Kue ulang tahun di tanganku miring saat aku mendengar teriakan itu.


Suara tangisan Kira. Tinggi. Putus-putus. Suara yang setiap orangtua tahu artinya — bukan rewel, bukan ngambek. Takut.


Aku setengah berlari ke pintu rumah dengan satu tangan masih memegang kotak kue dan tangan lain mencari kunci. Pintu sudah tidak terkunci. Aku menendangnya pelan dengan kaki, dan adegan di ruang tamu menampar mukaku lebih keras dari pukulan mana pun.


Ibuku berdiri di tengah ruangan, tangan kanan terangkat. Pipi Salma merah. Bukan merah karena malu — merah karena baru saja ditampar. Salma tidak menangis. Salma hanya menahan napas, mata menatap lantai, satu tangan masih reflek menutupi pipi.


Dan Kira — Kira anakku, lima tahun, masih pakai gaun unicorn yang Salma jahit sendiri minggu lalu — berdiri di belakang ibuku dengan rambut basah. Air sirup merah menetes dari ujung rambutnya ke kerah gaun. Wajahnya beku.


Di lantai, gelas plastik tergeletak. Cairan merah di karpet putih.


Aku menjatuhkan kotak kue.


Bunyinya tidak terlalu keras, tapi tiga kepala menoleh bersamaan.


"Pa..." Kira berlari ke arahku, dan begitu tubuh kecilnya menabrak kakiku, baru tangisannya pecah betulan. Aku berlutut. Aku menggendong dia. Rambutnya benar-benar basah, lengket. Bau sirup stroberi murah.


"Kenapa kau pulang cepat?" Ibuku berkata. Bukan menyapa. Memarahi.


Aku tidak menjawabnya. Aku menggendong Kira ke kamar, melewati Salma yang masih berdiri seperti patung. Aku menundukkan kepala di telinga Kira. "Yang sabar dulu ya, Nak. Papa keluar bentar."


Aku menutup pintu kamar perlahan. Lalu aku berbalik.


Aku berjalan kembali ke ruang tamu.


Tiga puluh dua tahun aku jadi anak Bu Hartini Wibowo. Tiga puluh dua tahun aku belajar satu hal di rumah ini: kalau ibu marah, semua orang diam. Bahkan ayah, dulu, kalau ibu mulai bicara dengan nada itu — ayah hanya minum kopinya pelan-pelan dan menunggu.


Hari ini aku tidak mau menunggu.


"Apa yang baru saja kau lakukan pada anakku?" Suaraku pelan. Bukan teriakan. Tapi Salma menoleh karena baru pertama kali mendengar nadaku begini.


Ibuku menggerakkan tangannya seolah mengusir lalat. "Anak itu menumpahkan sirup di rok gaunku. Gaun yang baru kubeli di Singapura. Dia harus dikasih pelajaran. Dan ibu sialan ini — " telunjuknya menusuk udara ke arah Salma — " tidak mengajarinya sopan santun."


"Kau menyiram anakku."


"Aku mengembalikan sirup ke tempatnya."


"Kau menampar istriku."


"Aku menampar orang yang gagal mendidik anaknya. Salma harus tahu, kalau dia membawa anak ini ke rumah keluarga, anak ini harus —"


"Pulang."


Satu kata. Aku mendengarnya keluar dari mulutku sendiri dan untuk satu detik aku heran kenapa kalimatnya jadi sependek itu. Tapi tubuhku tahu apa yang dilakukannya. Tubuhku sudah memutuskan sesuatu yang otakku belum sempat menulis dengan rapi.


"Apa kau bilang?" Mata ibuku menyipit.


"Pulang, Bu. Sekarang. Keluar dari rumahku."


Salma akhirnya menoleh ke arahku. Matanya berbinar bukan karena senang — tapi karena baru pertama kali dalam empat tahun pernikahan kami, ia melihat aku berdiri di depan ibuku.


Ibuku tertawa. Suara tawanya tidak ceria — keras, sengaja, mengumumkan ke seluruh ruangan bahwa dia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.


"Kau mengusir ibumu?" Dia melangkah mendekat. "Kau, Arsen, yang aku kandung sembilan bulan, yang aku susui dua tahun, yang aku biayai sekolah sampai S2 di Australia — kau mengusir aku?"


"Aku tidak mengusir ibuku. Aku mengusir orang yang baru saja menyakiti anakku dan istriku di rumahku sendiri."


"Salma itu —"


"Istriku."


"Anak itu —"


"Anakku."


Suaraku makin rendah dengan setiap kalimat. Aku mengepal kedua tanganku di samping tubuhku karena kalau tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak pernah memukul siapapun dalam hidupku, apalagi perempuan, apalagi yang melahirkanku. Tapi malam ini ada sesuatu yang putus di dalam diriku — semacam tali yang sudah teregang terlalu lama dan akhirnya snap.


Ibuku menatapku selama mungkin sepuluh detik. Kemudian dia mengambil tasnya dari sofa, menepuk debu dari roknya, dan berjalan ke pintu dengan langkah yang sengaja dibuat anggun. Saat sampai di ambang pintu, dia berhenti.


Dia tidak menoleh.


"Kau mengusirku demi perempuan ini? Baik."


Pause.


"Tapi ada satu hal tentang Salma yang belum dia ceritakan padamu, Arsen."


Pause lagi. Lebih panjang.


"Tanyakan padanya — siapa Galih."


Pintu menutup.


Klik.


Suara langkah ibuku di teras. Lalu suara klakson sopir pribadinya. Lalu mobil itu pergi.


Hening.


Aku berbalik perlahan ke arah Salma. Dia masih berdiri di tempat yang sama, tangan masih reflek menutupi pipi. Tapi sekarang pipinya bukan satu-satunya yang merah. Telinganya juga. Lehernya. Dan matanya — matanya menatapku dengan ekspresi yang baru kulihat dua kali dalam hidupku: pertama, di malam pertama Kira lahir; kedua, di pemakaman ibunya empat tahun lalu. Ekspresi yang berkata, *aku tidak tahu apakah aku sanggup membawa beban ini sendirian.*


"Salma," aku berkata pelan. "Siapa Galih?"


Bahunya jatuh. Sedikit. Hampir tidak kelihatan. Tapi aku melihatnya.


"Mas..." suaranya serak. "Bisa kita... ngomong nanti aja? Kira butuh dimandikan dulu. Bajunya lengket. Dia ketakutan."


Aku menatapnya. Dia menatap balik. Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan kami, ada sesuatu yang berdiri di antara kami — bukan ibu, bukan keluargaku, bukan sirup di karpet. Sesuatu yang dia simpan. Sesuatu yang dia tidak mau aku tahu.


Aku mengangguk.


"Aku mandikan Kira."


Aku berjalan ke kamar. Aku tidak menoleh ke belakang. Tapi aku mendengar Salma menjatuhkan dirinya ke sofa dan menarik napas panjang — napas seseorang yang baru saja menyadari bahwa sesuatu yang dia kubur dalam-dalam sedang naik ke permukaan.


Di kamar, Kira sudah berhenti menangis. Dia duduk di tepi kasur, masih dengan gaun unicornnya yang lengket. Matanya menatap karpet kamar.


"Sini, Nak. Mandi dulu, ya."


"Pa..."


"Iya?"


"Nenek tadi marah karena Kira pakai gaun. Katanya Kira bukan keluarga betulan. Kenapa, Pa?"


Aku berhenti di tengah ruangan.


Tanganku, yang sedang akan meraih handuk, jatuh perlahan ke samping tubuh.


Lima tahun. Anakku lima tahun. Dan dia sudah pernah dibilang "bukan keluarga betulan" oleh perempuan yang seharusnya jadi neneknya.


Berapa kali, kira-kira, sebelum hari ini? Berapa kali sudah terjadi tanpa aku tahu?


Aku berlutut di depan Kira. Aku mengangkat tangannya. Aku menatap matanya yang persis mata Salma.


"Kira. Dengar Papa."


Dia mengangguk.


"Kamu itu **anak Papa**. Anak Bunda. Cucu siapapun, tidak penting. Yang penting kamu anak Papa. Mengerti?"


"Iya..."


"Tidak ada yang boleh ngomong kayak gitu lagi ke kamu. Papa janji."


Dia menatapku lama. Lalu dia memelukku, leherku basah oleh sisa air mata dan sirup di rambutnya, dan dia berbisik:


"Janji?"


"Janji."


Aku memejamkan mata.


Di balik dadaku, jantungku berdebar dengan ritme yang tidak biasa. Bukan karena marah lagi. Bukan karena takut. Tapi karena sesuatu yang lebih dingin dan lebih jernih dari keduanya — kesadaran bahwa janji yang baru saja aku ucapkan itu, kalau aku mau tepati, akan menuntut harga yang belum bisa aku bayangkan sekarang.


Dan di luar pintu kamar, suara Salma menelepon seseorang dengan suara berbisik. Aku hanya menangkap satu potong kalimat sebelum dia menutup teleponnya.


*"...iya, Mbak. Empat tahun aku diam. Tapi kayaknya aku harus cerita ke Mas Arsen sekarang. Sebelum dia denger dari orang lain."*


---