Ada pepatah lama yang bilang bahwa manusia bisa terbiasa dengan apa saja, termasuk ketakutan. Jika kau menempatkan seseorang di dalam ruangan yang gelap gulita, pada awalnya ia akan panik, meraba-raba dinding hingga jari-jarinya berdarah. Tapi jika kau membiarkannya cukup lama, matanya akan menyesuaikan diri. Ia mulai mengenali bentuk-bentuk dari balik bayangan. Ia mulai menghafal letak meja, kursi, dan sudut ruangan. Kegelapan tidak lagi membunuhnya; kegelapan menjadi rumahnya.
Sejak menemukan surat kedua itu, aku merasa sedang hidup di dalam ruangan gelap tersebut.
“Kalau dia melarangmu... dengarkan.”
Kalimat itu terpatri di balik kelopak mataku setiap kali aku mencoba tidur. Tinta hitamnya seolah merembes keluar dari kertas parchment tebal itu dan menetes lurus ke dalam sirkulasi darahku. Surat itu tidak lagi memperingatkanku untuk menjauhi Elang. Sebaliknya, surat itu menginstruksikanku untuk tunduk pada kata-katanya di suatu hari nanti, di saat segalanya terasa terlalu berat.
Siapa yang menulisnya? Logika berteriak bahwa ini adalah lelucon yang sangat, sangat terencana. Tapi intuisiku—bagian paling purba dari diriku yang biasanya memperingatkan bahaya sebelum otakku menyadarinya—mengatakan sebaliknya. Tulisan tangan itu adalah milikku. Sebuah versi dari diriku yang telah melewati neraka, yang tangannya tidak lagi bergetar oleh keraguan, yang telah belajar melipat kertas dengan kepresisian seorang pembunuh berdarah dingin. Diriku di masa depan sedang melemparkan tali keselamatan ke masa lalu, tapi tali itu terbuat dari kawat berduri.
Selama hampir sepekan, aku mengubah diriku menjadi hantu di kampusku sendiri.
Aku berhenti menjadi Anjani yang memiliki pola. Aku membatalkan jadwal belajarku di perpustakaan. Aku berhenti membeli kopi di kedai dekat fakultasku. Aku tidak lagi duduk di bangku taman, tidak lagi menunggu angkot di halte belakang. Selesai kelas, aku langsung pulang. Aku berjalan menunduk, memakai earphone tanpa menyalakan musik, hanya agar tidak ada yang mengajakku bicara.
Aku mencoba mengambil alih kendali. Jika "mereka"—entah itu Elang, surat itu, atau takdir itu sendiri—tahu ke mana aku akan pergi, maka aku harus pergi ke tempat yang bahkan aku sendiri tidak rencanakan. Aku membiarkan hidupku disetir oleh lemparan koin imajiner di dalam kepalaku. Belok kiri atau kanan? Kiri. Makan di kantin A atau B? Tidak keduanya, aku makan roti bungkus di lorong tangga darurat.
Aku kelelahan. Usaha untuk menjadi tidak terprediksi ternyata menguras lebih banyak tenaga daripada menjalani rutinitas yang membosankan.
Hingga tibalah hari Selasa di minggu berikutnya.
Hujan besar semalaman membuat beberapa titik di kampus Bogor ini tergenang air. Pohon-pohon kenari yang basah tampak menunduk berat, daun-daunnya yang gugur menempel di aspal seperti luka lebam yang berserakan. Udara sangat lembap, membuat paru-paru terasa berat setiap kali mengambil napas.
Kelas Pengantar Antropologi baru saja dibatalkan karena dosennya terjebak banjir di daerah Sentul. Aku berdiri di depan papan pengumuman fakultas, menatap secarik kertas pemberitahuan itu dengan pandangan kosong. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku punya waktu kosong selama empat jam sebelum kelas berikutnya.
Biasanya, aku akan ke perpustakaan. Tapi lantai tiga perpustakaan kini terasa seperti ladang ranjau.
Aku harus pergi ke tempat lain. Tempat yang tidak punya nilai emosional apa pun. Tempat yang benar-benar acak.
Kakiku melangkah tanpa tujuan pasti, membawaku menjauh dari hiruk-pikuk gedung utama. Aku melewati area parkir sepeda motor yang padat, menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah kebun percobaan milik Fakultas Pertanian. Udaranya di sini jauh lebih sepi. Hanya ada suara gesekan rumpun bambu yang tertiup angin basah dan kicau burung jalak di kejauhan.
Jalan setapak ini berujung pada sebuah kompleks rumah kaca tua yang sebagian besar kacanya sudah buram oleh lumut dan debu. Tempat ini tidak sepenuhnya terbengkalai, karena masih ada beberapa pot tanaman penelitian yang terawat di dalamnya, tapi mahasiswa umum jarang sekali lewat sini. Tidak ada Wi-Fi, tidak ada tempat duduk yang nyaman, hanya ada deretan meja beton panjang yang dipenuhi nampan-nampan semai, karung tanah, dan bau humus yang sangat menyengat.
Aku mendorong pintu berbingkai aluminium yang berderit pelan. Hawa di dalam rumah kaca sedikit lebih hangat dan sumpek dibandingkan di luar. Aku berjalan menyusuri lorong sempit di antara meja-meja beton, mencari sudut kosong untuk sekadar duduk dan menghabiskan roti tawarku.
Di ujung rumah kaca, ada ruang terbuka kecil tempat sebuah bak penampungan air berada. Di sana, duduk di atas karung pupuk kompos yang ditumpuk, dengan posisi membelakangi pintu masuk... adalah seseorang.
Langkahku terhenti. Hak sepatuku bergesekan dengan lantai semen yang berkerikil, menimbulkan suara berderit yang memecah keheningan rumah kaca.
Sosok itu memutar kepalanya perlahan.
Kemeja flanel pudar. Jaket kanvas yang hari ini disampirkan di pangkuannya. Rambut hitam yang sedikit berantakan.
Elang.
Jantungku anjlok ke dasar perut. Seketika, udara hangat di rumah kaca ini terasa menguap, digantikan oleh hawa dingin yang familiar. Roti tawar dalam genggamanku nyaris remuk karena cengkeraman tanganku yang menguat refleks.
Bagaimana bisa?
Aku tidak merencanakan ini. Sepuluh menit yang lalu, aku bahkan tidak tahu bahwa jalan setapak berbatu ini mengarah ke rumah kaca. Aku memilih rute ini karena ada genangan air besar di jalur utara, dan karena sekumpulan mahasiswa berisik menghalangi jalur selatan. Aku digiring oleh keadaan acak ke tempat yang acak pula.
Namun, laki-laki ini sudah ada di sini. Duduk tenang, menatapku tanpa keterkejutan sedikit pun. Mata gelapnya menangkap sosokku yang mematung di ujung lorong, dan untuk sedetik, aku melihat secercah rasa sakit melintas di sorot matanya sebelum dengan cepat disembunyikan di balik dinding ketenangannya yang absolut.
Insting pertamaku—seperti biasa—adalah melarikan diri. Berbalik, berlari sejauh mungkin, dan mengunci diri di kamar.
Tapi rasa lelahku sudah mengalahkan ketakutanku. Aku sudah berlari selama hampir dua minggu. Aku sudah membuang rutinitasku, menghancurkan kewarasanku, hanya untuk menghindari momen ini. Dan nyatanya, usahaku sia-sia. Masa depan membalas lebih dulu, bukan? Maka mungkin, satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan ini adalah dengan menghadapinya.
Aku menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa seperti serpihan kaca di tenggorokanku, dan memaksakan kakiku melangkah maju.
Setiap langkah terasa berat, seolah gravitasi di dalam rumah kaca ini menarikku mendekat kepadanya. Aku berhenti dua meter dari tempatnya duduk.
"Ini mulai nggak lucu," suaraku keluar lebih pelan dari yang kubayangkan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Hanya ada nada putus asa yang menyedihkan.
Elang tidak beringsut. Ia membiarkan tangannya yang kotor oleh sisa tanah beristirahat di atas lututnya. Ia menatapku dengan ketenangan yang menyiksa.
"Apa yang nggak lucu, Anjani?" Ia menyebut namaku lagi. Suaranya serak, rendah, dan menggetarkan udara di sekitarnya.
"Ini," aku menunjuk ke arahnya, lalu ke arah lantai rumah kaca, dan ke arah diriku sendiri. "Fakta bahwa aku sengaja mengambil jalan paling tidak masuk akal hari ini, ke tempat yang bahkan nggak pernah aku datangi sebelumnya... dan kamu sudah ada di sini. Menunggu."
Elang menundukkan pandangannya. Ia melihat ke arah ujung sepatunya yang berdebu. Hening membentang di antara kami, hanya diselingi oleh bunyi tetesan air dari atap kaca yang bocor jatuh ke genangan di lantai.
"Aku tidak menunggumu," jawabnya akhirnya. Suaranya tidak membela diri. Ia terdengar sangat lelah. "Aku sering ke sini. Tempat ini sepi. Udaranya hangat. Kalau sedang hujan lebat, suara rintiknya di atap kaca bisa meredam kebisingan di luar."
"Bohong." Aku melangkah maju satu langkah lagi, jarak kami kini hanya tersisa satu meter. "Di gazebo saat hujan. Di perpustakaan. Di kedai kopi. Di halte. Sekarang di sini. Kamu pikir aku sebodoh itu untuk percaya ini semua cuma kebetulan rotasi bumi?"
Ia mendongak, matanya menatap lurus ke dalam mataku. "Kalau aku bilang bahwa ini bukan kebetulan, apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan melaporkanku? Kamu akan berteriak?"
Pertanyaan itu membuatku terbungkam. Jika dia memang berniat jahat, mengapa dia tidak pernah mencoba memojokkanku? Mengapa dia tidak pernah tersenyum licik atau menunjukkan dominasi? Setiap kali kami berpapasan, aku yang selalu menghampirinya. Dia hanya... menjadi gravitasi yang menarikku masuk.
"Aku cuma mau tahu kenapa," bisikku, meremas ujung kemejaku sendiri. "Kamu tahu namaku. Kamu tahu alergi dinginku. Kamu tahu aku akan ada di sini, di setiap titik di mana aku merasa paling rapuh. Siapa kamu sebenarnya? Apa yang kamu mau dari aku?"
Tangan Elang perlahan terangkat. Ia memindahkan pot kecil berisi bibit tanaman paku dari sebelahnya ke lantai, lalu menepuk ruang kosong di atas tumpukan karung kompos yang ia duduki. Sebuah undangan bisu.
Otak logisku berteriak, memperingatkan bahwa duduk di samping orang yang dicurigai sebagai penguntit adalah ide terburuk di dunia. Tapi surat kedua itu berbunyi di kepalaku. Berhentilah menghabiskan energimu untuk membencinya. Dia tidak sedang mengikutimu.
Aku melangkah pelan, membiarkan pertahananku runtuh, lalu duduk di ruang kosong itu. Jarak kami sekarang hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma tubuhnya dengan jelas. Bau yang aneh dan menenangkan. Campuran antara wangi kayu cemara, tanah basah sehabis hujan, dan sesuatu yang lebih dalam—seperti bau buku lama yang halaman-halamannya menyimpan rahasia berabad-abad. Aroma itu sama sekali tidak mengancam. Aroma itu terasa seperti... rumah.
"Aku tidak menginginkan apa pun darimu, Anjani," suaranya memecah kesunyian yang intim itu, terdengar sangat dekat di telingaku. "Kalau aku bisa memilih, aku lebih suka kamu tidak pernah melihatku. Aku lebih suka menjadi bayangan yang tidak pernah kamu sadari keberadaannya."
"Lalu kenapa kamu selalu muncul di depanku?" aku menuntut, memutar tubuhku sedikit untuk menatap profil samping wajahnya. Rahangnya tegas, namun bibirnya terkatup rapat, menahan beban yang tak terlihat.
Elang memalingkan wajahnya, menatap ke deretan tanaman rambat di ujung ruangan. "Pernahkah kamu merasa ada hari-hari di mana pilihan yang kamu buat sebenarnya bukanlah pilihanmu sama sekali?" tanyanya tiba-tiba.
Keningku berkerut. Arah pembicaraan ini membuatku pusing. "Maksudmu?"
"Pernahkah kamu memutuskan untuk pergi ke kiri, tapi tiba-tiba ada genangan air yang menghalangimu, lalu ada anjing liar yang membuatmu ketakutan, dan pada akhirnya, kamu terpaksa pergi ke kanan? Kamu merasa kamu yang memilih jalan ke kanan, padahal sebenarnya, dunia di sekitarmu yang menutup semua pintu menuju sebelah kiri."
Napas terkesiap pelan di tenggorokanku. Analogi itu terlalu akurat. Itu persis seperti proses bagaimana aku bisa berakhir di rumah kaca ini hari ini. Aku tidak memilih rumah kaca. Jalan utama banjir, mahasiswa bergerombol menghalangi jalan pintas, kakiku lelah, dan akhirnya aku terdampar di sini.
"Aku tidak mengikutimu," lanjut Elang pelan, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut, namun menyiratkan kepedihan yang dalam. "Tapi sekeras apa pun aku mencoba mengambil rute yang berbeda... sekeras apa pun aku mencoba bersembunyi di tempat-tempat yang paling tidak masuk akal... langkah kita selalu bertabrakan. Seolah-olah waktu sedang melipat dirinya sendiri, hanya untuk memastikan kita berada di titik yang sama."
Aku menatapnya dengan lekat. Ada kejujuran yang sangat mentah di matanya. Kejujuran yang tidak bisa dipalsukan oleh penguntit manapun. Dia tidak berbohong. Fakta bahwa ia juga merasa terjebak dalam pusaran yang sama denganku membuatku merasa sedikit... tidak sendirian.
"Kamu percaya pada takdir?" tanyaku pelan.
Elang tersenyum kecil. Senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya. Senyuman yang sangat sedih. "Aku lebih percaya pada konsekuensi."
Kami kembali terdiam. Namun kali ini, keheningan di antara kami tidak lagi terasa canggung atau mengancam. Hujan di luar kembali turun, mengetuk-ngetuk atap kaca buram di atas kepala kami. Aku menatap ujung sepatu ketsku yang sedikit berlumpur. Dia menatap tangannya sendiri. Dua orang asing yang disatukan oleh benang merah yang tak kasat mata, duduk berdampingan di tengah reruntuhan rumah kaca tua.
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Rasa takut yang selama berhari-hari mencengkeram dadaku mengendur begitu saja, digantikan oleh rasa nyaman yang sangat ganjil. Di dekatnya, di sebelahnya, aku tidak perlu berpura-pura menjadi mahasiswi baru yang kuat dan tangguh. Aku tidak perlu memaksakan diri mencari jawaban. Kehadirannya tidak menuntut apa-apa dariku. Dia seperti benteng diam yang menyerap semua kebisingan di sekitarku.
Aku menyadari bahwa aku mulai menyukai bahunya yang sedikit turun, menenangkan posturnya yang tegas. Aku menyukai cara ia bernapas lambat dan teratur, seolah berusaha menstabilkan denyut nadiku sendiri. Ada percikan tak terlihat di antara kami. Sebuah gravitasi yang lebih intim. Chemistry yang lahir bukan dari tatapan menggoda atau percakapan genit, melainkan dari penderitaan dan kebingungan yang dibagi bersama.
"Tanganmu gemetar," ucapnya tiba-tiba, memecah lamunanku.
Aku menunduk. Ia benar. Tangan kiriku yang memegang roti tawar bergetar halus. Bukan karena takut, tapi karena hawa basah dari pakaianku perlahan meresap masuk, memicu rasa ngilu di sendiku.
Tanpa meminta izin, Elang bergerak. Ia tidak menyentuh tanganku. Alih-alih, ia mengambil jaket kanvas yang sedari tadi berada di pangkuannya, mengibaskannya pelan, lalu menyampirkannya ke bahuku.
Gerakannya sangat hati-hati, memastikan jari-jarinya sama sekali tidak bersentuhan dengan kulit leherku. Jaket itu kebesaran, menenggelamkan tubuhku. Aroma kayu dan hujan langsung menguar kuat, menyelimutiku dengan kehangatan yang instan.
"Pakai itu," katanya, pandangannya kembali menatap lurus ke depan. "Kamu alergi dingin. Kalau persendianmu mulai sakit, kamu akan kesulitan berjalan kembali ke kelasmu nanti."
Aku menarik kerah jaket itu lebih rapat ke tubuhku. Lidahku kelu. Ada seribu pertanyaan yang ingin kuajukan, tapi tidak ada satu pun yang berhasil keluar. Aku hanya bisa mengangguk pelan, sebuah isyarat terima kasih yang rapuh.
Kami duduk seperti itu selama hampir satu jam. Tidak banyak bicara. Sesekali ia menunjuk beberapa tanaman yang terlihat unik, menjelaskan nama Latinnya dengan suara rendah, dan aku mendengarkannya. Aku tidak tahu dari jurusan apa ia berasal, atau semester berapa, atau mengapa ia memiliki begitu banyak waktu luang. Aku membiarkan misteri itu tetap menjadi misteri untuk sementara waktu.
Ketika jam di ponselku menunjukkan pukul satu siang, aku tahu aku harus pergi. Kelas penggganti akan segera dimulai.
Aku berdiri perlahan, merapikan jaketnya yang masih menempel di tubuhku. "Aku harus pergi."
Elang mendongak. Ia mengangguk sekali. "Berhati-hatilah saat berjalan di area proyek pembangunan gedung pascasarjana. Tanah liat di sana licin. Jangan lewat sana."
Aku tertegun. Mengapa ia tiba-tiba memberiku instruksi rute?
Tapi mengingat semua yang telah terjadi, mengingat betapa ia selalu benar tentang hal-hal kecil di sekitarku, aku memutuskan untuk tidak membantah.
"Oke," jawabku pelan. Aku mulai melangkah menjauh. Setelah lima langkah, aku menoleh ke belakang. "Jaketmu... nanti aku kembalikan di mana?"
Elang membalas tatapanku dari kejauhan. Wajahnya tertutup bayang-bayang rumah kaca. "Tidak perlu mencariku," jawabnya serak. "Aku yang akan ada di sana."
Kalimat itu, anehnya, tidak lagi terdengar seperti ancaman. Kalimat itu terdengar seperti sebuah janji. Sebuah kepastian yang menyedihkan.
Aku keluar dari rumah kaca, kembali menerjang udara siang yang mendung. Jaket kanvasnya memeluk tubuhku, memberiku keberanian ekstra untuk menghadapi kampus yang luas ini. Aku tidak merasa tersesat lagi. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, kepalaku terasa jernih.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak, menuju gedung utamaku. Saat aku mendekati perempatan kampus, aku teringat pesannya. Jangan lewat area proyek pascasarjana. Itu adalah rute pintas tercepat. Jika aku memutar, aku harus melewati area kafetaria yang berisik dan lebih jauh. Tapi aku mengingat sorot matanya yang lelah dan peringatannya yang tenang. Aku memutuskan untuk menurut. Aku mengambil jalan memutar.
Lima belas menit kemudian, saat aku sedang duduk di kelas menunggu dosen masuk, ponsel di dalam saku celanaku bergetar. Sebuah notifikasi dari grup angkatan muncul di layar.
PENGUMUMAN PENTING: Untuk teman-teman, harap hindari jalur proyek pascasarjana. Baru saja ada perancah baja yang ambruk menutupi jalan setapak karena tanah licin. Ada dua mahasiswa teknik yang luka ringan terkena pecahan material. Rute ditutup sementara.
Napasku tercekat. Layar ponsel terasa dingin di telapak tanganku.
Perancah baja ambruk. Di rute pintas yang biasanya aku lewati tepat pada jam segini.
Aku memejamkan mata erat-erat. Jaket kanvas yang kukenakan kini terasa seperti baju zirah yang baru saja menyelamatkanku dari kematian.
Bagaimana Elang tahu? Apakah ia melihat tanda-tanda tanah licin sebelumnya? Ataukah ia tahu karena... ia memang tahu?
Tiba-tiba, seperti potongan puzzle yang dipaksa masuk ke tempatnya, semuanya menjadi jelas. Terlalu jelas hingga membuatku ingin muntah.
Pertanyaan Elang di rumah kaca kembali berputar di kepalaku. Pernahkah kamu memutuskan untuk pergi ke kiri, tapi tiba-tiba ada genangan air, ada anjing liar... dan dunia di sekitarmu yang menutup semua pintu?
Aku mengingat kembali rentetan kejadian pagiku. Kelas dibatalkan. Jalan utara banjir. Jalan selatan diblokir kerumunan. Aku didorong masuk ke rumah kaca. Aku dipertemukan dengannya. Aku diberi jaketnya. Dan akhirnya, aku diberi peringatan yang mencegahku hancur tertimpa besi perancah.
Surat itu. Kalimat di surat kedua.
“Kalau dia melarangmu... dengarkan.”
Seluruh tubuhku gemetar. Aku menatap kosong ke arah papan tulis di depan kelas yang masih bersih.
Aku bukan sekadar sedang berpapasan secara kebetulan dengan laki-laki bernama Elang. Aku tidak sedang mencari tahu siapa pengirim surat rahasia di lantai tiga perpustakaan.
Kejadian-kejadian acak ini bukanlah kebetulan. Peringatan-peringatan itu bukan sekadar tebakan.
Dunia di sekitarku benar-benar sedang mengatur rutenya. Hujan turun di waktu yang tepat. Kelas dibatalkan di waktu yang tepat. Jalan diblokir di waktu yang tepat. Semua diatur agar aku tidak punya pilihan lain selain bergerak menuju arah yang sudah ditentukan.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk menahan air mata ketakutan yang mendesak keluar. Aku bukan penulis hidupku sendiri lagi. Aku adalah bidak catur yang sedang dipindahkan ke posisi tertentu oleh sebuah tangan tak kasat mata dari masa depan.
Aku sedang diarahkan.
Dan aku tidak tahu, pada akhir papan catur ini, apakah tangan tak kasat mata itu sedang berusaha menyelamatkanku... atau sedang mengantarkanku pada kehancuran yang lebih besar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar