Kewarasan manusia adalah konstruksi yang rapuh. Kau pikir kau mengenal dunia. Kau pikir kau memahami hukum sebab-akibat: matahari terbit dari timur, air mengalir ke tempat yang lebih rendah, dan seseorang tidak bisa berada di suatu tempat menunggumu sebelum kau sendiri tahu akan pergi ke sana.

Namun, selama lima hari terakhir, hukum sebab-akibat dalam hidupku telah hancur berantakan.

Sejak rentetan kejadian aneh minggu lalu—gazebo saat hujan, ruang baca perpustakaan, kedai kopi tersembunyi, hingga halte kosong—aku berhenti tidur nyenyak. Malam-malamku berubah menjadi bentangan jam yang panjang dan menyiksa. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat punggung berbalut kemeja flanel pudar itu. Aku melihat cara Elang duduk, cara ia menatap kosong, sebuah eksistensi statis yang entah bagaimana berhasil mengepung seluruh ruang gerakku.

Aku mulai mengubah rutinitasku secara ekstrem untuk menguji kewarasanku sendiri.

Senin pagi, aku sengaja turun dari angkot dua halte lebih awal dan berjalan kaki menyusuri jalan tembusan yang berlumpur. Selasa siang, aku membolos kelas tutorial dan bersembunyi di bangku paling belakang masjid kampus yang gelap.

Aku mengharapkan dua kemungkinan: pertama, aku mematahkan polanya dan membuktikan bahwa semua ini hanyalah kebetulan; atau kedua, aku memergokinya sedang membuntutiku dari kejauhan, yang setidaknya akan memberiku alasan logis untuk melaporkannya ke pihak keamanan kampus.

Tapi yang terjadi tidak masuk ke dalam dua kemungkinan itu.

Elang tidak ada di jalan berlumpur itu. Ia juga tidak ada di masjid kampus.

Ia benar-benar menghilang selama dua hari penuh.

Absennya Elang seharusnya membuatku lega, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kehilangannya terasa sama tidak wajarnya dengan kehadirannya. Seolah-olah alam semesta sedang menahan napas, bersiap menjatuhkan kejutan lain yang lebih besar. Perasaan diawasi itu tidak hilang, ia hanya bermutasi menjadi ketakutan yang lebih dalam dan mengakar. Aku tidak merasa diawasi oleh sepasang mata, melainkan diawasi oleh waktu itu sendiri.

Rabu siang, kepalaku berdenyut hebat. Kurang tidur dan paranoia yang terus-menerus menggerogoti energi mentalku. Aku duduk di bangku beton di luar aula fakultas, menatap cangkir kopi kertasku yang sudah kosong. Hujan rintik kembali membasahi Bogor, menciptakan tirai abu-abu yang membuat kampus terlihat muram dan sepi.

Aku butuh pelampiasan. Aku butuh jangkarku.

Aku merogoh ke dalam tasku, menarik selembar loose-leaf yang pinggirannya sudah sedikit lecek, dan sebuah pulpen. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena dingin dan kelelahan, aku mulai menulis.

“Kepada Anjani, entah kapan.

Kalau kamu membaca ini, tolong beri tahu aku bahwa masa-masa ini sudah lewat. Tolong bilang padaku kalau laki-laki bernama Elang itu cuma orang asing biasa, dan semua ketakutan ini cuma efek samping dari stres ujian matrikulasi. Aku capek. Aku merasa seperti orang gila yang selalu melihat bayangan di setiap sudut. Aku tidak tahu harus lari ke mana, karena sepertinya ke mana pun aku pergi, jalannya sudah ditentukan lebih dulu.”

Aku menatap tulisan tanganku. Berantakan. Tinta birunya sedikit meluber di beberapa bagian karena aku menekannya terlalu keras. Ini adalah surat paling putus asa yang pernah kutulis.

Aku melipat kertas itu menjadi persegi kecil, menyimpannya di saku kemejaku, lalu bangkit berdiri. Tujuanku jelas: lantai tiga Perpustakaan Pusat. Sayap timur. Rak G.

Berjalan menuju perpustakaan hari ini terasa seperti ziarah. Langkahku berat, diiringi suara gerimis yang memukul payung merah murahnku. Sesampainya di dalam gedung, kehangatan ruangan dan bau kertas lapuk langsung menyambutku. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa dingin yang bersarang di dadaku.

Aku menaiki tangga dengan cepat, menghindari kontak mata dengan pustakawan atau segelintir mahasiswa yang sedang membaca di lantai dua. Tujuanku hanya satu titik buta di ujung lorong sepi itu.

Lantai tiga masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkannya. Lampu neon di ujung lorong masih berkedip pelan dengan bunyi dengung statis yang konstan. Debu menari-nari dalam sorot cahaya yang redup. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya aku, keheningan yang menyesakkan, dan deretan buku-buku usang yang sudah lama ditinggalkan zaman.

Aku menghitung rak secara otomatis. Rak A... Rak C... Rak F... Rak G.

Aku berhenti di depan rak baris ketiga dari bawah. Ensiklopedia botani bersampul pudar itu masih berada di posisi yang sama, menjorok sedikit ke dalam, menjaga celah gelap di baliknya.

Aku menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-paruku sejenak untuk menenangkan detak jantung yang mulai berpacu. Tanganku terulur. Aku menarik ensiklopedia itu sedikit ke depan, lalu menyusupkan jari-jariku ke dalam celah yang dingin dan berdebu.

Tujuanku adalah menyelipkan surat baruku, menambah satu lagi keluh kesah di tumpukan kecil rahasiaku, lalu pergi.

Namun, tepat ketika ujung jariku menyentuh dasar papan kayu, tubuhku membeku.

Darah di nadiku seolah berhenti mengalir. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Tiga surat pertamaku masih ada, aku bisa merasakan lipatan perseginya yang tipis. Tapi di atas tumpukan itu, jariku bersentuhan dengan tekstur yang sangat familiar, tekstur yang selama berhari-hari ini menghantui pikiran rasionalku.

Kertas parchment yang tebal.

Kertas asing itu kembali.

Tanganku gemetar saat aku menjepit kertas tebal tersebut dan menariknya keluar dari celah gelap. Aku mendorong buku ensiklopedia itu kembali ke tempatnya dengan kasar, nyaris menjatuhkan beberapa buku di sebelahnya.

Aku mundur selangkah, menyandarkan punggungku pada rak di seberangnya. Napasku mulai memburu.

Bentuknya sama persis dengan surat pertama. Dilipat menyilang membentuk segitiga sama kaki yang presisi, keras, dan kaku. Tidak ada nama. Tidak ada identitas.

Ini bukan lagi kemungkinan acak. Ini bukan kebetulan satu kali yang bisa dirasionalkan oleh otakku. Ada seseorang yang benar-benar mengetahui tempat persembunyian rahasia ini. Seseorang yang tahu persis apa kebiasaanku, ke mana aku pergi ketika aku merasa kewalahan, dan menggunakan tempat ini sebagai kotak pos satu arah yang mengerikan.

Dan yang paling membuatku mual adalah... bagaimana ia bisa tahu aku akan datang hari ini?

Aku perlahan membuka lipatan kertas itu. Suara gesekan kertas yang tebal memecah kesunyian lorong, terdengar terlalu keras di telingaku. Lipatan pertama terbuka. Lalu lipatan kedua.

Aku menunduk, membiarkan cahaya berkedip dari lampu neon menerangi permukaan kertas.

Tulisan tangan itu menyapaku lagi. Rapi. Tegak bersambung. Beku oleh ketenangan yang absolut. Dan sama seperti sebelumnya, sensasi ganjil itu langsung menyerang perutku—perasaan bahwa aku sedang melihat kerangka tulisanku sendiri yang telah berevolusi menjadi sesuatu yang asing dan dingin. Huruf 'g' dengan ekor tajam, huruf 'A' kapital yang menggantung.

Namun, tidak seperti surat pertama yang hanya berisi satu kalimat pendek, surat kedua ini jauh lebih panjang. Dan isinya... isinya membuat kedua kakiku lemas seketika.

“Kamu merasa lelah karena terus berlari dari bayanganmu sendiri. Aku tahu. Kamu mulai mencari pola. Kamu berpikir pertemuan-pertemuan di kedai kopi dan halte itu adalah bagian dari sebuah rencana penguntitan.”

Mataku terbelalak. Aku membaca kalimat itu berulang kali, memastikan bahwa aku tidak berhalusinasi.

Kedai kopi. Halte. Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak memberitahu siapa pun tentang kejadian minggu lalu! Aku menyimpannya rapat-rapat di dalam kepalaku. Tidak ada teman yang kucurhati, tidak ada buku harian yang kutulisi. Pikiran bahwa Elang menguntitku adalah kesimpulan internal yang baru saja merayap di pikiranku selama beberapa hari terakhir.

Tapi surat ini... penulis surat ini mengetahui proses pikiranku seolah ia sedang membaca draf kasar dari otakku.

Tanganku semakin bergetar hebat. Aku memaksakan pandanganku untuk melanjutkan kalimat berikutnya.

“Berhentilah menghabiskan energimu untuk membencinya atau mencoba mematahkan pola yang tidak ada. Dia tidak sedang mengikutimu, Anjani. Dia sedang menunggumu.”

Namaku. Surat itu menulis namaku. Untuk pertama kalinya, sapaan itu terasa seperti sebuah stempel kepemilikan yang dingin.

Sebuah pola mulai tergambar secara mengerikan di dalam kepalaku, menghubungkan titik-titik yang selama ini kupikir berdiri sendiri.

Surat pertama muncul tepat beberapa hari sebelum hari Kamis, memperingatkanku tentang seorang lelaki. Lalu Elang benar-benar muncul di hari Kamis.

Aku menghabiskan akhir pekan mencurigainya, lalu melihatnya di perpustakaan, kedai kopi, dan halte. Aku mulai menyimpulkan bahwa ia adalah ancaman, seorang penguntit dengan metode yang aneh.

Dan sekarang, surat kedua ini muncul. Membantah kecurigaanku secara spesifik. Menjawab teka-teki yang baru saja terbentuk di kepalaku. Seolah-olah... surat ini diturunkan untuk mengoreksi arah asumsiku.

Ini adalah sebuah percakapan.

Seseorang, entah siapa, sedang berkomunikasi denganku dengan jeda yang ganjil. Ia membalas ketakutan-ketakutan yang bahkan belum sempat kuutarakan. Ia melangkah satu ritme lebih cepat dari kenyataan yang sedang kujalani. Masa depan membalas lebih dulu.

Aku kembali pada teks di kertas itu. Tinggal dua kalimat terakhir yang tersisa di bagian bawah halaman.

Dan ketika aku membaca kalimat tersebut, udara di lantai tiga perpustakaan ini seakan lenyap seluruhnya. Ada hawa dingin yang menusuk lurus menembus jaketku, membekukan darah di pembuluh nadiku.

“Berhati-hatilah dengan egomu sendiri. Pada hari di mana segalanya terasa terlalu berat, dan jika hari itu tiba, ingatlah satu hal ini: "

Mataku terpaku pada deretan kata terakhir yang ditulis dengan tekanan tinta yang sedikit lebih dalam, seolah sang penulis ingin mengukir kalimat itu menembus kertas.

“Kalau dia melarangmu... dengarkan.”