntut, tapi terasa begitu mutlak. Sebuah klaim. Sebuah segel kepemilikan.
"Mulai sekarang," bisik Bram di sela ciuman mereka, embusan napasnya menerpa bibir Naira. "Tidak ada jalan mundur."
"Aku tidak pernah berniat mundur," desis Naira pelan, membuka matanya dan menantang langsung tatapan mematikan itu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar