Pos terdepan Belanda di tepi Sungai Mahakam itu tidak punya nama resmi di peta mana pun — orang-orang lokal menyebutnya *Kandang Babi* dengan nada yang campuran antara candaan dan penghinaan yang tulus. Bangunannya terdiri dari sebuah loji kayu besar bercat putih yang sudah mengelupas, dua gudang yang selalu beraroma campuran cengkeh dan lumpur, sebuah pos jaga yang dibangun dari papan yang jelas diambil dari pohon-pohon sekitar tanpa pertimbangan selain kecepatan, dan deretan tenda-tenda kumuh di sisi barat yang menjadi tempat tinggal para pekerja kontrak.


Di atas pintu loji terdapat lambang resmi Pemerintah Hindia Belanda — rajawali dengan mahkota, terukir kasar dari kayu jati dan dicat emas yang sudah memudar menjadi kuning kusam. Di bawahnya, dalam huruf-huruf yang setengahnya sudah dimakan rayap, tertulis: *VOC Handelspost — Mahakam Hulu — Est. 1811*.


VOC sudah resmi bubar dua puluh tahun lalu. Tapi papan itu belum diganti. Di Kalimantan, waktu bergerak berbeda.


Rombongan ekspedisi tiba di sore hari ketika matahari masih cukup tinggi untuk menerangi segalanya dengan cahaya oranye yang membuat semuanya terlihat lebih dramatis dari yang seharusnya — termasuk kapal uap kecil yang tertambat di dermaga, memuntahkan asap hitam dari cerobongnya yang ramping seperti orang yang merokok dengan cara yang tidak santai.


Lintang berdiri di haluan perahu mereka, memandang kapal uap itu dengan mata terbelalak. "Itu kapal yang jalan sendiri?"


"Pakai mesin," kata Jagur. "Bukan sihir."


"Tapi tidak pakai layar, tidak pakai dayung—"


"Pakai panas. Pakai batu bara. Belanda pintar membuat mesin." Jagur berhenti sejenak. "Tapi bukan berarti mereka lebih pintar dari kita. Mereka pandai membuat alat. Kita pandai menggunakan apa yang ada."


Lintang tidak mendengarkan sepenuhnya. Matanya sudah beralih ke dermaga, ke deretan serdadu berseragam yang berdiri tidak terlalu tegak di udara panas, ke tumpukan peti-peti bertuliskan huruf-huruf yang tidak ia bisa baca, ke hiruk-pikuk pelabuhan mini yang terasa seperti dunia lain di jantung hutan.


Di dermaga itulah Jagur pertama kali melihat Bagas dengan jelas — bukan sekilas seperti di Samarinda ketika mereka diperkenalkan, tapi benar-benar melihat, dengan cara seorang tracker melihat jejak: dengan perhatian yang diam dan tidak terburu-buru.


Bagas adalah lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berkulit gelap dengan badan yang gembul tapi bergerak dengan ringan yang mencurigakan — seperti orang yang lebih kuat dari penampilannya dan tahu itu. Bajunya adalah campuran yang canggung antara baju Melayu dan jaket Belanda, seolah ia berusaha terlihat seperti milik dua dunia sekaligus. Rambutnya dipomade — kebiasaan yang ia tiru dari tuan-tuannya Belanda — dan di jarinya terdapat cincin perak bermata hijau yang gemerlapan setiap kali ia gestikulasi, yang dilakukannya dengan sering.


Yang paling Jagur perhatikan adalah matanya. Bagas memiliki mata yang selalu bergerak — tidak gelisah, tapi kalkulatif, seperti mesin kecil yang tidak pernah berhenti menghitung keuntungan dan kerugian dari setiap situasi.


Bagas menyambut kedatangan rombongan dengan senyum lebar dan jabat tangan yang kuat — terlalu kuat, terlalu lama.


"Tuan Kruijer! Akhirnya! Perjalanan lancar?" Bahasa Belandanya fasih dengan aksen lokal yang tebal. Lalu ia beralih ke bahasa Melayu dengan kelancaran yang sama: "Dan ini Jagur yang terkenal itu ya? Sering saya dengar nama kau dari pedagang-pedagang di Samarinda. Katanya tidak ada lorong hutan yang kau tidak tahu."


Jagur menerima jabatan tangan itu. "Masih banyak yang tidak aku tahu."


Bagas tertawa — tawa yang terlatih, hangat di permukaan dan dingin di bawahnya seperti sungai di musim kemarau. "Rendah hati. Bagus, bagus. Kita butuh orang rendah hati di sini, bukan yang sombong." Matanya sedetik menyapu ke arah Lintang. "Ini anakmu?"


"Lintang," kata Jagur. Satu kata. Tidak lebih.


"Ikut juga ke pedalaman? Masih muda sekali—"


"Urusan saya," potong Jagur, halus tapi jelas.


Bagas tersenyum, mengangkat kedua tangannya dengan gaya menyerah yang tidak terasa seperti menyerah. "Tentu, tentu. Maaf, tidak bermaksud ikut campur." Ia beralih ke Kruijer dan mulai bicara tentang logistik, jadwal, dan angka-angka, dan dalam hitungan detik Jagur dan Lintang sudah tidak ada dalam perhatiannya.


Tapi Jagur masih memperhatikannya.


---


Malam itu, di loji yang pengap dengan asap tembakau dan aroma makanan Belanda yang terlalu banyak mentega, Tuan Kruijer memaparkan rencana ekspedisi di atas meja yang dipenuhi peta.


Petanya buruk. Jagur sudah tahu itu dari pandangan pertama — garis-garis sungai yang tidak akurat, nama-nama tempat yang salah eja atau sama sekali salah, dan wilayah-wilayah luas yang hanya ditulis *terra incognita* dengan tinta yang terlihat seperti penyesalan.


Kruijer adalah lelaki lima puluh tahun dengan kumis tebal dan cara bicara yang selalu terdengar seperti ia sedang membaca laporan resmi kepada atasan. Tubuhnya kaku dengan cara yang khas dari orang yang menghabiskan terlalu banyak waktu di belakang meja sebelum akhirnya dipaksa berdiri di lapangan. Rambutnya keputihan dan selalu rapi, dan bahkan di udara Kalimantan yang lembab dan tidak bisa diprediksi, ia selalu tampak berkeringat pada tempat-tempat yang salah.


"Tujuan utama kita," kata Kruijer, mengetuk peta dengan jari telunjuk yang gemuk, "adalah wilayah hulu ini. Menurut laporan dari ekspedisi sebelumnya, di sini terdapat hutan-hutan damar yang belum disentuh dan kemungkinan besar sumber-sumber rotan hitam yang kualitasnya di atas rata-rata." Ia menatap Jagur. "Kamu kenal daerah ini?"


"Kenal," kata Jagur.


"Berapa hari perjalanan?"


"Tujuh hari kalau cuaca baik. Sepuluh kalau tidak."


Kruijer mengangguk, mencatat sesuatu. "Rute yang paling efisien?"


"Ikuti Sungai Belayan sampai percabangan ketiga, lalu masuk darat ke barat. Ada jalan setapak bekas perburuan yang bisa dipakai sampai lereng bukit pertama, setelah itu harus potong hutan."


"Tidak ada jalan yang lebih cepat?"


Jagur mengamati peta itu lagi. Ada rute yang lebih cepat — memotong langsung ke utara melalui rawa gambut yang dalam — tapi rute itu juga melewati wilayah yang ia tahu sedang sensitif: tanah berburu suku Punan yang tidak ramah pada orang asing. Ia menimbang sebentar.


"Ada jalan yang lebih pendek. Tapi lebih berbahaya."


"Berbahaya bagaimana?" tanya Bagas dari sudut ruangan, dengan nada yang terlalu santai untuk pertanyaan yang seharusnya penting.


"Lewat tanah suku Punan. Mereka tidak suka orang luar masuk tanpa izin."


Kruijer dan Bagas bertukar pandang yang singkat — pandang yang berlangsung kurang dari satu detik tapi cukup panjang untuk dilihat oleh orang yang memperhatikan.


"Kita bisa dapatkan izin itu?" tanya Kruijer.


"Bisa," kata Jagur. "Tapi butuh waktu. Dan kita harus masuk dengan cara yang mereka hormati. Tidak dengan rombongan besar dan senjata."


"Waktu adalah uang," kata Kruijer dengan tegas. "Kita ambil rute yang lebih aman. Tujuh hari."


Jagur mengangguk. Tapi matanya masih pada Bagas — pada cara Bagas mengaduk kopi di cangkirnya dengan tatapan yang mengarah ke peta tapi pikirannya jelas sedang di tempat lain. Menghitung sesuatu. Merencanakan sesuatu.


Di luar loji, hutan berbisik dalam bahasa malam — jangkrik, katak, dan di antara semuanya, sesekali, suara yang tidak bisa diberi nama.


---


Lintang tidur di hammock yang Jagur gantungkan di antara dua pohon di tepi perkemahan. Jagur duduk di bawahnya, punggung bersandar pada batang pohon, matanya terbuka ke langit yang penuh bintang. Bulan purnama akan datang lima hari lagi — ia hafal kalender bulan seperti orang lain hafal wajah keluarganya.


"Bapak," suara Lintang mengapung dari atas. "Orang itu. Bagas."


"Kenapa?"


"Dia tidak kusukai."


Jagur tidak menjawab langsung. Angin kecil bergerak di antara daun-daun, membawa bau tanah dan bunga malam yang samar.


"Kenapa tidak kau sukai?" tanya Jagur akhirnya.


Lintang berpikir sebentar. "Caranya tertawa. Seperti orang yang tahu lelucon yang tidak kita tahu."


Jagur menutup matanya. Di balik kelopak matanya, ia melihat kembali pandangan antara Kruijer dan Bagas di atas peta. Sedetik yang tidak mengatakan apa-apa dan mengatakan segalanya.


"Tidur," katanya.


"Bapak setuju sama aku?"


"Tidur, Lintang."


Hening sebentar. Lalu: "Iya, Bapak."


Dan Jagur duduk di bawah langit bintang Kalimantan, dengan anaknya tidur di atas dan firasat yang mulai tumbuh di tulang-tulangnya seperti jamur setelah hujan — pelan, diam, dan tidak bisa dihentikan.


---