Payung hitam itu tergeletak di sudut kamarku layaknya sebuah artefak dari dimensi lain.
Selama akhir pekan, aku nyaris tidak menyentuhnya. Benda itu kubiarkan bersandar pada dinding dekat pintu, gagangnya yang melengkung terbuat dari kayu gelap tampak kontras dengan warna cat kamarku yang pudar. Terkadang, saat aku sedang mengetik tugas atau sekadar membolak-balik halaman buku referensi, mataku tanpa sadar tertuju pada benda itu. Dan setiap kali itu terjadi, pertahanan logikaku kembali goyah.
“Kamu punya alergi dingin yang selalu menyerang persendianmu...”
Suara seraknya yang berat terus mengiang di kepalaku, berputar seperti kaset rusak yang menolak dihentikan. Berulang kali aku mencoba membongkar ingatanku sendiri. Apakah aku pernah membicarakan hal itu di telepon saat di kampus? Apakah aku pernah menuliskannya di media sosial yang entah bagaimana ia temukan? Apakah ada teman SMA-ku di kampus ini yang membocorkannya?
Nihil. Nenekku sudah meninggal lima tahun lalu, dan sejak saat itu, aku nyaris tidak pernah mengeluhkan rasa ngilu di lututku kepada siapa pun, bahkan kepada ibuku sendiri. Aku hanya meredamnya dengan memakai celana panjang tebal atau meminum obat pereda nyeri secara diam-diam.
Laki-laki itu... mengetahui sesuatu yang seharunya tidak mungkin ia ketahui.
Hari Senin tiba dengan langit abu-abu pucat khas Bogor. Aku memasukkan payung hitam itu ke dalam tote bag kanvasku. Ujungnya menyembul keluar, sebuah pengingat fisik bahwa aku memiliki urusan yang belum selesai. Rencananya sederhana: aku akan membawanya ke kampus, dan jika peringatan dari surat misterius itu benar—bahwa aku harus berhati-hati terhadapnya—maka laki-laki itu pasti akan mencariku. Penguntit, orang iseng, atau siapa pun yang punya niat tersembunyi, pasti membutuhkan alasan untuk kembali mendekat. Payung ini adalah alibinya yang paling sempurna.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, tubuhku berada dalam mode siaga penuh. Setiap kali ada bayangan tinggi dengan jaket gelap lewat di sudut mataku, otot leherku menegang. Aku melangkah menyusuri lorong fakultas dengan langkah cepat, mataku menyapu wajah-wajah yang duduk di bangku taman, yang mengantre di depan loket tata usaha, dan yang berkerumun di depan ruang kelas.
Aku mempersiapkan berbagai skenario di kepalaku. Jika ia tiba-tiba muncul dan mencoba menanyakan jadwalku, aku akan langsung menjawab dengan ketus. Jika ia mencoba bersikap sok akrab berbekal pengetahuannya tentang kesehatanku, aku tidak akan segan-segan mengancamnya untuk lapor ke satpam kampus. Aku sudah menyusun kalimat penolakan yang tegas, tajam, dan tidak menyisakan ruang untuk kompromi.
Namun, hingga jam makan siang berlalu, skenario-skenario pertahanan itu hanya membusuk di dalam kepalaku.
Dia tidak muncul.
Tidak ada yang mencegatku di lorong. Tidak ada yang diam-diam mengikutiku dari belakang. Tidak ada yang menatapku dari kejauhan dengan tatapan mengintimidasi. Kampus berjalan senormal biasanya. Mahasiswa berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing, tak satu pun dari mereka peduli pada mahasiswi baru yang sedang mencengkeram erat tali tote bag-nya dengan wajah tegang.
Ketegangan yang tidak menemukan pelampiasan akhirnya berubah menjadi kelelahan. Selepas mata kuliah kedua, aku memutuskan untuk pergi ke Perpustakaan Pusat. Bukan ke lantai tiga tempat "jangkar" suratku berada, melainkan ke lantai dua, ke ruang baca terbuka yang terang dan dipenuhi meja-meja komunal. Aku butuh ketenangan yang wajar untuk mendinginkan kepalaku.
Aku mendorong pintu kaca ganda perpustakaan. Udara sejuk beraroma kertas tua menyapaku. Aku berjalan pelan menyusuri deretan meja panjang, mataku mencari tempat kosong yang strategis—tidak terlalu di tengah, tapi juga tidak membelakangi pintu masuk.
Langkahku terhenti seketika di dekat rak ensiklopedia umum.
Di sana. Di meja pojok dekat jendela besar yang menghadap ke area parkir belakang.
Itu dia.
Laki-laki hari Kamis.
Ia tidak mengenakan jaket kanvas gelapnya hari ini. Ia memakai kemeja flanel pudar berlengan panjang yang lengannya digulung asal-asalan hingga siku. Ia sedang duduk diam, kepalanya menunduk menatap sebuah buku tebal yang terbuka di depannya. Tangan kanannya memegang sebuah pensil mekanik, sesekali membuat coretan kecil di tepi halaman.
Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang, memompa darah dengan kecepatan yang membuat telingaku sedikit berdenging.
Ini dia kesempatannya. Insting pertamaku adalah berbalik dan pergi dari sana. Menjauhinya seperti instruksi surat pertama yang kutemukan. Jangan percaya. Tapi payung hitam di dalam tasku terasa semakin berat, menuntut untuk segera dikembalikan agar aku tidak punya ikatan apa pun lagi dengannya.
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanianku. Aku melangkah mendekat. Hak sepatuku bergesekan pelan dengan karpet peredam suara, sebuah ritme pelan yang mengiringi langkahku menuju meja pojok itu.
Ia tidak mengangkat kepalanya, bahkan ketika aku sudah berdiri kurang dari satu meter di depannya. Konsentrasinya pada buku itu seolah tidak tertembus oleh kehadiran orang lain.
"Permisi," suaraku keluar lebih pelan dari yang kurencanakan, sedikit serak karena tenggorokanku yang mendadak kering.
Ujung pensilnya berhenti bergerak. Detik berikutnya, ia perlahan mengangkat kepalanya.
Ketika tatapan kami akhirnya bertemu, aku kembali dihadapkan pada sensasi yang sama seperti saat di gazebo tempo hari. Tidak ada keterkejutan di matanya. Tidak ada seringai licik. Tidak ada kilat antusiasme seperti seseorang yang rencananya berhasil. Mata gelapnya hanya menatapku dengan ketenangan yang dalam dan melelahkan, seolah kehadiranku di depannya adalah sebuah kepastian yang sudah ia tunggu, namun tidak terlalu ia harapkan.
Aku mengeluarkan payung lipat hitam itu dari dalam tas, meletakkannya di atas meja dengan gerakan agak kaku, seolah benda itu bisa menggigit.
"Ini payungnya," kataku, berusaha menjaga agar nadaku terdengar netral dan final. "Terima kasih buat yang waktu itu. Aku sengaja bawa hari ini buat dikembalikan."
Aku menahan napas, menunggu responsnya. Ini adalah momen di mana laki-laki asing biasanya akan menggunakan kesempatan untuk memperpanjang percakapan. Sama-sama, oh ya, nama kamu siapa? Boleh minta nomor HP? Mau duduk dulu? Aku sudah siap menembakkan dinding pertahananku.
Namun, ia tidak melakukan satu pun dari hal-hal itu.
Ia menatap payung hitam itu sejenak, lalu menggesernya mendekat ke arah tumpukan bukunya. Gerakannya pelan, sama sekali tidak berusaha untuk menyentuh tanganku yang baru saja menarik diri dari meja.
"Sama-sama," jawabnya. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, sebuah gumaman yang lebih mirip embusan napas panjang.
Dan itu saja.
Ia kembali menundukkan kepalanya, mengarahkan matanya pada deretan teks di buku tebalnya. Ia bahkan tidak mencoba tersenyum atau berbasa-basi. Ia menutup interaksi itu dengan sempurna, membangun kembali dinding transparan yang memisahkan keberadaannya dengan dunia luar.
Aku berdiri di sana selama beberapa detik, membeku dalam kebingungan yang absolut. Kalimat-kalimat tajam yang sudah kusiapkan di kepalaku kini terasa seperti amunisi bodoh yang sama sekali tidak memiliki target.
"Elang."
Sebuah suara memecah keheningan yang canggung itu. Seorang petugas perpustakaan setengah baya berjalan menghampiri meja kami, membawa dua buah buku tebal bersampul kulit tua.
"Buku referensi arsitektur yang kamu request kemarin sudah ketemu di gudang bawah. Tapi nggak bisa dipinjam bawa pulang ya, harus dibaca di sini," kata petugas itu sambil meletakkan buku-buku tersebut di meja.
Laki-laki itu—Elang—mendongak dan mengangguk pelan. "Iya, Pak. Terima kasih banyak. Saya baca di sini saja."
Elang.
Jadi itu namanya. Nama yang terdengar liar dan bebas, namun entah kenapa terasa sangat kontradiktif dengan pembawaannya yang begitu tertahan dan berat.
Petugas itu berlalu. Elang kembali pada bukunya. Aku menyadari betapa bodohnya aku masih berdiri di sana seperti patung. Dengan perasaan campur aduk antara lega dan kekecewaan yang aneh, aku membalikkan badan dan berjalan cepat menuju deretan rak terdekat, mencari tempat duduk yang sejauh mungkin dari sudutnya.
Selama satu jam berikutnya, aku mencoba fokus pada paper Sosiologiku. Namun, mataku berulang kali mengkhianatiku, mencuri pandang ke arah meja pojok itu dari balik celah susunan buku.
Elang tidak pernah sekali pun menoleh ke arahku. Ia tidak sedang mengawasiku. Ia benar-benar membaca, mencatat, dan tenggelam dalam dunianya sendiri.
Ini tidak masuk akal.
Jika peringatan dari surat misterius itu benar, jika dia adalah ancaman, mengapa dia bersikap seolah aku hanyalah angin lalu? Orang jahat memiliki motif. Penguntit memiliki obsesi. Laki-laki ini... ia memilikiku dalam radar pengetahuannya yang spesifik, ia tahu rahasiaku, namun ia sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk memasuki kehidupanku. Dinamika ini menghancurkan semua logika survival yang kupahami.
Kejanggalan itu tidak berhenti di perpustakaan.
Dua hari kemudian, pada hari Rabu, jadwalku kacau. Dosen matrikulasi membatalkan kelas mendadak, membuatku memiliki waktu luang tiga jam di tengah hari. Kantin fakultas terlalu penuh dan bising, jadi aku memutuskan untuk mencari tempat yang jarang kudatangi. Aku berjalan keluar dari area kampus, menyusuri trotoar menuju sebuah kedai kopi kecil bernuansa kayu yang nyaris tidak terlihat dari jalan raya karena tertutup rindangnya pohon rambutan. Tempat ini mahal untuk ukuran dompet mahasiswa, jadi aku yakin tempat ini pasti sepi.
Aku mendorong pintu kaca kedai. Lonceng kecil berbunyi di atas kepalaku. Aroma biji kopi yang baru digiling dan roti panggang langsung menyergap penciumanku. Tempat ini memang sepi, hanya ada barista di balik konter dan satu pelanggan yang duduk di pojok paling jauh, membelakangi jendela.
Langkahku terhenti. Napasku kembali tertahan.
Satu pelanggan itu mengenakan jaket kanvas gelap. Segelas americano yang esnya sudah setengah mencair berada di mejanya. Ia sedang menatap layar laptopnya dengan dahi sedikit berkerut.
Elang.
Bulu kudukku seketika meremang. Aku mundur selangkah, nyaris menabrak pintu kaca di belakangku. Pikiranku berputar dengan liar. Apakah ia mengikutiku? Tidak, tidak mungkin. Jalanan dari kampus ke sini cukup sepi, aku pasti akan menyadarinya jika ada yang membuntutiku. Lagi pula, es di dalam gelasnya membuktikan bahwa ia sudah berada di kedai ini jauh sebelum aku memutuskan untuk membatalkan rencanaku ke kantin.
Aku memutuskan untuk berbalik dan keluar sebelum ia menyadariku. Aku tidak bisa menghadapi kebetulan yang mengerikan ini lagi.
Sepanjang sisa minggu itu, polanya mulai terbentuk dengan sangat jelas, dan pola itu membuat perutku mual oleh ketakutan yang tidak rasional.
Hari Kamis sore, aku memutuskan untuk pulang lebih lambat karena malas berdesakan di angkot. Aku duduk di halte sepi di belakang area Fakultas Teknik. Sepuluh menit kemudian, aku menyadari ada sosok yang duduk di ujung halte yang berlawanan. Terhalang oleh tiang pembatas, hanya terlihat punggungnya. Kemeja flanel pudar. Elang. Ia tidak menyapaku. Ia bahkan tidak menoleh saat aku buru-buru naik ke angkot pertama yang lewat, mengabaikan fakta bahwa rutenya salah.
Jumat pagi, aku mengambil jalan memutar ke gedung kuliah untuk menghindari lorong utama yang selalu banjir saat semalam turun hujan. Jalur ini melewati area parkir staf yang nyaris tidak pernah dilewati mahasiswa. Saat aku berbelok di tikungan gedung lab bahasa, aku melihatnya. Ia sedang bersandar pada pagar pembatas besi, menatap langit abu-abu, seolah sudah berdiri di sana sejak fajar.
Itu adalah momen di mana segalanya terasa salah. Sangat salah.
Sebuah pola penguntitan selalu melibatkan gerakan dari belakang. Seseorang melihatmu, menginginkan sesuatu darimu, lalu mengikutimu dari titik A ke titik B. Jarak antara kau dan penguntitmu ditentukan oleh kecepatan langkahmu dan kelengahannya.
Tapi dinamika dengan Elang tidak bekerja seperti itu.
Ia tidak pernah mengejarku. Ia tidak pernah mempercepat langkahnya untuk menyamai ritmeku. Ia tidak pernah tiba-tiba muncul dari arah belakang, menepuk pundakku, atau memanggil namaku.
Setiap kali aku tanpa sengaja berpapasan dengannya di lokasi-lokasi sepi dan spesifik yang bahkan aku sendiri putuskan secara mendadak... ia sudah ada di sana.
Ia tidak berjalan menuju ke arahku. Ia hanya... ada. Duduk, berdiri, membaca, menatap kosong. Kehadirannya begitu statis, begitu minim usaha, namun sangat presisi.
Malam harinya, aku duduk di tepi kasur, menatap kosong ke arah dinding kamarku yang bisu. Udara Bogor kembali terasa dingin, tapi kali ini rasa menggigil itu tidak berasal dari cuaca.
Aku kembali mengingat surat tebal berbentuk segitiga rapi yang kuselipkan di dalam buku Sosiologiku.
Jangan percaya orang yang kamu temui hari Kamis.
Aku mulai menyadari hal yang paling menakutkan dari laki-laki bernama Elang ini. Ketakutanku padanya bukan karena ia terlihat berbahaya, bukan karena ia bersikap obsesif, dan bukan karena ia mencoba menembus ruang pribadiku secara paksa.
Ketakutanku padanya lahir dari sebuah kesadaran yang perlahan mencekik kewarasanku.
Elang tidak sedang mengikutiku ke tempat-tempat yang aku tuju.
Laki-laki itu... ia sedang menungguku di masa depan yang bahkan belum sempat aku putuskan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar