Perjalanan menuju kediaman Bram terasa membekukan tulang. Hujan turun rintik-rintik, memukul kaca jendela mobil anti peluru yang mereka tumpangi dengan ritme konstan. Suasana di dalam kabin penumpang sangat sunyi, hanya terdengar deru mesin V8 yang halus dan suara gesekan ban di atas aspal basah.

Naira bersandar di pintu mobil, menjaga jarak sejauh mungkin dari suaminya. Di luar sana, lampu-lampu jalan tol berkelebat cepat, menerangi sebagian wajah Bram yang keras seperti pahatan marmer. Pria itu sedang membaca sesuatu di tabletnya, sama sekali tidak mempedulikan pengantin wanitanya yang masih mengenakan gaun pengantin.

Keheningan ini memberi Naira ruang untuk berpikir. Terlalu banyak ruang, hingga membuatnya muak dan nyaris gila.

Ia mengingat kembali bagaimana semua kegilaan ini dimulai. Tiga bulan lalu, di sebuah lelang amal yang dihadiri kaum elit. Naira sengaja memakai gaun merah menyala, sengaja menumpahkan segelas anggur Chardonnay ke kemeja pria itu, dan sengaja membalas tatapan membunuh Bram dengan senyum menantang.

Ia sudah merencanakan semuanya berbulan-bulan. Menyusup ke lingkaran pria itu, membuat dirinya terlihat menarik, bermain tarik-ulur agar pria berkuasa yang selalu bosan ini merasa tertantang. Ia berekspektasi Bram akan mengejarnya, merayunya, atau setidaknya mempekerjakan detektif swasta untuk membongkar latar belakangnya. Ia sudah menyiapkan identitas palsu yang sempurna, cerita masa lalu yang tragis, dan persona rapuh yang tidak mungkin ditolak oleh predator mana pun.

Tapi yang terjadi sama sekali di luar prediksinya.

Hanya butuh dua minggu. Dua minggu sejak insiden gaun merah itu, Bram datang ke apartemennya, berdiri di ambang pintu tanpa pengawal satu pun, dan berkata dengan nada datar: "Kau ingin masuk ke hidupku? Menikahlah denganku."

Semudah itu. Terlalu mudah hingga terasa salah.

"Kau sedang memikirkan sesuatu hingga dahimu berkerut seperti itu," suara bariton Bram memecah keheningan, memotong lamunan Naira secara paksa. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari pendar layar tablet.

Naira menegakkan duduknya, merapikan lipatan gaunnya yang kusut. "Aku memikirkan rumah baruku."

"Kau akan menyukainya. Atau membencinya. Tidak ada bedanya bagiku."

"Kenapa kau begitu cepat menyetujui pernikahan ini?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur begitu saja. Pertanyaan yang mengganjal di tenggorokannya seperti duri sejak hari pertama pria ini memberinya cincin pertunangan zamrud yang berat.

Bram akhirnya meletakkan tabletnya di kursi kosong di antara mereka. Ia memutar tubuhnya sedikit, menghadap penuh pada Naira. Dalam keremangan kabin mobil, mata pria itu terlihat jauh lebih gelap, menyembunyikan teka-teki yang tak terpecahkan. "Kau berubah pikiran?"

"Aku hanya penasaran. Pria sepertimu... yang punya segalanya, yang tidak percaya pada siapa pun. Kenapa kau membiarkan orang asing masuk ke lingkaran terdalammu tanpa perlawanan sama sekali?"

"Siapa bilang kau orang asing?"

Darah Naira terasa membeku di nadinya. Ia menelan ludah yang terasa sepahit empedu, berusaha menutupi keterkejutannya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Tentu saja bukan. Kita sudah berkencan selama... apa? Tiga minggu? Waktu yang sangat cukup untuk mengenal luar dalam, bukan?"

Bram mencondongkan tubuhnya ke depan. Wangi cologne-nya kembali mencekik udara di sekitar Naira, mendominasi ruang sempit itu. "Aku mengenalmu lebih baik dari yang kau kira, Naira."

"Benarkah?" Naira mengangkat dagunya, menolak keras untuk terlihat terintimidasi meski lututnya lemas. "Apa yang kau tahu tentangku?"

"Aku tahu kau lebih suka kopi hitam pahit daripada latte. Aku tahu kau benci bunga lili. Aku tahu kau sengaja menumpahkan anggur malam itu." Bram berhenti sejenak, membiarkan kalimat terakhirnya menggantung di udara, berat dan mematikan. "Dan aku tahu kau menyembunyikan belati lipat di balik garter gaun pengantinmu malam ini."

Napas Naira tercekat di tenggorokan. Secara refleks, otot kakinya menegang hebat. Belati itu... bagaimana pria ini bisa tahu? Ia telah menyembunyikannya dengan sangat rapi, menempelkannya di paha atasnya. Ia tidak pernah memberitahu siapa pun.

"Kau..." Mulut Naira terbuka, tapi kata-katanya menguap di udara dingin.

"Kau terlalu tegang saat berjalan di altar tadi. Langkah kaki kirimu sedikit tertahan karena kau takut belatinya melorot," jelas Bram dengan nada datar dan teratur, seolah ia sedang membahas fluktuasi saham. "Lain kali, gunakan sarung pelindung yang dijahit langsung ke kain, bukan hanya diikat dengan pita."

"Jika kau tahu aku membawa senjata tajam, kenapa kau tidak menghentikanku? Kenapa kau tidak membatalkan semuanya di depan altar?" suara Naira akhirnya keluar, diwarnai kepanikan yang semakin sulit disembunyikan.

Bram tersenyum pelan. Senyum yang membuat Naira merasa seperti tikus kecil di dalam labirin raksasa yang sedang diawasi dari atas. Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh pipi Naira, lalu menyelipkan helaian rambut yang terlepas ke belakang telinga wanita itu. Jari-jarinya turun, mengelus leher Naira dengan gerakan lambat dan memabukkan, sebelum berhenti tepat di atas urat nadinya yang berdenyut cepat karena teror.

"Karena permainannya baru saja dimulai, Sayang," bisik Bram. "Dan aku tidak sabar melihat seberapa jauh kau berani melangkah untuk membunuhku."