Klik.
Suara putaran anak kunci dari balik pintu kamar utama itu terdengar sangat keras di tengah sunyinya malam. Bagi Rania, bunyi logam bergesekan itu bukan sekadar tanda bahwa pintu telah terkunci, melainkan vonis mati bagi pernikahan yang selama lima tahun ini ia pertahankan mati-matian.
Rania masih terduduk di atas lantai keramik ruang tengah. Tepat di samping bantal kempes dan selimut tipis yang dilemparkan suaminya beberapa menit lalu. Udara dingin dari sisa gerimis di luar merayap masuk melalui celah bawah pintu, menusuk kulitnya, namun tidak ada yang lebih dingin dari hatinya saat ini.
Dari balik pintu kayu bercat cokelat itu, terdengar sayup-sayup suara tawa.
"Mas... geli ih, jangan digigit!" Suara manja Selina menembus dinding tipis itu, melilit leher Rania seperti kawat berduri.
Lalu disusul tawa berat Arga. Tawa yang sama yang dulu selalu Arga berikan padanya di awal pernikahan mereka. Tawa pria yang merasa menang, merasa dipuja, merasa menjadi raja.
"Kamu wangi banget sih, Sel. Beda banget sama bau minyak angin," gumam Arga dari dalam sana, suaranya memang pelan, namun di telinga Rania, kalimat itu terdengar seperti teriakan melalui pelantang suara.
Dada Rania terasa seperti dihantam godam baja berkali-kali. Napasnya tersengal. Tangan Rania meremas selimut tipis di lantai hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan isakan yang meronta ingin meledak. Bau darah menguar di mulutnya karena gigitannya terlalu keras, tapi rasa sakit di bibir itu tidak ada apa-apanya dibandingkan nyeri yang mengoyak kewarasannya.
Di ranjang itu... di atas kasur springbed yang Rania beli dengan cara mencicil selama dua belas bulan, menyisihkan uang makan siang dan berjalan kaki berkilo-kilometer sepulang kerja agar ongkosnya bisa ditabung... suaminya sedang meniduri perempuan lain. Perempuan yang terang-terangan mengakui sedang mengandung anak dari suaminya.
Rania merebahkan tubuhnya yang bergetar hebat ke atas lantai keramik yang sedingin es. Tidak ada kasur. Tidak ada alas. Hanya keramik telanjang. Pinggangnya yang tadi membentur meja terasa berdenyut nyeri, tapi Rania hanya bisa meringkuk memeluk lututnya sendiri. Air mata yang panas terus mengalir, membasahi bantal kempes yang menempel di pipinya.
Ya Allah, jika ini mimpi buruk, tolong bangunkan aku sekarang juga, jerit Rania dalam hati.
Namun dinginnya lantai ini terlalu nyata. Tawanan kesakitan ini terlalu nyata.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan, terdengar suara decitan engsel pintu dari arah lorong yang lain. Rania buru-buru menyeka air matanya dengan kasar, berusaha menstabilkan napasnya yang putus-putus.
"Mama...?"
Suara serak khas anak kecil yang baru bangun tidur itu membuat Rania mendongak. Di ambang pintu kamarnya, berdiri Alin. Putri kecilnya yang baru berusia empat tahun itu menggosok-gosok matanya yang menyipit karena silau lampu ruang tengah. Tangan kirinya memeluk erat boneka kelinci yang telinganya sudah robek sebelah.
Melihat malaikat kecilnya, pertahanan Rania nyaris runtuh kembali. Ia buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk dan memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang berantakan.
"Sayang... kok bangun? Mau pipis, Nak?" suara Rania bergetar, meski ia sudah berusaha keras membuatnya terdengar normal.
Alin berjalan gontai menghampiri ibunya. Mata bulat anak itu menatap bingung ke arah bantal dan selimut di atas lantai. Lalu ia menatap Rania.
"Mama ngapain tidur di bawah? Nggak dingin?" Alin menyentuh lengan Rania yang tidak tertutup kain. "Lengan Mama dingin banget kayak es batu."
Pertanyaan polos itu seakan merobek sisa hati Rania. Rania menarik tubuh mungil Alin ke dalam dekapannya, memeluk anak itu seerat mungkin. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Alin, menghirup aroma bedak bayi yang selalu menjadi penawarnya dari segala lelah.
"Mama lagi... Mama lagi main kemah-kemahan, Sayang," Rania berbohong, menahan suaranya agar tidak pecah. "Di kasur panas. Lantainya enak, dingin."
Alin mengerutkan kening. Pandangannya beralih ke arah pintu kamar utama yang tertutup rapat. "Di kamar Papa ada suara tante-tante ketawa. Papa lagi nonton TV ya, Ma?"
Rania menelan ludah yang terasa seperti sekumpulan pecahan kaca di tenggorokannya. Ia menangkup kedua pipi Alin, mengalihkan pandangan anak itu agar hanya menatapnya.
"Iya, Papa lagi nonton TV," bisik Rania parau. "Sekarang Alin balik tidur lagi ya. Besok kan harus sekolah."
"Alin mau tidur sama Mama di sini. Boleh?"
Tanpa menunggu jawaban, Alin langsung merebahkan tubuh kecilnya di atas lantai keramik, berbantalkan sebelah lengan Rania. Rania menarik selimut tipis itu, menutupi tubuh Alin agar putri kecilnya tidak kedinginan. Malam itu, sambil mendekap anaknya di atas lantai yang keras, Rania berhenti menangis.
Mata Rania menatap tajam ke arah pintu kamar utama. Sorot kelemahan dan keputusasaan perlahan tergantikan oleh sesuatu yang lain. Sebuah tekad yang dingin dan kelam. Ia menyentuh puncak kepala Alin dengan lembut. Mama tidak akan biarkan mereka menghancurkan masa depanmu, Nak. Tidak akan pernah.
Pagi hari datang membawa aroma embun dan cahaya matahari yang menembus celah ventilasi. Namun bagi Rania, pagi ini terasa seperti masuk ke dalam medan perang yang baru. Seluruh persendian tubuhnya terasa remuk akibat tidur berjam-jam di atas keramik tanpa alas.
Saat Rania baru saja selesai memandikan Alin dan memakaikan seragam TK-nya, pintu kamar utama terbuka.
Selina melangkah keluar dengan raut wajah segar berseri-seri. Ia masih mengenakan daster biru sutra milik mendiang ibu Rania. Rambutnya dikepang ke samping, memperlihatkan leher putihnya. Yang membuat mata Rania memicing tajam adalah alas kaki yang dipakai perempuan itu. Selina mengenakan sandal bulu berwarna merah muda muda—sandal yang baru dibeli Rania minggu lalu dari hasil sisa uang belanjanya.
"Mbak Rania!" panggil Selina dengan nada suara yang ditinggikan, persis seperti seorang nyonya besar memanggil pembantunya.
Rania yang sedang mengancingkan baju Alin menghentikan gerakannya. Ia berdiri, menatap tajam ke arah pelakor di depannya. "Lepaskan sandal itu."
Selina menunduk menatap kakinya, lalu tertawa kecil seolah permintaan Rania adalah lelucon yang sangat lucu. "Oh, ini? Ya ampun Mbak, pelit banget sih sama keluarga sendiri. Aku tuh lagi hamil, telapak kakiku sering kram kalau napak di lantai dingin. Mas Arga yang suruh aku pakai ini tadi. Katanya Mbak Rania punya banyak sandal jepit di dapur."
"Itu barangku." Suara Rania rendah, namun penuh penekanan.
Belum sempat Selina menjawab, langkah berat terdengar dari arah kamar mandi. Ibu mertua Rania muncul dengan wajah ditekuk, rambut masih basah sehabis mandi.
"Pagi-pagi udah bikin ribut aja kamu, Rania!" omel ibu mertuanya sambil menunjuk wajah Rania. "Cuma masalah sandal murah aja diributin! Lagian Selina itu lagi hamil cucu laki-lakiku, wajar kalau dia butuh yang hangat-hangat! Kamu itu jadi istri nggak ada pengertiannya sama sekali!"
"Bu, itu sandal yang aku beli pakai uangku sendiri," bantah Rania, tidak lagi menunduk seperti yang biasanya ia lakukan selama bertahun-tahun.
"Halah! Uangmu itu uang suamimu juga! Lagian kamu kerja di toko sepatu dapat berapa sih? Jangan sok kaya deh!" sembur mertuanya sinis. Wanita tua itu lalu beralih menatap Selina dengan senyum yang mendadak berubah manis bak madu. "Selina sayang, kamu mau sarapan apa pagi ini? Biar Rania yang masakin."
Selina tersenyum penuh kemenangan menatap Rania. Ia membelai perutnya pelan. "Aku lagi pengen makan omelette keju, Bu. Sama susu almond hangat. Oh ya, rotinya dipanggang pakai mentega yang mahal itu ya, Mbak Rania. Dedek bayinya nggak bisa makan sembarangan, perutku gampang mual kalau makan makanan murahan."
Tangan Rania terkepal kuat di sisi tubuhnya. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang rasanya siap meledakkan kepalanya. "Kalau mau makan makanan mahal, masak sendiri. Aku bukan pembantumu."
"Rania!"
Sebuah bentakan keras menggema. Arga muncul dari ambang pintu kamar, sudah berpakaian rapi dengan kemeja kerjanya. Wajahnya merah padam menahan marah. Ia melangkah lebar menghampiri Rania, matanya melotot tajam.
"Kamu makin berani ya sekarang, hah?!" bentak Arga kasar. "Selina itu tamu di sini! Dia lagi hamil anakku! Susah banget cuma disuruh masak telur sama bikin susu?! Kerjaanmu di rumah ngapain aja selain nyusahin orang?!"
"Kerjaanku?" Rania menatap suaminya tanpa berkedip, meski matanya mulai memanas. "Kerjaanku adalah kerja berdiri delapan jam di toko buat bayar tagihan listrik rumah ini, Mas! Buat beli beras! Buat bayar utang-utang bisnismu yang hancur itu! Dan sekarang kamu suruh aku ngelayanin selingkuhanmu?!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Rania. Bukan dari Arga. Tapi dari ibu mertuanya.
Kepala Rania terlempar ke samping. Rasa kebas dan panas seketika menjalar di kulit wajahnya. Ia mematung, menatap nanar ke lantai.
"Berani kamu teriak-teriak di depan suamimu?!" desis ibu mertuanya dengan mata membelalak marah. "Istri durhaka! Harusnya kamu itu sadar diri! Arga itu sekarang udah sukses, dia dapet proyek besar berkat Selina! Kamu yang harusnya berterima kasih karena Selina masih mau numpang di gubuk jelek ini! Kalau kamu nggak mau masak, sana keluar dari rumah ini! Tapi Alin tetap di sini, biar dia tahu ibunya perempuan nggak berguna!"
Mendengar nama Alin disebut, pertahanan Rania kembali goyah. Ia menatap Alin yang kini berdiri mematung di sudut ruangan, wajah anak itu pucat pasi dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ketakutan melihat ibunya ditampar.
Arga merapikan kerahnya yang sedikit berantakan. "Kamu dengar itu, Rania? Masak sekarang, atau uang sekolah Alin bulan ini nggak akan aku bayar."
Ancaman itu adalah titik lemah Rania. Tabungannya menipis karena terus-terusan ditarik oleh Arga dengan dalih "modal bisnis". Rania menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Ia menatap Arga, mertuanya, dan Selina yang menyembunyikan senyum liciknya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Rania membalikkan badan dan melangkah menuju dapur. Setiap pijakan kakinya terasa berat, namun di dalam kepalanya, roda gigi mulai berputar. Biarkan mereka merasa menang hari ini. Biarkan.
Di meja makan kecil yang permukaannya sudah terkelupas itu, Rania menghidangkan dua porsi omelette keju dan dua gelas susu. Arga dan Selina duduk berdampingan, sementara ibu mertuanya duduk di seberang mereka. Rania hanya membuatkan untuk mereka berdua, sementara ia menyuapi Alin dengan nasi sisa semalam yang digoreng dengan sedikit kecap.
"Wah, pinter juga Mbak Rania masaknya," puji Selina basa-basi, memotong telurnya dengan anggun. "Tapi telurnya sedikit kematangan ya, Mas? Kalau di hotel bintang lima tempat kita staycation bulan lalu itu loh Mas, telurnya setengah matang, lembut banget."
Rania yang sedang menyuapkan nasi ke mulut Alin mendadak kaku. Tangannya berhenti di udara. Staycation di hotel bintang lima? Bulan lalu?
Bulan lalu adalah bulan di mana Rania harus meminjam uang ke tetangga untuk membawa Alin ke klinik karena demam tinggi, sementara Arga beralasan sedang "survey lokasi" ke luar kota dan tidak bisa diganggu.
"Iya, maklum lah, Sel," Arga menyahut santai sambil mengunyah makanannya. "Orang terbiasa masak tempe sama sayur asem, disuruh masak makanan orang kaya ya kaget."
Ibu mertuanya tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Rania. "Beda kelas lah, Arga. Selina ini kan perawatannya aja ke salon mahal, kulitnya mulus, wangi. Lah istrimu? Tiap hari baunya bau keringet sama bau bawang. Pantes aja rezekimu seret kalau istrimu dekil begini."
Selina tertawa kecil, menutup mulutnya dengan sebelah tangan dengan gaya elegan. "Ah, Ibu bisa aja. Oh ya, Mbak Rania kasihan ya pasti capek banget. Nanti aku kasih skincare bekasku deh buat Mbak, lumayan harganya sejuta lebih, baru aku pakai setengah. Biar kulit Mbak nggak kusam-kusam amat dilihat Mas Arga."
Rania meletakkan sendok di atas piring dengan gerakan perlahan. Sangat perlahan. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata Selina. Pandangan Rania tidak lagi memancarkan keputusasaan seperti semalam. Ada kekosongan yang mematikan di sana.
"Simpan saja skincare bekasmu itu," jawab Rania dingin. "Karena sehebat apa pun skincare yang kamu pakai, tetap tidak bisa menutupi fakta bahwa kamu adalah perempuan rendahan yang merebut suami orang."
Brak!
Arga menggebrak meja makan hingga piring-piring bergemerincing.
"Rania! Jaga mulutmu!" bentak Arga murka.
Rania langsung menggendong Alin dan bangkit dari kursi. "Aku mau antar Alin ke sekolah. Cuci sendiri piring kalian."
Tanpa menunggu balasan suaminya, Rania melangkah keluar rumah. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia tahu ia tidak boleh terus menerus diam dan menangis. Jika ia terus menangis, mereka akan semakin menginjaknya.
Namun, penderitaan Rania hari itu rupanya baru saja dimulai.
Setelah mengantar Alin ke ujung gang tempat jemputan sekolah menunggu, Rania berniat mampir ke gerobak sayur Mang Udin untuk membeli bayam. Di sana, gerombolan ibu-ibu komplek sedang berkumpul seperti biasa. Ada Bu Ratna yang mulutnya terkenal paling pedas, dan Bu Tejo yang selalu tahu urusan dapur orang.
Baru saja Rania memilih-milih sayur, suara tawa manja terdengar dari arah jalan. Rania menoleh dan napasnya seakan berhenti ditarik paksa.
Arga sedang berjalan santai menyusuri jalan komplek. Di sebelahnya, Selina bergelayut manja di lengan Arga. Selina sudah berganti pakaian, mengenakan dress hamil berwarna pastel yang terlihat sangat mahal dan pas di tubuhnya. Rambutnya dicatok rapi. Arga memayungi Selina dengan payung kecil agar perempuan itu tidak kepanasan.
Gerombolan ibu-ibu di gerobak sayur seketika hening. Mata mereka terbelalak menatap pemandangan absurd di depan mereka. Suami Rania, berjalan mesra dengan perempuan hamil yang sangat cantik, sementara istri sahnya sedang berdiri memegang seikat bayam murah dengan baju kemeja pudar yang itu-itu saja.
Selina melihat gerombolan itu. Bukannya menghindar, pelakor itu justru menarik lengan Arga untuk mendekat ke arah gerobak sayur.
"Pagi, Ibu-ibu..." sapa Selina dengan senyum paling ramah dan manis yang pernah Rania lihat. Suaranya dibuat selembut sutra.
Ibu-ibu itu saling pandang, lalu menatap Arga meminta penjelasan.
Arga berdeham, merangkul pinggang Selina dengan santai di depan mata Rania langsung. "Pagi, Bu Ratna, Bu Tejo. Kenalkan, ini Selina. Keluarga baru saya."
Kata 'keluarga baru' itu meluncur begitu saja dari mulut Arga tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Bu Ratna membelalakkan matanya, pandangannya beralih dari perut buncit Selina, lalu ke arah Rania yang berdiri mematung dengan wajah pucat.
"Loh... Pak Arga... ini maksudnya... istri kedua?" tanya Bu Ratna terang-terangan, matanya berkilat penuh semangat karena mendapat bahan gosip segar.
Selina menunduk, pura-pura tersipu malu sambil mengelus perutnya. "Mohon doanya ya Ibu-ibu, ini sudah jalan empat bulan. Mas Arga protektif banget, makanya saya disuruh tinggal di sini biar dekat dan gampang diawasi. Kebetulan Mbak Rania juga... sangat mengerti kondisi kami."
Mata semua ibu-ibu di sana langsung tertuju pada Rania. Tatapan mereka campur aduk; ada yang kasihan, tapi lebih banyak yang memandang meremehkan. Seolah Rania adalah perempuan paling bodoh sedunia yang membiarkan suaminya membawa pulang madu yang sedang hamil.
"Oh, pantesan semalam rumahnya rame," bisik Bu Tejo kepada ibu di sebelahnya, namun suaranya sengaja dikeraskan. "Istri modelan Mbak Rania mah wajar aja ditinggal. Kurang pinter dandan sih, pantes suaminya nyari yang bening."
"Iya, denger-denger rumah ini juga kan yang lunasin Pak Arga dari hasil bisnis barunya," sahut Bu Ratna ikut-ikutan menambahi bumbu. "Beruntung ya Mbak Rania masih diizinkan tinggal di situ."
Telinga Rania berdenging. Dunia di sekelilingnya berputar. Ia ditelanjangi di depan umum. Harga dirinya diinjak, diludahi, dan dijadikan tontonan gratis oleh tetangga-tetangganya sendiri. Dan suaminya... Arga hanya diam mendengarkan hinaan itu dengan senyum bangga karena berhasil menggandeng perempuan cantik.
Rania tidak sanggup lagi. Ia melempar ikatan bayam itu ke gerobak, membalikkan badan, dan berjalan cepat setengah berlari menuju rumahnya. Air matanya menggenang, tapi ia menolak untuk menangis di depan mereka.
Ia harus mengambil tas kerjanya di kamar dan segera pergi dari neraka ini untuk sementara waktu.
Sesampainya di rumah yang sepi, Rania bergegas menuju kamar utama. Pintu tidak dikunci. Rania mendorongnya terbuka.
Langkahnya terhenti seketika di ambang pintu.
Kamar itu berantakan. Namun yang membuat jantung Rania seolah berhenti berdetak adalah pemandangan di sudut ruangan.
Seluruh pakaian kerjanya, baju-baju sehari-harinya, dan barang-barang miliknya yang sebelumnya tersusun rapi di dalam lemari besar, kini sudah dikeluarkan. Bukan diletakkan di kasur, melainkan dimasukkan secara paksa dan berantakan ke dalam tiga buah kantong plastik sampah berwarna hitam berukuran besar.
Di depan meja rias, Selina duduk membelakangi pintu. Ia sedang menyemprotkan parfum mahal miliknya ke pergelangan tangan.
Rania melangkah masuk dengan tangan gemetar menunjuk kantong kresek hitam itu. "Apa-apaan ini, Selina?! Kenapa bajuku kamu buang ke plastik sampah?!"
Selina memutar kursi riasnya perlahan. Tidak ada lagi senyum manis dan wajah polos seperti yang ia tunjukkan di depan Arga dan para tetangga. Wajah cantik itu kini berubah angkuh, dingin, dan memancarkan kelicikan yang luar biasa.
"Karena lemari itu sekarang milikku," jawab Selina santai, menyilangkan kakinya. "Bajuku banyak, dan aku nggak sudi lemariku dicampur dengan baju-baju murah dan bau matahari milikmu."
Rania maju, kemarahannya sudah di ubun-ubun. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang berkilau di leher Selina.
Sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bunga mawar kecil.
Itu adalah kalung milik mendiang ibunya. Satu-satunya harta peninggalan yang Rania simpan di dalam kotak beludru merah di laci paling bawah lemarinya. Kalung yang bahkan Rania tidak berani jual saat mereka kelaparan demi menghargai kenangan ibunya.
"Lepaskan kalung itu!" jerit Rania histeris. Ia menerjang maju, berniat menarik kalung itu dari leher pelakor di depannya.
Namun Selina dengan cepat menepis tangan Rania dengan keras, lalu berdiri menantang. Mata perempuan itu menatap Rania tajam dan merendahkan.
"Jangan berani sentuh aku!" desis Selina tajam. Ia menyentuh liontin mawar di lehernya dengan senyum iblis yang menyeringai. "Kamu minta kalung ini dilepas? Sayang sekali, Mas Arga yang memakaikannya langsung ke leherku semalam. Katanya, perhiasan indah seperti ini jauh lebih pantas menempel di kulitku daripada disimpan oleh perempuan miskin sepertimu."
Napas Rania tercekat. Arga... Arga yang memberikan kalung ibunya kepada perempuan ini?
Belum selesai keterkejutan Rania, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat. Ada satu pesan masuk.
Rania menarik ponselnya dengan tangan yang bergetar. Layar menyala, menampilkan sebuah notifikasi SMS Banking dari bank tempat ia menyimpan seluruh uang tabungan pendidikan Alin. Uang yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah selama empat tahun.
[SMS BANKING] TRSF KELUAR Rp 45.000.000 KE REK 8829XXXX a.n SELINA AGATHA BERHASIL.
Mata Rania melebar. Tulisan di layar ponselnya terasa seperti ilusi, namun angka itu terlalu nyata. Saldo tabungannya kini hanya tersisa lima puluh ribu rupiah.
Rania mendongak, menatap Selina dengan pandangan kosong bercampur horor.
Selina menyeringai lebar, sebuah senyuman penuh kemenangan mutlak yang akan selalu menghantui Rania. Perempuan licik itu melipat tangannya di dada.
"Kenapa, Mbak Rania? Kaget lihat SMS-nya?" Selina melangkah maju satu langkah, mencondongkan wajahnya ke dekat telinga Rania, dan berbisik dengan nada mematikan. "Terima kasih untuk tabungan pendidikannya. Anggap saja itu hadiah selamat datang untuk anakku."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar