Hari keenam perjalanan. Mereka sudah meninggalkan sungai utama dan masuk ke anak sungai yang lebih kecil, perahu-perahu besar diganti dengan sampan-sampan dangkal yang bisa meluncur di atas bebatuan. Di kanan dan kiri mereka, hutan telah berubah — tidak lagi hutan dataran rendah dengan pohon-pohon besar berbanir, tapi hutan perbukitan yang lebih rapat, lebih gelap, dengan pohon-pohon yang lebih ramping dan kanopi yang lebih rendah, menekan cahaya sampai tinggal sedikit di lantai hutan.
Suara hutan berubah pula. Tidak ada lagi suara perahu lain atau kampung-kampung jauh. Hanya hutan — dalam, tidak terinterupsi, hidup dengan cara yang terasa seperti kekuatan yang bukan milik siapa pun.
Malam itu, mereka berkemah di sebuah batu datar besar di tepi anak sungai yang dangkal, di bawah langit yang terbuka — salah satu langit malam paling jelas yang Jagur pernah lihat di musim itu, bersih dari awan dan bersih dari cahaya manusia, dipenuhi bintang sampai ke horizon yang jauh.
Setelah rombongan tidur, Jagur dan Lintang duduk berdampingan di tepi batu, memandang ke atas. Api unggun kecil mereka sudah menjadi bara merah yang tidak bernyala, hanya bersinar pelan seperti napas yang melambat.
Tidak ada yang bicara untuk waktu yang cukup panjang. Ini adalah salah satu kemewahan hutan yang orang kota tidak punya: keheningan yang nyata, keheningan yang punya tekstur dan kedalaman, bukan sekadar ketiadaan suara.
"Bapak," kata Lintang akhirnya. "Cerita tentang Nenek dulu."
Jagur menoleh. "Kenapa tiba-tiba?"
"Di sini rasanya seperti tempat untuk cerita." Lintang tidak salah. Ada sesuatu dalam ketersendiran hutan malam yang membuat hal-hal yang biasanya tidak terucapkan menjadi lebih mudah untuk dikeluarkan.
Jagur menghembuskan nafas. Memandang ke atas, ke Bintang Waluku yang tiga — bintang yang sama yang dulu ibunya tunjukkan kepadanya di perbukitan Kedang Pahu.
"Ibuku," katanya, "bernama Rahmi. Orang Melayu Banjar dari kampung kecil di hilir. Cantik, kata semua orang. Keras kepala, kata Bapakku." Senyum kecil di sudut bibirnya. "Keduanya benar."
"Bagaimana Nenek bisa ketemu Kakek di pedalaman?"
"Kakekmu pedagang rotan. Sering masuk ke kampung-kampung Dayak untuk beli rotan dan jual kain. Suatu kali ia tersesat — bukan karena tidak tahu jalan, tapi karena gengsi bertanya. Ibuku yang akhirnya menunjukkan jalan keluar." Jagur berhenti sebentar. "Dan Bapakku, yang tidak pernah mau mengakui bahwa ia tersesat, mengatakan kepada semua orang bahwa ia sengaja berhenti di kampung itu karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya."
Lintang tertawa — tawa yang renyah dan penuh di malam yang diam itu. "Nenek percaya?"
"Tidak. Tapi dia biarkan Bapakku berpegang pada ceritanya. Kata Ibuku, kadang yang terbaik untuk orang yang kamu cintai adalah membiarkan mereka menjaga harga dirinya sedikit, bahkan kalau kamu tahu kebenarannya."
Lintang terdiam, menimbang kalimat itu.
"Ibuku juga seperti itu sama aku," kata Lintang pelan. Ia tidak melanjutkan — tidak perlu. Jagur tahu apa yang dimaksud.
Hening sebentar.
"Bapak," kata Lintang lagi. "Ada cerita dari Dayak soal jiwa yang tidak mati?"
Jagur menoleh pelan. "Darimana kamu dengar itu?"
"Saring — pemandu tua itu — tadi siang bercerita sedikit ke tukang dayung. Aku dengar."
"Saring banyak cerita."
"Tapi cerita itu... tentang jiwa yang punya tugas. Yang tidak bisa pergi sebelum tugasnya selesai. Benarkah begitu dipercayai orang Dayak?"
Jagur menatap bintang-bintang. Ia tahu cerita itu — bukan versi Saring, tapi versi ayahnya yang ia dengar di api unggun yang serupa dua puluh tahun lalu, di bukit yang lebih jauh di pedalaman Benuaq.
"Ada yang percaya begitu," katanya akhirnya. "Jiwa yang belum selesai — yang mati sebelum tugasnya tuntas, atau yang meninggalkan sesuatu yang belum terselesaikan — tidak bisa langsung pergi ke tempat yang seharusnya. Ia tinggal. Menunggu. Sampai ada yang menyelesaikan urusannya, atau sampai ia sendiri yang menyelesaikannya."
"Tugas apa?"
"Tergantung orangnya. Bisa melindungi seseorang. Bisa mengucapkan kebenaran yang belum terucapkan. Bisa kembali ke tempat yang belum diselesaikan." Jagur berhenti. "Bapakku bilang, cara kamu tahu apakah jiwa seseorang sudah pergi atau belum bukan dengan melihatnya — tapi dengan merasakan apakah ada sesuatu yang terasa belum selesai."
Lintang menatap bintang-bintang. Wajahnya dalam cahaya bintang terlihat lebih tua dari enam belas tahun — atau mungkin itu hanya bayangan yang bermain.
"Bapak pernah merasakan itu? Jiwa yang belum pergi?"
Jagur berpikir. Ingatan ibunya — bukan hantu, tapi semacam kehadiran di momen-momen tertentu, di bau bunga entuyut, di rasa getah damar di ujung jari, di cara sungai berbunyi ketika angin bertiup dari utara.
"Pernah," katanya.
Mereka duduk diam lagi. Di langit, bintang-bintang bergerak dalam putaran yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan kalau kamu cukup lama diam.
"Bapak," kata Lintang untuk ketiga kalinya malam itu, dengan suara yang sudah mulai mengantuk, lebih lembut.
"Tidur sana."
"Sebentar lagi." Lintang berbaring di atas batu yang keras itu, menatap ke atas. Suaranya semakin mengalir, setengah tidur. "Bapak janji ya... nanti kalau aku sudah besar, ajari aku semua yang Bapak tahu tentang hutan ini. Semuanya. Sampai tidak ada yang tersisa."
Jagur menatap anaknya yang perlahan jatuh ke dalam tidur.
"Iya," katanya, pelan. "Aku janji."
Bintang-bintang berputar. Hutan bernafas. Dan di batu itu, di bawah langit terluas yang pernah Jagur saksikan dalam hidupnya, ada sesuatu yang terasa seperti kesempurnaan yang rapuh — momen yang terlalu utuh, terlalu indah, sampai jantung mengenalinya bukan sebagai kebahagiaan biasa, tapi sebagai sesuatu yang harus dijaga seolah-olah itu adalah hal terakhir yang bisa pecah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar