Pelarian dari kejaran motor gede di perlintasan kereta api itu memaksa Bram dan Anya menyusuri jalur-jalur paling gelap di Jakarta. Motor matic butut itu akhirnya berhenti di sebuah ruko berlantai tiga di kawasan Mangga Besar yang neon depannya sudah berkedip-kedip sekarat: Warnet & Game Center "Olympus". Buka 24 Jam.

Tempat ini adalah surga bagi mereka yang ingin menghilang. Di dalam, udara berbau campuran mie instan seduh, asap rokok kretek, dan keringat asam dari puluhan remaja yang matanya terpaku pada layar monitor, meneriakkan makian ke dalam headset mereka. Tidak ada yang peduli pada seorang tukang ojek berjaket lepek dan seorang perempuan berwajah pucat yang menyewa bilik paling pojok.

"Kita tidak bisa pakai internet dari jaringan seluler biasa. Mereka punya alat IMSI catcher untuk melacak posisi kita dari base station terdekat," bisik Anya sambil mengeluarkan sebuah laptop setebal buku telepon dari dalam ranselnya. Laptop itu terlihat seperti barang rongsokan, penuh stiker usang, namun saat dihidupkan, layarnya menampilkan sistem operasi Linux yang dienkripsi berlapis-lapis.

Bram duduk di kursi plastik di sebelahnya, matanya mengawasi lorong warnet. "Kamu yakin tempat ini aman?"

"Orang-orang di sini terlalu sibuk menghancurkan tower musuh di game online untuk peduli pada buronan negara," jawab Anya. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang membuat Bram teringat pada para trader saham di bursa efek.

Anya membuka LumbungRakyat.id. Situs yang sedang viral itu kini menampilkan hitung mundur besar berwarna merah terang di tengah layar hitam. Countdown: 54:12:08. Waktu terus berdetak tanpa ampun.

"Sejak kemarin, aku mencoba meretas masuk ke kode sumber situs ini," kata Anya, matanya memantulkan cahaya layar yang bergulir cepat berisi ribuan baris kode biner. "Pembuatnya bukan script kiddie atau peretas amatir. Dia menggunakan routing berlapis melewati sembilan negara berbeda. Setiap kali aku mencoba melacak IP address-nya, posisinya memantul dari Rusia, lalu ke server di dasar laut Islandia, lalu kembali ke router di sebuah kedai kopi di Senopati."

"Lalu apa gunanya kita melihatnya sekarang?" tanya Bram. Kemampuan ingatannya yang tajam merekam pola kode yang bergerak di layar, meski ia tidak sepenuhnya memahami bahasa pemrograman.

"Karena setiap arsitek pasti meninggalkan jejak di bangunannya," jawab Anya tajam. "Situs ini bukan sekadar alat untuk menghitung mundur. Ini adalah panggung teater. Dan si peretas ingin kita melihat sesuatu."

Anya menekan sebuah kombinasi tombol, memunculkan jendela command prompt. Ia memasukkan rentetan angka koordinat yang mereka temukan di struk belanja istri Pak Surya: -6.20876, 106.84559.

Seketika, layar berkedip. Hitung mundur itu bergeser ke sudut layar, digantikan oleh sebuah kotak teks kecil yang berkedip meminta kata sandi.

"Bingo," desis Anya, senyum tipis kemenangan menghiasi wajah lelahnya. "Koordinat itu bukan cuma lokasi fisik server di bawah proyek MRT. Itu juga backdoor digital menuju direktori tersembunyi di situs ini. Tapi, kita tidak punya password-nya."

"Dan password-nya ada di dalam tas fuchsia milik istri Pak Surya, dalam bentuk kunci fisik atau mikrochip," timpal Bram, merangkai logika tersebut dengan cepat. "Artinya, kita harus menemukan wanita itu malam ini juga."

Anya mendengus sinis. Ia membuka tab peramban baru dan masuk ke Instagram menggunakan akun anonim. "Mencari istri pejabat yang baru ditangkap KPK di negara ini tidak butuh intelijen tingkat tinggi, Bram. Cukup gunakan OSINTβ€”Open Source Intelligence. Atau dalam bahasa awamnya: kepo tingkat dewa."

Anya mengetik nama akun Instagram Bu Ratna, istri Pak Surya. Layar menampilkan profil yang masih public. Meskipun suaminya sedang ditahan dan memakai rompi oranye, unggahan Instagram Story wanita itu tidak berhenti.

Bram menggelengkan kepala melihat deretan foto tersebut. "Suaminya ditangkap karena merampok uang rakyat untuk beli nikel, dan dia masih sempat mem-posting foto tas Hermes dan sepatu Louboutin?"

"Kamu terlalu meremehkan penyakit narsistik para elit negeri ini, Bram," kata Anya, nada suaranya dipenuhi kebencian yang mendalam. "Bagi mereka, tertangkap KPK itu ibarat musibah kecil, seperti ban bocor di jalan tol. Mereka percaya pengacara milyaran rupiah mereka akan membebaskan mereka. Jadi, kenapa harus berhenti pamer?"

Anya mengklik Instagram Story terbaru yang diunggah sepuluh menit lalu. Foto itu menampilkan sebuah cangkir teh porselen yang sangat elegan dengan latte art berbentuk angsa. Di samping cangkir teh itu, tergeletak tas kulit buaya berwarna fuchsia yang sangat mencolokβ€”tas yang sama persis dengan yang dilihat Bram di televisi. Kapsyennya berbunyi: "Tetap tenang dalam badai. Kebenaran akan terungkap. #TeaTime #StayStrong."

"Sinting," umpat Bram pelan. Sebuah sindiran keras pada realitas betapa tumpulnya rasa malu di kalangan atas. "Tapi foto ini tidak menunjukkan lokasi. Tidak ada geotagging. Background-nya cuma tembok kayu oak."

"Di sinilah seninya menjadi jurnalis investigasi yang dipecat karena terlalu pintar," kata Anya. Ia mengunduh foto tersebut dan memasukkannya ke dalam sebuah perangkat lunak pengolah gambar forensik.

Ia melakukan zoom in ekstrem pada permukaan sendok teh perak yang ada di sebelah cangkir. Permukaan melengkung sendok itu bertindak seperti cermin cembung, memantulkan bayangan ruangan yang ada di depan meja.

"Lihat ini," Anya memanipulasi kontras dan ketajaman gambar pantulan tersebut. Samar-samar, terlihat sebuah lukisan besar di dinding seberang, menampilkan adegan perburuan rusa bergaya Eropa klasik, serta sebuah lampu gantung kristal yang bentuknya sangat spesifik.

Bram menatap layar itu, memanggil ingatan visualnya. Kepalanya terasa sedikit berdenyut saat jutaan gambar dari masa lalunya berkelebat. Bangunan, restoran, hotel, rumah-rumah pejabat yang pernah ia audit...

"Aku tahu tempat itu," ucap Bram tiba-tiba. Suaranya serak. "Itu bukan hotel. Itu sebuah safe house, rumah persembunyian berkedok private dining club di Jalan Teuku Umar, Menteng. Rumah itu sering dipakai oleh para lobi-lobi politik dan pengusaha tambang untuk rapat tertutup yang tidak boleh bocor ke media. Lukisan rusa itu... lukisan aslinya ada di Rijksmuseum Belanda, tapi duplikatnya secara khusus dipesan oleh konsorsium tambang untuk rumah itu."

Anya menatap Bram dengan takjub. Ingatan pria ini jauh melampaui kemampuan database mana pun. "Berapa lama waktu tempuh dari sini ke Menteng menggunakan motor bebekmu?"

"Tiga puluh menit kalau kita potong jalur lewat gang-gang kecil," jawab Bram, sudah berdiri dari kursinya dan meraih jaket ojeknya yang masih setengah basah.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Sebelum tehnya dingin dan dia berpindah tempat. Tas fuchsia itu adalah tiket kita masuk ke ruang server di bawah MRT."

Anya menutup laptopnya dengan cepat, menghapus jejak sesi mereka di komputer warnet, dan bergegas mengikuti Bram. Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Jakarta, menyamarkan jejak dua orang yang bersiap menerobos masuk ke jantung pertahanan para penguasa.