Aku tidak ingat berapa lama aku duduk di kursi pengemudi.
Mungkin tiga detik. Mungkin tiga puluh. Yang aku ingat adalah suara Salma menggumamkan nama Kira berulang-ulang seperti mantra, dan tanganku yang merogoh HP dari saku — tapi tanganku tidak bisa berhenti gemetar, dan aku menjatuhkan HP dua kali sebelum berhasil membuka aplikasi telepon.
"112," aku berkata pada operator yang menjawab. "Kecelakaan. Anak saya luka. Persimpangan keluar Bukit Hijau Estate. Mobil saya ditabrak lari."
"Mobilnya pelat berapa, Pak?"
"Tidak ada pelat. Pajero hitam, sengaja tanpa pelat. Tolong cepat. Anak saya lima tahun, dahinya berdarah."
"Ambulans menuju ke sana, Pak. Tahan dulu pendarahannya. Jangan dipindahkan kalau bisa."
Aku menutup telepon. Aku menoleh ke kursi belakang. Salma sudah melepas jaket tipisnya, menempelkan ke dahi Kira. Salma tidak menangis. Wajahnya tegang seperti orang yang lupa cara membuat ekspresi.
"Kira sayang... lihat Bunda... iya, gini... pegang tangan Bunda... pelan saja..."
Kira menatap Salma dengan mata yang sudah setengah kosong — bukan karena luka, tapi karena syok. Lima tahun. Dahi anakku berdarah karena pecahan kaca, dan dia menatap ibunya seperti menatap orang yang sedang menjelaskan soal matematika yang tidak dia mengerti.
Aku turun dari mobil. Truk pinjaman Pak Hendro berhenti di belakangku, sopirnya berlari mendekat dengan ekspresi panik.
"Pak Arsen — astaga — saya lihat dari kaca spion — itu sengaja, Pak, sengaja itu mobilnya nyamping dari blind spot lampu —"
"Iya, Pak. Iya. Tolong, bantu jagain mobil saya. Saya bawa Kira ke RS pakai mobil sebelah."
Aku stopkan taksi yang lewat. Aku menggendong Kira keluar dari car seat, pelan, pelan, takut serpihan kaca lain ada di tubuhnya. Salma menyusul. Kami masuk taksi. Sopir taksi mengangguk pucat saat aku bilang RS terdekat, dan dia ngebut.
Ambulans baru tiba di lokasi kecelakaan saat taksi kami sudah keluar dari kompleks.
---
IGD RS Premier Bintaro. Pukul 18.20.
Dokter UGD muda, perempuan, mengangguk sambil memeriksa dahi Kira. "Tujuh jahitan, Pak. Tapi lukanya superfisial — tidak menembus tulang. Tidak ada gegar otak yang signifikan dari pengukuran awal. Anak Bapak beruntung."
Beruntung.
Anakku berlari ke pelukanku di hari ulang tahunnya sambil rambutnya basah sirup, dan dua hari kemudian dia di IGD dengan tujuh jahitan di dahi, dan dokter bilang dia beruntung.
Aku mengangguk. Aku menelan kata-kata yang aku ingin teriakkan ke seluruh ruangan.
"Suntik anti-tetanus aja ya, Pak. Bius lokal buat jahitan. Setengah jam selesai."
"Boleh saya temani di dalam?"
"Boleh, Pak. Tapi cuma satu orang. Biar Mama nya yang temani aja, Pak. Anak kecil biasanya lebih anteng sama ibunya pas dijahit."
Salma masuk dengan Kira. Pintu IGD tertutup.
Aku duduk di kursi tunggu. Lobi RS kosong — itu jam yang aneh, antara pulang kantor dan jam besuk malam. Hanya petugas administrasi di counter dan satu satpam di sudut.
Aku menyandarkan kepala ke dinding. Aku menutup mata.
Tiga hari.
Hari pertama, ibuku menampar istri dan menyiram anakku.
Hari kedua, foto perselingkuhan palsu, pemecatan tengah malam.
Hari ketiga, rekening diblokir, rumah disita, anakku ditabrak.
Apa hari keempat?
Aku belum sempat menjawab pertanyaanku sendiri ketika pintu RS otomatis terbuka, dan suara hak sepatu tinggi yang aku kenal lebih baik dari suaraku sendiri masuk ke lobi.
Aku membuka mata.
Ibuku, lengkap dengan tas Hermes, kacamata hitam, dan kerudung sutra abu-abu, berdiri di tengah lobi dengan dua orang di belakangnya. Karina, dan seorang pria yang tidak aku kenal — gemuk, kemeja batik, sepertinya pengacara.
Ibuku tidak mencariku. Ibuku langsung menuju ke arah counter.
"Saya cari pasien anak. Nama Kira Wibowo. Saya neneknya."
Petugas counter mengangkat HP yang dia pegang, mengetik. "Mohon maaf Bu, pasien sedang dalam tindakan. Tidak bisa dijenguk —"
"Saya mau tanda tangan administrasi. Saya yang akan tanggung biayanya. Mungkin ibu kandungnya tidak mampu."
Saat itu aku berdiri.
"Bu."
Ibuku berbalik. Kacamata hitamnya turun sedikit. Matanya bertemu mataku.
"Arsen. Mama dapat kabar Kira kecelakaan. Mama langsung datang."
"Ibu tahu dari mana?"
"...dari Pak Hendro. Security kompleks. Dia kenal Mama."
Tidak. Pak Hendro tidak akan menelepon ibuku. Pak Hendro yang pagi tadi menawarkan truknya secara gratis. Pak Hendro tahu siapa pihak yang melukai keluargaku.
"Bu, terima kasih sudah datang. Tapi Kira ditangani dokter sekarang. Salma di dalam. Tidak ada yang perlu Bu pikirkan."
"Mama mau lihat cucu Mama."
"Bu —"
Pintu IGD terbuka. Salma keluar — wajah lelah, baju ada noda darah Kira di lengan. Dia melihat ibuku. Tubuhnya menegang.
Ibuku, tanpa kata, jalan langsung ke arah Salma. Dia mengangkat tangannya — dan untuk satu detik aku pikir dia akan memeluk. Tapi tangan itu bukan untuk memeluk.
Tangan itu menampar pipi Salma di tengah lobi, di depan petugas counter, di depan satpam, di depan dua pasien lain yang baru masuk.
"Pembawa sial!" Suara ibuku menggema di lobi marmer. "Sejak kau masuk ke keluarga kami, ada saja yang terjadi! Sekarang anakmu sendiri kau bawa ke RS dengan luka berdarah! Berapa kali kau mau bukti kau tidak pantas jadi ibu sebelum kau mengerti?"
Petugas counter membuka mulutnya, tapi tidak ada suara keluar.
Salma tidak menjawab. Salma tidak mengangkat tangan. Salma hanya menutup mata sesaat — gestur yang aku kenal, gestur seseorang yang sedang menghitung dalam hati supaya tidak menjawab dengan emosi.
Lalu ibuku, sambil masih menatap Salma, mengeluarkan tangannya yang lain dan meraih ke pintu IGD. Dia membukanya. Di dalam, Kira sedang tidur di brankar — bius lokalnya membuat dia mengantuk. Plester besar menutupi dahi kecilnya.
Ibuku jalan masuk ke ruangan.
"Bu — Bu jangan masuk —" perawat di dalam panik.
Ibuku tidak peduli. Dia membungkuk ke arah Kira. Dia mengelus rambut Kira dengan tangan yang lima belas detik lalu menampar ibu Kira.
"Cucu Nenek..." katanya pelan, suaranya tiba-tiba lembut, performatif. "Nenek bawa pulang ya. Nenek rawat di rumah. Anak sebagus ini tidak bisa tinggal sama ibu pembawa sial."
Lalu dia mulai melepas selimut Kira, hendak menggendongnya.
Aku bergerak.
Aku tidak memikirkannya. Tiga puluh dua tahun aku jadi anak yang patuh, tiga puluh dua tahun aku belajar menahan diri di depan ibu. Tapi semua latihan itu hilang dalam satu detik saat aku melihat tangan ibuku mengangkat tubuh Kira dari brankar.
Aku menerobos masuk ke ruangan. Tanganku meraih lengan ibu. Aku mendorongnya menjauh dari Kira — tidak keras, tidak dengan niat menyakiti, hanya menjauh.
Tapi ibuku tua. Tapi lantai keramik IGD licin. Tapi hak sepatunya tinggi.
Dia kehilangan keseimbangan.
Dia mundur dua langkah. Dia menabrak kursi besi tempat alat suction. Kepalanya membentur sudut kursi dengan suara — suara yang akan aku ingat selama sisa hidupku — suara tumpul yang seperti melon jatuh.
Lalu dia jatuh ke lantai.
Lalu dia diam.
Lalu satu garis kecil darah mengalir dari pelipisnya ke lantai keramik putih.
Perawat menjerit. Satpam berlari masuk. Karina dari lobi berteriak nama ibu. Dokter UGD yang tadi menjahit Kira — yang masih di koridor — masuk dengan langkah lebar, sudah mengeluarkan stetoskop dari saku.
Aku berdiri di tengah ruangan. Tanganku masih terangkat, posisi yang sama saat aku mendorong ibu.
Aku menatap ibuku yang terkulai di lantai dengan darah tipis di pipi.
Aku menatap Kira yang setengah tidur, melihat semuanya dengan mata yang setengah terbuka.
Aku menatap Salma yang berdiri di ambang pintu dengan tangan menutup mulut.
Lalu aku mendengar suara Karina, di luar ruangan, dengan nada yang sudah dia siapkan sebelumnya:
"Polisi! Tolong panggil polisi! Saya saksi! Adik saya baru saja mendorong ibu kandungnya!"
Dan untuk satu detik — satu detik panjang yang terasa seperti tiga puluh dua tahun — aku menyadari bahwa Karina tidak terdengar panik.
Karina terdengar puas.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar