Malam jatuh di Jakarta, tapi kota ini tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Sudirman memancarkan aura kemakmuran yang palsu, sementara di bawahnya, jutaan orang berdesakan hanya untuk sekadar bernapas.

Ucup, sang teknisi, menatap struk yang dibawa Bram dengan dahi berkerut. Ia menggunakan kaca pembesar seolah sedang memeriksa berlian.

"Ini bukan printer thermal biasa, Bram," kata Ucup sambil menyalakan rokoknya. "Garis-garis di logo butik ini... kalau di-scan dengan filter ultraviolet, dia membentuk pola barcode dua dimensi. Sangat rapi. Ini teknologi yang hanya dimiliki oleh pencetak uang atau pembuat paspor palsu kelas atas."

Anya mendekat ke meja kerja yang berantakan itu. "Bisa kau baca isinya?"

Ucup menggeleng. "Aku butuh alat yang lebih canggih. Tapi koordinatnya... Bram benar. Itu menunjuk ke sebuah titik di Jakarta Pusat, tapi tingginya tidak normal. Itu bukan di permukaan tanah. Itu ada di kedalaman 20 meter di bawah tanah."

Pesanan Kedua

Tiba-tiba, ponsel ojek online milik Bram bergetar. Suaranya terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu. Sebuah notifikasi masuk.

Pengambil: Anonim Lokasi: Warung Kopi depan kontrakan Ucup. Pesan: 'Sayur' sudah layu. Jangan sampai 'Emas' ikut cair. Antar kode ke lokasi berikutnya atau foto koleksi tas istri Dirjen akan berubah jadi foto otopsi kalian.

Darah Bram terasa membeku. Bagaimana mereka tahu mereka ada di sini? Ia segera melongok ke jendela kecil yang tertutup debu. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, seorang pria dengan jaket hoodie gelap berdiri di samping motor besarβ€”sebuah moge yang harganya bisa membangun sepuluh kontrakan seperti ini. Pria itu tidak memesan kopi. Ia hanya berdiri, menatap langsung ke jendela tempat Bram berada.

"Mereka melacak GPS ponselmu!" desis Anya.

Bram segera mencabut baterai ponselnya (tindakan yang sulit dilakukan pada smartphone modern, tapi Bram sengaja memodifikasi HP-nya agar bisa dimatikan total secara fisik).

"Kita harus pergi. Sekarang," kata Bram. "Tapi bukan lewat pintu depan."

Strategi Ojek

Bram tahu, melawan moge di jalan raya adalah bunuh diri. Motornya akan kalah telat dalam hitungan detik. Namun, Jakarta punya satu senjata yang tidak dimiliki oleh motor mahal: Gang Sempit.

Mereka keluar lewat pintu belakang yang tembus ke pemukiman penduduk yang sangat padat. Bau selokan yang mampet dan aroma cucian warga menjadi penunjuk jalan. Bram menuntun motornya tanpa menyalakan mesin, langkahnya ringan dan terhitung.

"Ucup, kamu tetap di sini. Hapus semua log di komputermu. Kalau mereka masuk, bilang saja kamu cuma tukang servis HP biasa," perintah Bram. Ucup hanya mengangguk pucat.

Bram dan Anya sampai di ujung gang yang langsung berbatasan dengan jalur kereta api. Di sana, motor moge tadi sudah menunggu di ujung jalan besar. Si pengendara tampak arogan, memainkan gas motornya hingga suaranya menggelegar, pamer kekuatan di tengah kemiskinan malam.

"Dia pikir dia bisa mengejar kita dengan barang mewah itu di jam pulang kantor?" Bram tersenyum sinis. Ia tahu, di depan sana ada perlintasan kereta api yang sebentar lagi akan ditutup.

Bram menghidupkan mesin. Ia tidak lari menjauh, ia justru memacu motornya menuju arah si pengejar.

"Apa yang kamu lakukan?!" Anya berteriak panik.

"Percaya padaku. Aku tahu jadwal KRL jam segini."

Tepat saat mereka mendekati perlintasan, sirine kereta api berbunyi. Palang pintu mulai turun. Si pengendara moge bersiap melakukan akselerasi untuk memotong jalan, namun Bram justru banting setir masuk ke sebuah gang yang lebarnya tidak lebih dari satu meter, tepat di samping rel.

Motor matic Bram masuk dengan mulus. Sementara si pengejar, dengan moge yang lebar dan berat, terpaksa mengerem mendadak karena bodinya tidak akan muat melewati celah tersebut. Ia terjebak di depan palang pintu kereta yang tertutup, terhalang oleh ratusan pemotor lain yang tidak akan mau memberi jalan untuk orang kaya yang sombong.

Di Balik Angka

Setelah yakin mereka aman, Bram menghentikan motornya di bawah jembatan layang. Ia mengambil kembali struk itu.

"Tadi kau bilang koordinat itu ada di kedalaman 20 meter?" tanya Bram pada Anya.

Anya mengangguk. "Kenapa?"

"Aku ingat sekarang. Di lokasi koordinat itu, ada pembangunan proyek MRT yang sempat mangkrak dua tahun lalu karena 'masalah pendanaan'. Pak Surya adalah ketua pengawas anggarannya saat itu."

Bram menyipitkan mata. Memori dari laporan keuangan lima tahun lalu kembali muncul. Ada aliran dana ke sebuah perusahaan bernama "Pondasi Jaya Utama".

"Pondasi yang paling kuat," bisik Bram, mengingat kata-kata Surya di penjara. "Mereka tidak menyimpan server itu di dalam gedung pencakar langit. Mereka menyimpannya di dalam struktur beton pondasi jalur bawah tanah Jakarta. Di bawah kaki ribuan orang yang setiap hari lewat tanpa sadar bahwa di bawah mereka ada bukti perampokan negara terbesar abad ini."

Anya menatap Bram dengan takjub. "Jadi, kita harus masuk ke terowongan MRT?"

"Bukan sekadar masuk," jawab Bram sambil menghidupkan kembali HP-nya yang sudah dimodifikasi agar tidak mengirim sinyal GPS ke server pusat. "Kita harus masuk sebelum 'Burner' menghapus semuanya. Dan untuk itu, kita butuh lebih dari sekadar keberanian. Kita butuh kunci yang ada di dalam tas fuchsia milik istri Pak Surya."

Bram melihat sebuah berita viral di media sosial. Istri Pak Surya dikabarkan sedang berada di sebuah hotel bintang lima, berlindung dari kejaran massa, sambil tetap mengunggah foto makanan mewahnya di Instagram seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Mari kita buat pesanan ojek yang tidak akan pernah dia lupakan," kata Bram dengan nada dingin.