Salma tidak tidur di kamar malam itu.


Aku menemukannya pukul tiga pagi, masih duduk di sofa ruang tamu, lampu utama mati, hanya lampu kecil di sudut ruangan yang menyala. Dia memeluk lututnya. Cangkir teh di meja sudah dingin. Tidak ada koran, tidak ada HP — hanya dia dan tatapan kosong ke arah jendela.


Aku tahu dia tahu aku berdiri di pintu. Dia tidak menoleh. Dia hanya berkata pelan:


"Kira sudah tidur lagi?"


"Sudah."


"Bagus."


Hening.


Aku ingin duduk di sampingnya. Aku ingin meraih tangannya. Aku ingin bertanya. Tapi sesuatu di postur tubuhnya — yang seperti membentengi diri dengan cangkang tipis — membuatku tahu kalau aku menyentuhnya sekarang, cangkang itu akan pecah ke arah yang salah.


Aku kembali ke kamar dan tidur sendirian. Atau berpura-pura tidur. Empat tahun aku tidak pernah tidur tanpa tangan Salma di lenganku. Empat tahun. Dan malam ini, aku menyadari betapa kecilnya kasur ini terasa saat hanya satu orang yang memakainya.


---


HP-ku berbunyi pukul 06.47.


Layar menampilkan nama kakak perempuanku: **Karina**.


Aku menatapnya tiga detik sebelum mengangkat. Karina tidak pernah menelepon pagi-pagi. Karina tidak pernah menelepon tanpa alasan.


"Arsen." Suaranya datar. "Datang ke rumah Mama sekarang."


"Aku tidak —"


"Pukul delapan. Semua sudah dikumpulkan. Tante Sri sudah terbang dari Surabaya tadi malam khusus untuk ini. Om Bagas sudah datang dari Bandung. Sepupu-sepupumu sudah di sana. Mereka menunggumu."


"Aku tidak datang."


"Kamu datang." Tidak ada amarah di suaranya. Itu yang membuatku merinding. Karina yang marah masih bisa diajak negosiasi. Karina yang dingin — yang berbicara seperti membaca jadwal kereta — itu Karina yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak mau membahasnya. "Kalau kamu tidak datang pukul delapan, jam sembilan rekening yang dibekukan kemarin akan ditambah dengan rekening tabungan pribadimu. Jam sepuluh, kantor cabang Surabaya akan menerima notifikasi pergantian direktur. Jam sebelas —"


"Cukup."


"Pukul delapan, Arsen."


Klik.


Aku duduk di tepi kasur, HP masih di tangan. Di pintu kamar yang setengah terbuka, aku melihat Salma berdiri. Dia mendengar.


"Pergi aja, Mas," dia berkata pelan. "Tapi pulang. Janji."


"Aku tidak akan biarkan mereka apa-apain kamu. Atau Kira."


"Aku tahu. Pulang aja. Aku tunggu."


---


Mansion keluarga Wibowo ada di Menteng. Pagar besi setinggi tiga meter, dua satpam di pos depan, halaman dengan tiga pohon mangga tua yang katanya sudah ada sejak ayahku kecil. Aku tumbuh di rumah ini. Aku tahu setiap retakan di marmer terasnya.


Hari itu, satpam tidak mengangguk seperti biasanya. Mereka memandangku seolah aku orang asing yang salah alamat.


Di ruang tamu utama, ada belasan orang. Tante, om, sepupu, ipar-ipar. Ibuku duduk di kursi tinggi di tengah ruangan — kursi yang dulu kursi ayah — dengan kerudung hitam tipis seolah dia sedang berduka. Karina berdiri di sampingnya, memegang remote control proyektor.


Reno, kakak laki-lakiku, duduk di sudut. Dia tidak menatap mataku.


Aku duduk di kursi yang tersisa, satu-satunya yang menghadap layar.


"Mama buka acara hari ini dengan satu permintaan." Suara ibuku berat. Aktris. "Tolong, jangan satu orang pun yang menyela sampai semua selesai."


Lampu redup. Proyektor menyala.


Foto pertama: Salma duduk di kafe. Berdua. Dengan seorang pria yang tidak aku kenal. Mereka tertawa.


Foto kedua: pria itu menyentuh tangan Salma di meja.


Foto ketiga: mereka keluar kafe bersama, jarak tubuh dekat.


Foto keempat: pria itu mengantar Salma ke mobil — bukan mobilku, bukan mobil Salma. Mobil Avanza putih.


Foto kelima: stempel tanggal di kanan bawah foto. **3 minggu yang lalu.**


Aku mendengar nafas pelan tante-tante di belakangku. Ada yang berbisik. *Astaga.*


Karina menekan tombol. Foto terakhir: profil pria itu. Wajah jelas. Rapi. Senyum yang... agak familiar, tapi aku tidak bisa menempatkannya.


"Namanya Bagus Pranowo," Karina berkata. "Konsultan pajak. Single. Kenal Salma sejak SMA. Selama tiga bulan terakhir, ketemu rutin minimal seminggu sekali. Di kafe, di mall, di parkiran."


Reno akhirnya menoleh ke arahku. Matanya berkata sesuatu yang tidak bisa aku baca.


Aku menarik napas. Aku menatap foto-foto itu lama. Aku menatap ibuku. Aku menatap Karina.


"Pertanyaanku cuma satu," aku berkata. "Foto-foto ini dibuat di kafe mana?"


Karina mengangkat alis. "Itu yang kamu tanya? Bukan kenapa istrimu ketemu pria lain rutin?"


"Itu yang aku tanya."


Pause.


"...Kafe Senopati. Yang di Wijaya."


Aku mengangguk pelan.


Lalu aku berdiri.


"Saya pulang dulu." Aku tidak menatap siapapun. "Terima kasih sudah berkumpul."


"Arsen!" Suara ibuku tajam. "Kamu mau bilang ke istrimu sebelum kami selidiki sendiri?"


Aku berhenti di pintu. Aku menoleh.


"Bu, kalau benar istri saya selingkuh — saya yang akan tanya dia langsung, bukan dia mendengar dari kalian. Kalau benar Salma salah, saya yang akan urus. Bukan kalian."


"Dan kalau dia tidak mengaku?"


"Itu urusan kami. Bukan urusan kalian. Tidak pernah jadi urusan kalian."


Aku menutup pintu sebelum salah satu dari mereka sempat menjawab.


---


Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak menyalakan musik. Aku tidak menelepon siapa pun. Aku hanya menyetir.


Tiga minggu yang lalu. Salma berkata dia ke acara reuni SMP-nya tiga minggu lalu — pulang malam, kemejanya bau kopi, dia bilang macet. Aku percaya. Aku selalu percaya. Selama empat tahun aku selalu percaya pada perempuan yang sekarang sedang menungguku di rumah.


Tapi aku juga tahu sesuatu yang ibuku dan Karina tidak tahu.


Aku tahu siapa Bagus Pranowo.


Aku tidak pernah ketemu dia. Tapi aku pernah mendengar namanya. Salma menyebutnya sekali, dua tahun lalu, saat dia menelepon sahabatnya. *"Bagus minta tolong aku introduce ke Mas Arsen. Buat urusan pajak yayasannya. Aku bilang nanti aja kapan-kapan."*


Konsultan pajak.


Aku menarik napas panjang.


Bukan itu yang membuatku tenang. Yang membuatku tenang adalah ini: tiga minggu lalu, malam Salma "reuni," dia pulang membawa kantong plastik berisi rangkuman peraturan pajak baru, dan dia bilang dia akan tanya temannya yang ahli pajak buat verifikasi sebelum dia kasih ke aku — karena yayasan ibuku diam-diam mau dia bantu auditnya.


Salma menyimpan kejutan itu untuk ulang tahunku.


Yang tidak aku tahu sekarang adalah: kenapa fotografer profesional sengaja mengambil 5 foto pertemuan kerja itu dari sudut yang sengaja membuat semuanya terlihat seperti perselingkuhan.


Dan kenapa Karina punya foto-foto itu.


---


Aku sampai di rumah pukul 09.40. Salma menungguku di ruang tamu, masih dengan baju yang sama dari semalam. Belum mandi. Mata bengkak.


Dia berdiri saat aku masuk. Dia menatap mataku dan tahu — entah bagaimana, perempuan itu selalu tahu — bahwa sesuatu sudah terjadi.


"Mas," dia berkata. "Aku akan jawab semua pertanyaanmu. Tapi setelah ini, kalau kamu pilih percaya keluargamu — aku dan Kira akan pergi malam ini juga."


---