Rania tidak ingat bagaimana ia bisa melangkahkan kakinya dari bangku taman itu. Kepalanya terasa seringan kapas, namun kakinya seberat besi. Angin siang yang terik terasa dingin menusuk tulang-tulangnya. Delapan ratus lima puluh juta. Angka itu terus berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak, menggemakan vonis kehancuran yang tak terbantahkan.

Di tengah keputusasaan yang mencekik, satu-satunya wajah yang terlintas di benak Rania adalah Mas Anton—kakak kandung satu-satunya, darah daging dari rahim ibunya yang sama. Mas Anton adalah sosok pengganti ayah setelah bapak mereka meninggal dunia. Rania menghentikan angkot yang lewat, menumpang menuju rumah kakaknya di kawasan perumahan kelas menengah di pinggiran kota. Ia butuh pelindung. Ia butuh seseorang untuk membantunya keluar dari jerat utang raksasa ini.

Setengah jam kemudian, Rania berdiri di teras rumah berlantai dua milik kakaknya. Tangan Rania gemetar saat menekan bel. Tak lama, pintu terbuka, menampilkan wajah Mbak Nita, kakak iparnya, yang sedang memegang masker wajah berbahan clay di tangannya. Senyum Mbak Nita yang awalnya kaku perlahan memudar melihat penampilan Rania yang berantakan, dengan mata bengkak dan wajah pucat pasi.

"Loh, Rania? Kok jam segini ke sini? Nggak kerja?" sapa Mbak Nita tanpa mempersilakan adik iparnya itu masuk.

"Mbak... Mas Anton ada? Aku... aku butuh ngomong penting sama Mas Anton," suara Rania bergetar hebat. Air mata yang susah payah ditahannya sejak di taman tadi kembali menggenang.

Mbak Nita menghela napas panjang, sebuah gestur yang sarat akan rasa enggan. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar. "Masuk aja, lagi ngopi di ruang tengah."

Begitu Rania melangkah masuk, ia melihat kakaknya sedang duduk santai di sofa kulit empuk, menonton siaran berita sambil menikmati secangkir kopi hitam dan pisang goreng hangat. Mas Anton menoleh. Dahinya berkerut melihat kondisi adiknya.

"Kenapa kamu, Ran? Nangis kayak orang habis digebukin aja," tegur Mas Anton santai, sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.

Pertahanan Rania runtuh. Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas karpet tebal di depan kaki kakaknya. Ia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala rasa sakit yang mengoyak kewarasannya sejak semalam. Dengan napas terputus-putus, Rania menceritakan semuanya. Tentang Selina yang tiba-tiba datang dalam kondisi hamil. Tentang ibu mertuanya yang bersekongkol. Tentang bajunya yang dibuang. Tentang uang tabungan Alin yang dicuri.

Dan puncaknya, tentang sertifikat rumah yang dijaminkan ke bank dengan tanda tangan palsu atas namanya, menyisakan utang 850 juta rupiah yang kini jatuh ke pundaknya jika Arga gagal bayar.

Keheningan yang tegang menguasai ruang keluarga itu setelah Rania selesai bicara. Hanya terdengar isakan Rania yang memilukan.

Rania mendongak, menatap kakaknya dengan penuh harap. "Mas... tolong aku, Mas. Temani aku lapor polisi. Aku butuh pengacara. Kalau nggak, rumah itu bakal disita dan aku yang bakal dikejar-kejar bank karena namaku yang dipakai... Mas Anton kan tahu orang bank, tolong bantu aku batalkan pencairannya..."

Bukannya amarah meledak karena adiknya diselingkuhi dan ditipu, Mas Anton justru menyesap kopinya perlahan. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kaca, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan simpati.

"Kamu ini selalu aja bikin pusing, Ran," desah Mas Anton dengan nada jengah. "Urusan rumah tangga itu diselesaikan baik-baik di ranjang, bukan malah lari ke rumah orang bawa-bawa masalah. Apalagi sampai mau lapor polisi. Kamu mau bikin aib keluarga kita masuk berita?!"

Mata Rania melebar. Jantungnya seakan berhenti berdetak. "Aib? Mas... Arga menghamili perempuan lain! Dia palsukan tanda tanganku buat utang ratusan juta! Aku ini korban, Mas!"

Mbak Nita yang sejak tadi bersandar di dinding melipat kedua tangannya di dada, menyela dengan nada sinis. "Ya kamu juga sih, Ran, harusnya instrospeksi diri. Kenapa suami sampai nyari di luar? Mungkin pelayananmu kurang. Kamu kan tiap hari kucel begitu, bau minyak angin, sibuk kerja terus. Suami mana yang betah? Makanya Arga nyari perempuan yang lebih bisa dandan."

Perkataan kakak iparnya itu bagai tamparan baja yang menghantam wajah Rania dua kali lipat lebih keras daripada tamparan ibu mertuanya.

"Mbak Nita..." Rania menatap kakak iparnya dengan tatapan horor. "Aku kerja dari pagi sampai malam buat nutupin biaya hidup yang nggak dibayar suamiku! Aku banting tulang buat makan anakku!"

"Halah, alasan!" Mas Anton memotong tajam. Pria itu menunjuk tepat ke dahi Rania. "Intinya begini. Suami selingkuh itu biasa. Laki-laki itu punya kebutuhan. Nanti juga kalau bayinya udah lahir, Arga bakal sadar sendiri dan balik ke kamu. Kamu itu istri sahnya. Jangan gegabah minta cerai atau lapor polisi."

"Terus utang 850 juta itu gimana, Mas?!" jerit Rania histeris. Keputusasaannya meledak. "Kalau Arga kabur, rumahku disita! Aku dan Alin mau tinggal di mana?!"

Mas Anton menatap Rania dengan tatapan dingin, tatapan seorang pria egois yang tidak mau repot. "Kalau kamu nurut sama suami, pinter-pinter ambil hatinya lagi, dia pasti tanggung jawab bayar utang itu. Proyeknya kan lagi besar katanya. Kamu sabar aja. Pertahankan demi Alin. Kalau kamu cerai, kamu jadi janda, aib buat keluarga. Dan ingat ya, Ran..."

Mas Anton mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah menjadi ancaman halus. "...Mas nggak punya tempat buat nampung janda bawa anak. Biaya sekolah anak-anak Mas udah mahal. Jadi mending kamu pulang, minta maaf sama suamimu karena udah bikin ribut, dan layani perempuan itu baik-baik sampai Arga kasihan sama kamu."

Rania terdiam mematung. Udara di dalam ruangan itu terasa beracun. Ia menatap lekat-lekat wajah Mas Anton, darah daging ibunya sendiri. Seseorang yang ia pikir akan menjadi tamengnya, justru menyerahkannya kembali ke dalam mulut harimau dengan alasan menjaga 'nama baik' dan menolak disusahkan.

Dunia ini sungguh kejam. Saat kau miskin dan hancur, ikatan darah sekalipun tidak lebih tebal dari air selokan.

Perlahan, Rania berdiri dari lantai. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Isakannya berhenti seketika, digantikan oleh kekosongan yang membekukan jiwa.

"Terima kasih atas nasihatnya, Mas," ucap Rania parau namun sangat datar. Tidak ada lagi nada memohon. "Mulai hari ini, anggap saja Bapak tidak pernah punya anak perempuan. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di rumah ini lagi."

Tanpa menunggu balasan dari kakaknya yang mendadak salah tingkah, Rania berbalik dan berjalan keluar dari rumah itu. Ia tidak membanting pintu. Ia hanya menutupnya dengan tenang. Namun di balik ketenangan itu, Rania mengubur seluruh kelemahan dan harapannya pada manusia lain. Jika tidak ada satu pun orang yang mau menolongnya, maka ia akan menjadi iblis untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Matahari sudah mulai condong ke barat saat Rania berjalan kaki menyusuri gang menuju rumahnya. Langkahnya mantap, tatapannya tajam menatap ke depan. Ia telah merencanakan strategi di kepalanya. Ia tidak akan lari. Ia akan tetap tinggal di rumah itu, berpura-pura mengalah, mengumpulkan setiap lembar bukti, lalu menghancurkan Arga dan Selina di saat mereka merasa paling menang.

Namun, langkah Rania terhenti tiba-tiba saat ia berada sepuluh meter dari pagar rumahnya.

Sebuah mobil pick-up bak terbuka terparkir tepat di depan pagar rumah Rania. Dua orang kuli angkut sedang mengangkat sebuah kasur single bermotif kartun anak-anak dan memasukkannya ke dalam bak mobil. Di belakangnya, menyusul sebuah meja belajar kecil berwarna merah muda dan lemari pakaian plastik berukuran sedang.

Itu barang-barang dari kamar Alin. Kamar yang semalam dijadikan tempat Rania menyimpan sisa barangnya setelah diusir dari kamar utama.

Jantung Rania berpacu. Ia setengah berlari menuju teras rumah. Di sana, ia melihat Selina sedang berdiri sambil memegang segelas jus jeruk dingin, memberi instruksi kepada para pekerja itu.

"Hati-hati bawa lemari plastiknya, Bang! Itu dibuang aja ke tempat pembuangan sampah akhir ya. Kasurnya juga, itu sarangnya tungau. Nggak pantes ditaruh di dalam rumah," seru Selina dengan gaya layaknya mandor.

Selina mengenakan dress santai yang membalut tubuhnya dengan elegan. Tangan kirinya mengusap perut buncitnya dengan santai.

"Selina!" teriak Rania. Ia menerobos masuk melewati kuli angkut, langsung berdiri di hadapan pelakor itu. "Apa yang kamu lakukan dengan barang-barang anakku?!"

Selina menoleh pelan, menatap Rania dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia menyedot jus jeruknya sedikit, lalu tersenyum merendahkan.

"Oh, Mbak Rania udah pulang. Nggak kerja? Kebetulan banget," ucap Selina santai, sama sekali tidak terpengaruh oleh amarah Rania. "Aku lagi merenovasi sedikit."

"Merenovasi?!" Mata Rania melotot melihat ke arah kamar Alin yang pintunya terbuka lebar. Ruangan itu kini kosong melompong. Tidak ada satu pun barang tersisa. Bahkan kantong plastik hitam berisi baju Rania yang semalam ia letakkan di sana sudah tergeletak secara acak di lorong dekat kamar mandi.

"Iya, merenovasi," Selina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma parfum mahalnya menguar tajam. "Kamar bayiku nanti butuh walk-in closet. Baju-baju bayi dan peralatanku banyak banget pesanan Mas Arga. Karena rumah ini kecil dan kumuh, ya terpaksa aku pakai kamar anakmu itu buat dijebol dan disatukan dengan kamar utama kita."

Darah Rania mendidih. "Itu kamar Alin! Anak kandung Arga! Kamu nggak punya hak mengusirnya dari kamarnya sendiri!"

Selina tertawa kecil. Tawa yang sangat renyah seolah Rania baru saja menceritakan lelucon konyol. "Hak? Mbak Rania, sadar sedikit dong. Sertifikat rumah ini udah atas nama suamiku, dan aku ini istri yang mengandung penerusnya. Aku yang berhak mengatur rumah ini. Mas Arga setuju kok. Lagian, anak perempuan kan nggak butuh kamar bagus-bagus. Biar dia tidur di kamar gudang belakang aja."

Kamar gudang belakang. Ruangan berukuran dua kali dua meter tanpa jendela, yang letaknya menempel persis dengan dapur kotor dan kamar mandi. Tempat yang biasa Rania gunakan untuk menyimpan sapu lidi dan kardus-kardus bekas. Di sanalah pelakor ini menempatkan putri kecilnya?

Sebelum Rania sempat meledakkan amarahnya, sebuah tangisan melengking terdengar dari arah dapur.

Tangisan itu sangat familier. Tangisan penuh ketakutan dan kesedihan.

"Mama... Mama...!"

Rania mendorong bahu Selina dengan kasar hingga perempuan itu memekik tertahan. Rania berlari menyusuri lorong menuju dapur. Di sudut dapur yang pengap dan lembap, di depan pintu gudang yang terbuka, Alin sedang duduk meringkuk di atas lantai beralaskan tikar pandan tipis. Seragam TK-nya berantakan dan basah oleh air mata.

Alin menatap ke arah tempat sampah besar yang berada di sudut dapur. Jari telunjuknya yang mungil menunjuk ke dalam sana dengan tangan gemetar.

Rania menghampiri tempat sampah itu. Dadanya terasa seakan dihantam godam raksasa.

Di dalam tempat sampah yang berisi kulit bawang, sisa tulang ikan semalam, dan genangan air kotor, tergeletak boneka kelinci kesayangan Alin. Boneka kumal yang selalu dipeluk Alin setiap malam, satu-satunya hadiah ulang tahun yang bisa Rania belikan dua tahun lalu dari hasil menabung uang receh. Boneka itu kini basah kuyup, tercampur dengan kotoran dapur yang bau busuk.

"Boneka Alin dibuang sama Tante itu, Ma..." isak Alin dengan suara serak, wajahnya merah padam karena terlalu banyak menangis. "Kata Tante itu bonekanya kotor... bawa virus... Alin nggak boleh ambil..."

Rania jatuh terduduk di atas lantai dapur. Tangannya gemetar saat ia merogoh ke dalam tempat sampah yang kotor itu, mengambil boneka kelinci yang kini berbau anyir dan dipenuhi sisa makanan. Ia mendekap boneka basah itu ke dadanya sendiri, tidak peduli kemejanya ikut kotor.

Luka karena dikhianati Arga itu menyakitkan. Keputusasaan karena dijauhi keluarga kandung itu menyesakkan. Namun melihat tangisan anaknya karena ditindas oleh perempuan asing di dalam rumahnya sendiri... ini adalah bahan bakar murni untuk sebuah kebencian yang tidak akan pernah bisa dipadamkan.

Terdengar suara langkah kaki yang pelan dan anggun dari arah lorong. Selina berdiri di ambang pintu dapur, bersedekap dada menatap ibu dan anak yang sedang hancur di sudut ruangan itu. Senyum kepuasan terpampang jelas di wajah cantiknya.

"Mbak, tolong ajarin anaknya jangan cengeng. Sakit kupingku dengarnya," cibir Selina tanpa dosa. "Boneka gembel kayak gitu wajar dibuang. Aku ini lagi hamil, rentan kena penyakit dari bakteri kotor. Kalau anakku kenapa-kenapa gara-gara kuman dari boneka busuk itu, Mbak mau tanggung jawab?"

Rania meletakkan boneka itu di pangkuannya. Ia berdiri perlahan. Menatap Selina dengan sepasang mata yang telah mati. Tidak ada setetes pun air mata yang jatuh dari pelupuk Rania kali ini.

Melihat tatapan Rania yang mendadak berubah gelap dan mengintimidasi, senyum Selina sedikit memudar. Secara insting, pelakor itu mundur satu langkah.

"Kamu membuang barang anakku," ucap Rania dengan nada yang teramat tenang. Terlalu tenang hingga terdengar sangat menakutkan.

"Ya... ya karena itu kotor! Itu bawa penyakit!" Selina menaikkan nada suaranya, mencoba menutupi kegugupannya melihat perubahan Rania.

"Baik," jawab Rania pelan.

Ia tidak berteriak. Ia tidak memaki. Rania hanya menatap Selina dalam-dalam selama beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya. Rania membungkuk, mengangkat tubuh Alin yang masih sesenggukan ke dalam gendongannya. Ia mengambil boneka kotor itu dengan tangan kirinya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Rania membawa Alin masuk ke dalam gudang sempit berukuran dua kali dua meter itu. Di dalamnya, Rania melihat tiga kantong plastik sampah hitam miliknya dilempar begitu saja di sudut ruangan. Tikar pandan tipis membentang di atas lantai semen yang dingin. Tidak ada ventilasi, hanya sebuah lampu bohlam 5 watt yang remang-remang.

Ini adalah dasar neraka. Dan dari dasar inilah, Rania akan merangkak naik untuk mencabik-cabik mereka.

Malam harinya, rumah itu dipenuhi oleh suara tawa. Arga membelikan pizza mahal untuk merayakan 'renovasi' kamar mereka. Bau keju yang meleleh tercium hingga ke dalam gudang sempit tempat Rania dan Alin berada.

Alin sudah tertidur pulas akibat kelelahan menangis, perutnya hanya terisi mi instan kuah yang direbus Rania dengan kompor gas sisa. Rania duduk bersila di atas tikar pandan, menatap dinding semen yang lembap.

Arga tidak marah saat tahu Alin dipindahkan ke gudang. Pria itu bahkan tertawa saat Selina bercerita bahwa Rania mengamuk karena sebuah boneka jelek. Arga membenarkan tindakan Selina sepenuhnya. Baginya, kenyamanan Selina dan calon bayi laki-lakinya adalah prioritas absolut. Istri sah dan anak perempuannya kini tidak lebih dari sekadar beban sampah di rumah ini.

Pukul satu dini hari. Suara televisi di luar sudah dimatikan. Hening mulai merayap mengambil alih.

Rania membuka matanya lebar-lebar di dalam kegelapan. Ia memastikan napas Alin teratur, lalu perlahan bangkit berdiri. Ia melangkah keluar dari gudang tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

Tujuannya satu: ruang kerja Arga.

Rania berjalan mengendap-endap menyusuri lorong yang gelap. Ia menghindari ubin keramik yang sedikit terangkat agar tidak berbunyi. Sesampainya di ruang kerja suaminya yang tidak terkunci, Rania masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

Lampu tidak dinyalakan. Rania hanya menggunakan cahaya paling redup dari layar ponselnya. Ia mulai membongkar tas kerja Arga, mencari map merah muda yang berisi dokumen bank itu. Ia sudah bertekad, jika ia tidak bisa membatalkan pinjamannya, ia harus menyimpan seluruh salinannya sebagai bukti bahwa tanda tangannya dipalsukan secara non-prosedural. Suatu hari, ini akan menjadi kartu as-nya di pengadilan.

Namun, map merah muda itu tidak ada. Tas Arga sudah kosong.

Rania tidak menyerah. Ia beralih ke laci meja kerja yang terkunci. Dengan menggunakan jepit rambut miliknya yang ia patahkan ujungnya, Rania mengorek lubang kunci yang sudah karatan itu. Selama bertahun-tahun merawat rumah ini sendirian, Rania hafal betul kelemahan setiap perabotan.

Klik.

Laci terbuka. Rania menariknya perlahan.

Matanya berbinar dingin. Di dalam laci itu terdapat sebuah map plastik transparan yang tebal. Rania membukanya. Di dalamnya bukan hanya terdapat dokumen pinjaman bank tersebut, tapi juga setumpuk mutasi rekening perusahaan PT. Selina Arga Makmur.

Rania mengeluarkan ponselnya. Ia menekan mode kamera, mematikan suara shutter, dan mulai memotret setiap lembar dokumen itu dengan sangat hati-hati. Klik demi klik. Halaman demi halaman.

Ia memotret bukti transfer puluhan juta rupiah ke berbagai rekening tak dikenal. Ia memotret draf kasar tanda tangan palsunya yang ternyata sempat dicoba-coba oleh Arga di selembar kertas HVS putih. Rania memotret semuanya tanpa sisa. Ia lalu mengunggah puluhan foto bukti itu ke dalam Google Drive rahasia miliknya.

Setelah selesai, Rania mengembalikan dokumen itu persis seperti posisi semula dan mengunci laci kembali.

Baru saja Rania hendak keluar dari ruang kerja, sayup-sayup telinganya menangkap suara percakapan berbisik dari arah dapur. Rania mematungkan tubuhnya. Jantungnya berdebar pelan. Ia melangkah mendekati celah pintu yang terbuka sedikit.

Di meja makan yang remang-remang, duduk ibu mertuanya dan Arga. Mereka sedang berbicara setengah berbisik sambil meminum teh hangat.

"Kamu beneran aman soal bank itu, Ga? Tadi siang Rania ngamuk sampai bawa-bawa polisi," suara ibu mertuanya terdengar cemas.

Terdengar tawa kecil Arga yang meremehkan. "Ibu tenang aja. Rania itu cuma perempuan bodoh yang nggak ngerti hukum. Dia nggak punya kenalan siapa-siapa, keluarganya sendiri si Anton aja udah lepas tangan. Mana berani dia ke polisi? Uang buat bayar ojek aja dia mikir."

"Tapi Ibu tetap nggak tenang kalau perempuan itu masih di sini," desah mertuanya sinis. "Tatapan matanya itu loh, tajam bener kayak iblis. Bikin Ibu merinding tadi pas dia ngambil boneka di tong sampah. Sebaiknya kamu buru-buru tendang dia keluar."

Keheningan sejenak terjadi sebelum Arga menjawab dengan nada yang membuat bulu kuduk Rania berdiri tegak.

"Belum waktunya, Bu. Kalau Rania diusir sekarang, tetangga pasti ribut dan simpati ke dia. Apalagi urusan pencairan bank baru aja turun. Rania itu tameng kita kalau sewaktu-waktu pihak bank survey dadakan, dia masih terdaftar sebagai istri yang menempati rumah ini."

"Lalu sampai kapan?" desak ibunya tidak sabar.

"Tunggu beberapa bulan lagi," ucap Arga dengan suara mematikan, yang menusuk tepat ke ulu hati Rania dari balik celah pintu. "Kalau Selina melahirkan anak laki-laki kita dengan selamat, dan bisnisku udah stabil seratus persen, kita bikin Rania seolah-olah gila karena cemburu. Kita buat dia kelihatan nggak layak ngurus anak. Setelah itu, kita usir Rania dari rumah ini tanpa bawa uang sepeser pun."

Rania mencengkeram kusen pintu hingga ruas jarinya memutih pasi. Matanya berkilat menembus kegelapan.

"Iya, setuju Ibu," sahut mertuanya girang, tertawa terkekeh pelan. "Biar dia jadi gembel di jalanan."

Di dalam bayang-bayang gelap itu, Rania tidak menangis. Ia justru tersenyum miring, sebuah senyum mengerikan yang belum pernah terukir di wajahnya selama hidup.

Kita lihat saja, Arga. Siapa yang akan menjadi gembel dan membusuk di akhir cerita ini.