Napas Rania tercekat di kerongkongan. Tubuhnya yang kelelahan setelah berdiri delapan jam penuh di toko sepatu mendadak kaku, seolah aliran darah di nadinya berhenti mengalir.

Di teras rumahnya yang sempit, tepat di sebelah rak sepatu plastik yang salah satu kakinya sudah patah, tergeletak sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah marun. Ujung sepatu itu runcing, permukaannya mengkilap memantulkan cahaya lampu teras yang temaram. Itu bukan sepatu murah. Dan yang pasti, itu bukan miliknya. Sepatu paling mahal yang Rania miliki hanyalah pantofel hitam seharga seratus ribu rupiah yang solnya sudah mulai menipis.

Rania mencengkeram erat plastik putih berisi martabak telur yang sengaja ia beli dengan sisa uang jajannya hari ini. Martabak itu untuk Arga, suaminya. Pria yang pagi tadi mengeluh pusing dan tidak mau makan masakan sisa semalam.

Tangan Rania gemetar saat meraih gagang pintu. Ada tawa yang terdengar dari balik daun pintu berbahan kayu jati tiruan itu. Tawa seorang perempuan. Lembut, manja, dan diselingi gumaman berat suara laki-laki yang sangat Rania kenal.

Ceklek.

Pintu terbuka. Angin malam yang membawa rintik gerimis ikut menerobos masuk ke ruang tamu yang menyatu dengan ruang TV. Namun, rasa dingin dari luar tidak ada apa-apanya dibandingkan es yang seolah menghantam dada Rania saat itu juga.

Di atas sofa ruang tamu mereka—sofa yang cicilannya baru lunas bulan lalu dari hasil Rania berhemat uang belanja—duduk seorang perempuan berkulit putih bersih, dengan rambut bergelombang yang digerai indah. Perempuan itu sedang tertawa kecil, memegang potongan buah apel di tangannya.

Namun, bukan wajah cantik perempuan itu yang membuat pupil Rania mengecil, melainkan pakaian yang menempel di tubuhnya.

Perempuan asing itu memakai daster sutra berwarna biru dongker. Daster pemberian almarhumah ibu Rania, baju tidur favorit yang selalu Rania simpan rapi di lemari dan hanya dipakai di hari-hari tertentu karena ia terlalu sayang padanya.

"Mas, manis banget apelnya. Beli di mana sih?" Suara perempuan itu mengalun manja.

Dari arah dapur, Arga muncul membawa segelas susu putih hangat. Suami yang Rania banting tulang untuk bantu lunasi utang-utang bisnisnya itu tersenyum lebar, senyum yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Rania lihat lagi setiap kali pria itu menatapnya.

"Di supermarket depan, khusus buat kamu..." Kalimat Arga terputus di udara. Langkahnya terhenti. Mata pria itu bertabrakan dengan Rania yang mematung di ambang pintu, basah kuyup oleh gerimis, dengan wajah pucat pasi.

Hening mencekik ruangan itu. Suara televisi yang menyiarkan acara kuis mendadak terdengar seperti dengungan lebah yang memekakkan telinga.

Plastik di tangan Rania melorot.

Bruk.

Kotak martabak itu jatuh ke lantai, isinya berhamburan mengotori karpet murah bermotif bunga di bawah kaki Rania. Namun Rania tidak peduli. Matanya nanar menatap bergantian antara Arga, perempuan asing di sofanya, dan daster sutra yang melekat di tubuh perempuan itu.

"Arga..." Suara Rania keluar lebih seperti udara kosong. Tenggorokannya terasa seperti disayat pisau tumpul. "Siapa dia? Kenapa dia pakai bajuku?"

Arga meletakkan gelas susu di atas meja dengan gerakan santai yang membuat darah Rania mendidih. Tidak ada raut panik di wajah pria itu. Tidak ada rasa bersalah. Pria yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek itu justru menarik napas panjang, seolah kehadiran Rania adalah sebuah gangguan kecil.

"Kamu udah pulang, Ran. Nggak usah drama dulu, masuk, tutup pintunya. Nanti tetangga dengar," ucap Arga datar.

Rania melangkah masuk dengan kaki yang terasa seperti berton-ton beratnya. Ia membanting pintu di belakangnya hingga menimbulkan bunyi debuman keras. Dada Rania naik turun dengan cepat. Matanya memerah menahan panas yang siap tumpah.

"Aku tanya, siapa perempuan ini, Arga?!" Rania menaikkan nada suaranya, menunjuk tepat ke wajah perempuan yang kini menatapnya dengan raut wajah... polos. Ya, perempuan itu tersenyum kecil, nyaris tidak terlihat, sebuah senyum yang merendahkan.

"Kenalkan, Mbak Rania," perempuan itu bangkit berdiri dengan gerakan sangat perlahan, seolah sedang memamerkan sesuatu. Ia mengulurkan tangannya yang dihiasi cincin emas bertahtakan berlian kecil. "Aku Selina."

Rania tidak menyambut uluran tangan itu. Matanya terkunci pada perut Selina. Dari balik daster sutra yang pas di badan itu, perut Selina terlihat membuncit. Bukan buncit karena lemak, melainkan gundukan bulat yang nyata.

Melihat tatapan Rania, Selina dengan sengaja menarik tangannya kembali dan meletakkannya di atas perutnya sendiri. Ia mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

"Aku lagi ngidam apel dari sore, makanya Mas Arga buru-buru beliin. Maaf ya, Mbak, aku terpaksa pakai daster Mbak soalnya bajuku basah kehujanan di jalan tadi. Mas Arga yang ambilin dari lemari, katanya Mbak Rania pasti ngerti." Kalimat Selina diucapkan dengan nada sangat lembut, tapi setiap kata-katanya menusuk tepat ke jantung Rania bagai jarum beracun.

Mas Arga yang ambilin dari lemari.

Rania menatap suaminya. Pria yang selama lima tahun ini ia layani, pria yang pakaiannya selalu ia setrika licin, pria yang ketika gagal merintis bisnis, Rania rela meminjam uang ke koperasi agar mereka tetap bisa makan.

"Apa maksudnya ini, Mas?" Rania berjalan mendekati Arga. Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih menekan telapak tangan. "Perempuan ini... perut ini... maksudnya apa?!"

Arga mengusap wajahnya kasar, tampak jengah. "Duduk dulu, Ran. Nggak usah teriak-teriak. Alin lagi tidur di kamarnya, kamu mau bikin anakmu bangun?"

"Jangan bawa-bawa Alin!" teriak Rania histeris. Kepalanya terasa mau pecah. "Jelasin sekarang sebelum aku seret perempuan ini keluar dari rumahku!"

Mata Arga menajam. Pria itu maju satu langkah, menatap Rania dengan tatapan merendahkan yang belakangan ini sering ia tunjukkan. "Jaga mulutmu, Rania. Ini rumahku juga. Dan Selina akan tinggal di sini sementara waktu."

Dunia Rania seolah runtuh. Bumi tempatnya berpijak hancur berkeping-keping.

"Tinggal di sini?" Rania tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan rasa sakit dan ketidakpercayaan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh menetes di pipinya yang kusam. "Kamu bawa perempuan gatal ini ke rumah kita, pakai bajuku, duduk di sofaku, dan kamu bilang dia mau tinggal di sini?!"

"Mbak, tolong jaga bahasanya," sela Selina dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. Matanya mulai berkaca-kaca menatap Arga, mencari perlindungan. "Mas, kan aku udah bilang aku cari kosan aja. Kalau begini malah bikin Mbak Rania marah..."

"Nggak, Sel. Kamu tetap di sini," sela Arga cepat, suaranya berubah menjadi sangat lembut saat menatap Selina. Kemudian, tatapan matanya kembali menjadi belati es saat menoleh pada istrinya. "Selina lagi hamil, Rania. Kandungannya masuk empat bulan. Dia lagi butuh banyak istirahat dan perhatian. Dan itu anakku."

Anakku.

Dua kata itu menghantam dada Rania seperti peluru tajam. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Tangannya meraba sandaran kursi makan untuk mencari pegangan agar tidak ambruk. Empat bulan? Selama empat bulan terakhir, saat Rania bekerja keras lembur sampai malam untuk menutupi biaya tagihan listrik dan air karena Arga beralasan bisnisnya sedang sepi, suaminya ternyata meniduri perempuan lain hingga hamil?

"Kamu... kamu selingkuh di belakangku, Mas? Sampai hamil?" Rania terisak keras, dadanya sesak hingga ia kesulitan meraup oksigen. "Kurangnya aku apa?! Tiap hari aku kerja buat nutupin utang-utangmu! Aku makan sisa lauk biar kamu dan Alin bisa makan daging! Dan ini balasanmu?!"

Rania maju, tangannya melayang hendak menampar wajah pria tidak tahu diuntung itu. Namun dengan cepat Arga menangkap pergelangan tangan Rania, mencengkeramnya begitu kuat hingga Rania merintih kesakitan.

"Jangan berani-berani kamu main tangan!" desis Arga tepat di depan wajah Rania. Aroma mint dari napas Arga yang biasanya menenangkan kini terasa sangat memuakkan. "Kamu nanya kurangmu apa? Kamu lihat dirimu sendiri di kaca, Rania! Kusam, bau keringat, tiap hari ngeluh soal uang, uang, dan uang! Pria mana yang betah di rumah kalau istrinya kayak pembantu begini?!"

"Lepasin, Mas! Sakit!" Rania meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan suaminya yang bagai tang besi.

"Ada ribut-ribut apa ini malam-malam?!"

Sebuah suara tajam dari arah lorong kamar menghentikan perkelahian mereka. Pintu kamar di sudut lorong terbuka. Ibunda Arga—ibu mertua Rania—berjalan keluar sambil mengikat tali daster batiknya. Wajah keriputnya menunjukkan raut ketidaksukaan yang amat sangat begitu melihat Rania menangis.

"Ibu..." Rania menatap mertuanya dengan mata memohon keadilan. "Mas Arga, Bu... Mas Arga bawa selingkuhannya ke rumah kita. Dia hamili perempuan ini..."

Namun, bukannya marah pada putranya, ibu mertua Rania justru memutar bola matanya malas. Wanita tua itu berjalan mendekati Selina, lalu mengusap bahu perempuan pelakor itu dengan sangat lembut.

"Ya ampun, Selina, kamu nggak apa-apa, Nak? Nggak usah dengerin perempuan ini, nanti bayi kamu stres," ucap ibu mertuanya penuh perhatian.

Rania terbelalak. Rahangnya jatuh terbuka. Ia menatap mertuanya seolah wanita itu adalah monster berekepala dua. "Bu... Ibu tahu soal ini? Ibu tahu Mas Arga selingkuh?!"

Ibu mertuanya membalikkan badan, menatap Rania dengan tatapan jijik dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Selingkuh apanya? Arga itu laki-laki, wajar kalau dia butuh perempuan yang bisa melayani dia dengan baik, yang bisa merawat diri, yang bisa bikin dia bangga pas dibawa keluar."

"Aku ini istri sahnya, Bu! Aku ibu dari cucu Ibu, Alin!" jerit Rania kalap. Hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa mertua yang selama ini ia hormati, yang biaya berobat darah tingginya selalu Rania usahakan, ternyata bersekongkol menghancurkan rumah tangganya.

"Halah! Cuma bisa ngasih anak perempuan satu aja bangga," cibir ibu mertuanya sinis. Tangannya menunjuk perut buncit Selina. "Selina ini lagi mengandung anak laki-laki. Penerus keluarga ini. Lagipula, Selina ini perempuan mandiri, koneksinya banyak. Dia yang bantu Arga dapet proyek baru bulan lalu. Bukan kayak kamu yang cuma bisa kerja jaga toko sepatu!"

Mendengar penghinaan itu, Selina menundukkan wajahnya, seolah-olah tersipu, namun di sudut bibirnya tersungging senyum puas.

"Keluar..." suara Rania bergetar hebat. Matanya menatap Selina dengan kebencian yang menyala-nyala. "Aku bilang keluar dari rumahku sekarang juga, Pelakor!"

Rania nekat menerjang maju, berniat menarik rambut Selina. Ia tidak peduli lagi. Harga dirinya sudah diinjak-injak di dalam rumahnya sendiri. Namun Arga dengan cepat mendorong tubuh Rania hingga wanita itu terjerembap ke belakang, menabrak meja ruang tamu dengan keras.

Brak!

Pinggang Rania menghantam sudut meja. Rasa nyeri luar biasa menjalar ke seluruh saraf punggungnya. Ia meringis kesakitan di lantai, memegangi pinggangnya.

"Mas Arga!" Selina pura-pura memekik kaget, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Jangan kasar-kasar sama Mbak Rania, kasihan..."

"Biarin aja dia, Sel. Perempuan nggak tahu diri memang harus diajarin sopan santun," dengus ibu mertuanya sambil bersedekap dada.

Arga menatap Rania yang terduduk kesakitan di lantai tanpa sedikit pun belas kasihan. Pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam kamar utama mereka—kamar yang selama lima tahun ini menjadi tempat Rania berbagi keluh kesah dan mimpi.

Beberapa detik kemudian, Arga keluar. Di tangannya terdapat sebuah bantal tipis yang sarungnya sudah pudar, beserta sebuah selimut tipis berbahan kasar yang biasanya hanya dipakai Rania saat menemani Alin tidur saat sedang sakit.

Dengan wajah datar dan mata yang sangat dingin, Arga melemparkan bantal dan selimut itu ke arah Rania. Benda-benda itu jatuh tepat di samping kaki Rania yang masih bersimpuh di atas lantai keramik yang dingin.

Rania menatap bantal itu, lalu mendongak menatap suaminya dengan air mata yang terus mengalir deras.

"Kamu tidur di luar malam ini," ucap Arga dengan nada final yang tidak terbantahkan. "Selina mau istirahat di kamar kita. Dia nggak boleh stres, kandungannya masih lemah. Awas kalau kamu berani bikin keributan lagi."