Bogor punya cara sendiri untuk membuatmu merasa sendirian, bahkan di tengah keramaian.
Kota ini terlalu sering mendung. Langitnya seolah memegang cadangan air mata yang siap tumpah kapan saja, membuat udara selalu terasa lembap dan berat. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini romantis. Bagiku, mahasiswi baru yang masih mencoba menghafal rute angkot dan letak gedung perkuliahan, cuaca ini terasa seperti pelukan dingin yang memaksamu untuk terus berbicara pada diri sendiri agar tidak merasa sepi.
Mungkin itu sebabnya kebiasaan aneh ini dimulai.
Aku sedang duduk di sudut kantin Fakultas, mengaduk es teh manis yang es batunya sudah lama mencair, ketika aku menulisnya. Selembar kertas loose-leaf bergaris, robekan dari binder yang seharusnya kugunakan untuk mencatat materi Pengantar Sosiologi. Tinta bolpoin hitamku menggores permukaan kertas dengan cepat, nyaris terburu-buru, membentuk huruf-huruf miring yang melompat-lompat.
“Kepada Anjani, bulan depan.
Kalau kamu baca ini, tolong kasih tahu aku kalau kamu sudah berhenti nyasar nyari ruang dosen. Dan tolong, bilang padaku kalau uang bulananmu nggak habis cuma buat beli kopi gara-gara stres ngerjain tugas paper. Bertahanlah. Kamu lebih kuat dari kelihatannya.”
Aku berhenti sejenak, membaca ulang tulisan berantakan itu, lalu tersenyum kecil. Terdengar konyol memang. Bukan, ini sama sekali bukan diary. Menulis buku harian menuntut komitmen harian yang jujur dan menyita waktu, sesuatu yang tidak kumiliki. Ini lebih mirip pesan di dalam botol, hanya saja botolnya kulempar ke lautan waktu.
Aku melipat kertas itu perlahan. Ujung ke ujung. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga membentuk persegi kecil yang padat, tidak lebih besar dari kotak korek api.
Ini adalah surat ketujuh yang kutulis sejak menginjakkan kaki di kota hujan ini dua bulan lalu. Kebiasaan ini adalah caraku membumikan diri, semacam jangkar psikologis. Saat aku merasa kewalahan dengan lingkungan baru, ekspektasi, dan tugas-tugas yang menumpuk, aku menulis. Lalu, aku akan menyembunyikan lipatan kertas itu di tempat-tempat spesifik di sekitar kampus. Di balik papan pengumuman mading yang penuh brosur kedaluwarsa, di celah sempit bangku taman dekat danau kampus, atau di bawah pot tanaman hias di lorong gedung dekanat.
Tujuannya sederhana: membiarkan diriku di masa depan—entah itu minggu depan, bulan depan, atau semester depan—menemukannya secara tidak sengaja. Sebuah pengingat kecil bahwa aku pernah merasa ketakutan, dan aku berhasil melewatinya.
Aku memasukkan lipatan kertas itu ke dalam saku kemeja flanelku, bangkit dari kursi kantin, dan menyandang tas ransel. Rintik gerimis mulai turun, menciptakan titik-titik basah di aspal jalan. Sempurna. Cuaca yang pas untuk menuju tempat persembunyian favoritku.
Destinasiku bukanlah tempat yang ramai. Aku berjalan melewati kerumunan mahasiswa yang berlarian mencari tempat berteduh, memotong jalur lewat taman belakang, dan masuk ke gedung Perpustakaan Pusat.
Gedung ini tua, dengan aroma khas perpaduan antara kertas lapuk, debu karpet, dan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Aku melewati meja penjagaan dengan anggukan sopan, lalu langsung menuju tangga utama. Lantai satu dan dua adalah area komunal, dipenuhi mahasiswa yang berdiskusi atau sekadar menumpang tidur siang. Tujuanku adalah lantai tiga. Sayap timur.
Area ini adalah kuburan bagi buku-buku literatur sejarah dan ekonomi pertanian era 80-an yang nyaris tidak pernah disentuh siapa pun, kecuali mungkin oleh mahasiswa tingkat akhir yang sedang putus asa mencari referensi langka. Pencahayaan di lorong ini sedikit redup karena ada satu lampu neon yang terus-menerus berkedip pelan. Sunyi. Hanya ada suara langkah sepatuku yang diredam karpet tipis.
Aku berjalan menyusuri lorong panjang itu, menghitung rak dalam hati. Rak A... Rak C... Rak F... Lalu aku berhenti di Rak G.
Pandanganku menyapu deretan buku bersampul tebal berwarna pudar. Di rak baris ketiga dari bawah, terselip buku ensiklopedia botani setebal batu bata yang posisinya sedikit lebih menjorok ke dalam dibanding buku-buku lainnya. Kalau kau menarik buku itu keluar, kau akan melihat ada celah sempit antara papan rak kayu dan dinding bata di belakangnya. Celah selebar dua jari, tersembunyi dengan sempurna dalam bayang-bayang.
Inilah "Jangkar"-ku. Titik nol. Tempat paling aman dari semua tempat persembunyian yang kumiliki. Sudah ada tiga suratku yang bersarang di dalam sana.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Lorong kosong. Aman.
Tangan kananku merogoh saku flanel, mengeluarkan surat baru yang tadi kutulis di kantin. Aku menarik ensiklopedia botani itu sedikit ke depan, menciptakan ruang yang cukup untuk tanganku masuk. Udara di dalam celah itu terasa lebih dingin dan berdebu.
Aku mendorong suratku masuk perlahan, berniat menyelipkannya di antara surat-surat lamaku. Jari telunjukku meraba kegelapan, mencari tumpukan persegi kecil kertas loose-leaf.
Namun, ada yang aneh.
Jariku memang menyentuh sesuatu. Sebuah lipatan kertas. Tapi teksturnya salah. Ini bukan kertas loose-leaf murah yang biasa kupakai. Permukaannya terasa sedikit lebih tebal, lebih kokoh, seperti kertas parchment kualitas baik.
Keningku berkerut. Aku menghentikan dorongan tanganku. Apakah ada mahasiswa lain yang juga iseng menyelipkan sampah di sini? Atau jangan-jangan, tanpa sengaja, ada orang yang menemukan tempat persembunyianku?
Rasa penasaran mengalahkan kewaspadaanku. Alih-alih memasukkan surat baruku, jari-jariku justru menjepit kertas asing itu dan menariknya keluar.
Aku mendorong ensiklopedia itu kembali ke posisi semula, lalu mundur selangkah, membawa kertas misterius itu ke bawah cahaya lampu yang lebih terang.
Jantungku tiba-tiba berdetak satu ketukan lebih cepat.
Kertas ini dilipat. Bukan sekadar digulung atau diremas, melainkan dilipat dengan presisi yang mengejutkan. Bentuknya bukan persegi seperti milikku, melainkan dilipat menyilang membentuk segitiga sama kaki yang rapi, mengingatkanku pada teknik melipat bendera atau origami. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada tulisan apa pun di bagian luarnya.
Aku menelan ludah. Ada suara di dalam kepalaku yang menyuruhku membuang kertas ini ke tempat sampah terdekat. Ini bukan urusanku. Mungkin ini cuma contekan ujian milik senior yang ketinggalan. Tapi tanganku seolah memiliki kehendaknya sendiri.
Dengan hati-hati, seolah takut kertas itu akan meledak, aku membuka lipatan pertama. Lalu lipatan kedua.
Kertas itu terbuka seutuhnya di telapak tanganku.
Bukan contekan. Bukan brosur. Ini sebuah pesan. Ditulis menggunakan tinta hitam yang pekat.
Tapi yang membuat napasku tertahan sejenak bukanlah fakta bahwa ada pesan di sana, melainkan bagaimana pesan itu ditulis.
Tulisan tangannya sangat rapi. Terlalu rapi. Tegak bersambung, efisien, dengan tekanan pena yang konsisten pada setiap goresannya. Sangat kontras dengan tulisan tanganku yang biasanya miring, berantakan, dan terkesan terburu-buru.
Namun... aneh.
Mataku terpaku pada huruf 'g' yang ekornya melengkung sedikit terlalu tajam ke kiri. Lalu huruf 'A' kapital di awal kalimat yang garis tengahnya tidak menyentuh tiang kanan.
Sebuah sensasi dingin merayap perlahan dari tengkuk, menyebar ke bahu dan tulang belakangku. Bulu kudukku meremang. Perutku melilit ringan, menciptakan mual yang aneh.
Ini bukan deja vu biasa. Ini adalah perasaan ketika kau melihat wajahmu sendiri di cermin, tapi bayangan itu berkedip sepersekian detik lebih lambat darimu. Asing, tapi menakutkan karena terasa terlalu familiar. Rasanya seperti melihat kerangka tulisan tanganku sendiri, tapi dalam versi yang jauh lebih dewasa, lebih tenang... dan lebih dingin. Seolah-olah seseorang telah mempelajari cara tanganku bergerak, membuang semua ketidakpastian dan getarannya, lalu menirunya dengan sempurna.
Tidak. Itu konyol. Aku menggelengkan kepala pelan, mengusir pikiran absurd itu. Tidak mungkin ada orang yang kurang kerjaan meniru gaya tulisan mahasiswa baru sepertiku. Ini pasti kebetulan. Hanya kebetulan visual yang menipu mataku di lorong temaram ini.
Aku menarik napas panjang, mencoba merasionalkan situasi. Oke, mari kita baca isinya. Mungkin ini cuma puisi patah hati milik mahasiswa sastra yang sok misterius.
Aku memfokuskan pandangan pada satu-satunya kalimat yang tertulis tepat di tengah-tengah kertas tebal itu. Pendek. Tidak ada basa-basi. Tidak ada tanggal.
Hanya sembilan kata.
Tapi sembilan kata itu cukup untuk membuat udara di lantai tiga perpustakaan ini mendadak terasa ditarik habis dari paru-paruku.
Tulisan rapi itu berbunyi:
“Jangan percaya orang yang kamu temui hari Kamis.”
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar