Kertas tebal itu tergeletak di atas meja belajarku yang terbuat dari serbuk kayu murah, tepat di sebelah tumpukan buku diktat dan segelas air putih yang mulai mengembun.

Selama dua hari—Selasa dan Rabu—aku membiarkannya di sana. Aku tidak membuangnya, tapi aku juga tidak berani menyentuhnya lagi. Setiap kali mataku tanpa sengaja menangkap bentuk segitiga rapi itu, ada sensasi dingin yang merayap di tengkukku. Namun, otak manusia punya mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak masuk akal, pikiran rasional akan bekerja mati-matian untuk mencari pembenaran paling logis, betapapun memaksanya pembenaran itu.

Itu cuma kebetulan, batinku berulang kali saat menggosok gigi, saat duduk di dalam angkot, atau saat menunggu dosen masuk ke kelas.

Kampus ini menampung belasan ribu mahasiswa. Pasti ada satu atau dua orang kurang kerjaan yang suka menyelipkan pesan acak di buku-buku perpustakaan tua sebagai bentuk eksperimen sosial, atau sekadar lelucon garing anak jurusan Sastra. Mungkin ada mahasiswa yang melihatku menyembunyikan sesuatu di celah rak, lalu iseng menukarnya. Dan soal kalimat peringatan tentang 'Hari Kamis' itu? Itu hanya teknik psikologis murah. Sama seperti ramalan zodiak di majalah remaja yang menggunakan kalimat ambigu agar terasa relevan bagi siapa saja yang membacanya.

Pada Rabu malam, saat hujan rintik kembali membasahi atap indekosku, aku mengambil keputusan. Aku menyelipkan kertas segitiga itu ke dalam halaman belakang buku Pengantar Sosiologi-ku, menutupnya rapat-rapat, dan menumpuknya di bawah buku-buku lain.

Selesai. Out of sight, out of mind. Aku menolak membiarkan sebuah kertas antah-berantah merusak rutinitasku yang baru saja mulai tertata. Aku punya paper yang harus diselesaikan, aku punya jadwal kuliah yang padat, dan aku sama sekali tidak punya waktu untuk meladeni permainan teka-teki misterius.

Lalu, hari Kamis pun datang.

Seharusnya, ini adalah hari yang biasa. Namun, sejak aku membuka mata pada pukul lima pagi, udara di kamarku terasa... berbeda. Ada kelembapan yang sedikit lebih berat, dan keheningan yang terasa sedikit menekan telinga.

Saat aku melangkah keluar dari gerbang indekos untuk mencari sarapan, aku merasakan sentakan kecil di dadaku. Sebuah perasaan familier yang datang tiba-tiba. Déjà vu. Aku merasa seolah aku sudah pernah berdiri di titik ini, menatap kabut tipis yang menggantung di atas tiang listrik, menunggu angkot biru dengan nomor trayek 02 lewat. Aku bahkan tahu, tepat sebelum angkot itu muncul di tikungan, akan ada seekor kucing kampung berwarna belang tiga yang melompat dari atas pagar rumah tetangga.

Satu detik berlalu. Dua detik. Tiga detik.

Kucing belang tiga itu benar-benar melompat, mendarat dengan mulus di trotoar, dan tepat di belakangnya, suara mesin angkot yang kasar terdengar mendekat.

Napasku tertahan sejenak. Aku mengerjap, menggelengkan kepala kuat-kuat. Fokus, Anjani. Jangan biarkan sugesti murahan dari secarik kertas merusak kewarasanmu. Aku segera naik ke angkot, membayar ongkos dengan uang pas, dan memakai earphone untuk meredam pikiran-pikiranku sendiri.

Kuliah berjalan seperti biasa. Dosen berbicara panjang lebar tentang teori-teori yang lebih sering membuatku menguap daripada mencatat. Sesekali, pikiranku melayang kembali pada pesan itu. Jangan percaya orang yang kamu temui hari Kamis. Sepanjang hari, aku mendapati diriku tanpa sadar menatap wajah teman-teman sekelasku, wajah kasir di kantin, bahkan wajah petugas kebersihan di lorong. Apakah ini orangnya? Atau yang itu?

Konyol. Menjelang sore, aku mulai menertawakan paranoiaku sendiri. Hari Kamis hampir berakhir dan tidak ada satupun hal aneh atau berbahaya yang terjadi. Kehidupanku masih membosankan seperti biasa. Tidak ada konspirasi, tidak ada lelaki misterius yang mencoba menipuku.

Jam menunjukkan pukul empat sore ketika kelas terakhirku usai. Seperti sudah menjadi tradisi tak tertulis di Bogor, langit yang sejak siang menahan napas akhirnya memuntahkan beban airnya. Bukan gerimis, melainkan hujan lebat yang turun bagai tirai putih tebal, menghapus jarak pandang dan mengubah suhu udara menjadi anjlok dalam hitungan menit.

Aku terjebak.

Posisi saat hujan turun tidak terlalu menguntungkan. Aku sedang berjalan memotong jalur melewati area taman dekat danau kampus yang rimbun oleh pohon-pohon kenari tua. Satu-satunya tempat berteduh yang terdekat adalah sebuah gazebo kayu tua beratap genteng yang sudah memudar warnanya. Tempat ini biasanya sepi karena letaknya yang agak tersembunyi dari jalur utama mahasiswa.

Aku berlari kecil menerobos sisa jarak, berteduh di bawah atap gazebo seraya mengibas-ngibaskan air dari bahu kemejaku. Udara di sini jauh lebih dingin karena embusan angin yang membawa tempias air dari arah danau. Aku memeluk tubuhku sendiri, mengusap lengan yang mulai merinding.

Hanya ada suara hujan yang menderu menghantam dedaunan dan atap genteng. Aku memejamkan mata sejenak, menikmati aroma petrichor—wangi tanah kering yang tersiram hujan. Terlepas dari rasa dingin yang mulai menggigit kulit, ada ketenangan aneh saat kau terisolasi oleh hujan lebat. Kau tidak perlu pergi ke mana-mana, dan tidak ada yang memaksamu untuk bergegas.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Samar-samar, dari balik tirai hujan, aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Langkah yang pelan, tidak terburu-buru, terdengar berat menginjak kerikil basah.

Mataku terbuka. Seseorang melangkah naik ke lantai kayu gazebo.

Dia seorang laki-laki. Tingginya mungkin sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, mengenakan jaket kanvas berwarna gelap yang bahunya sudah basah kuyup. Rambut hitamnya sedikit berantakan, menempel di dahi karena air hujan.

Seketika, setiap otot di tubuhku menegang. Peringatan dari surat itu berteriak di dalam kepalaku bagai alarm kebakaran. Hari Kamis. Lelaki. Aku refleks mundur satu langkah, mendekatkan punggungku ke tiang penyangga gazebo. Tanganku tanpa sadar mencengkeram erat tali tas ranselku. Jika dia melakukan gerakan yang mencurigakan, aku sudah menimbang-nimbang untuk nekat berlari menembus hujan kembali ke gedung fakultas.

Namun, dia sama sekali tidak bertingkah seperti ancaman.

Dia bahkan tidak menatapku. Lelaki itu hanya berdiri di sisi lain gazebo, menjaga jarak sekitar dua meter dariku. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, tatapannya lurus ke depan, menembus rintik hujan yang jatuh ke permukaan danau.

Aku mencuri pandang ke arahnya. Wajahnya dilihat dari samping terlihat tegas, tapi bukan tipe ketegasan yang mengintimidasi. Ada guratan kelelahan yang sangat dalam di sekitar matanya. Bahunya sedikit menurun, posturnya sama sekali tidak menunjukkan agresi. Ia tidak sibuk mengecek ponsel, tidak mengeluh tentang cuaca, tidak melakukan apa pun yang biasa dilakukan orang saat terjebak hujan. Ia hanya diam. Diam yang sangat absolut.

Kehadirannya... aneh.

Biasanya, berdiri berdua dengan orang asing di tempat sepi akan memicu rasa canggung atau waspada yang berlebihan. Tapi entah kenapa, setelah beberapa menit berlalu, ketegangan di bahuku perlahan mengendur. Udara di sekitarnya terasa stabil. Keheningan yang ia bawa bukanlah keheningan yang mencekik, melainkan keheningan yang menyerap segala kepanikan. Ada perasaan familier yang merayap di dadaku, perasaan aman yang tidak logis dan sama sekali tidak punya dasar. Seolah-olah gravitasi di sekitarnya sedikit lebih berat, membuat segalanya terasa lebih tenang.

Aku menggeleng pelan, mengusir pikiran itu. Aku tidak mengenalnya. Peringatan di surat itu mungkin omong kosong, tapi aku tidak boleh menurunkan kewaspadaanku.

Angin berembus cukup kencang, membawa kabut tipis dan tempias hujan langsung ke arah kami. Aku menggigil. Rasa dingin ini mulai tidak nyaman. Aku meremas ujung lenganku, mencoba mempertahankan sisa kehangatan tubuh.

Tiba-tiba, terdengar suara tarikan napas panjang dari arahnya. Sebuah desahan napas yang terdengar sangat berat, sangat lelah, seolah ia baru saja membawa beban mendaki gunung yang sangat tinggi.

Lelaki itu bergerak.

Aku kembali menegang. Mataku waspada mengikuti gerakannya. Ia melepaskan satu tangan dari saku jaketnya, lalu merogoh ke dalam tas selempang yang tersembunyi di balik jaketnya. Apa yang dia cari?

Ia mengeluarkan sebuah payung lipat berwarna hitam pekat. Tanpa menoleh kepadaku, ia melangkah satu langkah mendekat, lalu meletakkan payung itu di atas bangku kayu panjang yang memisahkan kami.

Ia melepaskan tangannya dari gagang payung itu dan kembali mundur ke posisinya semula.

Aku menatap payung hitam itu, lalu menatapnya. Kebingungan merajai kepalaku.

"Pakailah."

Suaranya terdengar untuk pertama kalinya. Nadanya rendah, serak, dan sangat pelan. Nyaris tenggelam oleh suara hujan. Namun, ada getaran aneh dalam intonasinya. Bukan nada memaksa, bukan juga nada merayu ala senior yang sedang mendekati mahasiswi baru. Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang mengucapkan salam perpisahan.

Aku terdiam beberapa detik, mencoba mencerna situasinya. "Eh? Nggak usah, Kak," jawabku, berusaha menjaga suaraku agar tidak terdengar bergetar. "Aku... aku nunggu reda aja."

Ia tidak langsung membalas. Ia masih menatap lurus ke arah hujan, dadanya naik turun dalam ritme yang lambat.

"Hujan ini baru akan benar-benar reda lewat jam tujuh malam," katanya, suaranya masih sama pelan dan datarnya. "Kalau kamu memaksakan diri berdiri di sini lebih lama lagi, kamu akan sakit."

Aku mengerutkan kening. Kepercayaan diriku sedikit tersentil. Aku sama sekali tidak suka diatur oleh orang asing.

"Terima kasih tawarannya, tapi aku serius nggak apa-apa," paksaku, suaraku sedikit lebih tegas sekarang. "Lagian, kalau payungnya aku pakai, Kakak pulangnya gimana? Aku lebih suka nunggu."

Baru pada saat itulah, ia memalingkan wajahnya dan menatapku.

Gerakannya lambat. Dan ketika mata gelapnya akhirnya bertemu dengan mataku, ada sesuatu yang meremukkan di dalam sana. Sorot matanya tidak tajam, melainkan penuh dengan keputusasaan yang tertahan. Ia menatapku bukan seperti menatap orang asing, melainkan seperti menatap sebuah kenangan rapuh yang mati-matian ia coba pertahankan agar tidak pecah. Tatapan itu begitu intim, begitu dalam, hingga aku merasa seolah paru-paruku berhenti bekerja selama sepersekian detik.

"Lagi pula..." suaranya kini terdengar sangat lirih, nyaris seperti bisikan yang menyakitkan untuk diucapkan. "...kamu punya alergi dingin yang selalu menyerang persendianmu kalau suhunya turun seperti sekarang, kan, Anjani?"

Dunia di sekitarku mendadak senyap. Suara hujan, gemerisik daun, deru angin—semuanya lenyap, digantikan oleh dengung panjang yang memekakkan telinga di dalam kepalaku.

Napas tertahan di tenggorokanku. Mataku melebar menatapnya.

Bukan hanya karena dia tahu namaku tanpa aku pernah memperkenalkan diri.

Bukan hanya karena dia tahu aku alergi pada suhu dingin yang ekstrem.

Tapi karena kondisi persendianku yang ngilu saat kedinginan adalah sesuatu yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun di kota ini. Bahkan teman satu indekosku tidak tahu. Itu adalah rahasia kecil yang hanya diketahui oleh mendiang nenekku yang biasa memijat lututku saat hujan turun di kampung halaman dulu. Itu adalah rahasia yang bahkan tidak pernah kutulis di dalam surat mana pun.

Bagaimana dia bisa tahu?

Sebelum aku bisa menemukan kembali suaraku yang hilang, sebelum aku bisa merangkai satu saja pertanyaan dari ribuan yang meledak di kepalaku, lelaki itu sudah memalingkan wajahnya kembali.

Ia menarik tudung jaketnya menutupi kepala, lalu tanpa ragu, ia melangkah turun dari gazebo kayu itu. Ia membiarkan payung hitamnya tergeletak di atas bangku, dan berjalan menembus dinding hujan yang lebat.

Ia berjalan menjauh, membiarkan tubuhnya ditelan badai basah kota Bogor, meninggalkanku sendirian dengan payungnya, namaku di bibirnya, dan sebuah ketakutan baru yang perlahan merayap naik ke ulu hati.

Jangan percaya orang yang kamu temui hari Kamis.

Aku menatap ke arah hilangnya siluet lelaki itu, dan untuk pertama kalinya sejak menemukan surat di lantai tiga perpustakaan, aku merasa benar-benar ketakutan.