Kamar utama di lantai dua itu tak jauh berbeda dengan bagian rumah lainnya. Ranjang berukuran king-size di tengah ruangan tampak seperti pulau es dengan seprai sutra berwarna abu-abu gelap. Tidak ada kelopak mawar. Tidak ada lilin aromaterapi. Sungguh ironis untuk sebuah malam pertama.
Naira berdiri di depan meja rias, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar. Riasan wajahnya masih sempurna, tapi matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Dengan tangan sedikit gemetar, ia merogoh ke balik belahan gaunnya, menarik sebilah belati lipat dari sarung di pahanya. Logam perak itu berkilat memantulkan cahaya lampu. Tajam. Mematikan.
Ia meletakkan belati itu di atas meja rias, menyembunyikannya di bawah handuk kecil.
Suara gemercik air dari kamar mandi tiba-tiba berhenti. Jantung Naira seketika berdetak dua kali lebih cepat. Ia menelan ludah, buru-buru meraih sikat rambut dan berpura-pura menyisir rambut panjangnya.
Pintu kamar mandi terbuka.
Bram melangkah keluar hanya dengan mengenakan celana panjang hitam berbahan katun. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot perut dan dada yang terbentuk sempurna. Namun bukan itu yang membuat napas Naira tercekat. Di bahu kiri pria itu, hingga ke tulang selangka, terdapat bekas luka bakar yang sudah memudar, tapi masih terlihat jelas bentuknya yang mengerikan. Luka itu... bukan kecelakaan biasa.
Bram memergokinya sedang menatap luka itu lewat cermin.
"Kau kecewa tidak menemukan pria bersetelan jas rapi di balik kemeja itu?" tanya Bram santai, mengambil sehelai handuk kering untuk mengusap rambutnya yang basah.
Naira buru-buru mengalihkan pandangan. "Aku hanya sedang berpikir, berapa banyak musuh yang kau buat hingga tubuhmu terlihat seperti peta medan perang."
Bram tertawa pelan. Tawa yang selalu membuat bulu kuduk Naira berdiri. Pria itu melangkah mendekat. "Kau tidak perlu khawatir. Orang yang meninggalkan luka ini sudah tidak bisa lagi meninggalkan luka di tubuh siapa pun."
Naira mencengkeram gagang sikat rambutnya erat-erat. Darahnya mendesir. Apakah kakaknya yang melakukan itu? Ataukah kakaknya bernasib sama dengan orang yang dibicarakan pria ini?
Bram kini berdiri tepat di belakangnya. Di cermin, Naira bisa melihat bagaimana tubuh besar suaminya menjulang, menutupi sebagian besar cahaya. Tangan pria itu bertumpu di sandaran kursi yang diduduki Naira.
"Kau belum mandi."
"Aku sedang menunggu giliranku," kilah Naira pelan.
"Kau bisa menggunakan kamar mandi sekarang. Aku sudah selesai."
Naira tidak bergerak. Tangan kanannya diam-diam merayap ke bawah handuk kecil di atas meja rias, ujung jarinya menyentuh gagang belati yang dingin. Ia hanya butuh satu gerakan cepat. Berbalik, menusuk tepat di ulu hati atau leher, dan membiarkan semuanya selesai malam ini juga. Raka akan tenang. Dendamnya akan terbayar.
"Kenapa kau diam?" Suara Bram terdengar sangat dekat di telinganya.
"Aku lelah."
"Atau kau sedang menghitung seberapa cepat kau bisa berbalik dan menggorok leherku?"
Napas Naira terhenti. Ia mendongak, menatap mata Bram di cermin. Mata pria itu tidak menunjukkan kemarahan, apalagi ketakutan. Hanya ada antisipasi yang gelap.
Sebelum Naira sempat mencerna kata-kata itu, tangan besar Bram tiba-tiba meraih pergelangan tangan kanannya, menariknya keluar dari bawah handuk bersama dengan belati perak yang kini terbuka.
Naira tersentak, mencoba menarik tangannya kembali, tapi cengkeraman Bram seperti borgol baja.
"Lepaskan!" desis Naira, memutar tubuhnya dan menatap pria itu dengan kilat kebencian yang tak lagi ditutupi.
Bram tidak melepaskannya. Alih-alih merampas senjata itu, pria itu justru melangkah maju, memaksa Naira mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja rias. Bram memutar pergelangan tangan Naira dengan gerakan yang begitu terlatih, mengarahkan ujung belati yang tajam itu... tepat ke dada kirinya sendiri. Ke tempat jantungnya berdetak.
Mata Naira membelalak. Tangannya gemetar hebat karena harus menahan gagang belati yang kini ujungnya menekan kulit dada Bram. Sedikit dorongan saja, logam itu akan menembus daging.
"Kau ingin malam pertama yang berkesan?" bisik Bram. Wajahnya menunduk, jarak mereka begitu dekat hingga Naira bisa merasakan napas hangat suaminya di bibirnya. Tidak ada raut gentar di wajah keras itu. "Pisaumu terlalu pendek untuk menembus tulang rusuk. Jika kau ingin aku mati dalam waktu kurang dari dua menit, kau harus menusuknya sedikit lebih ke bawah, di sela rusuk kelima dan keenam, lalu putar ke atas."
"Kau gila," napas Naira memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
"Aku hanya mencoba membantu istriku menyelesaikan tugasnya." Mata kelam Bram menatap lurus ke dalam jiwa Naira, membongkar setiap lapisan keraguan yang berusaha disembunyikan wanita itu. Pria itu menekan dadanya sendiri ke arah belati, membuat ujung logam itu menggores kulitnya hingga setetes darah merah gelap merembes keluar.
Naira memekik tertahan. Otot tangannya menegang, berjuang mati-matian menahan agar belati itu tidak masuk lebih dalam.
"Ayo, Naira," desak Bram, suaranya mengendap menjadi bisikan yang mematikan. "Kau memburu malam ini sejak awal. Kau masuk ke rumahku. Kau memakai cincinku. Kau membawanya sejauh ini."
Pria itu mencondongkan tubuhnya semakin dekat, menyapu pandangannya ke bibir Naira yang gemetar, lalu kembali menatap matanya.
"Kalau mau membunuhku..." Bram menyeringai, sebuah senyum predator yang telah menemukan kelemahan mangsanya. "...lakukan sekarang."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar