Jakarta siang itu terasa seperti berada di dalam panci presto yang lupa dimatikan apinya. Aspal di kawasan Kuningan seolah mengeluarkan uap sisa-sisa emisi bus kota dan knalpot motor yang berjubel. Di trotoar yang sempit dan rusak karena galian kabel yang tak kunjung usai, Bram duduk di atas motor matic-nya yang butut. Jaket hijaunya sudah pudar terkena matahari dan debu jalanan, warnanya kini lebih mirip lumut kering daripada identitas perusahaan transportasi online tempatnya mencari sesuap nasi.
Bram tidak sedang melihat aplikasi untuk mencari orderan. Matanya terpaku pada layar televisi besar yang terpampang di dinding luar sebuah pusat perbelanjaan mewah. Di sana, wajah seorang pria paruh baya dengan rambut klimis hasil pomade mahal mendominasi layar. Pria itu adalah Pak Surya, sang Dirjen yang baru saja diciduk karena kasus izin tambang nikel dan timah.
"Gila, ratusan triliun, Bram. Kalau dibelikan kerupuk, tenggelam satu Jakarta," celetuk pria di sebelah Bram, sesama pengemudi ojek online yang sedang asyik menyesap kopi sachet di plastik.
Bram hanya diam. Matanya yang tajam, yang mampu menangkap detail sekecil lubang jarum, memperhatikan bagaimana Pak Surya keluar dari gedung megah itu. Pria itu mengenakan rompi oranye dengan cara yang janggal—seolah-olah itu adalah outer dari koleksi terbaru di fashion show Paris, bukan penanda rasa malu.
Namun, yang membuat bulu kuduk Bram meremang bukan nilai korupsinya, melainkan senyumnya.
Kontras yang Menyakitkan
Di layar televisi, kamera zoom-in memperlihatkan detail yang membuat rakyat biasa ingin melempar asbak. Di belakang Pak Surya, tampak istrinya yang mencoba menghindar dari serbuan wartawan. Wanita itu menutupi wajahnya dengan tas tangan kulit buaya berwarna fuchsia mencolok. Bram tahu merk tas itu; harganya setara dengan tiga puluh unit motor yang sedang ia kendarai. Sebuah simbol kemewahan yang dibeli dari tanah yang dikeruk secara ilegal, dari keringat buruh tambang yang dibayar dengan upah di bawah standar, dan dari izin-izin yang diteken di bawah meja restoran bintang lima sambil menenggak wine seharga gaji setahun guru honorer.
"Lihat itu, istrinya pamer 'koleksi' di depan kamera. Benar-benar tidak tahu diri," gumam seorang ibu-ibu yang berhenti sejenak untuk menonton.
Bram memperhatikan lebih dalam. Kemampuan Hyperthymesia-nya mulai bekerja secara otomatis. Ia tidak hanya melihat kejadian itu; ia merekamnya seperti kamera beresolusi tinggi.
- Jari Pak Surya: Saat melambaikan tangan ke kamera—tindakan yang sangat arogan untuk seorang tahanan—posisi jempol dan telunjuknya membentuk lingkaran kecil, sementara tiga jari lainnya lurus. Itu bukan sekadar lambaian "halo". Itu adalah kode.
- Sepatu: Di bawah rompi oranye dan celana kain mahalnya, Surya memakai sepatu loafers kulit Italia yang mengkilap. Ada noda tanah merah sedikit di sela-sela jahitannya. Tanah merah itu tidak berasal dari Jakarta. Itu tanah laterit, khas daerah pertambangan nikel di Sulawesi atau Maluku.
- Jam Tangan: Meskipun Surya berusaha menyembunyikan lengannya, Bram menangkap kilauan dari jam tangan berbahan titanium yang menyembul dari balik borgol longgar. Jam tangan itu memiliki fungsi dual-time. Jarum sekundernya bergerak selisih delapan jam dengan Waktu Indonesia Barat. Jenewa, Swiss.
"Dia tidak takut," gumam Bram pelan.
"Siapa yang takut, Bram? Orang punya duit mah bebas. Paling nanti selnya ada AC, ada karaoke, kalau perlu ada kolam renangnya juga di dalam," sahut temannya lagi, lalu tertawa getir. "Kita ini yang takut. Takut besok nggak bisa beli beras kalau orderan sepi."
Bram tidak membalas. Ia tahu ada yang lebih besar di sini. Pak Surya sengaja membiarkan dirinya ditangkap. Senyum itu bukan senyum orang yang pasrah, tapi senyum seorang pecatur yang baru saja mengorbankan bidak pawn untuk mendapatkan queen.
Kenangan yang Mengutuk
Suara klakson mobil mewah di belakangnya membuyarkan lamunan Bram. Sebuah mobil SUV hitam besar, tipe yang biasa dipakai pejabat atau pengusaha hitam, melintas dengan arogan, memaksa motor-motor kecil di depannya menyingkir ke bahu jalan yang tidak rata. Di atas motor itu, terlihat seorang pemuda—mungkin anak salah satu petinggi—mengenakan kaos putih polos yang harganya mungkin jutaan rupiah, menggeber motor gede (moge) dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, sengaja mencari perhatian di tengah kemacetan.
Budaya pamer ini, pikir Bram, adalah penyakit menular yang lebih mematikan dari virus mana pun. Mereka tidak lagi merasa perlu menyembunyikan hasil curiannya. Mereka justru merasa hina jika tidak menunjukkannya.
Bram teringat lima tahun lalu, saat ia masih duduk di balik meja kayu bersih sebagai auditor di sebuah firma ternama. Saat itu, ia menemukan lubang kecil dalam laporan keuangan sebuah perusahaan tambang. Lubang itu awalnya hanya seukuran jarum, namun ketika ia menarik benangnya, ia menemukan jurang sedalam ratusan triliun rupiah.
"Bram, tutup matamu, maka kariermu akan terbuka lebar," kata atasannya saat itu, sambil menyodorkan amplop cokelat yang tebalnya setara dengan tumpukan batu bata.
Bram tidak menutup mata. Ia justru membukanya lebar-lebar. Hasilnya? Dalam satu malam, ia kehilangan segalanya. Aksesnya dicabut, namanya di-blacklist dari seluruh asosiasi profesi, dan ia dituduh melakukan pelanggaran kode etik yang tidak pernah ia lakukan. Hidupnya hancur, namun memorinya tetap utuh. Dan itulah kutukannya. Ia mengingat setiap angka, setiap tanda tangan, dan setiap wajah yang terlibat.
Pesanan yang Aneh
Ponsel butut di stang motor Bram bergetar hebat. Sebuah orderan masuk.
Pengambil: Anonim Lokasi Penjemputan: Restoran Cepat Saji, Jl. Rasuna Said Lokasi Pengantaran: Gedung Arsip Tua, Kawasan Kota Tua Catatan: Jangan tanya apa pun. Cukup antar. Tip besar menanti.
Bram mengerutkan kening. Kota Tua di jam segini? Itu adalah area yang penuh dengan gedung-gedung kolonial yang terbengkalai, jauh dari pusat keramaian bisnis. Namun, melihat nominal tip yang dijanjikan—setara dengan hasil narik tiga hari—Bram tidak punya pilihan. Perutnya tidak bisa diajak berdiskusi soal firasat buruk.
Ia segera memacu motornya. Melewati jalur-jalur tikus yang hanya diketahui oleh mereka yang menghabiskan belasan jam di jalanan setiap hari. Ia melewati kawasan elit di mana rumah-rumah pagar tinggi menyembunyikan kemewahan di baliknya—mungkin di dalam sana, ada tumpukan tas Hermes yang belum sempat disita KPK, atau moge-moge yang hanya dikeluarkan saat Minggu pagi untuk sekadar pamer status sosial.
Sesampainya di restoran cepat saji, ia hanya diberikan sebuah tas kertas cokelat yang tersegel rapat. Tidak ada bau makanan. Bobotnya ringan, namun terasa kaku di bagian bawah.
"Mas, ini isinya apa ya? Kok nggak bau ayam?" tanya Bram pada pelayan yang memberikan tas itu.
Pelayan itu hanya mengangkat bahu dengan wajah lelah. "Sudah dibayar lewat aplikasi, Mas. Katanya titipan saja."
Bram memasukkan tas itu ke dalam boks di belakang motornya. Ia melaju menuju utara, menuju jantung sejarah Jakarta yang kini kusam dan berdebu.
Kode di Balik Debu
Gedung yang dimaksud adalah sebuah bangunan bergaya Art Deco yang catnya sudah mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari. Jendelanya tinggi-tinggi dengan teralis besi yang sudah berkarat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali seorang kakek tua yang tertidur di pos satpam yang tidak berpintu.
Bram meletakkan tas itu di depan pintu besar sesuai instruksi di aplikasi. Saat ia hendak memotret sebagai bukti pengantaran, sebuah bayangan melintas di jendela lantai dua. Cepat, namun bagi Bram yang memiliki daya ingat visual luar biasa, itu sudah cukup.
Bayangan itu memegang sebuah kamera DSLR dengan lensa panjang. Seseorang sedang mengawasinya.
Bram segera naik ke atas motornya, namun rasa penasarannya menang. Ia tidak langsung pergi. Ia berputar ke belakang gedung, memarkir motornya di balik tumpukan kayu bekas, dan kembali mendekat dengan mengendap-endap.
Di tempat ia meletakkan tas tadi, kini tas itu sudah terbuka. Seseorang telah mengambil isinya dan menyisakan bungkusnya saja. Di lantai semen yang berdebu, Bram melihat secarik kertas kecil yang terjatuh dari tas tersebut. Itu bukan struk makanan.
Ia memungutnya. Kertas itu adalah struk dari sebuah butik tas mewah di Grand Indonesia. Di bagian belakangnya, tertulis deretan angka desimal yang diketik menggunakan mesin tik manual, bukan printer digital:
-6.20876, 106.84559 | #FFD700 | AN_GR_AM: S.U.R.Y.A
Bram tertegun. Sebagai mantan auditor, ia tahu ini bukan angka sembarangan. Angka pertama adalah koordinat lintang dan bujur. Kode kedua adalah kode warna hex untuk "Gold" atau emas. Dan yang terakhir... anagram.
"S.U.R.Y.A," bisik Bram.
Tiba-tiba, sebuah suara bariton menginterupsi dari balik bayangan pintu yang gelap.
"Ingatannya masih tajam seperti dulu, ya, Abraham?"
Bram menoleh dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Di sana berdiri seorang wanita dengan jaket parka gelap dan kacamata hitam, memegang sebuah kamera.
"Anya?" Bram mengenali suara itu. Anya adalah satu-satunya jurnalis yang berani membela kasusnya lima tahun lalu sebelum akhirnya dia sendiri "dilenyapkan" dari media arus utama karena terlalu banyak bertanya tentang kepemilikan moge para petinggi kepolisian.
"Jangan panggil nama itu di sini," desis Anya, melangkah keluar ke cahaya temaram sore. "Dunia sedang menonton sirkus Pak Surya di TV, tapi mereka tidak tahu kalau panggung sebenarnya sedang dibangun di bawah kaki mereka."
Anya menunjuk ke arah kertas di tangan Bram. "Kau tahu apa arti koordinat itu?"
Bram menutup matanya sejenak, memanggil peta Jakarta yang tersimpan permanen di otaknya. "Itu titik nol sebuah proyek tambang nikel di tengah hutan Sulawesi yang izinnya baru saja diteken Pak Surya kemarin sore, satu jam sebelum dia ditangkap."
Anya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan bahaya. "Dan warna emas itu? Itu bukan soal nikel, Bram. Itu soal apa yang mereka sembunyikan di bawah nikel itu."
Di kejauhan, suara sirine polisi terdengar mendekat. Bram tahu, hidupnya yang tenang sebagai tukang ojek baru saja berakhir. Ia kembali masuk ke dalam labirin yang dulu hampir membunuhnya, namun kali ini, ia tidak akan membiarkan para koruptor itu tersenyum di depan kamera dengan rompi oranye yang dipakai seperti jas mewah.
Ia akan memastikan rompi itu terasa sangat sempit bagi mereka.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar