"Kembalikan uang itu!"

Teriakan Rania pecah, menggelegar menghancurkan keheningan kamar utama yang kini telah direbut paksa darinya. Ia menerjang maju, tidak peduli lagi dengan akal sehat. Tangannya terulur kasar, mencengkeram kerah daster sutra yang dikenakan Selina.

"Mbak! Apa-apaan sih, lepasin! Mas Arga! Tolong!" Selina menjerit histeris, sebuah jeritan melengking yang terdengar sangat dibuat-buat. Perempuan itu bahkan tidak berusaha melawan dengan tangannya, hanya sengaja memundurkan tubuhnya hingga pinggangnya membentur meja rias, seolah Rania baru saja mendorongnya dengan kekuatan penuh.

"Itu uang tabungan sekolah Alin! Uang yang aku kumpulkan lembar demi lembar selama empat tahun! Kembalikan, Perempuan Iblis!" Mata Rania sembab dan memerah, urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya memburu bak banteng terluka. Ia mengguncang kerah baju Selina, matanya menyorotkan kebencian murni.

Brak!

Pintu kamar mandi didorong kasar dari dalam. Arga muncul dengan wajah basah sehabis mencuci muka, rahangnya mengeras melihat pemandangan di depannya. Dalam tiga langkah lebar, pria itu menghampiri Rania, mencengkeram lengan Rania dengan kasar, dan menghempaskan tubuh istrinya itu ke belakang.

Rania terhuyung. Hak sepatu pantofelnya yang sudah aus membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas lantai beralaskan karpet bulu, lututnya menghantam lantai dengan keras.

"Mas Arga... perutku sakit, Mas..." Selina langsung merintih, memegangi perut buncitnya sambil bersandar lemah pada dada Arga. Air mata buaya seketika mengalir dari sudut matanya, membasahi kemeja pria itu. "Mbak Rania tiba-tiba nyerang aku, Mas. Dia mau celakain bayi kita."

Mendengar itu, tatapan Arga kepada Rania berubah menjadi sekelam malam tanpa bintang. "Kamu benar-benar sudah gila, Rania?! Kalau sampai anakku kenapa-kenapa, aku nggak akan pernah maafin kamu!"

Rania tertawa parau dari posisinya yang terduduk di lantai. Tawa yang mengiris hati, penuh dengan keputusasaan dan rasa sakit yang tak terlukiskan. Ia mengangkat layar ponselnya yang masih menyala, menunjukkan bukti notifikasi SMS Banking itu tepat ke wajah suaminya.

"Anakmu? Lalu bagaimana dengan Alin, Mas?! Anak sahmu?!" Suara Rania bergetar hebat, air matanya tumpah menderas. "Kamu curi uang tabungan pendidikannya! Empat puluh lima juta, Arga! Itu uang untuk masuk SD dan asuransinya! Tega kamu transfer semua uang itu ke rekening pelacur ini?!"

"Jaga mulutmu!" bentak Arga. Suaranya menggema di seluruh sudut kamar. Pria itu menuding tepat di depan hidung Rania. "Selina bukan pelacur! Dan soal uang itu, aku yang transfer! Kenapa? Nggak terima?! Aku ini suamimu, kepala keluarga di rumah ini! Uang yang ada di rekeningmu itu hakku juga!"

Dada Rania seakan ditikam belati berkarat, ditarik, lalu ditikamkan kembali berkali-kali. "Hakmu? Mas, kamu sadar dengan apa yang kamu bicarakan?! Sejak bisnismu hancur dua tahun lalu, siapa yang bayar cicilan rumah? Siapa yang beli beras? Siapa yang bayar listrik? Aku, Mas! Aku berdiri di toko sepatu dari pagi sampai malam sampai kakiku bengkak! Kamu tidak pernah memberiku nafkah sepeser pun, lalu dengan bangganya kamu mencuri tabungan anakmu demi perempuan ini?!"

"Kamu selalu perhitungan soal uang, Rania! Itu masalahmu!" balas Arga tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria itu justru memeluk pinggang Selina semakin erat, melindunginya. "Selina butuh biaya untuk periksa kandungan di rumah sakit VIP. Dia nggak bisa dibawa ke klinik BPJS murahan kayak kamu dulu pas hamil Alin. Bayiku butuh vitamin mahal, butuh USG 4D! Uang empat puluh lima juta itu nggak seberapa dibanding pengorbanan Selina buat aku!"

Rania terdiam. Dunia di sekitarnya terasa berdengung.

Tidak bisa dibawa ke klinik murahan sepertimu dulu.

Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya. Dulu, saat Rania hamil Alin, Arga baru saja dipecat dari pekerjaannya. Rania terpaksa melahirkan di bidan desa dengan fasilitas seadanya, menahan sakit berjam-jam tanpa obat pereda nyeri yang memadai, berhemat agar mereka tetap bisa membeli susu untuk bayi. Dan kini, pria yang sama yang dulu menangis memegang tangannya sambil berjanji akan membahagiakannya, berdiri memeluk perempuan lain, menggunakan uang darah dan keringat Rania untuk memanjakan pelakor itu.

"Kamu pencuri, Arga. Kalian berdua pencuri yang menjijikkan," desis Rania dengan suara nyaris berbisik, namun matanya memancarkan aura membunuh yang tajam.

Selina yang sejak tadi pura-pura menangis, mengintip dari balik bahu Arga. Sebuah senyum miring yang sangat tipis dan mengejek tersungging di bibir merahnya.

"Mas, suruh Mbak Rania keluar. Kepalaku pusing dengar dia teriak-teriak. Aku takut dedek bayinya kaget," rengek Selina manja.

"Keluar dari kamar ini sekarang, Rania. Dan bawa sekalian plastik-plastik sampah berisi bajumu itu," usir Arga dingin. Ia membalikkan badan, menuntun Selina ke arah ranjang tanpa menoleh lagi pada istrinya yang hancur di atas lantai. "Dan jangan pernah sebut aku pencuri. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku."

Sore itu, mendung tebal menggantung di atas atap rumah Rania, seolah alam semesta ikut merasakan hawa suram yang menyelimuti dinding-dinding bangunan tipe 45 tersebut.

Rania menyeret tiga buah kantong plastik sampah berukuran besar yang berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya keluar dari kamar utama. Beratnya plastik itu membuat napasnya terputus-putus, tapi tidak seberat beban di rongga dadanya. Ia memindahkan barang-barangnya ke kamar Alin yang sempit, sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang kini harus menampung seluruh sisa hidupnya.

Saat Rania membuka ikatan plastik sampah yang pertama, hatinya kembali mencelos.

Seluruh pakaian kerjanya digulung asal-asalan layaknya lap pel. Kemeja putih seragam tokonya terkena noda tumpahan lipstik merah yang Rania yakini sengaja dilakukan oleh Selina. Beberapa blus murah kesayangannya bahkan robek di bagian jahitan lengan, seolah ditarik paksa dari gantungan bajunya.

Selina tidak hanya mengusirnya dari kamar itu; perempuan itu berusaha menghapus keberadaan Rania dari rumahnya sendiri.

Rania memungut sebuah kotak kosmetik kecil yang terbuka dari dasar plastik. Bedak padatnya yang harganya tak seberapa sudah hancur lebur menjadi bubuk. Rania meremas serpihan bedak itu hingga telapak tangannya kotor.

"Mbak Rania."

Sebuah suara lembut namun beracun menyapa dari ambang pintu.

Rania menoleh dengan lambat. Selina berdiri di sana, menyandarkan bahunya di kusen pintu kamar Alin. Perempuan itu kini mengenakan kaos oversize milik Arga, yang hanya menutupi separuh pahanya. Namun yang membuat pandangan Rania terpaku bukan bajunya.

Di tangan kiri Selina, bertengger sebuah tas selempang kulit berwarna cokelat karamel. Itu bukan tas sembarangan. Itu adalah tas bermerek yang Rania beli tiga tahun lalu dari uang bonus akhir tahunnya, satu-satunya barang mewah yang Rania miliki. Dan di wajah Selina, terpoles lipstik berwarna peach, lipstik matte yang baru dibeli Rania minggu lalu dan belum sempat ia pakai.

Aroma wangi seketika menguar memenuhi udara. Aroma melati yang elegan dan musk yang dalam. Rania mengenali aroma itu dengan sangat baik. Itu adalah parfum yang Rania simpan rapat-rapat di mejanya, hadiah ulang tahun pernikahannya yang pertama dari Arga.

"Wangi banget ya parfum Mbak," ucap Selina santai, sambil mengendus pergelangan tangannya sendiri. "Pantesan Mas Arga suka. Sayang banget Mbak nyimpennya di pojokan, jarang dipakai kan? Mending buat aku aja. Hormon ibu hamil bikin aku gampang bau keringat, Mbak."

Rania meletakkan kotak bedaknya yang hancur. Ia berdiri, menatap lurus ke arah Selina. Tidak ada air mata lagi. Cadangan air matanya seolah mengering, digantikan oleh bara api yang perlahan menyala.

"Lepaskan tasku. Dan kembalikan lipstik serta parfumku," kata Rania dengan nada suara yang datar dan sangat rendah.

Selina tertawa pelan, tawanya merdu tapi penuh racun. Ia sengaja mengayunkan tas cokelat itu di depan Rania. "Mbak ini lucu deh. Tas kayak gini kok diributin. Harusnya Mbak tuh bersyukur, tas ini akhirnya bisa dipakai buat jalan-jalan ke mall mewah sama Mas Arga. Kalau dipakai sama Mbak, mentok-mentok cuma dibawa ke pasar becek atau ke toko sepatu tempat Mbak jadi babu itu."

"Aku bilang, kembalikan." Rania mengambil satu langkah maju.

Selina tidak mundur. Ia justru mendongakkan dagunya menantang. "Ambil saja kalau berani, Mbak. Tapi Mbak tahu kan, satu teriakan dari mulutku, Mas Arga dan Ibu bakal lari ke sini dan ngusir Mbak dari rumah ini detik ini juga. Coba saja sentuh aku."

Selina benar. Rania mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kuku jarinya menusuk telapak tangannya sendiri. Jika ia melawan sekarang, Arga pasti akan memakai alasan itu untuk memisahkan dirinya dari Alin. Ia belum punya uang, ia belum punya tempat tujuan. Ia tidak boleh gegabah.

Melihat Rania yang hanya mematung dengan rahang mengeras, Selina tersenyum puas. Ia memutar tubuhnya, berjalan pergi dengan gaya melenggak-lenggok.

"Dandan yang rapi ya, Mbak. Nanti malam Ibu mau kita makan malam bareng. Ada kabar gembira dari Mas Arga," seru Selina dari luar kamar, suaranya dipenuhi nada kemenangan.

Rania menunduk menatap plastik sampahnya. Mereka benar-benar ingin menginjakku sampai rata dengan tanah.

Makan malam hari itu adalah eksekusi mati secara sosial bagi Rania di dalam rumahnya sendiri.

Di atas meja makan, tersaji ayam kodok, gurame asam manis, dan beef teriyaki. Semua itu adalah pesanan dari restoran mahal, dibeli menggunakan kartu kredit Arga—yang tagihannya selalu menumpuk dan memusingkan Rania setiap akhir bulan.

Arga duduk di ujung meja bagai seorang raja. Di sisi kanannya duduk Selina, dan di sisi kirinya duduk ibu mertuanya. Rania terpaksa duduk di ujung yang lain, menemani Alin yang sedang makan dalam diam. Ketegangan menggantung tebal di udara, setebal asap masakan yang masih mengepul.

"Ibu bener-bener bangga sama kamu, Ga," ucap ibu mertuanya memecah keheningan, suaranya dibuat sengaja melengking agar Rania mendengarnya dengan jelas. Wanita paruh baya itu menatap putranya dengan mata berbinar-binar. "Gaji dua puluh lima juta sebulan, fasilitas mobil kantor, belum lagi bonus akhir tahun. Akhirnya anak Ibu jadi Direktur Operasional!"

Rania yang sedang menyuapkan nasi ke mulut Alin terhenti. Dua puluh lima juta? Direktur Operasional?

Arga yang sebelumnya mengaku bisnisnya nyaris bangkrut, yang membiarkan Rania berutang di warung kelontong untuk makan sehari-hari, tiba-tiba mendapat jabatan setinggi itu?

Arga tersenyum jumawa, membusungkan dadanya. "Ini semua juga berkat Selina, Bu. Om-nya Selina itu pemegang saham utama di perusahaan properti yang baru buka cabang di kota ini. Selina yang bawa portofolio Arga langsung ke Om-nya. Kalau nggak ada Selina, mungkin Arga masih pusing cari investor."

Selina meletakkan sendoknya dengan anggun, tersenyum merendah yang sangat palsu. "Ah, Mas Arga bisa aja. Aku cuma bantu sedikit kok, Bu. Lagian Mas Arga memang punya kompetensi. Sayang aja selama ini potensi Mas Arga mati karena nggak ada support system yang selevel, nggak ada dukungan koneksi."

Setiap kata yang keluar dari mulut Selina seperti panah beracun yang sengaja dibidikkan tepat ke jantung Rania. Support system yang selevel.

Ibu mertuanya langsung menangkap umpan itu dengan sempurna. Wanita itu menoleh tajam ke arah Rania yang sejak tadi hanya diam menunduk menatap piringnya.

"Dengar itu, Rania?!" tegur ibu mertuanya dengan suara keras, nyaris membentak. "Istri itu tugasnya ngangkat derajat suami! Bawa rezeki! Bukan malah jadi benalu yang tiap hari ngeluh soal uang belanja! Kamu kerja banting tulang di toko sepatu dari pagi sampai malam, hasilnya apa? Cuma UMR! Bikin malu keluarga besar saja kalau ditanya menantuku kerjanya apa!"

Rania menelan ludah yang terasa seperti pasir. Tenggorokannya perih. "Aku kerja halal, Bu. Dan uang gajiku yang seratus persen dipakai untuk makan kita sehari-hari, untuk bayar listrik rumah ini."

Brak!

Ibu mertuanya meletakkan gelas dengan kasar. Matanya mendelik. "Berani kamu menjawab?! Kamu pikir dengan gaji recehanmu itu kamu bisa sombong di rumah ini?! Harusnya kamu sujud syukur Arga nggak langsung nyeraikan kamu begitu dia ketemu perempuan berkelas kayak Selina! Kamu lihat Selina, cuma modal omongan ke pamannya, langsung bawa rezeki puluhan juta! Itu baru nama istri bawa hoki!"

"Sudah, Bu, kasihan Mbak Rania," sela Selina dengan nada simpati yang memuakkan. Ia menatap Rania dengan tatapan kasihan. "Mbak Rania pasti capek habis kerja seharian. Wajar kalau emosinya nggak stabil. Apalagi ngeliat kondisi ekonominya yang begitu. Aku ikhlas kok bantu Mas Arga angkat beban keluarga ini."

Rania meremas tepi meja makan kuat-kuat. Tangannya gemetar hebat. Penghinaan ini terlalu sistematis. Mereka bukan hanya ingin membuangnya, tapi mereka ingin menghancurkan harga dirinya hingga ia merasa tidak berguna sama sekali.

"Kamu denger itu, Rania?" Arga menimpali, menatap istrinya dengan tatapan dingin merendahkan. "Selina malah belain kamu. Mulai sekarang, kamu harus tahu diri. Berhenti bersikap seolah kamu yang paling menderita di rumah ini. Kalau kamu masih mau numpang tinggal di sini demi Alin, kamu harus hormatin Selina."

Numpang tinggal di sini?

Rumah ini dibeli dari hasil menabung bersama di awal pernikahan. Uang muka rumah ini sebagian besar menggunakan uang sisa warisan ayah Rania. Dan sekarang, di atas meja makan yang ia cicil sendiri, suaminya mengatakan ia hanya numpang?

Alin yang ketakutan melihat atmosfer meja makan yang tegang tiba-tiba menangis pelan, memeluk lengan Rania. "Ma... Alin takut..."

Rania segera mengangkat tubuh kecil putrinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit dari kursi dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan, mengabaikan teriakan ibu mertuanya yang menyebutnya perempuan tidak tahu sopan santun.

Di balik punggungnya, Rania masih sempat mendengar tawa renyah Selina dan Arga yang kembali melanjutkan makan malam perayaan mereka seolah penderitaan Rania adalah hiburan yang menyenangkan.

Malam semakin larut. Rumah telah sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan dengkuran pelan Alin yang sudah tertidur pulas di atas kasur tipis di kamarnya.

Rania melangkah mengendap-endap keluar dari kamar Alin, masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur. Ia mengunci pintu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara klik yang keras.

Sesampainya di dalam, Rania menghidupkan keran wastafel hingga airnya mengalir deras.

Tepat setelah gemericik air itu terdengar bising menutupi ruangan, pertahanan Rania hancur berantakan.

Ia mencengkeram ujung keramik wastafel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Tubuhnya merosot ke bawah, berlutut di atas lantai kamar mandi yang dingin. Rania meraih handuk kecil yang tergantung di dekatnya, menggigitnya kuat-kuat, dan mulai menangis.

Tangisannya tidak bersuara, ditelan oleh gigitannya pada kain handuk dan suara aliran air, namun tubuhnya bergetar sangat hebat. Dadanya sesak, rasa sakitnya begitu nyata hingga ia merasa seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya dari dalam.

Pria yang ia cintai membuangnya seperti sampah. Hartanya dicuri. Harga dirinya diinjak-injak di depan umum. Pakaiannya dibuang. Perhiasan peninggalan ibunya dirampas.

Rania memukul dadanya sendiri yang terasa sesak. Sakit... Ya Allah, ini terlalu sakit.

Lima menit. Sepuluh menit. Rania membiarkan dirinya hancur lebur di atas lantai basah itu. Membiarkan air matanya terkuras habis bersama rasa putus asanya.

Namun, perlahan, getaran di bahunya mereda. Rania melepaskan gigitannya pada handuk. Ia mendongak, menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel yang sedikit berembun.

Matanya sembab, merah, dan mengerikan. Wajahnya kusam penuh air mata.

Rania menatap wajah hancur itu lekat-lekat. Ia teringat tatapan remeh ibu mertuanya. Ia teringat senyum licik Selina. Ia teringat pandangan dingin Arga yang menyebutnya perempuan tak berguna yang menumpang di rumahnya sendiri.

Numpang? Ini rumahku.

Perlahan, Rania berdiri. Ia menyalakan keran air dingin, membasuh wajahnya berkali-kali hingga sisa air mata dan kemerahannya memudar. Saat ia kembali menatap cermin, tatapan matanya telah berubah. Tidak ada lagi Rania yang cengeng. Tidak ada lagi Rania yang rela mengalah demi menjaga kedamaian palsu.

Tatapan itu kini sedingin es.

Rania mematikan keran. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Dengan langkah tanpa suara, Rania keluar dari kamar mandi. Ia tidak kembali ke kamar Alin. Ia justru berjalan menuju ruang keluarga.

Instingnya mengatakan bahwa penindasan ini terlalu rapi. Keputusan Arga membawa Selina ke rumah ini secara terang-terangan pasti ada tujuan lain di luar kehamilan. Arga dan ibu mertuanya sangat terobsesi dengan uang dan status sosial. Dan uang 45 juta dari rekening tabungan pendidikan Alin... tidak mungkin Arga bisa mengambilnya tanpa tahu PIN ATM atau memiliki token akses.

Ada sesuatu yang Arga sembunyikan. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perselingkuhan.

Rania mengendap-endap mendekati meja kerja kecil milik Arga di sudut ruang keluarga. Meja itu berantakan dengan berbagai tumpukan map dan kertas. Tas kerja kulit milik suaminya tergeletak di atas kursi, resletingnya tidak tertutup rapat.

Jantung Rania berdebar kencang memompa adrenalin. Ia melirik ke arah lorong kamar utama yang gelap. Aman. Suara dengkuran pelan terdengar dari balik pintu kayu tersebut.

Dengan tangan sedikit gemetar, Rania membuka resleting tas Arga lebih lebar. Ia menyingkirkan beberapa brosur properti dan dokumen rapat. Tangannya meraba dasar tas, mencari buku tabungannya yang hilang.

Namun jari-jarinya menyentuh sebuah map plastik berwarna merah muda yang terasa kaku. Map itu dilipat dua dan diselipkan di bagian paling bawah.

Rania menarik map itu perlahan. Ia menyalakan senter dari ponselnya dengan intensitas paling rendah, menyorotkan cahayanya ke atas kertas dokumen di dalam map tersebut.

Seketika, napas Rania terhenti di tenggorokan. Matanya terbelalak lebar menatap kop surat di bagian atas kertas tersebut.

Itu bukan buku tabungan. Itu adalah surat perjanjian resmi dari sebuah bank swasta besar, dengan cap merah dan materai.

Mata Rania bergerak liar menyapu deretan kalimat di kertas itu. Jantungnya bergemuruh hebat, seakan ingin melompat keluar dari tulang rusuknya.

Di sana, tertera jelas nominal angka yang membuat Rania pusing tujuh keliling.

Nilai Pinjaman: Rp 850.000.000,- (Delapan Ratus Lima Puluh Juta Rupiah).

Tujuan Pinjaman: Modal Usaha a.n PT. Selina Arga Makmur.

Agunan / Jaminan:

Mata Rania turun ke baris berikutnya, dan saat ia membacanya, seluruh darah di tubuhnya seakan tersedot ke telapak kaki.

Agunan: Sertifikat Hak Milik (SHM) No. 452/B, Bangunan Rumah Tinggal atas nama Arga Dinata.

Surat rumah mereka. Rumah yang ia cicil dengan darah dan keringatnya, rumah tempat Alin tumbuh, kini sedang dijaminkan ke bank untuk utang sebesar 850 juta demi bisnis Arga dan pelakor itu.

Namun bukan itu yang membuat Rania hampir menjerit malam itu. Di bagian bawah dokumen persetujuan agunan tersebut, terdapat kolom tanda tangan.

Di sebelah kiri ada tanda tangan Arga.

Dan di sebelah kanan... terdapat tanda tangannya sendiri. Tanda tangan "Rania Maharani" yang tercetak rapi di atas materai, tanda tangan persetujuan istri yang dipalsukan dengan sangat sempurna.

Ponsel di tangan Rania nyaris terjatuh. Ia telah ditipu habis-habisan. Bukan hanya hatinya yang dirampok, tapi masa depan dan seluruh jerih payahnya selama hidup telah dijual oleh suaminya sendiri malam ini.