Gerbang besi hitam setinggi tiga meter itu terbuka tanpa suara, menyambut mobil mereka memasuki area yang lebih pantas disebut benteng militer daripada sebuah hunian. Naira menatap keluar jendela. Halaman depan didominasi kerikil abu-abu dan pepohonan pinus yang ditanam dengan presisi matematis yang kaku. Tidak ada bunga. Tidak ada warna.

Pintu mobil dibuka oleh seorang pria paruh baya berjas rapi yang menunduk begitu dalam hingga nyaris membentuk sudut sembilan puluh derajat.

"Selamat datang, Tuan. Nyonya," sapa pria itu. Suaranya sedikit bergetar saat menyebut gelar barunya.

Naira melangkah turun, gaun pengantinnya menyapu aspal basah. Angin malam langsung menusuk tulang, tapi rasa dingin yang sesungguhnya berasal dari bangunan di hadapannya. Fasad rumah itu memadukan beton ekspos, baja hitam, dan kaca-kaca besar yang memantulkan kegelapan malam. Seperti sebuah mausoleum raksasa.

Bram berjalan mendahuluinya, melempar jas hitamnya ke lengan pria paruh baya tadi tanpa menoleh sedikit pun.

"Namanya Haris. Kepala pelayan di sini," kata Bram sambil menaiki tangga teras. "Dia akan mengurus semua kebutuhanmu."

Naira menatap punggung Haris. Pria itu menelan ludah dengan susah payah sebelum membukakan pintu utama. Kenapa tangannya gemetar?

Begitu melangkah masuk, keheningan langsung menyergap telinga Naira. Ruang tamu itu sangat luas, dengan langit-langit setinggi sepuluh meter dan lampu gantung geometris yang memancarkan cahaya putih steril. Perabotannya minim, semuanya berwarna monokrom. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada lukisan hangat. Hanya ada dinding kosong dan rasa dingin yang menggigit.

Beberapa pelayan wanita berdiri berjajar di dekat tangga, menunduk dengan tangan bertaut di depan perut. Tak ada satupun yang berani mengangkat wajah menatap majikan baru mereka.

"Haris, bawakan koper Nyonya ke kamar utama," perintah Bram.

"B-baik, Tuan," sahut Haris cepat, setengah berlari menuju pintu depan.

Naira melipat tangan di depan dada, berusaha menyembunyikan fakta bahwa bulu kuduknya meremang. "Kau melatih mereka dengan sangat baik. Atau lebih tepatnya, kau mengancam mereka dengan sangat baik?"

Bram menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Ia berbalik lambat-lambat. "Disiplin bukan ancaman, Naira. Itu kebutuhan pokok di rumah ini."

"Dan ketakutan? Apakah itu juga kebutuhan pokok?"

"Tergantung siapa yang bertanya." Pria itu memasukkan sebelah tangan ke dalam saku celananya. "Ada beberapa hal yang harus kau pahami sebelum kau terbiasa dengan tempat ini."

Naira mengangkat sebelah alisnya. "Aturan main?"

"Fakta hidup." Bram menatapnya lurus. "Pertama, sayap barat di lantai tiga adalah area pribadiku. Ruang kerjaku ada di sana. Jangan pernah melewati lorong itu tanpa izinku."

"Bagaimana kalau aku tersesat?"

"Orang-orang yang tersesat di rumah ini jarang menemukan jalan pulang, Sayang." Nada suara Bram tetap datar, tapi matanya memperingatkan hal lain. "Kedua, kau bebas melakukan apa pun di sisa area rumah ini, tapi kau tidak diizinkan keluar dari gerbang depan tanpa didampingi dua pengawalku."

Naira mendengus pelan, sebuah tawa kering keluar dari bibirnya. "Apakah aku sedang berada di rumah suamiku, atau di sel tahanan berkeamanan maksimum?"

"Anggap saja keduanya."

"Lalu apa aturan ketiganya?" tantang Naira. Jantungnya berdebar kencang, tapi ia menolak mengalihkan pandangan dari mata kelam itu. Ia harus memetakan teritorinya. Ia harus tahu seberapa besar kandang predator yang baru saja ia masuki ini.

Bram menuruni satu anak tangga, mengikis jarak di antara mereka hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Naira harus mendongak untuk menatapnya.

"Ketiga," bisik Bram, suaranya berat dan serak. "Jangan pernah bertanya pada para staf tentang apa yang terjadi di rumah ini sebelum kau datang. Mereka tidak dibayar untuk berbicara."

"Lalu pada siapa aku harus bertanya?"

"Padaku." Jari Bram menyentuh ujung dagu Naira, mengangkatnya sedikit. "Jika kau punya nyali."

Pria itu melepaskan sentuhannya dan kembali menaiki tangga tanpa menoleh lagi. "Bersihkan dirimu. Kita punya malam yang panjang."

Naira berdiri terpaku di tengah ruang tamu yang luas dan kosong itu. Gaun pengantinnya terasa semakin berat. Ia melirik ke arah para pelayan yang masih menunduk. Semuanya mematung, seolah mereka hanya bernapas jika diizinkan.

Ini bukan rumah. Ini adalah kuburan bagi siapa pun yang mencoba menggali rahasia Bramantyo. Dan Naira baru saja mengunci dirinya sendiri di dalamnya.