Aku tidak tidur sampai matahari terbit.
Pukul 06.10, aku berdiri di depan ATM BCA di SPBU dekat rumah. Aku memasukkan kartu. Aku mengetik PIN. Layar berkedip sebentar, lalu pesan muncul dengan font putih di latar biru:
**KARTU ANDA TIDAK DAPAT DIKENALI. SILAKAN HUBUNGI CABANG.**
Mesin menelan kartuku.
Aku berdiri di depan mesin itu selama tiga puluh detik penuh, menatap slot tempat kartuku tadi masuk. Saya pernah mendengar tentang orang yang kartunya tertelan ATM karena sistem error. Sekali, dua kali, oke. Tapi besoknya pasti bisa diambil di cabang.
Tidak hari ini.
Aku keluar dari ATM, masuk ke mobil, dan mencoba kartu kreditku di pom bensin. Aplikasi merchant berbunyi dua kali, lalu menampilkan satu kata: **DECLINED.**
Aku ganti dengan kartu kredit cadangan. **DECLINED.**
Aku scan QRIS dari aplikasi mobile banking. Aplikasi terbuka — tapi seluruh menu transaksi tidak bisa diklik. Notifikasi merah di atas: *"Akun Anda dalam proses verifikasi. Mohon hubungi cabang."*
Petugas SPBU menatapku.
Aku membuka dompet, mengeluarkan uang tunai. Lima puluh ribu. Tiga puluh ribu. Sepuluh ribu. Total: sembilan puluh ribu. Itulah seluruh uang cash yang aku punya di dunia, pagi itu.
Aku isi bensin sembilan puluh ribu. Jarum bensin naik ke seperempat tangki.
---
"Mas," Salma berkata pelan saat aku pulang. "Aku tadi mau bayar token listrik. ATM tidak bisa. Saldo aku — Mas tahu, gaji aku selalu masuk ke rekeningku sendiri — tidak bisa diakses."
"Iya."
"Rekening kita juga?"
"Iya."
"Tabungan?"
"Iya."
"Asuransi kesehatan Kira?"
Aku menatap dia. Dia menatap balik. Dia tidak perlu jawaban. Dia sudah tahu jawabannya dari ekspresi mukaku.
Dia mengangguk pelan. Lalu dia berdiri, jalan ke kamar, dan ketika dia keluar dari kamar lima menit kemudian, dia membawa kotak perhiasan kecil. Dia mengeluarkan cincin kawinnya.
"Salma —"
"Mas. Kira butuh susu. Kira butuh popok. Kira butuh listrik nyala dan air mengalir. Cincin ini cuma logam. Saya yakin tukang emas di pasar masih buka pagi ini."
"Tidak. Aku akan —"
"Mas." Suaranya tenang. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya pasti. "Empat tahun aku simpan kotak surat. Empat tahun aku tidak mau Mas tahu karena aku takut. Hari ini aku tidak mau takut lagi. Aku mau bantuan, Mas. Saya jual cincin. Mas urusin sisa hidup kita. Deal?"
Aku menarik napas. Aku ingin protes. Tapi aku tidak punya alternatif. Sembilan puluh ribu di dompet sudah jadi nol setelah bensin pagi tadi.
Aku mengangguk.
Dia memeluk aku sebentar, lalu pergi ke pasar dengan ojek.
---
Pukul sebelas, aku duduk di teras dengan secangkir kopi instan terakhir di rumah. Aku sedang mencoba membuat daftar — siapa yang bisa aku hubungi, siapa yang bisa minjam uang, siapa yang masih akan menjawab teleponku setelah berita "Arsen Wibowo dipecat" menyebar di kalangan eksekutif Jakarta — ketika ada suara mobil masuk ke kompleks.
Bukan mobil ojek Salma. Mobil security perumahan elite.
Pak Hendro, kepala security yang sudah aku kenal lima tahun. Pria yang setiap pagi melambaikan tangan ke Kira saat Kira berangkat sekolah.
Hari ini dia turun dari mobil dengan map di tangan dan ekspresi yang tidak bisa dia sembunyikan walaupun dia coba.
"Selamat pagi, Pak Arsen."
"Pagi, Pak Hen. Ada apa?"
"Eh... ini..." Dia membuka map. "Surat dari manajemen perumahan. Dari atas. Saya cuma diminta antar saja. Maaf banget, Pak."
Aku mengambil surat. Aku membaca paragraf pertama.
*Sehubungan dengan berakhirnya status kepegawaian Bapak Arsen Wibowo di PT Wibowo Group, dan mengingat bahwa hunian Bapak adalah fasilitas perusahaan yang melekat pada jabatan...*
Aku tidak meneruskan membaca. Aku langsung ke paragraf terakhir.
*...keluarga Bapak diminta untuk mengosongkan hunian dalam waktu 3 x 24 jam terhitung dari surat ini diterima.*
Tiga hari.
Pak Hendro berdiri di hadapanku dengan tangan menggenggam topi. "Pak Arsen... saya ngomong jujur ya. Saya sudah lima tahun di sini. Saya tahu Bapak. Saya tahu istri Bapak baik banget sama satpam-satpam. Tapi yang ngirim surat ini... bukan saya, Pak. Saya cuma kurir."
"Aku tahu, Pak Hen. Terima kasih."
"Kalau Bapak butuh bantuan pindahan, saya ada teman yang punya truk. Murah."
Aku menatap Pak Hendro. Pria sederhana, gajinya sebulan mungkin tidak lebih dari yang aku habiskan untuk satu kali makan malam keluarga dulu. Dan dia berdiri di hadapanku menawarkan bantuan setelah baru saja mengantar surat pengusiran.
"Terima kasih, Pak Hen. Nanti saya kabarin."
Dia mengangguk dan pergi.
Aku duduk lagi di teras. Aku menatap surat di tanganku. Aku menatap teras yang dulu aku desain sendiri lima tahun lalu — Salma yang pilih ubinnya, aku yang pasang lampu gantungnya, Kira yang menumpahkan cat saat kami sedang mengecat pagar.
Tiga hari.
Empat tahun kehidupan, tiga hari untuk dikemas.
---
Pukul dua siang, Salma pulang. Dia membawa uang tunai delapan juta dari penjualan cincin. Dia juga sudah mampir ke tempat kontrakan murah di Cipinang — dua kamar, dapur kecil, kamar mandi luar, tujuh juta setahun. Dia sudah membayar uang muka.
Tujuh juta setahun.
Cincin yang aku belikan lima tahun lalu, harganya delapan juta saat itu.
Aku tidak komentar. Aku peluk Salma. Aku bilang besok aku akan mulai cari pekerjaan apa saja — sales, ojol, freelance konsultan, apa saja. Aku bilang ini sementara. Aku bilang kita akan keluar dari situasi ini.
Dia mengangguk. Dia percaya aku. Atau dia berpura-pura percaya untuk membuat aku tetap berdiri.
---
Sore harinya, kami packing. Tiga koper besar — pakaian, dokumen penting, perlengkapan Kira, satu dus piring dan masakan. Sisanya kami tinggalkan. Aku tidak punya tempat menyimpan, dan jujur, aku tidak punya energi untuk membayangkan apakah perabot di rumah ini juga akan disita.
Kami berangkat pukul lima sore. Sopir truk pinjaman Pak Hendro membantu angkut barang.
Saat mobil keluar dari gerbang kompleks, Kira menengadah di kursi belakang dan bertanya:
"Pa, kita pindah ke mana?"
"Rumah baru, Nak."
"Rumah baru ada taman?"
Aku menatap Salma. Dia menggeleng pelan.
"Belum ada, Nak. Tapi nanti kita bikin sendiri di pot, ya?"
"Oh."
Kira diam. Dia menatap keluar jendela, kepala disandarkan ke kursi.
Kami sampai di persimpangan keluar kompleks. Lampu merah. Aku menginjak rem.
Aku menatap kaca spion. Tidak ada yang aneh di belakang. Mobil aku, satu truk pinjaman, satu motor satpam yang mengiring sampai gerbang.
Lampu hijau.
Aku menginjak gas.
Dari sebelah kiri, dari arah blind spot — sebuah Pajero hitam tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi, menyerempet sisi kiri mobilku keras. Aku mendengar suara metal pada metal, kaca samping pecah, dan mobil kami terlempar ke kanan, menabrak pembatas jalan.
Kira menjerit.
Salma berteriak namanya.
Pajero hitam itu — tidak berhenti. Tidak mengerem. Tidak menoleh. Sopirnya, dari yang aku tangkap dalam setengah detik, memakai topi dan masker. Pelat nomornya hitam pekat — tanpa angka.
Mobil itu ngebut ke arah jalan layang, dan dalam sepuluh detik sudah menghilang di tikungan.
Aku menoleh ke kursi belakang. Kira terikat di car seat-nya — tapi dahinya berdarah. Ada serpihan kaca menempel di rambutnya.
Salma melepas seatbelt-nya, menjangkau Kira. Tangannya gemetar. Suaranya pecah.
"Mas... Kira kena kaca... Kira berdarah..."
Aku meraih ke kursi belakang, jariku menyentuh dahi Kira. Hangat. Basah. Merah.
Anakku, lima tahun, baru saja menjadi korban.
Dan aku tahu, di balik semua naluri yang sedang berlari liar di kepalaku, satu hal jelas: ini bukan kecelakaan.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar