Mereka berangkat di pagi hari ketika embun masih menetesi daun-daun seperti air mata lambat yang tidak terburu-buru. Dua perahu besar — satu untuk Kruijer, Bagas, dan para serdadu, satu lagi untuk para pekerja angkut dan perbekalan — meluncur ke atas Sungai Belayan yang sempit dan berliku, mendayung melawan arus dengan ritme yang monoton dan melelahkan.


Jagur memilih untuk tidak duduk di perahu manapun sepanjang yang bisa ia hindari. Ia berjalan di tepian — kadang mendahului, kadang sejajar, kadang menghilang ke dalam hutan untuk beberapa menit dan muncul lagi di tempat yang berbeda, seperti bayangan yang tidak patuh pada satu cahaya.


Ini adalah cara kerjanya: mengandalkan kaki lebih dari perahu, membaca tepi lebih dari tengah, merasakan hutan dari dalam, bukan dari atas air. Perahu memberimu kecepatan dan keamanan dari sungai, tapi hutan berbicara kepada mereka yang berjalan di dalamnya, bukan kepada mereka yang melewatinya.


Lintang mengikutinya — selalu beberapa langkah di belakang, belajar membaca yang sama dari sudut yang sedikit berbeda.


"Itu pohon damar?" tanya Lintang, menunjuk sebuah pohon tinggi dengan kulit abu-abu yang kasar dan retakan-retakan vertikal di batangnya.


Jagur mengamati pohon itu sebentar. "Mersawa. Bukan damar murni, tapi kandungannya mirip. Cium."


Lintang mendekat ke batang pohon, memiringkan kepalanya, menghirup. "Seperti... bau getah. Sedikit manis."


"Damar yang baik baunya lebih kuat. Lebih berat di hidung." Jagur menekan jarinya ke salah satu retakan di kulit pohon, mengeluarkan tetesan getah bening kekuningan yang lengket di ujung jarinya. Ia meremasnya, merasakannya di antara ibu jari dan telunjuk. "Ini kualitas sedang. Untuk lacquer, bisa. Untuk obat-obatan Belanda, tidak cukup baik."


"Bagaimana cara tahu yang baik?"


"Warna lebih kuning. Lebih keras ketika kering. Dan pohonnya biasanya lebih tua — lihat lingkar batangnya, ukuran akarnya." Jagur berjalan ke sekeliling pohon itu perlahan, memeriksa dari berbagai sudut. "Pohon damar terbaik tumbuh di lereng bukit, bukan di lembah. Tanahnya harus gembur tapi tidak terlalu lembab. Dan biasanya tumbuh berdekatan, tidak sendiri-sendiri."


Lintang mencatat semua itu di benaknya — Jagur bisa melihatnya mencatat dari cara matanya bergerak, menyimpan informasi seperti menyusun barang di rak.


"Bapak belajar ini dari siapa?"


"Dari Bapakku. Dan Bapaknya dari Bapaknya." Jagur menyeka jarinya pada batang pohon. "Pengetahuan hutan tidak ada di buku. Hanya ada di orang."


Mereka berjalan lagi, mengikuti tepi sungai yang mulai menyempit. Di atas air, perahu-perahu rombongan merangkak maju — para pendayung berjuang melawan arus yang semakin deras di ketinggian yang semakin meningkat.


Di pertengahan hari, Jagur berhenti mendadak.


Lintang, yang sudah belajar membaca bahasa tubuh ayahnya, ikut berhenti tanpa bertanya. Ia mengikuti arah pandang Jagur ke semak-semak yang lebat di sisi kiri jalur.


"Ada apa?" bisik Lintang.


Jagur tidak menjawab langsung. Ia melangkah pelan ke semak-semak itu, membungkuk, mengamati tanah. Jejak-jejak kaki — bukan manusia, tapi cukup besar untuk membuat ranting-ranting kecil di jalurnya patah dan tanah lunaknya tercetak dalam.


"Owa-owa," kata Jagur akhirnya. "Kawanan besar. Lewat tadi pagi."


"Aku tidak mendengar suaranya."


"Sudah lewat. Mereka tidak suka kebisingan perahu." Jagur berdiri, melihat ke atas — ke tajuk pohon yang tinggi dan rapat. "Kalau kawanan owa-owa bergerak ke arah ini di pagi hari, artinya semalam ada gangguan di timur. Sesuatu yang besar."


"Gangguan apa?"


"Mungkin harimau. Mungkin orang. Harus diingat."


Ia mencatat posisi itu secara mental — koordinat yang tidak ada di peta Kruijer tapi ada di peta dalam kepalanya yang jauh lebih akurat. Peta yang telah ia bangun selama bertahun-tahun, selapis demi selapis, kaki demi kaki.


---


Sore hari, ketika matahari mulai miring dan cahaya menjadi emas panjang yang menembus canopi dengan sudut yang rendah, rombongan berhenti untuk mendirikan kemah di tepi sungai yang agak terbuka. Para pekerja mulai mendirikan tenda, para serdadu membersihkan senjata, dan Kruijer duduk di kursi lipatnya yang dibawa khusus dari Samarinda, mencatat sesuatu di bukunya.


Jagur membangun api untuk memasak — bukan di tengah perkemahan bersama semua orang, tapi agak ke pinggir, cukup dekat untuk melihat semua orang tapi cukup jauh untuk berbicara tanpa didengar.


Lintang duduk di sampingnya, membantu mengupas ubi hutan yang ia temukan di tepi jalan tadi. Tangannya cekatan — belajar dari ibunya dulu, sebelum ibunya pergi.


"Bapak," kata Lintang, dengan nada yang berbeda dari biasanya — lebih pelan, lebih serius.


"Hmm."


"Di Samarinda dulu, aku dengar orang-orang bicara soal VOC. Katanya sekarang sudah tidak ada, sudah bubar. Tapi kita masih bekerja untuk Belanda?"


Jagur membalik potongan ubi di atas api. "VOC bubar. Pemerintah Belandanya tidak. Berbeda."


"Apa bedanya?"


"VOC itu perusahaan dagang. Cari untung untuk pemegang sahamnya. Pemerintah Hindia Belanda itu negara — mereka tidak sekadar cari untung, mereka ingin tanah ini."


Lintang berpikir. "Lebih berbahaya?"


"Lebih rumit," kata Jagur. "Perusahaan, kalau tidak untung, tutup. Negara tidak tutup semudah itu." Ia mengangkat potongan ubi dari api, mengujinya dengan jari. "Itu kenapa kita harus lebih hati-hati. Bukan hanya soal kontrak. Soal apa yang kita tunjukkan dan apa yang kita sembunyikan."


Lintang menoleh. "Maksud Bapak, sembunyikan informasi dari mereka?"


"Bukan sembunyikan. Memilih." Jagur menatap api. "Ada hal yang perlu mereka tahu agar ekspedisi berjalan. Ada hal yang kalau mereka tahu, akan merusak sesuatu yang lebih besar. Kamu harus bisa bedakan mana yang mana."


"Bagaimana cara bedakannya?"


Jagur tersenyum — senyum kecil yang jarang muncul di wajahnya yang biasanya tertutup. "Itulah yang sedang kamu pelajari."


Dari arah tenda utama, suara Bagas terdengar — sedang bercerita tentang sesuatu yang memancing tawa para serdadu. Tawa yang keras, penuh kepuasan diri, tidak peduli siapa yang bisa mendengarnya.


Jagur tidak berbalik. Tapi telinganya mencatat. Selalu mencatat.