Sirine itu bukan sekadar suara; bagi Bram, itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan hidupnya yang membosankan. Suaranya memantul di antara dinding-dinding kusam gedung tua kawasan Kota Tua, menciptakan gema yang membuat burung-burung gereja beterbangan dari atap yang rapuh.
"Masuk ke gang itu! Sekarang!" perintah Anya dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Bram tidak punya waktu untuk bertanya mengapa seorang jurnalis yang sudah dinyatakan "mati" secara profesi tiba-tiba muncul di depan gudang arsip yang nyaris roboh. Ia menyambar helm hijaunya, menghidupkan mesin motor matic-nya yang terbatuk sebentar sebelum meraung tipis, dan membiarkan Anya melompat ke jok belakang.
"Pegangan yang kuat. Motor ini nggak punya tenaga seperti moge-moge koleksi pejabat yang sering kamu liput," sindir Bram sambil memutar gas dalam-dalam.
Mereka melesat tepat saat sebuah mobil SUV hitam dengan kaca gelap legamβjenis mobil yang sering dipakai untuk menculik aktivis atau mengawal konvoi menteriβmengerit masuk ke area pelataran gedung. Bram tidak menoleh. Kemampuan Hyperthymesia-nya merekam nomor plat mobil itu dalam sekejap: B 1264 PJS. Angka itu tersimpan di laci memorinya, siap dibuka kapan saja.
Labirin Aspal Jakarta
Bram membawa motornya masuk ke sela-sela sempit di antara dua ruko tua. Ini adalah wilayah kekuasaannya. Selama dua tahun menjadi kurir ojek, ia telah memetakan setiap celah di Jakarta yang tidak ada di Google Maps. Ia tahu mana jalan tikus yang buntu karena jemuran warga, dan mana yang bisa ditembus meski hanya selisih beberapa sentimeter dari stang motornya.
"Kenapa mereka mengejarmu?" teriak Bram di balik helm, berusaha mengalahkan deru angin dan suara knalpot.
"Bukan mengejarku, Bram! Mereka mengejar apa yang ada di tanganmu!" Anya balas berteriak, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan mereka tidak diikuti.
Bram meraba saku jaketnya. Secarik struk belanja butut. Mengapa selembar kertas dari butik tas mewah di Grand Indonesia bisa membuat orang-orang di dalam SUV itu siap menabrak apa saja?
"Struk ini... ini pesanan dari Pak Surya?" tanya Bram saat mereka sudah sedikit menjauh ke arah Glodok, berbaur dengan ribuan motor lainnya agar sulit dilacak.
"Pak Surya hanyalah 'wajah' dari operasi ini, Bram. Dia adalah pion yang dikorbankan untuk menjaga para raja tetap aman di singgasana mereka," suara Anya melemah saat mereka berhenti di lampu merah yang penuh dengan asap knalpot. "Kamu lihat tas fuchsia yang dibawa istrinya tadi di TV? Itu bukan sekadar pamer. Di dalam jahitan tas itu ada microchip. Dan struk yang kamu pegang adalah kunci dekripsinya."
Bram menatap struk itu lagi. Pikirannya mulai bekerja seperti mesin pemindai.
- -6.20876, 106.84559: Koordinat.
- #FFD700: Warna emas.
- S.U.R.Y.A: Anagram.
"Ini bukan sekadar soal tambang nikel," gumam Bram. "S.U.R.Y.A. Jika disusun ulang... S-A-Y-U-R. Kode lama untuk uang suap di kalangan birokrat."
Anya terdiam sejenak, lalu tertawa getir. "Kamu masih jenius seperti dulu. Tapi ini bukan 'sayur' biasa. Ini adalah algoritma yang mengatur aliran uang gelap dari komoditas strategis Indonesia menuju bank-bank bayangan di luar negeri. Dan struk itu mengandung koordinat di mana mereka menyimpan server fisiknya."
Kutukan Memori
Lampu berubah hijau. Bram memacu motornya menuju sebuah pemukiman padat di pinggiran rel kereta api. Ia butuh tempat untuk berpikir. Selama perjalanan, otaknya tidak berhenti bekerja. Ia mengingat setiap detail dari lima tahun laluβsaat ia dipecat. Wajah pria yang memberikan amplop cokelat kepadanya di firma auditor dulu memiliki kemiripan struktur tulang pipi dengan pengawal yang ia lihat di spion tadi.
Korupsi di negeri ini bukan soal individu yang rakus, pikir Bram. Ini adalah sebuah ekosistem. Seperti rayap yang memakan pondasi rumah dari dalam, sambil tetap memastikan cat di luar tampak mengkilap dan mewah.
Mereka sampai di sebuah kontrakan petak milik teman lama Bram, seorang teknisi komputer bernama Ucup yang menghidupi diri dengan membuka jasa unlock HP dan servis laptop "gelap". Tempat itu pengap, penuh dengan tumpukan motherboard bekas dan aroma timah solder yang menyengat.
"Cari tempat aman, mereka bilang," gerutu Bram sambil melepas jaketnya yang basah oleh keringat. "Seharusnya aku hanya mengantar ayam geprek hari ini, bukan konspirasi negara."
Anya melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan kantung mata yang dalamβtanda ia tidak tidur berhari-hari. "Kamu tahu kenapa aku mencarimu, Bram? Karena tidak ada satu pun database di dunia ini yang tidak bisa diretas. Tapi ingatanmu... tidak ada peretas yang bisa masuk ke dalam kepalamu. Kamu adalah 'safe house' terbaik yang kita miliki."
Bram menatap dinding kontrakan yang penuh dengan poster partai dari pemilu lalu yang sudah luntur. Ia merasa seperti tikus tanah yang dipaksa keluar ke permukaan yang terlalu terang. Ia benci diingat, namun ia tidak bisa berhenti mengingat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar