Keesokan paginya, sebelum matahari naik cukup tinggi untuk membakar embun pagi, Kruijer memanggil Jagur ke kantornya — sebuah ruangan kecil di sisi loji yang dipisahkan dari ruangan utama oleh partisi papan yang tidak rapat, sehingga suara dari dalam selalu bocor ke luar.
Di atas meja, di antara cangkir kopi yang mengepulkan uap dan tumpukan kertas berstempel resmi, tergeletak sebuah dokumen. Jagur tidak butuh membacanya untuk tahu apa isinya — ia sudah cukup sering melihat dokumen serupa untuk mengenali bentuk dan nuansanya.
Kontrak.
"Duduk," kata Kruijer.
Jagur duduk. Ia mengambil dokumen itu, membacanya perlahan. Bahasa Melajunya resmi — terlalu resmi, penuh dengan frasa-frasa yang terasa seperti dinding-dinding kecil yang dibangun di sekitar hak-hak yang sudah diambil sebelum ada yang bertanya.
Dua tahun. Eksklusif. Semua penemuan dan pemetaan selama periode kontrak menjadi milik Pemerintah Hindia Belanda. Kompensasi: dua puluh lima gulden per bulan, dibayar di akhir periode.
Di akhir kontrak, ada satu klausul yang ditulis dalam huruf lebih kecil dari yang lain: *Pemandu dan keluarga yang ikut serta dalam ekspedisi tunduk pada peraturan dan disiplin rombongan selama periode kontrak.*
Keluarga yang ikut serta.
Jagur meletakkan dokumen itu kembali di atas meja dengan hati-hati. "Tidak," katanya.
Kruijer mengangkat alisnya. "Tidak?"
"Tidak akan tanda tangan ini."
Kruijer bersandar di kursinya, menyilangkan tangannya. "Jagur, ini kontrak standar. Semua pemandu kami tanda tangan—"
"Kontrak sebelum ini tiga bulan. Ini dua tahun. Dan ada klausul tentang keluarga." Jagur menunjuk baris terakhir itu dengan jari. "Anakku bukan bagian dari kesepakatan kerja."
"Ia ikut dalam rombongan—"
"Atas kemauanku sendiri. Bukan atas kontrak." Jagur menatap Kruijer dengan tatapan yang datar dan tidak bergerak. "Tuan ingin pemandu terbaik di Mahakam atau ingin pemandu yang tanda tangan di kertas?"
Keheningan di ruangan itu terasa seperti sesuatu yang padat. Dari balik partisi, Jagur bisa mendengar suara langkah kaki yang berhenti — seseorang sedang mendengarkan dari luar.
Kruijer menghembuskan nafas. Mengambil penanya. Mencoret klausul terakhir itu dengan satu garis tebal, lalu membubuhkan parafnya di samping coretan itu. "Baik. Klausul itu dihapus. Tapi sisanya tetap."
"Dua belas bulan, bukan dua puluh empat."
Kruijer mengerutkan kening. "Setahun tidak cukup—"
"Cukup untuk apa yang Tuan butuhkan, kalau Tuan serius." Jagur tidak bergeming. "Dua belas bulan."
Kruijer mengamatinya sebentar dengan tatapan yang berusaha terlihat seperti pertimbangan tapi sebenarnya sudah menyerah. "Dua belas bulan. Tapi kompensasi dikurangi seproporsional."
"Itu adil."
Kruijer mendorong dokumen yang sudah dimodifikasi itu ke arah Jagur. Jagur membacanya sekali lagi — lebih lambat, lebih teliti — sebelum mengambil pena dan menandatanganinya dengan tanda tangan yang tidak mirip huruf Latin mana pun, tapi jelas dan tegas.
Ketika ia keluar dari ruangan itu, Bagas berdiri di koridor, berpura-pura memeriksa daftar perbekalan di sebuah papan tulis. Matanya tidak naik, tapi sudut bibirnya bergerak — bukan tersenyum, tapi sesuatu yang lebih dekat ke penilaian.
Jagur berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa.
---
Di luar loji, Lintang sedang duduk di atas sebuah peti besar, berbicara dengan salah satu serdadu muda Belanda — lelaki berambut merah yang namanya, Jagur kemudian tahu, adalah Jakob. Jakob berusia mungkin delapan belas atau sembilan belas tahun, dengan wajah yang masih terlalu polos untuk seragam yang ia kenakan, dan ia sedang menunjukkan pistol genggamnya kepada Lintang dengan cara yang jelas bukan cara seorang serdadu menunjukkan senjata kepada orang asing.
Lintang melihat pistol itu dengan mata bersinar. Tangannya terentang hendak menyentuh.
"Lintang."
Suara Jagur pelan, tapi Lintang menarik tangannya kembali seketika, refleks seperti menyentuh bara. Ia berbalik, melihat ekspresi ayahnya, dan paham.
Jakob menyimpan pistolnya dengan canggung, wajahnya memerah. "Maaf, Tuan — saya hanya menunjukkan—"
"Tidak apa-apa," kata Jagur kepada Jakob, dengan nada yang menunjukkan bahwa sebenarnya ada beberapa hal yang perlu dipersoalkan tapi bukan sekarang dan bukan di sini. Lalu kepada Lintang: "Mari."
Mereka berjalan ke tepi sungai, jauh dari telinga rombongan.
"Aku hanya mau lihat," kata Lintang, dengan nada setengah membela diri, setengah tahu bahwa pembelaan itu lemah.
"Senjata bukan mainan."
"Aku tahu itu."
"Kalau tahu, kenapa tanganmu terentang?"
Lintang terdiam. Sungai mengalir di depan mereka, coklat dan tenang dan tidak peduli.
"Mereka punya banyak hal yang menarik," kata Lintang akhirnya, dengan suara yang lebih jujur. "Senjata, kompas, kapal uap. Aku ingin tahu cara kerjanya."
Jagur duduk di atas akar pohon. Gestur yang artinya: aku mendengarkan, lanjutkan.
Lintang duduk di sebelahnya. "Bapak tidak pernah ingin tahu?"
"Ingin tahu dan ingin punya adalah dua hal yang berbeda," kata Jagur. "Pengetahuan tentang sesuatu tidak membuatmu harus dimiliki oleh sesuatu itu."
Lintang mengamati sungai. "Maksud Bapak?"
"Kamu bisa belajar cara kerja pistol. Cara kerja kompas. Cara kerja kapal uap. Semua itu berguna. Tapi kalau kamu mau benda-benda itu sampai kamu lupa siapa kamu tanpa benda-benda itu — itulah masalahnya." Jagur mengambil segenggam tanah dari tepi sungai, menggenggamnya sebentar, lalu membiarkannya jatuh perlahan di antara jari-jarinya. "Belanda datang ke sini karena mereka punya banyak hal. Kita bertahan di sini karena kita tahu cara hidup dengan apa yang ada. Jangan sampai kamu lupa mana yang lebih bertahan lama."
Lintang menatap jari-jari ayahnya yang berlumuran tanah sungai. Sesuatu yang rumit bergerak di belakang matanya — pertanyaan yang belum menemukan bentuknya, pemahaman yang sedang dalam proses terbentuk.
"Aku tidak lupa, Bapak," katanya akhirnya.
Jagur menepuk bahu anaknya sekali — singkat, kuat, dengan genggaman yang sedetik lebih panjang dari yang diperlukan.
"Bagus," katanya.
---
Sore harinya, Bagas mencari Lintang.
Jagur tidak ada — ia sedang memeriksa kondisi perahu-perahu yang akan mereka gunakan esok hari — ketika Bagas mendekati Lintang yang sedang mengisi air dari sungai.
"Anak yang pintar," kata Bagas, dengan nada yang terlalu ramah dan terlalu memperhatikan untuk sebuah percakapan biasa. "Bapakmu bilang kamu ikut ke pedalaman?"
Lintang menoleh. "Iya."
"Tidak takut?"
"Tidak."
Bagas tersenyum. "Berani. Nanti kalau sudah masuk pedalaman, ada banyak hal menarik yang bisa kamu pelajari. Saya bisa tunjukkan beberapa hal yang tidak semua orang tahu — cara negosiasi dengan suku lokal, cara menilai kualitas damar, cara—"
"Bapak yang mengajariku," kata Lintang, dengan nada sopan tapi jelas.
Bagas mengamatinya sebentar. Matanya melakukan sesuatu yang tidak terlihat dari luar tapi terasa — semacam penilaian ulang, sebuah perhitungan yang direvisi.
"Tentu, tentu," katanya akhirnya. "Bapakmu memang yang terbaik." Ia berpaling, lalu berhenti seolah teringat sesuatu. "Oh ya — tadi ada orang dari kampung sebelah bawa oleh-oleh. Pisang goreng, masih panas. Di dapur. Kalau mau, ambil saja."
Lintang mengangguk sopan. "Terima kasih, Tuan Bagas."
Bagas pergi. Lintang memandangi punggungnya sampai menghilang di balik pintu gudang.
Malam itu, ketika Jagur dan Lintang makan bersama di tepi api unggun kecil yang mereka buat sendiri agak jauh dari perkemahan utama, Lintang menceritakan percakapan itu dengan nada netral — bukan mengadu, hanya menceritakan. Itu salah satu hal yang Jagur sukai dari anaknya: ia melaporkan apa yang terjadi, tidak menambah dan tidak mengurangi.
Jagur mendengarkan. Tangannya memegang sepotong ikan bakar, tapi ia tidak makan.
"Apa jawabmu?"
"Aku bilang Bapak yang mengajariku."
"Bagus."
"Lalu dia bilang ada pisang goreng."
"Kamu ambil?"
"Tidak."
Jagur menatap api. Sesuatu di dalam dadanya yang sudah mulai tumbuh sejak melihat pandangan antara Kruijer dan Bagas di atas peta itu — sesuatu yang belum punya nama, tapi sudah punya rasa — tumbuh satu helai lagi, akar yang lebih dalam, lebih sulit untuk dicabut.
"Lintang," katanya.
"Ya, Bapak."
"Selama ekspedisi ini, jangan pernah terlalu jauh dariku."
Lintang menatap ayahnya. Mencari penjelasan di balik perkataan itu. Tapi wajah Jagur adalah hutan — banyak yang tersembunyi di dalamnya, dan hanya orang yang tahu cara membacanya yang bisa menemukan jalan.
"Iya, Bapak," kata Lintang.
Api unggun mereka mengecil, memakan kayu terakhirnya, dan malam Kalimantan menutup mereka dalam kegelapan yang hangat dan hidup dan penuh dengan hal-hal yang belum terjadi.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar