Brak!

Map plastik merah muda itu dibanting Rania ke atas meja makan dengan kekuatan penuh. Gelas berisi kopi hitam milik Arga terguling, isinya tumpah membanjiri taplak meja plastik dan nyaris mengenai piring omelette Selina.

Pagi yang baru saja dimulai dengan tawa manja dari pelakor itu seketika pecah berkeping-keping.

"Jelaskan ini, Arga!" Suara Rania menggelegar, bergetar oleh amarah yang sudah mencapai titik didih. Matanya yang memerah dan bengkak akibat kurang tidur kini menatap tajam bagai sembilu ke arah pria yang tengah duduk santai di depannya.

Arga tersentak. Matanya membulat melihat dokumen rahasia yang ia sembunyikan di dasar tas kerjanya kini tergeletak terbuka di meja makan. Pria itu buru-buru berdiri, wajahnya memerah menahan malu dan amarah yang meledak karena rahasianya terbongkar.

"Berani kamu menggeledah tas kerjaku, Rania?!" bentak Arga sambil menunjuk wajah istrinya. Ia bergerak maju hendak merampas map tersebut, namun Rania lebih cepat. Tangan Rania menyambar map itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Jangan alihkan pembicaraan, Mas!" teriak Rania, suaranya parau namun penuh tenaga. Urat-urat di lehernya menonjol. Ia tidak mempedulikan ibu mertuanya yang melongo kaget, atau Selina yang mendadak menghentikan kunyahannya. "Kamu palsukan tanda tanganku! Kamu jaminkan sertifikat rumah ini ke bank untuk utang 850 juta?! Tanpa sepengetahuanku?!"

Ibu mertua Rania yang duduk di ujung meja langsung meletakkan sendoknya. Bukannya terkejut karena ulah putranya, wanita tua itu justru menatap Rania dengan tatapan meremehkan. "Kenapa kalau rumah ini dijaminkan? Arga itu kepala keluarga, dia berhak atas aset rumah ini! Dia butuh modal buat bisnis barunya!"

Rania menoleh, menatap ibu mertuanya dengan raut ketidakpercayaan yang luar biasa. "Bu, rumah ini dibeli dari uang tabungan kami berdua! Uang muka rumah ini pakai sisa warisan almarhum bapakku! Dan Arga diam-diam memalsukan tanda tanganku di atas materai, itu tindak pidana kriminal, Bu!"

"Mbak Rania, tolong jangan berlebihan," sela Selina dengan nada suaranya yang lembut dan tenang, sangat kontras dengan kepanikan di ruangan itu. Pelakor itu mengelap sudut bibirnya dengan tisu, lalu menatap Rania dengan pandangan iba yang dibuat-buat. "Mas Arga pinjam uang itu juga untuk masa depan keluarga kok. Proyek dari pamanku butuh modal besar. Nanti kalau sudah goal, uangnya juga balik berkali-kali lipat. Mbak Rania kan orang awam, mana ngerti urusan bisnis besar begini."

Dada Rania naik turun dengan cepat. Tangannya gemetar hebat menggenggam map merah muda itu. Ia menatap wajah Selina yang tanpa dosa, lalu beralih menatap suaminya.

"Bisnis besar?" Rania tertawa parau, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia lalu merogoh saku celana kainnya dan melemparkan buku tabungan kecil berwarna biru tepat ke dada Arga. Buku itu jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan.

"Lalu jelaskan padaku, Tuan Direktur Operasional!" jerit Rania histeris. Air matanya akhirnya tumpah, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang tidak lagi bisa dibendung. "Kalau kamu sudah punya pinjaman 850 juta dari bank, kenapa kamu masih tega mencuri uang tabungan pendidikan Alin?! Empat puluh lima juta, Mas! Uang yang aku kumpulkan dari sisa uang belanjaku selama empat tahun, dari hasil lembur jaga toko sampai kakiku bengkak! Dan kamu transfer semua uang itu ke rekening pelacur ini?!"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Rania. Kepala Rania terlempar ke samping, telinganya berdenging hebat.

Arga berdiri dengan dada membusung dan napas memburu. Tangan kanannya yang baru saja menampar Rania masih terangkat di udara.

"Aku sudah bilang, jangan pernah sebut Selina pelacur!" raung Arga dengan mata melotot. Pria itu tampak seperti kesetanan. "Kamu itu istri durhaka! Berani kamu memaki suamimu dan calon ibu dari anak laki-lakiku?!"

Rania memegang pipinya yang memanas dan kebas. Ia menoleh perlahan, menatap suaminya dengan tatapan kosong yang membekukan. Tidak ada rasa takut lagi di matanya. Yang tersisa hanyalah kebencian murni yang mengakar hingga ke dasar jiwanya.

"Anak laki-lakimu?" Rania tersenyum sinis, air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Lalu Alin itu apa, Mas? Binatang peliharaan?! Kamu kuras habis tabungan masa depannya! Uang itu untuk masuk SD tahun depan, Mas! Kamu bapak macam apa yang tega menghancurkan masa depan anak kandungnya sendiri demi membiayai perempuan gatal ini?!"

"Alin itu perempuan! Nggak butuh sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga masuk dapur!" potong ibu mertuanya dengan suara melengking. Wanita tua itu bangkit berdiri dan berkacak pinggang. "Sedangkan Selina sedang mengandung cucu laki-lakiku! Penerus keluarga! Wajar kalau Arga memprioritaskan biaya kehamilan Selina! Selina butuh periksa di rumah sakit mahal, butuh vitamin mahal, bukan kayak kamu yang cuma beranak di bidan kampung!"

Rania merasa bumi dipijaknya hancur lebur. Kalimat itu diucapkan terang-terangan di depan matanya. Tidak ada lagi yang disembunyikan. Keluarga ini telah sepenuhnya membuangnya dan membuang putri kandungnya.

"Uang 45 juta itu uangku, Bu! Hak anakku!" teriak Rania menggelegar. Ia lalu menunjuk wajah Selina yang masih duduk santai di kursinya. "Dan kamu, perempuan pencuri! Kembalikan uang anakku sekarang juga, atau aku akan lapor polisi atas tuduhan penggelapan dan pemalsuan dokumen!"

Mendengar kata polisi, raut wajah Selina sedikit berubah, namun perempuan licik itu dengan cepat menguasai keadaan. Ia menyentuh perut buncitnya dan tiba-tiba memejamkan mata.

"Aduh..." rintih Selina pelan. Wajahnya sengaja dipucatkan. Ia mencengkeram lengan baju Arga dengan kuat. "Mas... perutku... sakit banget, Mas..."

Fokus Arga yang tadinya penuh amarah kepada Rania seketika beralih seratus delapan puluh derajat. Pria itu langsung berlutut di samping kursi Selina, memegang kedua bahu perempuan itu dengan wajah panik luar biasa.

"Sel? Sayang, kamu kenapa? Apanya yang sakit?!" Arga mengelus perut Selina dengan tangan gemetar.

"Kram, Mas... perutku kram banget denger Mbak Rania teriak-teriak terus... dedek bayinya kaget..." Selina merintih kesakitan, napasnya dibuat terputus-putus. Kepalanya bersandar lemas di dada Arga, sementara sepasang matanya yang tersembunyi dari pandangan Arga melirik ke arah Rania dengan kilatan penuh ejekan dan kemenangan.

"Ya Allah, Selina!" Ibu mertua Rania langsung berlari memutari meja, ikut panik meremas tangan pelakor itu. "Arga, bawa dia ke kamar sekarang! Baringkan! Jangan sampai cucuku kenapa-kenapa!"

"Ini semua gara-gara kamu, Rania!" Arga menoleh, menatap istrinya dengan tatapan membunuh. Urat di pelipisnya berdenyut keras. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bayi ini, aku akan buat hidupmu hancur berkeping-keping!"

Arga dengan sigap membopong tubuh Selina ala bridal style. Saat Selina berada di gendongan suaminya, Rania bisa melihat dengan jelas ujung bibir pelakor itu terangkat membentuk seringai iblis. Seringai yang mengejek betapa bodoh dan tak berdayanya Rania di rumah ini.

Melihat sandiwara murahan itu, darah Rania mendidih. Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja membawa lari uang anaknya.

Rania menerjang maju, berniat menarik baju Arga. "Kembalikan dulu uang anakku, Arga! Kalian berdua penipu busuk!"

Namun, sebelum tangan Rania menyentuh kemeja suaminya, tubuhnya didorong dengan sangat kuat dari arah samping.

Bruk!

Rania terpelanting dan jatuh membentur lemari es di sudut ruang makan. Bahunya menghantam permukaan besi yang keras, menimbulkan suara dentuman yang nyaring.

Ibu mertuanya berdiri di depannya dengan dada membusung dan napas memburu, matanya melotot seolah ingin menelan Rania hidup-hidup.

Brak!

Wanita tua itu menampar meja makan dengan sangat keras, membuat piring-piring bergemerincing ngeri.

"Perempuan sinting! Berani kamu menyentuh anak dan menantuku?!" jerit ibu mertuanya dengan suara yang melengking hingga ke langit-langit rumah. "Kalau kamu nggak mampu jadi istri yang baik, yang nurut sama suami, KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA!"

Suasana seketika hening. Hanya gema teriakan wanita tua itu yang tersisa di udara.

Dari ambang pintu lorong kamar, terdengar suara isakan kecil.

Rania menoleh dengan susah payah sambil memegangi bahunya yang berdenyut nyeri. Di sana, Alin berdiri mematung memeluk boneka kelincinya. Wajah putri kecilnya itu pucat pasi, air matanya membasahi pipi tembamnya. Tubuh kecil itu gemetar ketakutan melihat neneknya mengusir ibunya, melihat ayahnya menggendong perempuan asing, dan melihat ibunya tersungkur di lantai.

"Mama..." panggil Alin dengan suara serak yang menyayat hati.

Rania menggigit bibirnya hingga berdarah. Matanya memerah menatap putri kecilnya. Rasa sakit di bahunya tidak sebanding dengan rasa sakit melihat mental anaknya dihancurkan perlahan di rumah ini.

"Alin jangan nangis..." ucap Rania parau. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri.

Rania tidak lagi berteriak. Ia tidak lagi menangis. Tatapannya menajam, menyapu wajah ibu mertuanya yang masih terlihat pongah, lalu beralih ke arah lorong tempat Arga baru saja menghilang membawa Selina.

Mereka pikir aku akan pergi dengan tangan kosong sambil menangis meraung-raung? Mereka salah besar.

Alih-alih menyeret langkahnya keluar sambil menangis, Rania justru memutar tubuhnya dengan cepat ke arah meja makan. Tangannya menyambar map merah muda berisi dokumen pemalsuan sertifikat rumah itu dan melipatnya dengan kasar, lalu memasukkannya ke dalam saku dalam tas selempangnya. Ia juga memungut buku tabungannya yang terjatuh di lantai.

"Heh! Ngapain kamu ambil map itu?!" tegur ibu mertuanya curiga, mencoba mendekat. "Itu dokumen penting milik Arga! Taruh situ!"

Rania menatap mertuanya dengan sorot mata yang begitu dingin hingga langkah wanita tua itu terhenti secara otomatis.

"Ini adalah bukti pidana," bisik Rania dengan suara mematikan. "Dan aku akan memastikan anak kebanggaan Ibu membusuk di penjara karena dokumen ini."

Tanpa menunggu reaksi mertuanya yang mendadak pucat, Rania berbalik badan. Ia melangkah cepat menghampiri Alin, menggendong putri kecilnya itu, dan membawanya keluar dari ruang makan yang terasa seperti neraka tersebut.

"Kita berangkat ke sekolah ya, Sayang. Jangan nangis, Mama ada di sini," bisik Rania di telinga Alin sambil mengusap punggung anaknya dengan gemetar.

Ia tidak peduli pada teriakan sumpah serapah ibu mertuanya yang kembali menggema dari arah dapur. Rania meraih tas kerjanya, membuka pintu depan, dan melangkah keluar dari rumah itu dengan langkah lebar. Angin pagi menerpa wajahnya yang basah oleh air mata, mengeringkan sisa-sisa kelemahannya.

Sepanjang perjalanan mengantar Alin ke sekolah dengan menumpang ojek, otak Rania berputar cepat. Ia harus bertindak. Uang 45 juta itu mungkin sudah lenyap dipindahkan ke rekening antah berantah oleh Selina, tapi dokumen pemalsuan tanda tangan ini adalah senjata utamanya. Jika ia bisa melaporkan Arga ke pihak bank dan membatalkan jaminan sertifikat itu, ia masih punya kesempatan untuk menyelamatkan rumahnya. Rumah itu adalah satu-satunya harta yang tersisa.

Setelah menurunkan Alin di gerbang sekolah dasar dengan ciuman panjang di dahi, Rania tidak langsung berangkat ke toko sepatu tempatnya bekerja. Ia berjalan cepat menuju sebuah taman kecil di seberang sekolah, mencari tempat duduk yang sepi.

Ia harus menelepon bank tersebut sekarang juga.

Dengan tangan gemetar, Rania mengeluarkan map merah muda itu dari tasnya. Ia mencari nomor telepon customer service atau credit analyst yang biasanya tertera di kop surat persetujuan kredit tersebut.

Dapat. Ada nomor telepon kantor cabang beserta ekstensi petugas bernama 'Bapak Yudi' di bagian bawah surat.

Rania mengetik nomor itu di ponselnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, tangannya basah oleh keringat dingin. Tolong, semoga uang pinjaman itu belum cair. Tolong, Ya Allah.

Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum sebuah suara berat dari seberang sana menjawab.

"Selamat pagi, dengan Yudi dari Bank Mega Bintang cabang Sudirman. Ada yang bisa dibantu?"

Rania menelan ludahnya yang terasa kering. "Pagi, Pak Yudi. Saya Rania Maharani, istri dari Bapak Arga Dinata. Saya ingin mengkonfirmasi terkait surat persetujuan kredit dengan jaminan sertifikat rumah atas nama suami saya."

Terdengar suara ketikan keyboard dari seberang telepon selama beberapa detik.

"Oh, Ibu Rania. Selamat pagi, Bu. Iya, datanya sudah saya buka. Ada yang bisa saya bantu terkait pinjamannya, Bu?"

"Pak," suara Rania bergetar menahan napas. "Saya mau membatalkan pengajuan kredit itu. Tanda tangan saya di dokumen persetujuan agunan itu telah dipalsukan oleh suami saya. Saya tidak pernah menyetujui rumah saya dijaminkan. Tolong blokir proses pencairannya sekarang juga, Pak."

Hening. Tidak ada suara ketikan keyboard lagi dari seberang sana. Yang terdengar hanyalah embusan napas berat dari staf bank tersebut.

Sebuah firasat buruk merayap naik dari perut Rania, mencengkeram lehernya hingga ia merasa tercekik.

"Mohon maaf sekali, Ibu Rania..." suara Pak Yudi terdengar ragu dan sangat berhati-hati. "Tetapi... dana pinjaman sebesar delapan ratus lima puluh juta rupiah tersebut sudah kami cairkan pagi ini, tepat pukul delapan tadi ke rekening perusahaan PT. Selina Arga Makmur."

Dunia Rania seolah berhenti berputar. Udara di sekitarnya mendadak hilang. "A... apa? Dicairkan? Bagaimana mungkin?! Saya belum pernah menandatangani apa pun di depan notaris bank Anda!"

"Proses notariil sudah dilakukan secara on-site di kantor suami Ibu dua hari yang lalu, Bu," jelas Pak Yudi dengan nada profesional yang terasa membunuh. "Dan kami juga sudah melakukan konfirmasi persetujuan akhir via telepon kemarin sore. Kami menelepon ke nomor Ibu Rania yang didaftarkan oleh Bapak Arga, dan wanita yang mengangkat telepon itu memverifikasi data diri, menyebutkan nama lengkap, tanggal lahir, dan menyatakan persetujuan lisan bahwa Ibu sadar dan setuju rumah tersebut dijaminkan."

Tangan Rania melemas. Ponselnya nyaris merosot dari genggamannya.

Kemarin sore. Rania sedang sibuk melayani pelanggan di toko sepatu dan ponselnya tertinggal di dalam loker karyawan.

Wanita yang mengangkat telepon dan memverifikasi data.

Selina.

Arga telah mendaftarkan nomor telepon Selina dengan nama Rania di dokumen bank tersebut. Pelakor licik itu memalsukan suaranya, menyamar sebagai istri sah Arga, dan memberikan persetujuan verbal kepada pihak bank. Semua ini bukan sekadar perselingkuhan mendadak. Ini adalah penipuan terencana yang sangat sistematis, matang, dan keji.

"Ibu Rania? Halo, Ibu masih di sana?"

Rania tidak menjawab. Air matanya jatuh menetes membasahi layar ponselnya.

"Ibu, kami juga ingin menginformasikan," lanjut suara dari seberang telepon, kali ini membawa pukulan akhir yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Rania. "Karena sertifikat rumah sudah resmi menjadi agunan aktif, mohon dipastikan cicilan bulanan dibayarkan tepat waktu. Jika terjadi gagal bayar selama tiga bulan berturut-turut, maka secara hukum pihak bank berhak melakukan penyitaan dan pelelangan atas rumah yang Ibu tempati saat ini."

Panggilan terputus.

Rania duduk mematung di atas bangku taman. Suara klakson kendaraan di jalan raya terasa sangat jauh. Di tangannya, dokumen map merah muda itu tak lebih dari sekadar kertas sampah yang tak lagi bisa menyelamatkannya.

Uang tabungan anaknya dirampok.

Namanya dan tanda tangannya dipalsukan.

Dan kini, rumah satu-satunya tempatnya berteduh, hasil jerih payahnya, bukan lagi miliknya. Rumah itu sudah berada di tangan Selina dan Arga dalam bentuk uang tunai bernilai ratusan juta rupiah, sementara Rania yang akan menanggung utangnya.

Rania menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung roknya hingga kusut. Bahunya bergetar hebat. Sebuah tawa kecil, perih, dan mengerikan meluncur dari bibirnya yang bergetar.

Mereka benar-benar telah menghancurkannya hingga ke akar.

Namun di tengah kehancuran mutlak itu, sebuah api kecil perlahan menyala di dada Rania. Api yang tidak lagi mencari keadilan, melainkan pembalasan dendam.