Hujan baru saja mengguyur kawasan Menteng, menyisakan aroma aspal basah yang bercampur dengan wangi petrikor dan tanah dari halaman rumah-rumah kolonial. Pohon-pohon besar yang usianya mungkin sama dengan republik ini berdiri angkuh di balik pagar besi tinggi, menjadi saksi bisu dari transaksi-transaksi gelap yang menggerogoti negara dari dalam.
Bram memacu motornya perlahan, sangat berhati-hati menghindari genangan air. Ia tidak ingin mesin motornya mati, dan lebih penting lagi, ia tidak ingin menarik perhatian. Jaket hijaunya yang basah membuatnya terlihat persis seperti ribuan pengemudi ojek online lain yang sedang mencari alamat di tengah malamβsebuah kamuflase urban yang sempurna.
Anya duduk di belakang, merapatkan tudung jaketnya. "Bram, kita terlalu terbuka di sini. Jalanan ini terlalu sepi, motor hijaumu ini seperti lampu suar di tengah kegelapan."
"Justru kalau kita bersembunyi kita akan dicurigai. Pola pikir aparat dan pengawal pribadi itu kaku. Mereka mencari orang yang mengendap-endap, bukan ojek yang kebingungan mencari rumah customer," sahut Bram dengan ketenangan yang didapatnya dari ribuan jam membelah jalanan ibu kota.
Lampu jalan yang pendar kekuningan menyinari deretan mobil mewah yang terparkir rapi di depan sebuah rumah besar bercat putih dengan arsitektur Indische Empire. Di situlah tempatnya. Di sana, sebuah acara tampaknya sedang berlangsung. Bukan pesta besar dengan musik berdentum, melainkan jamuan makan malam super tertutup. Pria-pria berbadan tegap dengan kemeja safari gelap dan earpiece transparan berjaga di radius lima puluh meter dari gerbang utama. Mata mereka waspada, men-scan setiap kendaraan yang lewat.
Bram menepikan motornya di dekat sebuah taman kecil yang agak gelap, berpura-pura mengecek ban belakangnya.
"Tunggu di sini. Jangan lepas helm. Kalau terjadi sesuatu, kamu yang bawa motor ini lari," bisik Bram.
"Kamu gila? Mau kemana kamu?" Anya mencengkeram lengan jaket Bram.
"Melihat sesuatu yang hanya bisa dilihat dari dekat. Aku harus mengkonfirmasi letak tas itu sebelum kita merancang cara mengambilnya," kata Bram. Ia mulai berjalan kaki dengan gaya santai, bahunya agak diturunkan, menunduk melihat ponsel seolah membaca koordinat map yang salah.
Matanya yang tajam bak elang mulai bekerja, memindai lingkungan dengan presisi algoritma. Di depan rumah itu, terparkir sebuah sedan SUV Eropa top-of-the-line dengan plat nomor B 1 RI. Bram tahu betul itu bukan plat pejabat kenegaraan asli; itu plat khusus yang "dibeli" agar bisa menerobos lampu merah dan bahu jalan tol dengan pengawalan voorijder. Pemiliknya pasti menganggap antre di kemacetan Jakarta adalah dosa besar.
Namun, bukan kemewahan mobil itu yang menarik perhatian Bram. Di kaca belakang SUV tersebut, ada stiker kecil lambang klub menembak eksklusif di Senayan. Stiker yang sama persis dengan yang ia lihat di mobil yang mengejar mereka di Kota Tua tadi siang. Ini bukan sekadar safe house; ini adalah markas komando konsorsium koruptor tersebut.
Tiba-tiba, suara derit pintu kayu jati yang berat terbuka memecah kesunyian gerimis.
Seorang wanita keluar dari rumah itu dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh dua pria berjas. Wanita itu mengenakan gaun sutra berpotongan asimetris yang harganya mungkin bisa untuk membangun puskesmas. Wajahnya tertutup kacamata hitam berbingkai besar yang tidak masuk akal dipakai di malam hari. Di tangannya, ia mencengkeram erat tas kulit buaya berwarna fuchsia. Bu Ratna.
Ia tampak sedang berdebat sengit dengan salah satu pria berjas itu. Suaranya tertahan, namun aura kepanikannya sangat jelas.
Wanita itu setengah berlari menuruni anak tangga marmer menuju mobilnya. Karena tergesa-gesa dan memakai heels setinggi 12 sentimeter di atas permukaan yang licin, ia terpeleset di anak tangga terakhir.
Ia tidak jatuh sepenuhnya karena ditangkap oleh pengawalnya, namun tas fuchsia di tangannya terlempar ke depan, menghantam trotoar yang basah. Ritsletingnya yang terbuat dari emas murni terbuka, dan isinya tumpah berhamburan ke aspal, tepat berjarak beberapa meter dari posisi Bram berdiri.
Ini adalah anomali yang selalu ditunggu oleh seorang detektif. Keberuntungan yang lahir dari kecerobohan.
Bram segera melangkah maju, memanfaatkannya dengan sempurna. Ia merendahkan tubuhnya, memasang wajah kaget dan ramah ala pekerja jalanan yang patuh. "Ya ampun, mari saya bantu rapikan, Bu," ucap Bram dengan suara pelan dan hormat.
"Jangan sentuh barang-barangku! Mundur kamu, gembel!" pekik Ratna histeris, suaranya pecah melengking di keheningan Menteng.
Pengawalnya langsung melangkah maju, tangan kanannya meraih sesuatu di balik jasnyaβsebuah isyarat jelas bahwa ia bersenjata. Bram segera mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada, mundur dua langkah perlahan. "Maaf, Pak. Maaf. Saya cuma ojek yang nyasar cari alamat."
Meski mundur, mata Bram telah melakukan pemindaian mikroskopis pada barang-barang yang berceceran di aspal basah itu selama kurang dari tiga detik.
- Dompet panjang merk Italia
- Kunci mobil cadangan
- Sebuah lipstik warna merah darah dengan casing logam krom murni
- Sebuah perangkat kecil berukuran sebesar flashdisk baja, dengan port konektor aneh yang bukan USB standar, memiliki ukiran laser bermotif bunga geometris.
Seketika, Ratna mengabaikan dompet dan kunci mobilnya. Tangan wanita itu dengan panik, nyaris gemetar, menyambar flashdisk baja tersebut, menggenggamnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memasukkannya ke dalam saku gaunnya. Perangkat itu jauh lebih berharga daripada semua uang tunai di dompetnya.
Dalam kepanikan meraup barang-barangnya, lipstik krom itu tertinggal, menggelinding perlahan mendekati ujung sepatu kets Bram yang kusam.
"Jalan! Kita berangkat sekarang!" teriak Ratna pada supirnya, setengah menangis ketakutan, lalu membanting pintu mobil dengan keras. SUV hitam itu meraung, bannya berdecit di aspal basah, dan melesat pergi membelah kegelapan.
Bram menunduk, dengan gerakan sangat natural seolah membenarkan tali sepatunya, ia mengambil lipstik tersebut menggunakan ujung kain lengan jaketnya agar tidak merusak sidik jari yang mungkin menempel, lalu menyelinapkannya ke dalam saku.
Ia berbalik untuk kembali ke motor, namun langkahnya terhenti. Di bawah bayangan pohon mahoni besar, berjarak tak sampai dua meter darinya, seseorang sedang berdiri diam memperhatikannya sedari tadi.
"Kamu selalu tahu cara berada di tempat yang tepat pada waktu yang salah, Abraham."
Jantung Bram serasa berhenti berdetak. Suara bariton yang berat dan tenang itu. Ia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya mengenakan jas hujan transparan. Rambutnya memutih di pelipis, dan garis wajahnya memancarkan otoritas masa lalu.
"Pak Hendra," bisik Bram parau.
Hendra adalah mantan Kepala Auditor Senior di firma tempat Bram bekerja lima tahun lalu. Orang yang memecatnya, yang menghancurkan kariernya demi menutupi laporan keuangan fiktif perusahaan tambang tersebut. Sosok yang selama ini Bram anggap sebagai pengkhianat utama.
Hendra tidak mendekat, ia tetap di batas bayangan. Ia menyalakan sebatang rokok, ujungnya menyala merah sejenak. "Dunia ini terlalu keras bagi mereka yang ingatannya tidak bisa dihapus, Bram. Aku melihatmu di televisi tadi sore, saat berita peretasan itu naik. Aku tahu kau akan melacak koordinat itu."
"Anda bagian dari mereka. Anda ada di rumah ini," rahang Bram mengeras, bersiap jika ini adalah sebuah jebakan.
"Aku bukan bagian dari siapa-siapa, Bram. Aku hanyalah akuntan pengecut yang mencoba bertahan hidup di antara para serigala," Hendra tersenyum getir. "Kau mau turun ke terowongan bawah tanah MRT itu malam ini, kan? Mencari server 'Burner'?"
Bram tidak menjawab. Ia mengencangkan otot-ototnya.
"Jangan ke sana," lanjut Hendra datar. "Mereka sudah tahu kau memegang koordinatnya. Terowongan itu sudah dipenuhi oleh pembunuh bayaran bermodus pekerja proyek. Kalau kau masuk ke sana, mereka akan mengecor tubuhmu ke dalam tiang pancang malam ini juga. Kau akan jadi beton."
"Lalu kenapa Anda memberitahu saya? Bukankah kematian saya akan mempermudah tidur Anda?"
"Karena permainannya sudah berubah. Mereka mulai saling memakan. Pak Surya hanya tumbal. Dan mereka mulai menargetkan keluargaku jika aku tidak mau melegalkan pencucian uang yang lebih besar besok pagi," suara Hendra sedikit bergetar, kehilangan ketenangannya sejenak. Ia melempar puntung rokoknya ke genangan air, lalu mengeluarkan sebuah kartu akses elektronik putih polos dan melemparkannya ke arah Bram. Bram menangkapnya.
"Cari tempat bernama 'Lumbung 13' di area terluar Pelabuhan Tanjung Priok. Itu adalah titik buta, tempat server pencadangan manual disembunyikan. Anya tahu tempat itu. Pergilah ke sana sebelum mereka menyadarinya."
Tanpa menunggu Bram membalas, Hendra berbalik dan berjalan menjauh, ditelan oleh kabut gerimis dan gelapnya malam Menteng.
Bram berlari kembali ke arah motornya. Anya menatapnya dengan panik dari balik helm.
"Kita dapat lipstiknya. Sidik jarinya menempel sempurna di sini," Bram menepuk sakunya. "Dan aku baru saja bertemu hantu dari masa laluku."
Tepat saat Bram naik ke jok motor, ponsel di sakunyaβyang baterainya sudah ia pasang kembali dengan modifikasi tanpa sinyal GPSβbergetar panjang. Sebuah notifikasi darurat masuk, bukan SMS biasa, melainkan pesan broadcast yang meretas jaringan sinyal masuk.
Di layar, logo situs LumbungRakyat.id muncul dengan teks merah tebal yang bisa dibaca oleh siapa saja di seluruh Indonesia saat ini:
"Koruptor sibuk menyelamatkan tas mewahnya di Menteng malam ini. Namun kunci kebenaran sudah diamankan oleh Sang Kurir. Hitung mundur dipercepat: 24 Jam tersisa. Waktunya tikus-tikus tanah panik."
Anya membaca layar itu dari balik bahu Bram. Matanya terbelalak. "Bram... si peretas sialan itu. Dia baru saja membuat kita menjadi target buruan nomor satu di republik ini."
Bram menghidupkan mesin motornya, derunya membelah kesunyian malam. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan kepada tikus-tikus itu bagaimana rasanya diburu di jalanan aspal kita."
Ia memutar tuas gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan elit itu menuju kerasnya udara malam utara Jakarta.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar